Aa Aidan 4y4m

Standar

image

Hai anak Ummi yang melo…

duhduhduh…apa yang harus diceritain tentang Aidan yaaa…

Terlalu banyaaaaak…:)

Ummi tulis random aja ya Nak

1.Aidan masih se mello dulu, paling gabisa liat umminya marah, dia pasti ngejar ngejar Ummi untuk minta maaf. Kenapa si Ummi teh suka marah marah aja? heuheu. Aidan sekarang seneeeeng banget ngahajakeun, seneeeeng banget ngajebewan :p, seneeeeng banget ngalelewe. Hasil praktik pencontohan di sekolahnya tuh :D. Yaudahlah ya, da kita juga gabisa ngesterilin anak trs menerus, justru itu jadi momentum yg tepat buat ngasih tau yang mana yang baik yang mana yang engga.

2.Eksim. Ya Eksim Aidan baru muncul di usia segini. Ada turunan dari ayahnya dan ninnya. Muncul di kaki, ga sembuh sembuh gegAa dikasih obat yang biasa ayahnya pake. doh. akhirnya ke dokter deh.

3.say good by to TV… udah lama Aidan ga nonton kartun di TV. Mudah mudahan seterusnya ya Nak.

4.Still Book’s Lover. Alhamdulillah lama kelamaan buku berdebu yg ummi beli jaman purba akhirnya dibacain juga :p

5.Belum begitu tertarik dengan huruf dan angka. Tapi dia suka berhitung dan buku. Moda awal lha yaa…

6.Masih takut diguyur air ke kepalanya. Tapiiii hujan hujanan mah seneng. Heu. Dasar bocah.

7.BB masih iriiiit. 12 Kg aja.

8.Suaramu masih mengGlegaaar kalau nangis :)

9.Mulai seneng ’tricky’ untuk mendapatkan keinginannya/agar tidak disalahkan.

10.Kadar keberaniannya meningkat dibanding dulu. Mau salaman sama orang walaupun moody, mau diminta tolong beli sesuatu ke warung.

11.Kadar kehebohannya pun meningkat dibanding dulu, ga sekalem dulu, dan berani ’melawan’ kalau ada yang mengganggu dia.

12.Suka pengen ikutan main sama anak yang lebih besar, tapi suka disuruh pulang lagi -_- Alhasil sering dia pulang dalam keadaan sedih…heu…

13.Udah bisa mandi, makan, pakai baju, dan ombeh sendiri. Tapi kalau makan dan mandi mah seringnya dibantu Ummi :D

14.Senaaang sekali mengarang lagu sendiri.

15.Ga bolehin Umminya berdoa, gegara pernah liat Umminya nangis waktu berdoa :p “Ummi jangan berdoa, nanti sedih” heuheu.

Udah ah cukup.
15 poin aja ya Nak

Bapak

Standar

Pagi itu berbekal satu orang putri di dadaku dan satu orang putra di belakangku, aku mengendarai motor hendak membeli makanan. Rencananya aku hendak mengunjungi rumah Bapak dan Ibu. Akan tetapi di tengah jalan aku melihat sosok tua berjalan seorang diri di panas yang terik walaupun masih pagi.

“Bapak, mau kemana?”
“Mau, ke rumah Ummi”
“Ummi baru mau ke rumah Kaktus (rumah ibu bapak)”
“Yaudah kuncinya aja sini, Bapak mau menenangkan hati, mau menenangkan pikiran”

Ada sorot mata kesedihan terpancar dari mata berkantungnya. Dalam perjalanan membeli makanan, aku tak berhenti memikirkan  Bapak. Sosok tua yang terlalu tua ketika menikah dan memiliki anak. Sosok tua yang dalam lika liku perjalanannya berusaha untuk menjad lebih baik.

“Bapak itu lahir dari keluarga broken home, tumbuh di lingkungan emosionil dan sentimentil” Ucapnya disuatu kesempatan. Hidup di lingkungan yang seperti itu tentu tidak mudah saat kemudian harus membesarkan anak anaknya. Sedikit mendapatkan kehangatan seorang ibu, sedikit mendapatkan koin jiwa dari orang tuanya. Hal tersebut akhirnya menjadi salah satu bahan untuk bisa dapat memahami sesosok tak sempurna bernama Bapak.

“Bapak tahu ga? masa Tia sampai pernah nulis ’Haruskah Aku menuntut orang Tuaku di Padang Mahsyar” Ucapku dalam suatu diskusi ringan tentang pengasuhan.

“Terus gimana? Mau ga Tia?”

“Ya..engga atuh…”

“Kenapa?”

“Ya engga atuh da… Kalau Tia mentafakuri kembali, rasa sayang orang tua Tia jauuuuuuh lebih banyak daripada hal yang menurut Tia salah” Ucapku sambil berkaca kaca.

“Tia sampai berdoa sama Allah…ya Allah..tolong lembutkan hati Tia..Tia ga mau menuntut mereka” Tangisku pun pecah.

“Itulah Kuasa Allah Tia, Allah telah memberikan kemuliaan dalam hati Tia. Bapak pun dulu sama, begitu besarnya Bapak kecewa dengan orang tua Bapak. Tapi setelah bapak mengenal Islam lebih dalam, tiba tiba Allah menghapus rasa benci terhadap orang tua” Tabarakallah.

Bapak. Bapak. Bapak.

Seringkali aku membandingkan dirimu dengan A B C. Mengapa Bapak tidak seperti A B C. Rasanya senang bila memiliki bapak seperti A B C. Sesosok idola di mataku.

Bapak. Bapak. Bapak.

Mungkin telat bagiku untuk mengidolakanmu. Baru belakangan ini aku belajar menjadi hamba yang bersyukur. Dan ternyata mutiara dalam dirimu teramaaaat sangat banyak sampai sulit aku hitung.

Bapak. Bapak. Bapak.

Engkaulah yang mengajariku mengurus bayi, memandikan bayi, merawat tali pusar. Engkaulah sosok kebijaksanaan, pemberi nasihat, dan keteladanan di masa tuamu.

Bapak. Bapak. Bapak.

Dalam sorot mata tuamu, semoga selalu berada dalam kasih sayang Allah.

Dalam putihnya rambutmu, semoga kelak menjadi cahaya penerang dalam surgaNya.

Dalam kulit yang semakin keriput, tenaga yang semakin melemah, detak jantung yang semakin usang, semoga jiwamu semakin terang benderang.

Di sisa perjumpaan usia kita, izinkan aku Anakmu, Anak yang kau beri nama yang sangat Indah ini untuk berbakti.

Allahumaghfirli waliwalidaiya warhamhuma kamaa rabbayanii saghiiraa..

Aisha 16 Bulan

Standar

image

Aishaku udah gede aja Nak! udah banyak katiasanya.

Motorik Kasar: Jalannya makin cepat, suka niru Aanya loncat loncat, manjat manjat kursi, kasur, pinggiran kursi *lapkeringet*.Korban dari kehebohan motorik kasarnya adalah bibir ticatrok dua kali,berdarah! lalu dia main lagi kaya biasa dengan kondisi darah yang belum berhenti *garuklantai*.
Memang ga seheboh Eijaz sepupunya sih, dan juga g sekalem Aidan waktu seusianya. Yaah..sedeng laah.

Motorik halus: Hm..apaya yang bisa diperhatiin dr sini. Joget nang ning eu termasuk motorik halus bukan ya :D Kalau mukul termasuk yg mana ya. Iys si neng ini suka mukul kalau ngambek, ngikutin Aanya T.T, bedanya kalau Aidan ga pernah mukul Umminya, kalau si neng Umminya suka jadi korban donk donk. Untuk usia se Aisha sih palingan dialihkan ya, dipegang tangannya,dipeluk, lalu dialihkan untuk sayang sayangan.

Meniru: Di usia segini juga Aisha seneng banget meniru. Niru Aanya mah jelas yak. Terus niru gerakan solat, niru bahasa kita, walaupun untuk segi kemampuan bahasa ini Aisha belum bentea banget. Kata kata yang bentes palingan Ayah, Aa, Dede, Dadah, Nene, Ua yang lainnya seperti Jatuh, sakit, takut, lagi, nin, nyanyi, ayam, meng, hanya Ummi saja yang mengerti kalau dia sedang mengucapkan itu :p

Kemampuan mengenal tubuh: Aisha udah tahu yang mana kaki, tangan, kepala, perut, telinga, hidung, gigi, dan mata. Walaupun kadang masih suka kebalik balik, tapi lumayanlaaah, kelihatan banget perkembangannya.

Toilet Training: Ummi sih ga mau buru buru ya untuk urusan TT ini, mau ngikutin Aanya dulu aja. Dimulai ketika sudah siap, dan ternyata bisanya cepet. Tapi si neng ini tanpa diajarkan yang gimanaaa gitu, dia udah bisa mengungkapkan kalau mau EE. Yaudaj sekalian aja deh, cuma tantangannya adalah saat dipindahkan ke Kamar Mandi,dia ga mau jongkok dan dibutuhkan waktu yang lama sampai hajatnya keluar *malah main air deh*

Kemampuan sosial: Aisha benar benar anak yang engga bauan. Asal menunjukkan tampang bersahabat, dia pasti langsung mau. Beda banget nget deh sama Aanya dulu yang nempeeeeel banget sama Umminya. Mungkin bener kali yak ungkapan “anak.cowo mah milik ibunya” whehe, dari kecil membuat si ibu jadi posesif garagara ditempelin mulu sama anak :D

Hm. Apalagi yak. Oia gigi Aisha sekarang sudah hampir 6 biji! BBnya juga ga nambah nambah amat sejak dua bulan yang lalu. Heu. Udah kali ya report ttg Aisha. Sekarang mau nulis tentang Aanya aaah ;)

Ekspresif!

Standar

image

Pengen post di FB dengan judul ’Alay bagian 2’ tapi malu ah… Jadinya disimpen di blog aja dweh, yang relatif lebih sepi. Hihihi.

Kalau kelak Aisha tumbuh jadi anak ekspresif, jangan heran darimana asal muasalnya. Wkwkwk. Sebenarnya ini sudah sangat di rem sedemikian rupa. Dengan cara tidak terlalu mengeksiskan diri berupa foto di FB. Aslinya mah gateeeel….macam yang suka selfih selfih.sendiri gitu! dengan aneka gayanya. Hekhekhek. Abis gimana,dari sananya udah gini :D tapi yaaa lama kelamaan sadar, harus jaim juga lha yaaa… kan si saya teh skrng sudah besar, sudah banyak yang diem diem memperhatikan gerak gerik saya *geer* untuk diteladani :p :p :p

NengNong

Standar

image

“Tutupin itu nongnongnya atuh sama rambut” Ucap Ayah di suatu hari.

Aisha memiliki jidat yang lebaaaaar alias nongnong. Turunan Ayahnya :p Mungkin karena Ayahnya dulu sering diejek ’Tarangna lega ey, siga lapangan bola’ maka ada sedikit ketidakpedean tatkala memiliki anak yang menuruni gen nongnong dirinya.

“Gapapa Ayah..Ummi sengaja, biar dia PD dengan apa yang dia miliki” Celotehku.

“Ummi pernah lihat model Gadis yang dengan kenongnongan tarangnya aura cantiknya terpancar” Celotehku yang kedua.

By The Way pas googling si model, lebih banyakan foto yg nongnongnnya ditutup poni..ah ga seru..whehe…

Intinya sebenernya, kalaupun kita merasa ada ’yang unik’ dari anak, biarkanlah saja, kalaupun itu menjadi bahan ketidakpedean dia kelak, jangan sampai sumber ketidakpedean berasal dari dalam rumahnya sendiri. Tugas yang berada di dalam rumah adalah, support, support, dan support. Tetap membesarkan hatinya saat diluar orang lain mengecilkannya.

Dan tegaskan bahwa dia tetap berharga di mata kita dengan fisik seperti apapun juga.

Love You Aisha.

Pacaran Syar’i?

Standar

image

Jagad sosmed lagi rame rame bahas tentang pic ini, mulai dari level ustad sampai level ketua persatuan sekolah islam terpadu turut membahasnya. So, izinkan saya sebagai ibu yang unyu unyu ini untuk ikut meramaikannya.

mulai..siaaaap…wan tu tri..

Seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya, isu ini akan bertebaran di dunia maya. Sebenernya saya males kalau ngeliat ada isu, terus heboh duluan, baru klarifikasi. Beuh. Hidup ini udah macam infoteimen aja (lha emang Mut).

Saat pertama kali saya melihat pic tsb, pikiran langsung bercabang menjadi dua.

Pikiran husnudzon:
(seperti kutipan saya dalam sebuah grup)

sebenernya isinya ga ada yg salah sih teh..imo..

bagus kan kalau gitu…

masalahnya adalah memang bisa ya ideal seperti itu..hihi.. pan ada si penggoda manusia tea.. entah ya membahasakannya gmn, cm sy nangkep maksud si penulis baik, cuma dia lupa aja bahwa seringkali ’si penggoda manusia’ itu masang perangkap super duper canggih dari tingkatan terendah sampai tertinggi

lanjut…

nah itu teh..sepertinya penulisnya ga pernah pacaran..whehe..dan keterbatasan ilmu hormon dll dll, jadi dia mau ’mencegah’ fenomena yang negatif2 zaman sekarang dengan tulisan di buku itu, berdasarkan opini dia.

Sekarang versi Suudzon

Atau ya kalau mau suudzonnya, si penulis sengaja membuat itu, untuk pembenaran seolah pacaran sehat pacaran syari itu bisa dilakukan

.

Daaan….sepertinya banyak khalayak yang condong pada cabang pikiran saya yang kedua yak.

Bisa aja kan sebenernya si penulis adalah seseorang yang polooos banget, sewaktu mudanya ga pernah pacaran so dia ga tau sampai sejauh apa si setan berusaha menggoda manusia dengan perangkap yang dahsyat saat pacaran! daan si penulis juga bisa aja adalah seseorang yang polos akan ilmu, dimana dia tidak mengetahui apa yang akan terjadi pada hormon sepasang anak adam saat mereka berduaan, daaan bisa jadi si penulis adalah seseorang yang polos akan wawasan, dimana data data mengenai aborsi/hamil di luar nikah/hiv/sex bebas yang bermula dari PACARAN tidak penulis ketahui. Agak aneh sih, di era yang serba informatif ini..eits Mut..ini kan ceritanya lagi husnudzon. Nah lalu dia melihat ada sekumpulan pemuda pemudi dengan pakaian syarinya berinteraksi, lantas mengambil kesimpulan sendiri ’aha’ mungkin bisa pacaran syari seperti yang tampak pada pakaian mereka. Jadilah si penulis tsb berasumsi menggunakan opininya dengan ilustrasi yang juga opininya.

Hihihi..jadi begitu looh Husnudzonnya versi saya :p

Nah. Coba deh tengok beberapa hari ke depan. Mungkin akan muncul tulisan tulisan tandingan dengan Subjek Pacaran. Dengan Headline: Sejak Kapan Pacaran Ilegal? atau Say No Pacaran = Melanggar HAM atau Pacaran Syar’i?  Bisa Kok. whehe. Imajinasi saya terlalu progresif nampaknya :p

Seperti kata mba Didin, sesuatu yang berbenturan harus dilihat dulu, yang dijadikan sandaran utama dalam berpikir/mengambil sebuah gagasannya apa? Misalnya kalau dalam kasus ini, mau merujuk pada mana nih? Pada tuntunan Islam atau tuntunan perkembangan dunia moderen kekinian buatan manusia-sebut saja HAM yang sering digadang gadangkan. Kalau landasan berpikirnya saja sudah berbeda, ya mana bisa disatukan, jadi gabisa dong si A beropini dengan landasan pemikiran X agar si B setuju dengan opini A. Moal nyambung Bro! Ujung ujungnya ya udah selama kita sudah mengeluarka pendapat kita dengan tuntunan yang kita yakini, yasudah! tidak usah ada paksa memaksa, gontok gontokan, dan pundung pundungan.

Whehe..si Gue jadi kemana mana.

Lalu gimana nih Opini saya tentang pacaran?

wew.

Sejauh napas berhembus. Saya sudah pernah menuliskan tulisan mengenai ’Perangkap Setan itu Bernama Cinta’ dan ’Bagaimana Mendapatkan Jodoh tanpa Pacaran’. Apa artinya? Artinya maaf kalau saya tidak meyakini bahwa pacaran itu sesuatu yang diperbolehkan. Kenapa? saya memakai tuntunan Islam dalam mengambil sikap ini.

Fin.

Butuhkan Vs Inginkan

Standar

Banyak cerita cinta, saat sang pangeran berkuda menemui ratunya untuk menjalani hidup bersama, Ratu pun berujar:

“Inilah jodoh yang Dia hadirkan padaku, sesuai dengan yang aku pinta.. terimakasih Tuhan”

Tetapi lain cerita dengan kisah cinta Ratu yang lain:

“Inilah jodoh yang aku butuhkan, Engkau tahu yang terbaik untuk diriku, dia memang bukan yang terbaik yang aku pinta, tapi aku yakin dialah yang Terbaik di MataMu untukku, sesuai dengan yng kubutuhkan”

Tekadang keinginan kita belum tentu sesuai dengan kebutuhan kita saat ini. Misalnya, saat mata ini dengan binarnya ingin membeli tas branded dengan harga aduhai, tapi ternyata setelah dipikir pikir ulang, bukan itu yang dibutuhkan sekarang..

So, back to topik…

Kategori Ratu yang manakah Anda?

Kalau saya sih yang kedua, hehehe, setelah sekian tahun menikah saya baru mendapat ’aha’ benar, sosok seperti Ayah Fauzi lah yang benar benar saya butuhkan. Dan sosok ’impian’ saya dahulu yang tertulis dalam angan dan catatan diary belum tentu sosok yang saya butuhkan saat ini.

Allah memang Maha Mengetahui setiap kebutuhan HambaNya.

Termakasih Allah telah menghadirkan sosok yang teramaaaat istimewa dalam kehidupan saya.

tuh jadi pengen nangis deh…

i love you, Aa Fauzi…

Bermasyarakat

Standar

Dakwah lingkar ketiga setelah pribadi, keluarga, adalah masyarakat. Masyarakat terdekat saat ini adalah mereka yang berada di kiri rumah, kanan rumah, dan depan rumah saya. Yups. Mereka adalah tetangga tetangga saya. Sejujurnya saya merasa kesulitan untuk bersosialisasi dengan tetangga ini. Sebelum melangkah serasa ada frekuensi yang tidak nyambung, karena pada umumnya mereka berusia seperti Ua, tante, ibu atau bahkan eyang saya. Ada siih yang muda, tapi bisa dihitung oleh jari :)

Ternyata praduga saya salah. Karena praduga itu saya munculkan sebelum saya terjun lebih dalam! Saat saya mencoba terjun lebih dalam? disitulah saya menemukan masalah, dan disitu pulalah saya belajar menyelesaikan masalah.

Biasanya saya melibatkan diri dengan tetangga hanya sekedar senyum sapa, kirim makanan, bikinin buletin dan paling lumayan adalah ikut arisan. Tetapi saat momen persiapan Halal Bi Halal dan 17 Agustusan menjadi momen ter’dalam’ sampai saat ini. Kesannya? Seru!

Berawal dari ditunjuknya Ayah Aidan menjadi koord.seksi kepemudaan di RT oleh pak RT, daan mau ga mau saya harus ikut membantu donk ya! Menyatukan pemuda yang tidak ’hangat’ dalam kepanitiaan ternyata tidak mudah :) Karena tidak adanya rasa memiliki, jadi yang hadir rapat ya yang itu lagi itu lagi. Gapapa. Dan ternyata menjadi pembimbing panitia pun tidak mudah. Antara ingin membimbing tapi tak mau terkesan menggurui dan gemas dengan aksi panitia karena deadline sudah di depan mata. ffuih. Belum lagi si saya yang jadi penyambung lidah panitia dengan ibuibu yang terkadaaaang gamau tahu proses :) Pengennya lihat hasil, itupun banyak protesnya :). Ada yang kerjaannya tukang menyalahkan, ada yang kerjaannya tukang komentar tapi ga ngasih solusi. Wuih. Macem macem deh karakter ibu ibu tetanggaku. Nah si gue kan gak akan tahu yak, kalau tidak melibatkan diri sedalam itu. Pesan ibu RT yang relatif masih muda juga, kalau kita berhadapan dengan yang lebih tua, sudah dengarkan saja. Kalau menyalahkan, sudah minta maaf saja, walaupun kita merasa tidak salahm *lapkeringet*

Sumpah dah. Yang namanya bermasyarakat harus tahu seninya. Bagaimana mendekati ibu A, bagaimana menyampaikan pesan pada ibu B tapi tak terkesan menggurui, bagaimana berinteraksi dengan yang lebih muda, bagaimana tujuan tercapai tapi tidak mendominasi aksi,bagaimana menghadapi orang yang susaaah sekali ’bergerak’, bagaimana menghadapi orang yang banyak ide tapi minim pelaksanaan. Sumpah. Kemarin itu sebenarnya banyak menguras emosi jiwa *lebai*

Kalau kata suami saya, saya lebih bisa merangkul pemuda karena ’suhu’nya masih dapat. Tapi justru kalau saya melihat suami saya lebih jago dalam hal mengarahkan tanpa terkesan menggurui dan menyalahkan. Evaluasinya ternyata tanpa sadar saya pun lebih suka seperti ibu ibu yang lain, banyak protes, dan ingin mendominasi (whehe..abisnya gemes ngelihat progressnya).

Tapi Alhamdulillah, masih bisa laah diredam dengan melihat bagaimana cara suami saya mengarahkan mereka. Alhamdulillaah juga terlepas dari segala kekurangan, ternyata bisa dibilang secara keseluruhan acaranya sukses! dan yang paling penting saya banyaaak belajar. Kalau saya ga terjun? ya ga akan belajar donk :)

Benarlah memang kata seorang kawan di Asrama dulu. Saat kita beramal, itu seperti memantulkan bola ke dinding. Jejak bolanya akan membekas pada dinding, tapi bolanya akan kembali lagi pada kita.

Wallahu’alam… semoga saya bisa menjadi bagian dari terbentuknya masyarakat yang madani.

Aisha 14 Bulan

Standar

My Lovely Daughter ternyata sudah 14 bulan! ga kerasa! And My Lovely Son sudah 4 tahun! 5 Tahun juga saya bersama ayah mereka…waktu terasa sangaaat cepat pat pat. Kalau jalan berdua sama Ayahnya, masih serasa pengantin baru. Qiqiqiq.

image

Aisha di usia yang ke 14 bulan ini sudah tumbuh gigi! yeee..akhirnya..walaupun cuma satu biji. Sudah bisa bilang Ayah, Aa, Dede, Nene (nenen), bilang ’Ummi’? masih tersimpan di otaknya T.T akurapopo. kurapopo. #ambiltisu. Walaupun kosakatanya masih sedikit, tapi kemampuannya dalam memahami maksud udah jago loooh. Udah bisa disuruh suruh (eh, dimintai tolong) Ummi mengambilkan barang, menyimpan barang, disuruh bobo,duduk, dadah, sun tangan, ces, ciluk ba, dll dll. Dan sepertinya sudah bisa memahami maksud pembicaraan, seperti contoh berikut:

Saat sesi membacakan buku

Aisha: nyenyeh (nunjuk buku lain)
Ummi: mau yang lain bukunya?
Aisha: yayah (iya)
Ummi: Sok ambil..

dan Aisha pun mengambil buku yang ia mau..


Aisha senaaaaang  sekali pabila Umminya menyanyi dan membacakan buku, dan senaang sekali mengganggu kalau sedang tilawah..-_-.. Sepertinya alQurannya harus khatam untuk ’didendangkan’ jadi nanti bukan lagi nyanyian yang Aisha suka.

di usianya kini pun Aisha sudah sering berjoged bebas, muter muterin badan sampai pusing, berceloteh tak jelas seolah sedang mengobrol.

Aisha juga adalah peniru ulung Aanya, yang baik dan yang jelek, ah sagala we ditiru, mungkin setengah tahun lagi mereka akan berkonspirasi untuk membuat Umminya semakin lieur >,< Jangan ya Nak.. Baik baik ya Nak..Pukpukpuk.

Apalagi ya, dari segi permakanan Alhamdulillah Aisha lebih gembul dari Aidan, ternyata benar kuncinya, jangan pernah dipaksa dan sediakan banyak alternatif. Walaupun ga gendut gendut amat, lumayan laah, Berat Badan Aisha 14 bulan sama dengan BB Aidan umur 20 bulan. whehe.

Sudah ah. Sekian laporannya. Sudah kehabisan kata kata :p

Tia Pembantu

Standar

Yups. Itu adalah kalimat ’curhatan’ pertama saya yang dituliskan dalam dinding putih di rumah eyang.

Saat Sekolah Dasar, keluarga saya sempat tinggal ’nebeng’ di rumah eyang. Penghuni rumah eyang tidak hanya keluarga kami saja (ibu, bapak, teteh, saya), ada juga adik adik ibu alias ’mang saya. Karena saya merupakan penghuni paling kecil, saya seriiiing sekali disuruh suruh.

“Tia, ambilin minum”
“Tia, beliin rokok”
“Tia, beliin anu ini itu ono”
dll.dll.dll

Sampai tercetus curahan hati saya yang paling dalam ketika itu. “Tia Pembantu”

Sekarang.Saat mengamati fenomena sekitar, ternyata menjadi sang bungsu itu adalah sasaran empuk untuk disuruh suruh. Eh. Ga sang Bungsu aja sih,pokoe selama di suatu tempat ada sekiranya yang terlihat “paling bisa diberdayakan” maka bersiaplah untuk dimintai tolong dari banyak pihak.

Tapi pernah ga sih yang meminta tolong, tolong, dan tolong itu memosisikan diri sebagai yang dimintaitolongi *halah*. Bagaimana perasaan mereka, sukakah dengan pekerjaannya, bagaimana kondisi yang dimintaitolongi saat dimintai tolong, dll, dll.

IMHO, apabila hal yang diminta tolong itu adalah kegiatan sehari hari yang bersifat rutinitas seperti, membelikan air galon, menyapu, mencuci piring, bayar listrik, membuka gorden, mematikan lampu, membuang sampah, menytrika, de el el. MAKA solusi terbaiknyaa adalah pada PEMBAGIAN TUGAS sesuai dengan kemampuan anggota keluarga saat itu. Aidan bertugas membuka qorden dan mematikan lampu. Ayah bagian nyuci baju dan nyuci popok. Ummi sisanya. Misalnya seperti itu. Intinya adalah setiap anggota keluarga memiliki peran masing masing yang DISEPAKATI di awal. Sehingga saat waktu pelaksanaan tak ada lagi perasaan ’ih si gue disuruh suruh melulu nih’, karena jobdesk masing masing anak sudah jelas.

Begitcu..

Kalau ada hal hal di luar rutinitas yang sekiranya kita butuh bantuan, ya komunikasikan saja. Bila tidak mau, yasudah. Biasanya sih saya begitu, bila Aidan sedang tidak mau. Karena memang seumur Aidan belum waktunya diberikan ’pembebanan’. (Idealnya sih gitu yak, ga jarang juga nih si Ummi jadi ngambek kalau Aidan gamau dimintai tolong..duh duh Muuth. Beban sholat aja baru dimulai umur 7 tahun. Kalem Muth..Kalem).

Gapapa. Saya nulis yang ideal idealnya dulu aja yak. Sekali lagi, buat sebagai ajang #selfreminder.

Nah. Jangan lupa juga apresiasi atas jasa karena sudah mau menolong. Sambil sedikit sedikit ’didoktrin’ tentang pahala berbuat baik, apa yang terjadi saat kita memudahkan urusan orang lain, dll..dll.

Hal jazza ’ul ihsaan ilaal ihsaan