Bahagia itu relatip! seperti halnya meninggalkan hal-hal yang tidak berguna menurut Hadist berikut :
Merupakan tanda baiknya Islam seseorang, yaitu ketika dia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya (Arba’ain ke-12).
Bisa saja menurut seorang pecandu Narkobah, nyimeng adalah hal yang berguna bagi dia, dan meninggalkannya adalah sesuatu yang menyakitkan. Bisa saja mencuri bagi seorang maling adalah hal yang berguna bagi dirinya. Jadi sesuatu yang relatif itu harus ada parameternya (bukan relatif lagi donk!), maksudnya harus ada batasan secara garis besarnya. Berguna itu berdasarkan apa, berorientasi pada apa, dan bahagia itu juga berorientasi pada apa.
Saya tergelitik menulis tentang bahagia-bahagiaan ini setelah membaca sebuah artikel bagus tentang “Pilihan masing masing seorang ibu, hendak menjadi apakah dia di Dunia ini?”. Apakah menjadi WK, SAHM, atau ‘pemenang sejati’ Bisnis di Rumah. Eh yang buat istilah ‘pemenang sejati’ bukan saya loh. HEhehe. Tapi memang sampai saat ini saya masih menganggap wanita mandiri finansial tapi masih bisa berdekatan dengan anaknya adalah sebuah pilihan terbaik diantara yang baik baik itu (IMHO tanpa nyinyir). Siapa yang ga mau coba bersedekah lebih tapi waktu untuk keluarga pun lebih? Siapa yang ga mau coba membantu orang lain dengan membuka lowongan kerja? Siapa yang ga mau coba mencari 9 pintu rezeki dari 10 pintu yang Allah sediakan? Saya? Mauuuuuu! Udah dijalankan? Ga bisaaaeuun -_-. Hehehe. Semuanya kembali ke ‘bakat’ alami, passion, dan lingkungan yang mendukung. So , mari saling menghargai takdir masing-masing. Bukan Pilihan masing-masing yah, karena terkadang seorang ibu dihadapkan pada sesuatu yang tidak ia pilih. Contohnya? Baiknya bersama kita simak paragraf di bawah ini dan jawab pertanyaannya dengan benar (hayaah..)
Mari kembali ke batasan batasan tentang bahagia itu, katanya “Jangan pernah mengabaikan kebahagiaan diri sendiri!”, lantas bahagia itu seperti apa sih? yang pasti berbeda setiap orang. Ada yang kebahagiaan utamanya bila karirnya meningkat terus, ada yang kebahagiaan utamanya anak anak tumbuh balalageur, ada yang kebahagiaan utamanya bla..bla..bla. Dah, intinya beda-beda tergantung individu masing masing. Tapi oh tetapi…tak jarang seorang ibu dihadapkan pada kondisi “darurat” dimana dia mau tidak mau harus menjadi WK ataupun SAHM. Darurat pertama misalnya seorang Janda ditinggal cerai/meninggal suaminya dengan anak 5 yang MAU TIDAK MAU bekerja 8 to 4 p.m, atau sebuah keluarga yang penghasilan suaminya kurang (bukan pas pasan lagi). Darurat kedua misalnya seorang ibu yang harus mengikuti suami ke negeri antah berantah dimana tak ada lowongan kerja bagi perempuan dan sama sekali tak ada kesempatan untuk berbisnis. Nah loh! masih bisa mencari kebahagiaan dari kondisi seperti itu? sementara batin kita menolaknya? Jawabanya, masih dwoonk. Kumaha carana?
Sepanjang otak saya bekerja saya pernah merekam sebuah memori Hadist yang baguuuuus banget, begini kira kira isinya :
“Sungguh!mengagumkan kondisi seorang mukmin, segala kondisi yang menimpanya dianggap baik. Apabila mendapat kesenangan dia bersyukur, dan apabila ditimpa musibah dia bersabar. Dan itu lebih baik baginya.” (HR.Muslim)
Jadi pabila Anda adalah ibu yang ditakdirkan sesuai dengan pilihan Anda dan Anda berbahagia karenanya, maka bersyukurlah. Dan pabila takdir Anda membawa pada sesuatu yang itu sama sekali bukan kemauan Anda, maka bersyukurlah dan bersabarlah. Niscaya Anda akan berbahagia! percayalah! percayalah! Terdengar mudah tapi sulit dilakukan bukan? Ah engga, bisa koook dilakukan *menyugesti*
Lalu..lalu.. orientasi bahagia itu kemana sih? Saya khawatir bila ada seorang ibu yang bahagia saat anak-anaknya terlantar (emang ada? kali aja ada), saya khawatir saat seorang ibu bahagia itu ketika dapat uang banyak dan karir tinggi tapi anaknya teu kaurus alias caludih (duh itu mah anak saya kalau lagi ingusan ey!), saya khawatir bila ada seorang ibu SAHM yang sibuk bahagia berBBMan sementara anaknya main ke tetangga dalam kondisi belum mandi belum makan dari pagi sampai sore. Jadi mau dibawa kemana ‘kebahagiaan’ kita? *nyanyi*. Teringat satu nasihat seorang bapak “Segala sesuatu itu menjadi baik, bila sesuatu itu dapat mendekatkan diri kita pada-Nya”. Jadi tanyalah pada hati nurani diri kita apakah ‘kebahagiaan-kebahagiaan’ yang kita lakukan itu menuntun kita semakin dekat denganNya? ( Semakin = Berusaha, Dekat = Takwa). Saya sendiri? masih jaauuuuh dari takwa, minimal dengan tulisan ini menjadi pengingat pribadi untuk terus BERUSAHA takwa, caranya dengan berilmu (agama, parenting, kerumahtanggaan, profesi, manajemen, dll), berkumpul dengan tukang minyak wangi, dan mengamalkan ilmu. Jadi mari kita berbahagia para ibu! Wallahu’alam bi shawab.