“Ya Tuhanku, janganlah Engkau membiarkan aku hidupku seorang diri, dan Engkaulah pewaris yang paling baik.” (QS. Al-Anbiyâi’: 89).
5 Mei 2009, jam 09.33
Asrama Salman. Setelah aku selesai dengan urusanku di kamar mandi di HPku tertulis, “2 missed call” . Ternyata itu telepon yang tidak terangkat dari Murabbiku. Langsung saja aku sms “Hadir teh! punten tadi teh kebelakang”. Beberapa detik kemudian Murabbiku menelepon, kurang lebih isinya seperti ini “Muth, insyaAllah ada biodata ikhwan yang masuk untuk muthi, teteh kirimkan via email ya, mungkin 10 menitan lagi sampai”. Ketika itu kujawab “Ogitu.. Biodata? (dengan nada tenang) Haduh teh..(nada panik) deg-deg an teh ( tambah panik)”. Dasar Muthi! Kepanikan itu terjadi karena aku tidak menyangka akan secepat itu aku mendapatkan biodata ikhwan (awalnya kuprediksikan yaaa, paling akhir tahun, atau tahun depan). Tapi Bismillaah, bila hati ini sudah berazam, maka konsekuensi apapun akan kuterima. Yup, inilah langkah yang kuambil, aku ingin meraih RidhaMu Rabb. Walaupun diri ini merasa belum baik adanya, setidaknya ada satu langkah yang kuambil yang kuharap dapat membuat Engkau lebih menyayangiku .
“Ya Tuhan, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zhalim, dan selamatkanlah kami dengan curahan rahmat-Mu dari tipu daya orang- orang yang kafir.” (Qs. Yûnus: 85-86).
Sepuluh Menit kemudian, “hm, ini dia email yang dimaksud dengan judul ‘Sedikit ttg sy.doc’”. Lalu kudownload filenya, dan kubaca pesan dari Murabbiku, “Silahkan dipelajari biodatanya, putuskan dalam keadaan ruhiyah terbaik, jangan lupa istikharah. Butuh waktu berapa lama untuk menjawabnya?” Lalu kujawab “Seminggu..eh..mmm..tiga hari mungkin teh”. Kemudian kubuka filenya, Pertama yang kulihat adalah NAMA dan FOTO. “Hm. ..tak ku kenal” ucapku dalam hati, lembar demi lembar aku telusuri dan kubaca, sampai akhirnya terhenti pada aktivitas organisasi yang membuatku harus mengingat keras (siapa sebenarnya sosok lelaki ini) “ Anak KARISMA Salman? Fisika Teknik? 2003? MUFTI?”. Langsung saja aku teringat pada sesosok lelaki yang dulu sering kulihat keluar masuk gedung kayu Salman, yang suka memakai jaket MUFTI warna krem ada garis-garis hijaunya dan suka bawa helm. Spontan saja aku menjawab “Oooo..akang itu”. Tapi tetap saja tak kukenal, hanya tahu saja, bahkan wajahnya pun lupa. Hanya jaketnya saja yang kuingat dengan jelas. Ok, akhirnya kupelajari biodatanya. Lembar demi lembar pun kubaca, dan “hmmmm” secara garis besar tidak ada hal-hal yang bertentangan denganku bahkan aku telah “jatuh hati” (dikutipin lo ya ^^) pada kecintaannya mengajar dan latar belakang orang tuanya yang adalah seorang guru.
-Mimpiku bukanlah menjadi istri saudagar kaya.. mimpiku adalah menjadi seorang guru- Bu Muslimah-Laskar Pelangi
7 Mei 2009, jam 20.00 Meminta restu dari ibu dan bapak untuk menjalani proses selanjutnya, dan mereka pun setuju. Akhirnya kuputuskan malam itu untuk mengSMS Murabbiku. “Bismillaah..setelah melihat, menilik, dan kemudian saya memutuskan tidak ada alasan untuk muthi (saat ini) untuk menolak, Lanjutkan teh!”. Seperti membeli kucing dalam karung ga Muth?(kalo ada yang nanya^^) Awalnya sih merasa seperti itu, tapi setelah aku berdoa, istikharah, menyerahkan sepenuhnya kebenaran data itu pada Sang Maha Yang Mempunyai Hati ini. Tiba-tiba mengalir perasaan tenang dan mantap dari dalam diri ini.
“Ya Tuhan, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan haq (adil). Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.” (QS. Al-A’râf 89).
17 Mei 2009, jam 14.00-15.00
Bertempat di sebuah masjid yang lumayan sepi, ditemani dengan Murabbi dan beberapa Sesepuh lainnya^^. Ta’aruf pun dilakukan. Sesosok ikhwan di biodata itu, ternyata bukan fiktif dan dia benar-benar nyata kawan!, aku melihatnya sekilas dan dalam hati aku berkata “Tuh..kan bener..akang itu” selanjutnya aku tidak berani lagi melihat wajahnya. Intinya pada proses ini kami berdua saling mengajukan pertanyaan yang tidak ada dalam biodata dan dirasa penting. Lagi – lagi, ntah kenapa aku merasa mantap hari itu. Akan tetapi untuk lebih memantapkan lagi diberi waktu 3 hari untuk menjawab apakah proses ini akan dilanjutkan pada tahap selanjutnya atau tidak.
“Ya Tuhan, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami serta memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’râf 23).
20 Mei 2009, jam tidak tercatat
“Muthi InsyaAllah, dari ikhwannya berniat akan melanjutkan pada tahapan selanjutnya. Bagaimana dengan Muthi?”. Begitulah kira-kira isi SMS dari Murabbiku ketika itu. Lalu kujawab “ iya teh, insyaAllah saya pun begitu”. Kemudian Murabbiku menjawab lagi “Alhamdulillaah, insyaAllah nanti akan dijadwalkan kapan Fauzi bisa bertemu dengan orang tua muthi”
“Dan janganlah sekali-kali engkau mengatakan ‘Aku pasti melakukan itu esok pagi’. Kecuali dengan mengatakan ‘insyaAllah’….”QS. Al-kahf 23-24
24 Mei 2009, jam ba’da asar@Asrama Salman Hari ini kang Fauzi ke Rumah di Rancaekek. dari pagi perasaan udah ga tenang, ntah kenapa, mencoba menghilangkan ketidaktenangan dengan berolahraga, tapi tetap saja. Makan ga nafsu, walaupun hanya 2 kali, keduaduanya tetep aja ga abis. Ya Rabb..maafkan aku atas kemubadziran hari ini, tapi ntah ini namanya sindrom apa setiap makanan masuk ke dalam mulut, pahit! Gada rasanya. Heummm. Sampai akhirnya bapakku mengSMS isinya “Caminku ngirim apel, brownis, pis mol Amanda”. Caminku? Awalnya aku berpikir bahwa Camin itu nama orang, “Camin, siapa ya?” Oalah.. setelah beberapa saat berpikir, Camin itu ternyata singkatan dari Calon Minantu (Calon menantu.red). “Bapak..Bapak..ada-ada aja”^^. Setelah bapak SMS mulailah hatiku sedikit tenang, sepertinya langkah awal yang bagus yang mengindikasikan bahwa “kg Fauzi ternyata ga diapa-apain sama bapak” hehe. Lalu aku balas smsnya “Gimana pak, udah interogasinya?”, lalu bapak balas dengan balasan yang membuatku lebih tenang lagi “Udah dong, mengharukan, tinggal Tia yang ta’aruf dengan orang tuanya, tunggu tanggal mainnya. Memohonlah terus kepada Al Waduud (Sang Maha Pemberi Cinta.red)”.
“,,,Ingatlah dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang” QS.Ar-Ra’ad 28
25 Mei 2009
SMS dari Murabbi, yang merupakan forwardan dari SMS kang Fauzi “Teh, tolong tanya ke akhawatnya, kalau 2 minggu lagi dilaksanakan khitbah, bagaimana? Saya akan mempersiapkan keluarga saya”. Spontan ketika itu kuberteriak dalam hati “What? Khitbah? main tembak aja, diskusiin sama bapak dulu lah”. Mengingat saat itu kondisi keluargaku yang belum stabil (eyangku pasca operasi yang belum pulih, sementara itu di bulan Juli ada acara reuni Akbar Keluarga) aku jadi sedikit terbawa emosi. Pokoknya ketika itu aku merasa ‘ditembak’. Lalu kujawab (via MBku) yang pada intinya biarlah santai sedikit, lihat kondisinya seperti apa dulu dan aku menyarankan agar kang Fauzi bertemu dengan bapakku lagi dan aku mengenal keluarganya terlebih dahulu.
28 Mei 2009
Disela masa-masa UAS, akhirnya aku memberanikan diri untuk berangkat ke Cipendeuy, Banjaran. Ke Rumah kedua orang tuanya. Ditemani adiknya yang ternyata seangkatan denganku, aku janjian di terminal Ledeng, naik BIS damri, turun di Tegalega, terus naik yang ke Banjaran, terus nyampe terminal naik keretek (delman.red). Pengalaman baru dan seru! Ternyata ada juga kawasan Bandung coret yang lebih jauh dari Rancaekek^^. Selama perjalanan aku bertanya-tanya tentang adik-adiknya, ibu-bapaknya, aktivitas, dan pastinya tentang dirinya. Di Rumahnya aku berkenalan dengan kedua orang tuanya, dan satu pesan tak tertulis dari keduanya adalah “Lulus dulu”. Hehe. Pesan yang sama dari bapakku, ketika kg Fauzi untuk pertama kalinya datang ke rumah kedua orang tuaku.
30 Mei 2009. Jam 14.30
Hari ini kg Fauzi bertemu dengan bapak lagi, tema pembicaraannya adalah “Obrolan Campur Aduk dan pembicaraan rencana khitbah”. Bertempat di rumah eyang di Cihanjuang akhirnya aku pun datang (setelah terjadi insiden pemaksaan dari ibu dan bapak agar aku datang (lebai..) dan atas izin Murabbi untuk datang dan tidak ngaji a.k.a liqo a.k.a mentoring, akhirnya aku datang.hehe). Bismillaah, tibanya di rumah eyang aku kaget ‘Walah banyak saudara, ternyata mang-mang dan bibi-bibi saat itu sedang kumpul di rumah eyang’ Sontak saat itu saudara-saudaraku menggodaku “Adeuh teh Tia, ada si aa tuh di dalem”. “Hiaa..aa?”jawabku. Komentar yang sama datang dari bibi-bibi dan eyangku “Mirip sama teh Tia ya, tinggal dikerudungin tapi, jodoh memang”. Pembicaraan saudara-saudaraku saat itu tak kumasukkan ke dalam hati. Biarlah Allah yang menentukan apakah dia jodohku atau bukan, karena Dia yang lebih mengetahui segala yang tidak kita ketahui.
“Ya Allah yang memutarbalikan hati. Tetapkanlah hatiku pada jalan agama-Mu”.
Dengan kaki yang gemetar dan jantung yang berdegup kencang akhirnya aku masuk melalui pintu samping rumah eyang, jalan menuju ruang tamu, lalu kemudian aku melihat Jaket krem garis-garis hijau itu di kursi ruang tamu, ‘Tapi mana orangnya ya? Ah tak peduli’ jawabku dalam hati. Lalu seperti kebiasaanku pada umumnya bila aku ke rumah eyang tempat yang dituju pertama kali adalah adalah Kamar Eyang, dengan langkah gontai lalu aku masuk ke kamar. Dan ternyata aku melihat sosok itu berada di kamar eyang, spontan aku berteriak “Hiaa..” lalu aku berbalik kebelakang dan berjalan secepat mungkin ke dapur, dengan ekspresi yang entah seperti apa. Pokoknya hari itu kulalui dengan perasaan malu, deg-degan, salah tingkah dan sebagainya. Tanggal khitbah pun ditetapkan 4 Juni 2009. Tanggal itu ditentukan karena bertepatan dengan datangnya kedua anak eyang yang dari Sulawesi dan satu dari Sumatera dengan tujuan menjenguk eyang, dan pada tanggal itu pun merupakan hari terakhir salah satu Bibi berkunjung di Bandung. Alhamdulillah. 4 Juni 2009 Peristiwa itu, khitbah namanya akhirnya terjadi juga. Jam 15.25 lelaki itu datang. Memakai baju yang kalo kata mang Deni (paman saya.red) mah atas warna merah bawah kuning (Kayak bendera semapoer^^), sedikit kulihat dari balik tirai kamar eyang ternyata dia memakai baju warna biru, ya?. Dia dan keluarganya akhirnya datang, solat asar dulu di masjid masa kecilku tercinta (Andai dia tahu arti masjid itu bagiku J, masjid ath thaariq namamu ). Saat acara, bapakku tercinta bertugas multifungsi. Naskah yang telah dibuat dua hari sebelumnya dibacakan, ternyata ada hal-hal yang bapak tambahkan yang aku tidak tahu, dan itu membuat air mataku hampir tumpah J . Bapak..bapak.. Akhirnya tanggal ditetapkan, 11 Juli 2009, jarak waktu yang sangat singkat menurutku dari khitbah ke akad. Sebuah tanggal yang telah lama ditetapkan bukan untuk pernikahanku, tetapi untuk momen reuni Akbar Keluarga dimana keluarga eyang menjadi tuan rumahnya. Akan tetapi Reuni Akbar tidak jadi dilaksanakan, mengingat kondisi eyang yang semakin menurun pasca operasi. Jadilah, rumah yang semula disewakan untuk reuni akbar menjadi rumah untuk pernikahan Muthia Husnul Lisani dan Fauzi Fajrudin.
Dan dalam hati ini pun aku masih bertanya-tanya,, apakah dia yang akan menjadi suamiku kelak? Apakah dia jawaban dari doa-doaku dan doa orang tuaku? Apakah dia yang akan menjadi pendamping hidupku?? Apakah dia pemimpin, nahkoda, pilot rumah tangga yang akan membawaku dan keturunannya ke JannahNya kelak? Aamiin Rabb.
Ya Waduud, Sang Maha Pemberi Cinta, munculkanlah rasa cinta antar keduanya, rasa Sayang antar keduanya, silih asah silih asih silih asuh . Berkahilah setiap langkah yang diambil, setiap tetesan keringat yang keluar, dan setiap hembusan napas yang keluar. Lindungi kami dari keputusasaan rahmatMu, dan rasa malas. Istiqomahkan kami di jalan ini, jalan yang dicontohkan para Nabi dan Rasul. Ajari kami bersabar dan bersyukur. Muliakan kami di duniaMu dan matikan kami dalam keadaan syahid di jalanMu. Bismillahitawakaltualallahilahaulawalakuwatailabillahiladzim.
“Maka Nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?” QS.Ar-Rahman 16