Saya dan EdCoustic

Standar

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

Seorang sahabat memberikanku Nasyid via mp3 padaku saat masa masa Hijrah dulu, diantaranya yang kuingat ada lagu Pertengkaran kecil, menjadi diriku, dan remaja peduli, tiga Nasyid yang belakangan baru ku tahu Nasyid milik Edcoustic yang beranggotakan Kang Aden dan Pak Eggie (kenapa saya manggil pak? nanti saya ceritakan). Lagi lagi ketika tinggal di Asrama Salman ada seorang teman yang mengawali untuk memboomingkan lagu Hymne Salman, dan saya jatuh cinta pada lagu itu! Dan belakangan saya pun baru tahu bahwa lagu itu milik Alm.Kang Aden salah satu dari dua personil EdCoustic. Lagu itu adalah lagu nasyid pertama yang kuhapalkan secara serius, dan dinyanyikan dengan serius (hadeeuh muth..penting pisan). Yup, dulu sih saya menggapnya penting. hehehe. Lagunya easy listening tapi deep. Tiba di tahun 2006, saat saya menjadi ketua pertunjukkan seni di  PMB (penerimaan mahasiswa baru) Salman, dan saya mengundang Edcoustic via manajernya bang Irfan.  Walaupun ternyata saat hari H terjadi miskom antara Salman dan Gamais yang mengakibatkan Edcoustic gaada yang nonton dong..dong..dong..dan bila ada kolam kapuk, saya udah nyebur kesana kali, ditambah lagi pihak Salman yang agak sentimen menanggapinya tanpa tahu kejadian sebenarnya apa (loh..loh..si gue jadi curhat).

Lanjut. Sampai pada titik perjalananku bertemu dengan yang terkasih, bapak Fauzi. Dan tahukah Anda sekalian, dia memilihkan satu lagu yang dia sukai judulnya “duhai pendampingku”, itu lagu seriiiiing banget diputer dulu kala, dan sampai sekarang kalau tetiba ada lagu itu selalu kata kata yang ia ucapkan “itu lagu buat Ummi”. hihihi. Dan lagi lagi saya baru tahu bahwa itu lagunya Edcoustic. Lalu roda kehidupan pun berputar sampai suatu titik saya harus menjadi guru di sebuah SMPIT, kemudian sampai di satu waktu saya harus mengambil jam guru lain karena guru tersebut sibuk “Sibuk manggung dan bisnis” begitu kata guru guru yang lain, tebak siapa? Yup pak Eggie. Alhamdulillah saya mengenal Pak Eggie pertama kali sebagai sosok guru (itulah sebabnya saya manggil ‘Pak’), bukan sebagai personil Edcoustic. Kalau engga,  jiwa malu maluin saya keluar, minta foto bareng dan tanda tangan! qiqiqiqiq. Setelah saya cerita sama yang terkasih, beliau bilang bahwa “oh..iya da mi..baru inget kayaknya memang orang Rancaekek”. Oke, saya baru, setelah itu teteh mentor saya cerita kalau Pak Eggie adalah sahabatnya, adik adiknya pun ikut Furiska (Forum Remaja, semacam Karisma Salman). Oke oke..berarti kesimpulannya adalah memang saya yang ga gaul :p. Dan baruuu kemarin itu saat berita kepulangan Alm.kang Deden, saya baru tahu kalau beliau pun orang Rancaekek, dan teman teman saya terlebih teteh mentor saya sepertinya memiliki kenangan dalam dengan Beliau.

Begitulah Edcoustic di mata orang yang ga gaul kayak saya :). Terakhir dari saya, walaupun sekarang saya sudah mengurangi kuantitas mendengarkan lagu, pun Nasyid, tapi saya berharap semoga EdCoustic akan tetap ada dan banyak menginspirasi banyak orang dengan lagu lagunya yang menyentuh.

Komentar Miring “Mobil Murah”

Standar

Banyak sekali yang berkomentar miring mengenai mobil murah yang beredar di pasaran baru baru ini, mulai dari “buat apa sih, bikin macet aja”, “Ini mah supaya orang bermobil pajaknya rendah aja” atau mungkin ada yang berkomentar “ini mobil murah hanya menjadi mesin sedot BBM bersubsidi nih”. Ibarat Upil di hidung, ga penting buang aja deh ke Jamban.

Untuk saya sebagai warga pertengahan yang belum pernah punya mobil, terbiasa kemana kemana naik angkutan massal sejak kecil, hal ini bagaikan angin segar. Walaupuuuuuun nyatanya belum mampu juga untuk beli mobil murah tersebut. Coba bayangkan bila Anda di posisi sebagai keluarga muda menengah yang bawa buntutnya banyak (baca:anak) dan harus ngagigiwil turun naik angkot untuk menuju suatu tempat, kasian yah. Dan ternyata keluarga muda tersebut sangat terbantukan dengan adanya mobil murah tersebut karena belum mampu membeli mobil mahal seperti yang Anda punya. Sekali lagi, keluarga muda itu bukanlah keluarga kami, karena nyatanya kami belum mampu membeli mobil MURAH tersebut. Emang penting ya Mobil? bagi saya sekarang penting, tapi tidak mendesak. Alhamdulillah..naik kereta-ngangkot, masihlah hal yang bisa saya nikmati.

Maksud saya, proporsionallah dalam berkomentar. Jangan sudut menyudutkan, jangan pojok memojokan. Berkomentar miringlah, bila memang benar benar Anda adalah seorang pengguna angkutan massal sejati, atau Anda adalah seorang biker yang kamamana ngaggoes sapeda. Berkomentar miringlah bila Anda sendiri sudah tidak lagi menjadi warga yang turut serta menciptakan terjadinya kemacetan. Berkomentar miringlah saat dalam kesederhanaan Anda, Anda memakai BBM nonsubsidi. Berkomentar miringlah saat Anda menjadi seorang penentu kebijakan yang dapat memberi solusi (menyediakan angkutan massal yang aman dan nyaman bagi ibu dan buntut2nya,yang available di setiap sudut kota, tempat menunggu yang nyaman ,dll.dll)

So. Sebenarnya menurut saya masih ada keluarga keluarga yang terbantukan dengan adanya mobil murah ini, tanpa ada maksud apapun terhadap tendensi akal akalan pajak, BBM subsidi, dan kemacetan! So, jika Anda adalah salah satu orang yang saya sebutkan di atas, silakan berkomentar miring. Akan tetapi jika Anda masih menjadi salah satu penghuni bumi yang masih berkontribusi terhadap kemacetan, polusi asap kendaraan, dan BBM bersubsidi. Berhentilah berkomentar! Sungguh komentar Anda tidak menjadi sebuah solusi.

Tapi berita terakhir yang saya baca, mobil MURAH tersebut harus pake pertamax ya :D hihihi. Aneh juga ya :)

Tentang Kecerdasan Majemuk

Standar

Berikut adalah salah satu materi dari 2 materi yang sudah saya bawakan dalam rangka Pengajian POM PGTK Asmaul Husna (Nasip jadi PJ Pendidikan :p)

—————–

Pendahuluan

Tahukan Anda bahwa penulis novel terkenal dari Inggris yang bernama Agatha Christi mengalami kesulitan Learning diasability atau kesulitan dalam menerima pelajaran?
Tahukah Anda dengan nama Stevie wonder, seorang pemusik, komposer yang masuk dapur rekaman sejak usia 10 tahun ternyata adalah seorang yang buta?
Tahukah Anda bahwa Franklin D Roosevelt Mantan Presiden Amerika memimpin dengan duduk di kursi roda akibat serangan polio?
Tahukah Anda bahwa Hellen Keller peraih banyak penghargaan, bahkan sampai mendapatkan piala oscar sebanyak 2 kali adalah seorang yang buta, tuli, dan bisu?
Tahukah Anda bahwa Lois Psteur, seorang ilmuan penemu 1800 vaksin, dia menderita ADD atau Attention Defisit Disorder?

Tidaklah Allah menciptakan seorang manusia tanpa disertai sebuah ‘bekal’, yaitu bekal Akal untuk menjadi penuntun hendak menjadi apa ia di dunia ini. Begitu pun dengan anak anak kita, Allah anugerahkan akal kepada mereka sebagai bekal untuk menjalani kehidupan. Saat ini, anak kita merupakan calon- calon orang hebat yang akan memberikan manfaat bagi diri, keluarga, dan lingkungannya. Siapa sih yang tidak ingin melihat anaknya menjadi anak yang sukses, terlebih lagi anak yang shaleh? Tak dinyana lagi, sudah merupakan kewajiban kita sebagai orang tua untuk membimbingnya.

Sebuah Paradigma Umum yang Salah

Kondisi 1 : Anak kita senang sekali berlarian kesana kemari, senang sekali menyanyi, senang sekali tersenyum, senang sekali memanjat pohon, menari, melukis, menggambar, bermain bongkar pasang, bermain bola.
Kondisi 2 : Anak kita pandai sekali berhitung, membaca, berbicara bahasa inggris, bahkan ketika beranjak sekolah dasar nilai matematika, IPA dan Bahasa Inggrisnya selalu mencapai nilai sempurna.

Dari dua kondisi di atas, manakah anggapan umum (orang kebanyakan), yang menggambarkan sebagai kondisi ANAK yang PINTAR?
Kebanyakan orang mungkin menjawab kondisi kedua sebagai ciri anak yang pintar. Sehingga apabila anaknya tidak jago dalam hal tersebut maka segala daya dan upaya pun dilakukan orang tuanya. Mulai dari memotivasinya, memberikan les tambahan, atau mungkin menekan anak dengan kata kata “makannya kamu itu harus perhatikan guru!”, “makannya jangan banyak main..”, “lihat kakakmu!” dan sejuta tekanan lainnya. Dorongan tertentu yang berasal dari orang tua tersebut bisa menjadi pecut untuk kemudian termotivasi atau bahkan menjadi demotivasi bila ternyata cara cara yang dilakukan tidak tepat. Dibalik ekspresi rasa sayang yang beraneka ragam tersebut, terkadang orang tua lupa bahwa sebenarnya ada potensi lain berupa “harta karun” dalam diri anak yang belum termunculkan.

Apa itu Multiple Intelligences?

Kemampuan anak kita itu seluas samudra yang didalamnya banyak “harta karun” yang terpendam, tidak hanya satu tetapi banyak! Seorang psikolog bernama Howard Gardner mengemukakan sebuah teori Multiple Intelligence/kecerdasan majemuk, yang mengatakan bahwa setiap anak mempunyai kecenderungan kecerdasan dari sembilan kecerdasan, yaitu :
1. Cerdas linguistik ; cerdas dalam mengungkapkan pikiran pikirannya dalam bicara, membaca, dan menulis. Biasanya dimiliki oleh : orator, negosiator, pemimpin, penulis.
2. Cerdas Matematis-logis ; kemampuan menangani bilangan perhitungan, perhitungan pola, berfikir logis dan ilmiah. Biasanya dimiliki oleh : ilmuan, filsafat, engeener
3. Cerdas visual-spasial ; kemampuan mengamati, melihat secara detail, dan lebih jauh mampu untuk menuliskan/membicarakannya kembali. Biasanya dimiliki oleh : engeener, pilot, navigator, penemu
4. Cerdas musikal ; kemampuan menyimpan nada, atau irama dalam memori. Orang memiliki kecerdasan ini biasanya lebih mudah mengingat sesuatu bila diiringi oleh musik. Biasanya dimiliki oleh : musisi, seniman, budayawan
5. Cerdas kinestetis ; kemampuan menggunakan anggota tubuhnya, dapat mewujudkan idenya melalui gerak fisik. Biasanya dimiliki oleh : penari, atlet
6. Cerdas Interpersonal ; kemampuan seseorang untuk berhubungan dengan orang orang di sekitar, sehingga bisa merasakan secara emosional, tempramental, suasana hati atau kehendak oranglain. Biasanya dimiliki oleh : sosiolog, konselor,psikolog
7. Kecerdasan Intrapersonal ; kemampuan mengenali dan memahami diri sendiri serta berani bertanggung jawab atas perbuatan sendiri. Biasanya dimiliki oleh : trainer, motivator.
8. Cerdas Naturalis ; kemampuan mengenali lingkungan dan memperlakukannya secara proporsional. Biasanya dimiliki oleh :antropolog, arkeolog, pencinta lingkungan.
9. Cerdas eksistensial ; kemampuan merasakan dan menghayati berbagai pengalaman ruhani. Biasanya dimiliki oleh : fisuf, tokoh agama, ahli spiritual.

Anak anak memiliki variasi potensi kecerdasan masing-masing, ada yang memiliki satu kecerdasan yang dominan, dan yang lainnya lemah. Ada juga yang memiliki dua bahkan tiga kecerdasan yang dominan. Berikut beberapa poin penting dalam memaknai teori Multiple Intelligence/kecerdasan majemuk ini :

• Semua kecerdasan itu sederajat, tidak ada kecerdasan yang lebih penting/ lebih baik dari kecerdasan lainnya.
• Kecerdasan tersebut dinamis, artinya anak memiliki kemampuan untuk mengeksplorasi, menumbuhkan,, dan mengembangkan kecerdasan tersebut. Jadi jika anak kita memiliki kecerdasan tertentu yang lemah, bukan berarti kelemahan itu seterusnya melekat pada dirinya. Proses stimulus dan belajar yang tepat akan menumbuhkan kecerdasan yang lemah tersebut.
• Setiap anak dapat memiliki beberapa kecerdasan sekaligus.
• Setiap kecerdasan punya banyak indikator. Contohnya, kecerdasan linguistik memiliki indikator kemampuan mendengar, berbicara, menulis, dan membaca. Nah, bila anak Anda tidak mahir berpidato atau berceramah tetapi  dia pandai menulis sebuah karya tulis, maka anak anda sudah bisa dikatakan memiliki kecerdasan linguistik.
• Indikator kecerdasan yang berbeda-beda saling bekerjasama hampir di setiap aktivitas anak kita. Ketika anak kita punya kemampuan cerdas menggambar, dengan sendirinya indikator kecerdasan kinestetis juga bekerja, dan kejeliannya dalam menggambar juga menjadi indikator kecerdasan naturalis.

Betapa banyaknya harta karun dalam diri anak kita, jika paradigma memandang kecerdasan majemuk ini dimiliki orang tua, maka kekhawatiran mengenai ketidakmampuan anakkita pun akan hilang.
Pendorong dan Penghambat Kecerdasan

Menurut Howard Gardner, kecerdasan seorang anak kita dipengaruhi oleh stimulus lingkungannya. Stimulus tersebut akan membentuk pengalaman dalam otak anak. Ternyata ada dua jenis pengalaman yang berasal dari lingkungan, yaitu :
• Crystallizing experiences, merupakan pengalaman yang memberikan kekuatan positif. Pengalaman tersebut berupa pemberian apresiasi atau motivasi untuk berhasil, yang kemudian pengalaman positif tersbut akan mengkristal dalam diri anak dan menjadi pendorong munculnya kecerdasan seseorang.
• Paralyzing experiences, merupakan pengalaman yang mematikan semangat dan motivasi dalam proses belajar. Pengalaman tersebut berupa tidak ada penghargaan dari lingkungan sekitar atas apa yang telah dilakukan anak, tekanan tekanan psikologis dari keluarga dan lingkungannya, yang tentu saja akan menghambat munculnya kecerdasan seseorang

Aplikasi : Dua Sisi Mata Uang “Multiple Intelligence”

Sisi pertama, multiple Intelligence muncul menjadi gaya belajar. Maksudnya adalah ketika kelak anak kita kesulitan dalam mata pelajaran di sekolahnya, bisa jadi pendekatan yang dilakukan oleh gurunya kurang tepat. Informasi dari guru akan cepat diterima oleh otak apabila sesuai dengan gaya belajar murid. Melalui deteksi multiple Intelligence sang anak, guru dapat melakukan beragam pendekatan/metode yang disesuaikan dengan gaya belajar Anak.
Sisi kedua, multiple Intelligence muncul sebagai sebuah profesi anak kelak. Hal ini erat kaitannya dengan bakat. Bagaimana cara melihat bakat anak? biasanya bakat anak dilihat dari hal hal yang dia sukai dan berlanjut pada ciri-ciri seperti berikut :
• Terus menerus melakukan aktivitas tersebut, sepertinya tidak merasa bosan
• Dari rasa suka tersebut, anak mampu membuat karya, produk, atau menampilkan sesuatu
• Jika anak mengikuti pelatihan terhadap materi yang disukainya, anak akan menyenanginya dan menjadi “Pembelajar Cepat”
Untuk memupuk rasa suka menjadi bakat inlah, diperlukan pendekatan yang sesuai dengan multiple Intelligence anak tersebut. Dan apabila bakat tersebut ini diarahkan ke jenjang akademis, anak akan meraih cita citanya, yaitu memiliki profesi yang disukainya.

Sumber : Buku Orangtuanya Manusia, Munif Chatib

Aidan dan Sekolah (bagian 1)

Standar

Haihai! anak kecil kok udah sekolah! baru 3 tahun loh!

Bilamana ada yang bertanya seperti itu maka inilah jawaban saya.

Aidan itu pemalu, pemaluuuuuu syekali, oh lebih tepatnya mah Aidan itu lama panasnya. Bagi orang yang sudah dikenalnya semacam kakek, nenek, nin, aki, bibi, mang, bunda mah sudah tidak malu lagi, bahkan suka malu maluin..hihihi. Bila Aidan diajak Ummyah (Ummi Ayah) ke arena bermain semacam di mall, yang dia lakukan adalah…..ningalikeun batur ulin! dan dia pun mencari permainan yang ‘save’ menurut dia. Seperti mobil mobilan yang hanya dikemudikan satu orang, bila main perosotan yang harus ngantri pun dia dengan bageurnya mempersilahkan orang untuk maju duluan (padahal udah naik tangga donk, turun lagi deh dia -_-). Yah begitu lah karakter bermain anak saya yang satu ini bila bermain di kerumunan orang banyak. Bahkan pernah suatu saat Kami berjalan jalan di mall kampung saya, di arena bermainnya gaada yg main, dan dia pun bingung harus ngapain. Kuriling kuriling GJ dan berakhir di mandi bola, sendirian! (apa coba yang bisa dieksplor dari mandi bola,,heu). Bahkan juga untuk arena bermain sekelas apasih itu namanya yang di BSM..hmm..hmm (mikir..beneran lupa..) Owyah Trans Studio!! (eit jangan nyangka kami gagayaan ke trans studio yah, ini mah memanfaatkan yang gratisgratis waktu ultahnya kantor ayah, kalau biaya sendiri gamau deh kesana) dia pun krik krik untuk bermain “Aa pulang ajah..-_-” yah..pada intinya mah beliau cilik ini harus distimulus lebih untuk bagian eksplor mengeksplor ini.

Naah..kembali ke sekolah. Jadi diharapkan saat Aidan sekolah, disana dia banyak melihat karakter anak, ada yang begini, ada yang begitu dan dia bisa ngikutin si temannya untuk mengeksplor diri. Kenapa ngikutin? karena memang Aidan itu tipe pengikut sejati, kalau di rumah ya kemana mana ngintil Ummi, kalau bareng main sama eijaz ya ngikutin apa yang eijaz mainkan, kalau di luar rumah sama anak anak tetangga ya ngikutin mereka kemanapun mereka pergi, ya gitu deh..ga pernah jadi leader untuk memulai sesuatu.

Owyah ditambah lagi sekarang kan Aidan sudah sangat jarang main sama Eijaz (eijaznya udah pindah ke kota), jadi ceritanya sih untuk memfasilitasi kegiatan bersosialnya dan mengeksplor dirinya.

Lalulalulalu bagaimana mi? Aidan suka ga sekolah? Aidan ituuuu..di awal awal susah untuk masuk gerbang, sekali Ummi harus ikut masuk kelas, dua kali adegan nangis nangis baru deh full lepas. Dan itu terulang kembali minggu ini karena waktu sekolah yang terpotong libur lebaran. Menurut laporan bu gurunya sih, nangisnya ga lama, udah itu mah biasa aja, main biasa, ditanya mau jawab, bahkan terlihat hideng kata gurunya, makan pun ga mau disuapin. Teman Aidan di PG ada 8 orang (Vyo, Haikal, Adit, Cesta, Lulu, Ia, Kaka, Aisyah, Syira), Aidan paling pas sama Haikal, karena mungkin selain jenis kelaminnya sama Haikal yang tingginya hampir sepantar. hihi. yang lain tinggi-tinggi.

Owyah, bila suatu hari Aidan terbangun dan ga mau sekolah, Ummi sih tidak akan memaksakannya. Tapi so far sih dia mau sekolah terus, walaupun  nyatanya drama di pagi hari penuh dengan adegan drama dari Aidan untuk tidak berhadapan dengan kamar mandi. Eh..eh..saya belum nyebut nama TKnya yah, saya memilih TK Asmaul Husna karena sosok ibu kepala sekolahnya, beliau perintis TK darul hikam disini, dan juga sedang menyelesaikan S3nya di bidang kePAUDan, prestasinya banyak, dan sudah tahu banget lah cara menangani anak anak. Keren banget lah beliau teh! Mudah mudahan Yayasan TK yang didirikannya bisa berkembang lebih baik ya bu.

Sekian dulu cerita Aidan dan Sekolah, nantikan bagian bagian selanjutnya..:D

Rasa Sambel

Standar

Suatu pagi kami sikat gigi bersama

“mi..odol Aa..tolong ambilkan…yang Aa rasa apa mi?”

Owyah, ini adalah pertanyaan keseribu kali tentang rasa odol Aidan, jadi sebenarnya dia sudah tahu itu odol rasanya apa. Entah kenapa anak kecil teh suka sekali yah ngulang ngulang pertanyaan (apa anak saya aja yang gitu yak). Lalu seperti biasa saya pun membalikkan pertanyaan..

“coba Aa tahu ga rasa apa?”                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                 “stoberri”
“ya..benar”

Pertanyaan pun berlanjut.. Owyah lagi, tatkala Aidan hendak menggosok gigi banyak sekali pengalihannya, seperti…bentar mi mau kocok kocok air dulu, bentar mi ininya (gayungnya) mau dimasukkan dulu, iih bentar kumur kumur dulu, dan yang paling aneh adalah MAU MINUM AIR PUTIH DULU..-_-. Kembali ke lontaran pertanyaan Aidan berikutnya :

“Mi, ummi sikat gigi yah, yang ummi rasa apa?”                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        “Ummi mah rasa pedes A…”
“OOh….”

Setelah lamaaa tak sikat gigi bareng, akhirnya dua hari yang lalu kami pun sikat gigi bareng.

“Mi..odol Aa rasa apa, stroberri yah”
“Iyah…”
“Kalau Ummi mah rasa SAMBEL yah”
” !@#$%^^^&&&*() :))”

PEDES = SAMBEL . Pinter kali kau Nak.

Lepaskanlah!

Standar

Pikiran saya bercampur aduk, pabeulit, teu pararuguh tatkala melihat berita-berita mengenai Mesir dan Suriah saat ini. Bingung harus bersikap apa, ngapain, apa yang bisa dilakukan selain doa. Ah Doa saja jarang kuberikan untuk mereka, maksudnya doa di sepertiga malam,  mengkhususkan diri di sepertiga malam dan bermunajat padanya, memohon dengan sepenuh harapan untuk Saudara-saudara saya disana. Padahal konon saat sepertiga malam itu saat saat intim dah dahsyat untuk ‘curhat’ pada Pemilik Energi Terbesar di Alam Semesta ini. Cm’on! Haruskah saudara dekatmu dulu yang dibantai baru kau memohon padaNya! dan Akhirnya tumpahlah keluhkesah ini di blog. Ya. Masalah sebenarnya ada di diri ini yang sudah lamaa sekali saya tidak berdua-duaan, curhat ngomong ngalor ngidul, tertawa sampai menangis hanya bersamaNya.

Tidakkah kau ingin membantu mereka, walau hanya dengan doa? doa yang khusuk, doa yang penuh pengharapan? Tidakkah kau ingin mendoakan generasi keturunanmu agar cinta dengan Al-Qur’an. Mengapa Qur’an? Konon semakin memudarnya nilai-nilai syariat dalam tatanan kehidupan kita sejak jaman dulu, karena generasinya semakin jauh dari AlQur’an. Dibaca. Dikaji. Diamalkan. Lupakkah kau pernah merasakkan nikmatnya ‘bercinta’ denganNya di sepertiga malamnya? setiap hari, hanya ada kau dan Dia? Ayo tunggu apalagi, lepas tali yang membelenggu tubuh dan azzammu, lepaskan! lepaskan! lepaskan! Kalahkan hawa nafsumu!

Sementara mereka yang syahid telah ‘lulus’ dari ketidakistiqomahannya, mengapa kau disini masih saja kesulitan! Apalagi yang membuatmu menunggu untuk beraksi? Sedangkan keinginanmu akan Dunia dan Akhirat ini sangat melambung tinggi! Keinginan untuk mendidik anak anak, keinginan untuk menjadi ibu teladan, keinginan untuk menjadi istri shalihah, keinginan melihat anak anak tumbuh shalih, keinginan untuk memasuki JannahMu. Duhai Sang Maha Penguasa Hati…Allah…tak inginku menjadi seorang penghamba angan-angan, izinkanlah aku berazzam melalui tulisan ini. Hai kau yang sedang berazzam! lihatlah terus tulisan ini! dan malulah saat kau tak melakukan azzam yang kau buat sendiri.

Saya dan Mereka

Standar

Suatu pagi saya harus berangkat ke Bandung untuk Imunisasi Aish. Kenapa ke Bandung? karena nyari yang gratis, walaupun ongkos keretanya mah ga gratis :). Berangkat berdua saja, serasa jadi ibu dan istri yang tegar menghadapi kehidupan. Haha lebai!. Hari itu juga saya banyak bertemu dan mengamati orang. Seperti kejadian berikut ini :

Di Stasiun menunggu Kereta

Sebelum bertemu dengan satu sosok yang saya kenal, saya banyak mengamati perilaku orang, efek dari mata kuliah biper sewaktu kuliah dulu kayaknya, (biper : biologi perilaku, dimana saya banyak mengamati perilaku binatang, burung kowak, kecoa, cupang, mencit, jangkrik, dll). Di stasiun beragam jenis strata manusia ada di sana, dari segi penampilan mungkin bisa dinilai kelasnya kelas ekonomi menengah ke bawah *mereun*. Satu hal yang menarik perhatian saya saat mengamati orang adalah : orang ini profesinya apa ya dan mau kemana ya *penting banget.haha*. Lalu saya pun bertemu dengan sosok yang dikenal, teh Yelly, kakak tingkat sewaktu kuliah dulu. Beliau adalah seorang master (lulusan S2 maksudnya), ibu 2 anak, yang bekerja sebagai freelancer di RSHS. Di waktu yang singkat itu banyak sekali beliau bercerita tentang pengalaman S2nya, yang selama S2 itulah dia beranak 2 (beu.kayak kucing aja, beranak). Subhanallah, perjuangan yang menurut beliau ‘memalukan’ tapi tidak untuk saya, saya jadi banyak belajar deh dari beliau. Obrolan kami itu pada intinya, saat kita memutuskan memiliki anak (hamil melahirkan menyusui) dan sekolah, maka hal yang harus benar benar dipersiapkan adalah MENTAL. suit suiiiw. Seperti yang mudah tapi tentunya sulit dijalankan, yup. Karena saya sendiri pernah merasakannya, saat berjuang lulus S1 dulu. Supporting sistem bisa dibentuk tapi mental harus diasah. Dukungan dari suami pun sangat berperan penting. Yu Know lah, wanita! Efek hubungan psikologis suami-istri bisa berefek domino ke hal yang lainnya, ya ga? eh apa saya aja yang gini. Hehe. Tenkiu teteh telah memberi banyak masukkan untuk saya, jarang banget loh saya ketemu si teteh yang satu ini, Alhamdulillah sekalinya ketemu dapet wejangan deh.

Di dalam Kereta

Sengaja saya ga ‘ngebuntutin’ teh Yelly, karena selain beliau ada temannya, juga saya sedang menarget satu orang untuk saya ajak ngobrol, Asri namanya. Di stasiun sih saya udah manggil dia, tapi dianya tidak ngalieuk. Akhirnya kami pun bertemu, duduk bersama dan mengobrol setelaaaaah betahun tahun tak berjumpa. Asri adalah adik kelas saya di SMA 9 dulu, kami dulu sering naik turun bareng kereta, jadi dia tahu banget lah gimana dodolnya saya waktu dulu (dodol? ganti sama brownis kek). Kami pun bercerita banyak hal, memang dasarnya kamiseneng cerita..hehe..Tema utama kami saat itu adala tentang aktivitas mengajarnya, dan pengalaman mengajar saya. Dia seorang lulusan UPI yang katanya tidak suka mengajar! whehehe. Dunianya bukan disitu katanya. Dari dia saya tahu arti ‘jam mati’ dan ‘jam hidup’ untuk menentukan bayaran guru honorer, dan saya pun tahu di sekolah saya dulu gajinya kweecil buanget kalau dibandingkan dengan dia yang sama sama mengajar di kampung yang sama (maklum..maklum).Akhirnya kami pun tukeran no.Hape (untung dia ga minta PIN BB, da saya mah ga punya BB hehe, sungguh kau mengerti tatakrama Dek, kalau yang agak agak lancang kan suka langsung nembak, minta PIN BB donk, dia ga tahu apa hape saya masih hape jadul._. empati donk empati!hehe)

di RS

Saya bertemu dengan berbagai karakter unik, sepasang suami tua istri muda dan anaknya yang lucu, seorang ibu jutek ART ramah dan bayi yang lucu, sepasang ibu bapak sederhana dan anaknya yang sedang sakit. Baiklah kita urai satu per satu *muuut..penting banget sih*.

Untuk pasangan suami tua istri muda ini, saya meramalkannya dari penampilan dan wajah, suami berpakaian kemeja rapih, celana jeans, dan terlihat lebih ngemong anaknya dibanding istrinya. Sedangkan sang istri menggunakan pakaian modis, dan satu hal yang menarik bagi saya adalah kerudung gantungnya, di bagian belakang terlihat seperti dia memakai sanggul jawa (saking gedenya), dengan kerudung yang digantung khas anaknya Alm.Gus Dur. Ramalan sotoy saya mengatakan bahwa jarak usia suami dan istrinya lumayan agak jauh, karena selain wajah sang istri terlihat sekali seperti anak anak,aktivitasnya tak jauh dari bermain Hape terus, tidak ada kontak mata sosial dengan sekitar, dan saat itu saya tidak melihat beliau bermain/berinteraksi dengan anaknya. Ramalan sotoy saya pun berkata kalau suaminya adalah seorang pengusaha, terlihat dari pakaian dan gayanya. Biasanya kan bapak-bapak di hari kerja pakai seragam yah. Lanjut ke sosok selanjutnya.

Ibu-ibu jutek dan ART ramah. Oh kalau ini mungkin bapaknya lagi kerja, soalnya ditemeninnya sama ART. Dari dandanannya sepertinya ibu ini orang berada, tas bermerek, pakaian necis, make up full. KEnapa saya tahu yang mendapinginya ART? ya karena tidak ada garis muka yang mirip dengan si ibu itu, dan pakaiannya pun jauh berbeda gaya. Kenapa saya bilang jutek? karena waktu si ibu itu ngeliatin saya *lama* untuk pertama kalinya, dia ga senyum *pengen banget disenyumin*. Karena orang jutek itu tantangan untuk saya menaklukannya, maka di suatu kesempatan bertanya lah saya kepadanya, biasa pertanyaan standar ibu-ibu mah “umur berapa bu? (anaknya)”, dan dengan raut wajah ramah senyum lebar pun sudah saya berikan, hanya dibalas dengan jawaban “6 bulan” tanpa senyuman. “waah besar yah anaknya” “hmm..iya”. Obrolan pun terhenti sampai disitu, karena nyatanya saya lebih senang dengan makhluk di depan saya yang lagi ngajak senyum :D. Untuk ART kenapa saya bilang ramah? karena dia tersenyum padaku saat kami kontak mata untuk pertama kalinya. Beda yah responnya? padahal sama sama manusia :) Duuh kenapa ya. Apa tampilan saya terlalu ‘ngampung’ untuk diajak bersosialisasi dengan ibuibu branded tersebut? iya sih. bisa dimaklumi kayaknya. Apa sih barang bermerek dari tubuh saya kecuali gendongan wrap yang ada mereknya “hanaroo” hehe :D dan Rabbani tentunya (kerudung kesayangan :)). Make up pun hanya bedak dan lipbalm  yang udah habis di perjalanan tadi gara gara angin menyapu dan bibir yang saya lamotin terus gara gara kering..hehe. Kalau ada istilah “(posisi) duduk (di kelas) menentukan prestasi”, kalau di peristiwa ini mah “penampilan menentukan sosialisasi”.

Untuk sosok keluarga berikutnya, merupakan sosok keluarga yang terlihat sederhana, bahkan mungkin dari penampilannya ramalan sotoy saya mengatakan kalau mereka berasal dari keluarga kelas ekonomi ke bawah. Sepanjang telinga ini dapat merasakan frekuensi percakapan suster dan keluarga tsb. Anak ini sudah demam selama 2 minggu, tiap malam panasnya tinggi, dan baru ke dokter umum. Saat ditanya obatnya apa saja bu? ada antibiotiknya? sang ibu pun menggeleng tidak tahu. ._. Tak bisa dipungkiri memang masih banyak masyarakat kita yang pasrah pasrah aja dikasih obat, saking husnudzonnya bahwa setiap dokter itu pasti memberikan obat secara RUM (RUM : Rational Use Medicine). Akhirnya sang anak disuruh tes darah dulu sama suster (saya juga bingung ko yang nyuruh suster, padahal belum diperiksa, mungkin udah konsultasi sama dokternya kali ya). Get Well Soon Nak, baju Shaun the Sheep mu itu menarik perhatianku, digunakan oleh seorang wanita sekitar kelas 6 SDan.

Selesai memperhatikan karakter unik tadi, akhirnya aku bertemu dengan Dokter Ari..yeee..girang banget sih. Dokternya ramah banget. RUM atau engganya mah belum tahu, da kesana hanya untuk imunisasi aja. Hanya saja dari pelayanannya yang nyuruh suster untuk menelepon bagian Asuransi, bertanya tentang suatu hal, saya bisa menebak, beliau adalah tipe dokter yang melayani. Dan tentunya keramahannya bisa dilihat dari guratan di bibirnya yang mengembang terus :) lagi lagi tentang senyum :D

di Kereta Pulang

Kali ini yang menarik perhatianku adalah sepasang ibu dan anak, keturunan tionghoa. Anaknya dengan seragam SD bisa dipastikan bahwa dia bersekolah di Bandung, jauh amat Nak! tapi memang sih di kampung saya tidak ada sekolah yang bagus untuk ukuran keturunan tionghoa (biasanya kan mereka mempercayakan anaknya sekolah di sekolah swasta elit). Matanya yang segaris membuatnya seperti tersenyum terus, lucuuu. Kalau saja duduk kami bersebelahan, pasti udah saya toel toel. Sejenak saya berpikir, keren juga yah sekolah dari SD di Bandung, melakukan aktivitas Pulang Pergi naik kereta, tapi itu hanya pikiran sejenak saya. Mungkin kenyataanya tidak sesuai dengan bayangan saya. Lelah fisik, rutinitas, over budget. Dari karakter sang ibu saya melihat sang ibu tsb galak! hehe. Terlalu formil menyampaikan maksud ke anaknya, tidak dengan pendekatan yang anak anak banget. Seperti kata kata “..” lupa..haha..tapi anaknya enjoy-enjoy aja sih. udah biasa sepertinya.

Karena saya banyak membahas tentang sosial dan senyuman, maka pesan penutup dari saya tersenyumlah pada siapa saja selama kepada manusia, karena senyum bisa membuka belenggu jiwa yang terkunci, tak usahlah merasa diri paling hebat, paling kaya, paling cantik, paling pintar karena sesungguhnya dari perasaan-perasaan itulah yang akan menjadi benteng bagi kita untuk bersosialisasi. Sekian. Cheers!

Bertiga Saja

Standar

CameraZOOM-20130821105113231

Bertiga saja. Saat Ayah tak di rumah. dan inilah yang kami lakukan. He he.

Saat weekdays biasanya pagi hari adalah pagi yang heboh, menyiapkan ini anu untuk ayah, memandikan dua jagoan, mengantar Aa ke sekolah, belanja belanji, de..el..el tapi bukan itu yang ingin saya ceritakan, saya mau menceritakan kisah Aa dan Ummi saat Aish hadir :)

Aidan termasuk anak yang responsif menyambut kehadiran Adiknya, setiap hari diliatin, dipegang pegang walau pada mulanya hanya ditoel toel saja, kelihatan sekali dia masih bingung harus melakukan apa. Pertanyaan yang seringkali muncul “mi perut Ummi udah kempes ya? Dedenya udah keluar ya? Lewat mana keluarnya?”. Wheheee. Karena menurut saya ini bukan waktu yang tepat untuk belajar anatomi wanita, saya bilang ada “dari bawah” Alhamdulillah terpuaskan (hari itu) dan hari kemudian bertanya lagi dengan pertanyaan yang sama ._. . Sebulan Aish hadir, Aanya tidak menunjukan wajah jelesnya, masih wajar laah, wong dia juga masih balita yang masih harus sering digendong, dipeluk, dicium, jadi sesekali ingin digendong ketika menggendong Aish, yaa masih termasuk kategori wajar. Yang tidak wajar adalah, saat Enin sudah tidak sering ke rumah untuk mengurusi ‘kehebohan’ dalam rumah kami. Pagi itu Aidan menginginkan sesuatu, yang tidak bisa dibujuk, karena saya sedang me-neneni- Ais. Hal sepele jadi besar, hal yang tidak ada ingin diada adakan, hal yang mudah menjadi sulit. Itulah Aidan saat datang GJnya..hehe..Sama sekali tidak bisa dibujuk, bahkan ia ingin Adiknya diberikan saja ke si tante (penjual sayur tempat Ummi belanja). Alhamdulillah ikan emosi dalam hati saya tidak terpancing saat itu. Cukup lama ia bertahan dalam tangisannya, sampai suatu titik ia ingin saya peluk dan terjadilah adegan dramatisasi itu.Heuheu. Lalu dalam adegan melankolis itu saya MENYATAKAN : Saya sayang keduanya, dua-duanya sama sama anak Ummi, Aa kakanya Aisha, Aisha adiknya Aa, Ummi sayang keduanya. Terus berulang ulang. Dilakukan sambil memeluk dua anak. Setelah itu tidak pernah ada lagi adegan tantrum karena adiknya, terimakasih Nak, kau sudah mau mengerti :”).

Saat ini hubungan Ais dan Aa sudah semakin luwes, Aa sudah sering mengajak Aish ngobrol, dan gaya obrolannya persis dengan yang saya lakukan, bahkan topiknya pun suka ikut-ikutan. Dan seperti yang pernah saya tulis di status facebook jauh hari sebelum saya menuliskan ini, sepertinya Aish memang ngefans sama Aidan, sejak matanya bisa mengikuti objek, matanya selalu berbinar saat melihat Aanya berceloteh, dan sampai sekarang Aish sudah bisa jerit-jerit pun, Aa masih sering ‘dipermalukan’ karena saking lamanya Aish ngeliatin Aanya. Hehe. Apalagi bila sedang diajak ngobrol oleh Aanya, senangnya bukan kepalang.

Lalu bagaimana dengan kondisi Emosi Jiwa Raga Ummi? Hehe. Jiwa dan Raga memang terasa lebih lelah, tapi saya tidak meminta untuk diringankan bebannya, saya meminta pada Allah agar saya dikuatkan menghadapi beban yang ada (kayak yang ngurus apa aja Mut..hehe). Tapi serius loh, mungkin bagi sebagian orang menganggap bahwa pengendalian emosi itu hal yang sepele. (suka denger kan orang nyebut, jangan sibuk mengurusi hal sepele dalam diri kita, urusan di luar jauh lebih banyak, bagus sih maksudnya mungkin memotivasi, tapi untuk saya sayangnya tidak. hehe. Mengendalikan emosi adalah hal yang sulit menurut saya dan itu bukan masalah sepele kawan!, secara saya itu sejak jaman Ababil dulu terkenal easy angry, high temprament dan sajabana yang jelek jelek. Sekarang sudah punya suami dan anak? masih berusaha untuk menjadi lebih baik. Tapi menurut kakanda tercinta, emosi saya sudah tidak semeledak dulu, lebih kalem :). Suatu saat meledak? suka. Makannya saya sering sekali memindsetkan dalam pikiran saya dan dalam tulisan saya, bahwa saya ini orang yang baik. Percayalah! Percayalah! Saya ini orang baik kok :D suer :) InsyaAllah.

Owyah. Sekarang Aidan sudah mulai sekolah. Aish sering Ummi tinggal sebentar dirumah (sendiri Mut? iya. gaada yang nemenin? iya.), untuk mengantar Aidan ke Sekolah (tengteuingeun *kata ibu*). Sebentar saja kok :D Aish sendiri juga ditemani oleh rekaman tilawah Ummi kok, jadi ga kesepian-kesepian amat. Mumpung belum bisa guling guling. Hehe. Tak jarang juga sih diajak kesekolah, biasanya kalau Ummi mau lama stay di sekolah atau ada keperluan menyimpangnyimpang dulu. Sampai saat ini baru sekali Kami Bertiga naik motor, Aish di depan pake Hanaroo, Aa di belakang. Lumayan ribeut sih, terutama bagian menaikkan Aidannya, heuheu, dibantu sama ibu ibu deh :D

Sekian dulu cuapcuap curhat nya si Ummi. Aishnya nuangis niy :) yuk ah. nantikan episode selanjutnya ya :)

Aisha 0 s.d 3 Bulan

Standar

Alhamdulillah 18 Agustus kemarin Aishabira tepat 3 bulan. Tiga bulan bersamamu seperti baru pertamakali mengurus baby. Kau yang dari malam pertama membuat Ummi tak bisa tidur (beneran ga bisa! diliatinterus, dicek napasnya, disayang sayang). Kau yang Ummi mandikan sejak hari pertamamu ada di rumah. Kau yang kau yang…..

Satu hal yang menjadi daya tarik Ummi saat kau lahir, yaitu kulincirmu! tepat di tengah tengah bagian depan rambutmu sebelum belokannya berbelok ke arah kanan (belokkan ke arah kanan seperti Aa dan Ayahnya). Oia sekarang Abi Uzy tidak lagi dipanggil Abi, tetapi AYAH (sesuai dengan rikuesan beliau..heu). Memiliki anak ke-2, perempuan, sungguh banyak yang berbeda dari kebiasaan kebiasaan anak pertama, itulah kenapa setiap bayi adalah unik, bahkan konon untuk anak kembar sekalipun.

KEbiasaan NENEN AISHA, sungguh membuat jantung degdegan, cara menyusunya yang tariiiiik lepaaas, nyotnyotnyot lupa napas-lepas-lalu ngosngosan-keselek batuk terus-olab banyak lewat mulut hidung..huff..ternyata itu adalah caranya untuk belajar menemukan ritme menyusui yang PAS.

Di Usia 2 Minggu, tiap kali di posisi menyendawai, lehernya selalu bergerak kesana kemari-kuat-tapi belum stabil, tak jarang kepalanya suka kejedot bahu Ummi/Ayah yang sedang menggendongnya. Di Usia 1.5 bulan ia mulai melihat, dia ikuti bayangan wajah saya, dan perlahan dia mulai menunjukkan kemampuan tersenyumnya :) i Love your smile baby. Usia 2 Bulan dia mulai mengeluarkan suara “hakeeeng” suara eraman kayak orang ngorok..hihi..Kalau Aidan kata pertamanya adalah “akkua..akkua” kalau Aisha “Hakkheeng” pelan sekali. Usia 2.5 Bulan sudah senang menejeh nejeh kasur, dan alhasil dia bisa muter sendiri, kadang 90 drajat, 180 atau bahkan 360 derajat. Motorik kasarnya terlihat lebih cepat berkembang dari Aanya. Usia 3 bulan ini Aisha sudan sering tidur miring, dan bisa nangkarak sendiri dari posisi nangkuban.

Satu hal perbedaan yang amat kentara dari Aidan dan Aisha (selain fisiknya..yaiyalaah), yaitu emosinya. Aisha adalah seorang Easy baby (mudahmudahan seterusnya ya Nak), dia yang bisa ditinggal saat Ummi kasak kusuk sendiri mengurus Aanya dan urusan rumah tangga, dia yang bisa bermain sendiri saat ditinggal, dia yang bisa tidur sendiri tanpa ada pendahuluan nenen (biasanya kalau sudah kenyang), ah pokonya mah relatif lebih mudah dibanding Aanya yang ga bisa ditinggal. Daaaaan sampai 3 bulan ini Ummi tidak berhadapan dengan adegan dramatisasi KOLIK..Alhamdulillaah ya Allah. Apapun peristiwanya, baik/buruk di mata manusia, saya yakin pasti Alllah memberikan itu semua ada maksud/hikmah yang baik.

Sekian dulu curhat randomnya, nantikan perkembangan Aisha di usia 4 s.d 6 bulan, insyaAllah. Perkembangan Aanya? waduuuh terlalu banyak yang harus diceritakan. Hihihi.

Kelahiran Aisha

Standar

Ini adalah sebuah cerita, cerita sakral tentang proses menghantarkan makhluk Allah berpindah Alam,  dari alam Rahim ke alam Dunia. Putri pertama, anak kedua Kami.

Jum’at Malam, 17 Mei 2013

Malam ini si Ummi menginap di rumah enin, rencananya ba’da subuh Ummi mau Jalan-jalan pagi ke rumah sekalian ‘menyambut’ Abi tersayang yang baru pulang dari Jogja di subuh hari. Malam itu terasa ada kontraksi kecil di perut, mungkin sekitar 1 jam sekali, tidak sakit tapi sanggup membuat Ummi terbangun.

Sabtu Pagi, 18 Mei 2013

Setelah ‘menyambut’ Abi, Kami pun berencana menjemput Idan di rumah enin, pagi itu ternyata ada flek darah yang keluar tapi tak banyak. Jalan-jalan keliling kompleks, sesekali kontraksi terasa, semakin sini semakin sering, tapi ringan. Sampai di rumah enin, makan, lalu pulang kembali jalan kaki bersama Idan dan Abi. Sesampainya di rumah, siap-siap untuk pergi ke Dokter, rencananya hari ini mau rekam jantung karena usia kandungan tepat 40 week, kata bu dokternya kalau bagus, bisa ditunggu seminggu, kalau jelek rekam jantungnya terpaksa harus diinduksi. Ummi pun menyiapkan perbekalan, takut-takut bila harus melahirkan hari itu. Masih dengan kontraksi sedang dan sering, kami pun meluncur ke klinik Bunda Nanda di Cipadung.

Sabtu Siang-Sore, 18 Mei 2013

Rekam jantung, hasil baik dan memang terlihat di monitor tiap Ummi kontraksi ada grafik yang naik, menguat, kemudian turun lagi. Akhirnya bu Bidan yang bertugas melakukan periksa dalam, pembukaan 2.5. Wow gini toh rasanya kontraksi tanpa diinduksi, jauuh sekali dengan kontraksinya Aidan dulu yang sejak bukaan 1 udah kenceeeeng banget ini perut. Bu Bidan menyarankan untuk memesan kamar perawatan, karena sudah ada bukaan katanya. Setelah memesan kamar-solat, kami meluncur ke Borma untuk Jalan-jalan dan makan siang. Sesampainya di Borma, ini perut semakin kencang. Bila kontraksi datang, biasanya saya diam- tarik napas yang panjaaang sekali-sambil dzikir. Aidan anteng main, ABi anteng nyuapin, dan Ummi anteng jalan-jalan nyari handuk karena lupa tidak menyiapkan handuk. Akhirnya jam setengah 4  kami kembali ke klinik, hujan besar, ibu pun datang membawa perbekalan dedek dan Ummi yang telah disiapkan sebelumnya di rumah. Jam 4 periksa dalam, bukaan 3. Waduuh curiga bakalan lama ini mah, akhirnya Ummi jalan-jalan di klinik, mencoba untuk tidur tapi tak bisa, makan burcang, goyang-goyangin pinggul. Memang yah, saat merasakan kontraksi itu paling enak kalau suasananya sunyi, tak banyak gangguan, jadi ceritanya bisa konsentrasi. Karena ada Aidan yang agak ‘melankolis’, kadang saat kontraksi si Ummi jadi ga konsentrasi, bawaannya pengen marah sambil teriak ‘cicing atuh’ hehe. Akhirnya Aidan dan Enin pulang jam 5, itu pun setelah dibujuk karena pengennya ikut sama Ummi  dan Abi. Setelah jam 5 itu baru Ummi bisa Bebas! Hanya ada Ummi dan Abi. Abi dengan semangat mengajak Ummi untuk jalan jalan terus, tapi Ummi memilih untuk berdiri dan memeluk Abi. Pernah denger istilah orgasm saat kontraksi? saya coba mempraktekannya dengan berfantasi ria saat memeluk Abi (si Abi mah gak tahu kalau Ummi sedang berfantasi..hehe), rasanya? Aneh! hahaha. Campur-campur, antara mencoba mengendalikan sakit sambil dzikir dan berfantasi tapi nanggung.  Alhamdulillah ternyata dapat menimbulkan perasaan rileks. Awalnya abi ‘menyemangati’ Ummi dengan bilang ‘Ayo mi..ayo’, bingung kan maksudnya apa? ‘Ayo apa ai Abi?’ sambil sedikit kesel. ‘Ayo..semangat!’-_-..Setelah diprotes Ummi, akhirnya kata-katanya jadi diganti jadi kata-kata dzikrullah.

‘Bi, tolong tanyain, kapan cek bukaan lagi?’. Jadwalnya ternyata jam 7. Beuh masih lama, Abi ngajak jalan jalan lagi, hanya 5 langkah, bulak balik jadi 10 langkah akhirnya balik lagi ke kamar. Waktu di kamar terasa napas sudah sulit untuk diatur, inget sih teorinya, tapi susah prakteknya. Akhirnya jam 5.30an Ummi minta Abi panggil bu Bidan untuk cek bukaan lagi. ‘Bentar ya bu Bidan, gelombang cintanya lagi dateng’ sambil tarik napas panjang, ‘Sok bu Bidan periksa sekarang’. Setelah cek bukaan, bu bidan balik kanan, ‘bu hayu ke ruang bersalin aja, sari..sari…..bla…bla..bla…*heboh*’. ‘Tidur bu, miring kiri’. Wah ini mah curiga udah gede bukaannya. ‘Bu bidan, mau ngedeeeen’ l ‘belum boleh bu, belum lengkap’ l napasnya gimana caranyaa? l ‘tarik napaaas..haah..haah..haaah’. Oh ternyata beda sama yang diajarin waktu Aidan dulu, lebih enak yang ini. Dulu waktu Aidan lebih sulit ngatur napasnya, sampai eungap gara-gara lupa napas ;p. Akhirnya bu Bidan bilang ‘ketuban pecah, bukaan lengkap’ l ‘Buuuu…ngedennya datang lagi…’ l ‘jangan dulu buuu’ sambil pulang anting gak tahu nyiapin apa si bu Bidan teh l ‘Buuu..hayu atuuh..kan kalau bukaan lengkap mah udah boleh ngeden’ l ‘gapapa ga sama dokter bu?’  l ‘ya ga apa apa atuh..sama ibu bidan aja’ l ‘Hayu atuh bu ngangkang, pegang paha, paha buuu’ l ‘Udaaah buu’ l pegang paha buuu l ‘udaah, eh salah ini mah betis yah’ l ‘ngedennya pelan bu, biar sobeknya dikit, ayo bu ngeden’. Sempet diem, soalnya paling enak ngeden kan pas gelombang kontraksinya dateng, ceritanya mah nunggu kontraksi lagi, tapi yasudah lah..Ngeden sekali, pelaaaan banget..eeh ada makhluk cantik yang meluncur! Allohuakbar, takbir pun menyambut kedatanganmu Nak.

Sabtu, 180513 jam 18.04. Ummi dan Abi pun memberimu nama Aishabira Mahdiya Hamda.

—————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————–

Before The Scene

 Alhamdulillah..segala puji bagi Allah yang telah menghadirkan baby Aisha dengan proses yang sangat mudah, melahirkan adalah sebuah momen yang tak terduga bagaimana peristiwanya, baik-buruk-mudah-sulit di mata  manusia mudah-mudahan di mata Allah selalu baik nilai pahalanya, ikhlas, pasrah “Gustii…Abdi mah teu walakaya..” Saya adalah makhluk yang tak berdaya, hanya kepada Mu lah saya memasrahkan diri atas apa yang terjadi pada proses persalinan kali ini. Allah. Allah. Hanya Allah. Dzikirlah yang mampu membuat rasa ini menjadi tenang.

Kelahiran kali ini sebelumnya diiringi oleh ikhtiar yang kata saya mah sudah maksimal, jelang HPL banyak jalan, ngepel rumah sambil nonggeng, bersihin kamar mandi sambil jongkok, kalau udah merasa punggung sakit biasanya saya goyang inul di gym ball atau kadang sambil berdiri juga, peregangan otot otot tangan-kaki-kepala, teruuuus sesudah solat goyang goyangin pinggul dengan posisi kuda-kudaan (biasanya idan jadi tergoda untuk naik atau masuk ke bawah, terowongan katanya), dan olah napas melalui tilawah.

Mengenai olah napas ini, suatu hari saya melihat seorang teteh menulis status di Facebook,” Tilawah tartil lebih baik daripada Yoga dalam rangka olah pernapasan saat melahirkan” kurang lebih seperti itu. Saya gak tahu tilawah saya udah tartil apa belum, tapi saya mencoba memprektekan olah napas ‘ala saya’ melalui Tilawah. Saat pembukaan sudah besar, biasanya sulit mengendalikan napas, sependek ingatan saya, teorinya udara dihirup dari hidung dan dikeluarkan dari mulut ‘haah..haah..haah’ atau ‘huuf..huuf..huuf’.  Naah kalau tilawah kejar target kan keluar-masuk dari mulut yah (eh iya ga? saya mah gitu). Naah olah napas ala saya, saya menargetkan satu ayat satu kali napas dari hidung (tentunya ayat yang ga terlalu panjang, ya pokonya mah kira kira lah) dan keluar dari mulut seiring kita melantunkan ayat suci. Efek dari latihan yang saya rasakan, saya jadi bisa fokus terhadap napas saya saat pembukaan sudah besar, tidak fokus ke rasa gelombang kontraksinya/keinginan mengedannya. Fokus melihat ayat saat tilawah sambil mengatur napas menjadikan fokus mengatur napas saat pembukaan besar tapi belum lengkap. Hehe ini mah teori sotoynya saya, tapi layak dicoba loh :D tentunya dengan menghadirkan ‘rasa’ saat kita bertilawah yah, ga lempeng lempeng aja..hehe.. Wallahu’alam. Mudah-mudahan share before the scenenya bermanfaat, apapun ceritanya semoga Jannah balasannya. Aamiin.