Bermasyarakat

Standar

Dakwah lingkar ketiga setelah pribadi, keluarga, adalah masyarakat. Masyarakat terdekat saat ini adalah mereka yang berada di kiri rumah, kanan rumah, dan depan rumah saya. Yups. Mereka adalah tetangga tetangga saya. Sejujurnya saya merasa kesulitan untuk bersosialisasi dengan tetangga ini. Sebelum melangkah serasa ada frekuensi yang tidak nyambung, karena pada umumnya mereka berusia seperti Ua, tante, ibu atau bahkan eyang saya. Ada siih yang muda, tapi bisa dihitung oleh jari :)

Ternyata praduga saya salah. Karena praduga itu saya munculkan sebelum saya terjun lebih dalam! Saat saya mencoba terjun lebih dalam? disitulah saya menemukan masalah, dan disitu pulalah saya belajar menyelesaikan masalah.

Biasanya saya melibatkan diri dengan tetangga hanya sekedar senyum sapa, kirim makanan, bikinin buletin dan paling lumayan adalah ikut arisan. Tetapi saat momen persiapan Halal Bi Halal dan 17 Agustusan menjadi momen ter’dalam’ sampai saat ini. Kesannya? Seru!

Berawal dari ditunjuknya Ayah Aidan menjadi koord.seksi kepemudaan di RT oleh pak RT, daan mau ga mau saya harus ikut membantu donk ya! Menyatukan pemuda yang tidak ’hangat’ dalam kepanitiaan ternyata tidak mudah :) Karena tidak adanya rasa memiliki, jadi yang hadir rapat ya yang itu lagi itu lagi. Gapapa. Dan ternyata menjadi pembimbing panitia pun tidak mudah. Antara ingin membimbing tapi tak mau terkesan menggurui dan gemas dengan aksi panitia karena deadline sudah di depan mata. ffuih. Belum lagi si saya yang jadi penyambung lidah panitia dengan ibuibu yang terkadaaaang gamau tahu proses :) Pengennya lihat hasil, itupun banyak protesnya :). Ada yang kerjaannya tukang menyalahkan, ada yang kerjaannya tukang komentar tapi ga ngasih solusi. Wuih. Macem macem deh karakter ibu ibu tetanggaku. Nah si gue kan gak akan tahu yak, kalau tidak melibatkan diri sedalam itu. Pesan ibu RT yang relatif masih muda juga, kalau kita berhadapan dengan yang lebih tua, sudah dengarkan saja. Kalau menyalahkan, sudah minta maaf saja, walaupun kita merasa tidak salahm *lapkeringet*

Sumpah dah. Yang namanya bermasyarakat harus tahu seninya. Bagaimana mendekati ibu A, bagaimana menyampaikan pesan pada ibu B tapi tak terkesan menggurui, bagaimana berinteraksi dengan yang lebih muda, bagaimana tujuan tercapai tapi tidak mendominasi aksi,bagaimana menghadapi orang yang susaaah sekali ’bergerak’, bagaimana menghadapi orang yang banyak ide tapi minim pelaksanaan. Sumpah. Kemarin itu sebenarnya banyak menguras emosi jiwa *lebai*

Kalau kata suami saya, saya lebih bisa merangkul pemuda karena ’suhu’nya masih dapat. Tapi justru kalau saya melihat suami saya lebih jago dalam hal mengarahkan tanpa terkesan menggurui dan menyalahkan. Evaluasinya ternyata tanpa sadar saya pun lebih suka seperti ibu ibu yang lain, banyak protes, dan ingin mendominasi (whehe..abisnya gemes ngelihat progressnya).

Tapi Alhamdulillah, masih bisa laah diredam dengan melihat bagaimana cara suami saya mengarahkan mereka. Alhamdulillaah juga terlepas dari segala kekurangan, ternyata bisa dibilang secara keseluruhan acaranya sukses! dan yang paling penting saya banyaaak belajar. Kalau saya ga terjun? ya ga akan belajar donk :)

Benarlah memang kata seorang kawan di Asrama dulu. Saat kita beramal, itu seperti memantulkan bola ke dinding. Jejak bolanya akan membekas pada dinding, tapi bolanya akan kembali lagi pada kita.

Wallahu’alam… semoga saya bisa menjadi bagian dari terbentuknya masyarakat yang madani.

Aisha 14 Bulan

Standar

My Lovely Daughter ternyata sudah 14 bulan! ga kerasa! And My Lovely Son sudah 4 tahun! 5 Tahun juga saya bersama ayah mereka…waktu terasa sangaaat cepat pat pat. Kalau jalan berdua sama Ayahnya, masih serasa pengantin baru. Qiqiqiq.

image

Aisha di usia yang ke 14 bulan ini sudah tumbuh gigi! yeee..akhirnya..walaupun cuma satu biji. Sudah bisa bilang Ayah, Aa, Dede, Nene (nenen), bilang ’Ummi’? masih tersimpan di otaknya T.T akurapopo. kurapopo. #ambiltisu. Walaupun kosakatanya masih sedikit, tapi kemampuannya dalam memahami maksud udah jago loooh. Udah bisa disuruh suruh (eh, dimintai tolong) Ummi mengambilkan barang, menyimpan barang, disuruh bobo,duduk, dadah, sun tangan, ces, ciluk ba, dll dll. Dan sepertinya sudah bisa memahami maksud pembicaraan, seperti contoh berikut:

Saat sesi membacakan buku

Aisha: nyenyeh (nunjuk buku lain)
Ummi: mau yang lain bukunya?
Aisha: yayah (iya)
Ummi: Sok ambil..

dan Aisha pun mengambil buku yang ia mau..


Aisha senaaaaang  sekali pabila Umminya menyanyi dan membacakan buku, dan senaang sekali mengganggu kalau sedang tilawah..-_-.. Sepertinya alQurannya harus khatam untuk ’didendangkan’ jadi nanti bukan lagi nyanyian yang Aisha suka.

di usianya kini pun Aisha sudah sering berjoged bebas, muter muterin badan sampai pusing, berceloteh tak jelas seolah sedang mengobrol.

Aisha juga adalah peniru ulung Aanya, yang baik dan yang jelek, ah sagala we ditiru, mungkin setengah tahun lagi mereka akan berkonspirasi untuk membuat Umminya semakin lieur >,< Jangan ya Nak.. Baik baik ya Nak..Pukpukpuk.

Apalagi ya, dari segi permakanan Alhamdulillah Aisha lebih gembul dari Aidan, ternyata benar kuncinya, jangan pernah dipaksa dan sediakan banyak alternatif. Walaupun ga gendut gendut amat, lumayan laah, Berat Badan Aisha 14 bulan sama dengan BB Aidan umur 20 bulan. whehe.

Sudah ah. Sekian laporannya. Sudah kehabisan kata kata :p

Tia Pembantu

Standar

Yups. Itu adalah kalimat ’curhatan’ pertama saya yang dituliskan dalam dinding putih di rumah eyang.

Saat Sekolah Dasar, keluarga saya sempat tinggal ’nebeng’ di rumah eyang. Penghuni rumah eyang tidak hanya keluarga kami saja (ibu, bapak, teteh, saya), ada juga adik adik ibu alias ’mang saya. Karena saya merupakan penghuni paling kecil, saya seriiiing sekali disuruh suruh.

“Tia, ambilin minum”
“Tia, beliin rokok”
“Tia, beliin anu ini itu ono”
dll.dll.dll

Sampai tercetus curahan hati saya yang paling dalam ketika itu. “Tia Pembantu”

Sekarang.Saat mengamati fenomena sekitar, ternyata menjadi sang bungsu itu adalah sasaran empuk untuk disuruh suruh. Eh. Ga sang Bungsu aja sih,pokoe selama di suatu tempat ada sekiranya yang terlihat “paling bisa diberdayakan” maka bersiaplah untuk dimintai tolong dari banyak pihak.

Tapi pernah ga sih yang meminta tolong, tolong, dan tolong itu memosisikan diri sebagai yang dimintaitolongi *halah*. Bagaimana perasaan mereka, sukakah dengan pekerjaannya, bagaimana kondisi yang dimintaitolongi saat dimintai tolong, dll, dll.

IMHO, apabila hal yang diminta tolong itu adalah kegiatan sehari hari yang bersifat rutinitas seperti, membelikan air galon, menyapu, mencuci piring, bayar listrik, membuka gorden, mematikan lampu, membuang sampah, menytrika, de el el. MAKA solusi terbaiknyaa adalah pada PEMBAGIAN TUGAS sesuai dengan kemampuan anggota keluarga saat itu. Aidan bertugas membuka qorden dan mematikan lampu. Ayah bagian nyuci baju dan nyuci popok. Ummi sisanya. Misalnya seperti itu. Intinya adalah setiap anggota keluarga memiliki peran masing masing yang DISEPAKATI di awal. Sehingga saat waktu pelaksanaan tak ada lagi perasaan ’ih si gue disuruh suruh melulu nih’, karena jobdesk masing masing anak sudah jelas.

Begitcu..

Kalau ada hal hal di luar rutinitas yang sekiranya kita butuh bantuan, ya komunikasikan saja. Bila tidak mau, yasudah. Biasanya sih saya begitu, bila Aidan sedang tidak mau. Karena memang seumur Aidan belum waktunya diberikan ’pembebanan’. (Idealnya sih gitu yak, ga jarang juga nih si Ummi jadi ngambek kalau Aidan gamau dimintai tolong..duh duh Muuth. Beban sholat aja baru dimulai umur 7 tahun. Kalem Muth..Kalem).

Gapapa. Saya nulis yang ideal idealnya dulu aja yak. Sekali lagi, buat sebagai ajang #selfreminder.

Nah. Jangan lupa juga apresiasi atas jasa karena sudah mau menolong. Sambil sedikit sedikit ’didoktrin’ tentang pahala berbuat baik, apa yang terjadi saat kita memudahkan urusan orang lain, dll..dll.

Hal jazza ’ul ihsaan ilaal ihsaan

Tapi Allah Maha Baik

Standar

Saat cubitan, pukulan, tendangan, sintreukan, tertanam kuat di benaknya..

Saat hinaan, ejekan, cap jelek, bentakan, tersimpan rapih dalam memori otaknya..

Saat berkonflik, tak pernah diajari bagaimana cara menyelesaikannya, yang teringat hanya bayang bayang ’aku salah..ya aku selalu salah’.

Saat nasihat, kritik diterimanya sebagai pesan ’menakutkan’ karena caranya yang tidak tepat..

Saat satu mulut lebih banyak beraksi dibandingkan dengan dua telinga ..

Saat lalai dalam berdoa memohon pada yang Maha Memberi Petunjuk..

Saat itulah kau sedang menyemai, menyemai sebuah bibit yang tak akan tumbuh dengan sempurna.

Hatinya tumbuh penuh dendam, jiwanya kosong, harga dirinya mengerdil.

Tapi Allah Maha Baik, Ia pertemukan pendendam kecil dengan seribu orang baik yang mengasihinya.

Tapi Allah Maha Baik, Ia isi jiwa kosong sang jelita kecil dari tangan tangan yang dipilihNya.

Tapi Allah Maha Baik, Ia kokohkan karakternya lewat ujian yang datang silih berganti.

Tapi Allah Maha Baik, Ia cerdaskan akalnya untuk dapat ’membaca’ alam semesta.

Tapi Allah Maha Baik..

Sampai beranjak dewasa, Allah titipkan seseorang makhluk mungil untuk dilindungi.

Setahun..dua tahun..tiga tahun..

ada yang aneh…

Saat hati memanas, pikiran tak jernih, tindak tanduk menjadi tak terkendali.

Ada memoar masa lalu yang tak bisa hilang.

Kini hidup di alam bawah sadarnya.

Celakanya, makhluk mungil tadi yang menjadi pelampiasan.

Ada yang salah. Ada yang salah. Jiwanya harus diobati!

Mungkinlah benar, sabar dan solat sebagai penolong..

Mungkinlah benar, Al Qur’an sebagai AsSyifa..

Mungkinlah benar, Ilmu adalah jalan penerang kesesatan..

Mungkinlah benar, berkumpul dengan orang Shalih adalah peredamnya.

Mungkinlah benar…

Tapi Allah Maha Baik
Maha Memperhatikan Hambanya yang ingin mendidik anaknya dengan baik..

Tapi Allah Maha Baik
Dia tidak tidur untuk hambanya yang memohon..

Memohon untuk dilepaskannya belenggu yang mengikat jiwa yang sakit..

Tapi Allah Maha Baik..

———
Didedikasikan kepada siapa saja yang pernah mengalami kekerasan fisik, psikis, seksual, dan kini sedang mendidik anaknya. Karena generasi yang akan datang harus lebih baik dari generasi yang dulu. Jangan biarkan masa dewasanya habis untuk ’mengobati’ jiwanya yang terluka.

Selamat meng’elmu’, selamat menyemai, selamat bersabar..

Sabar dan Ilmu

Standar

Resiko memiliki anak adalah, sabar. Ya, Anda tidak sedang salah baca, Sabar. Saat Anda memutuskan ingin memiliki seorang anak dan Allah menghendakinya, maka sabar bukanlah sebuah pilihan, karena Anda sudah pasti harus bersabar.

Bukan, bukan karena seorang Anak adalah makhluk mengerikan tanpa kontrol yang selalu membuat tanduk kita memanjang, bukan, bukan seperti itu. Hanya saja rentang waktu yang teramaaaat jauh dan ketidakmampuan kita mengingat memori masa kecil, menjadikan kita (ortu) dan anak terdapat gap, gap komunikasi.

Beberapa hari yang lalu saya membaca mengenai 12 gaya komunikasi populer anak-ortu yang ternyata dapat menjadi faktor PENGHAMBAT terjalinnya sebuah komunikasi secara berkesinambungan, luwes, dan menyenangkan. Misalnya saja gaya MENASEHATI yang kita kira itu baik (karna kan tujuannya memang baik yak), tapi oh tetapi.bila gaya tersebut dilakukan terus menerus maka anak akan berpikir bahwa ortunya sok tahu, kenapa? karena saat menasehati, adegan yang terjadi biasanya satu arah, bukan? sedangkan seorang anak, bahkan sekecil Aidan pun dia memiliki ’alam pikirannya’ sendiri, yang sebenarnya dengan sedikit ’strategi’ kita bisa memancing lebih jauh daya nalarnya, sambil sedikit sedikit kita masukkan pesan yang kita mau dengan menggunakan teori ’pesan saya’. Bingung? contooh…

Aidan suka sekali teriak teriak, bicaranya terkesan ’galak’ saat menginginkan sesuatu. Kali ini Aidan menginginkan Ummi mengambil minumannya, tapi dengan cara berteriak galak.

“Oomee!!! ambiliiin minuuum atuuh”

mungkin ketika itu saya bisa saja berkata, “bilangnya yang bener donk A, baik baik, selalu deh Aa bilangnya suka sambil teriak teriak”

Bayangkan bila itu terjadi setiap hari, dengan hal yang sama maupun hal lain yang berbeda. Lama kelamaan Aidan akan menganggap dirinya ’selalu salah’ di mata Ummi. Dan dia pun akan terus mengulanginya lagi karena pesan yang diterima adalah ’saya salah’ bukan pesan yang sesungguhnya ingin Ummi sampaikan ’saya harus memperbaiki cara saya berbicara karena Ummi akan kaget saat saya berteriak’ (jadi ga connect gitu deh pemberi dan penerimanya).

Saat memakai teori ’mendengarkan aktif’ dan ’pesan saya’ maka percakapannya bisa diubah menjadi.

“ooh Aa haus, ya” dia bisa menjawab ataupun tidak -> mendengarkan aktif

“Ummi senang kalau Aa memintanya baik baik karena kalau teriak teriak begitu Umminya jadi kaget” ->pesan saya.

Lengkapnya tentang teori Mendengarkan aktif dan pesan saya ada di link.:

http://ourlittlenotes.wordpress.com/2014/06/23/ikhtisar-workshop-kpa-komunikasi-dalam-pengasuhan-anak-bagian-2/

Di link tersebut kaya akan gizi, dan saya sedang mencoba mempraktikannya. Tapi ternyata setelah mengevaluasi diri sendiri, teori tersebut tidak akan bisa dipraktikan saat sumbu sabar kita pendek. Benarlah bahwa kita (ortu) sebelum ber’aksi’, harus sering sering gigit lidah, berpikir sejenak,kata kata apa yang ’layak’ kita keluarkan. Maka dari itu jangan bosan bosan untuk meminta sumbu sabar yang panjaaaang tak terhingga pada Zat Yang Maha Membolakbalikan Hati. Oke Mi? Oke Yah? (colek Ayah)

Nah. Saya pun mengamati bahwa ternyata antara sabar dan ilmu pengasuhan itu membentuk kurva ’lingkaran’. Saat saya belum mengetahui ’strategi’ pengasuhan yang benar, maka sumbu sabar saya tidak akan sepanjang ketika saya sudah mengetahui strategi-strateginya. Begitu pun sebaliknya, strategi pengasuhan tidak akan bisa dipraktikan saat sumbu sabar saya pendek. Itu sih yang saya rasakan, mungkin berbeda tiap orang.

Tapi apakah saat seorang ortu minim ilmu pengasuhan, maka ia akan gagal mendidik anaknya? belum tentu juga. Karena saya percaya bahwa setiap orang tua diberikan ’insting’ yang baik oleh Allah untuk menjadi orang tua yang baik. Hanya sajaaaa, mungkin akibat debu debu maksiat, akibat tak pernah memohon dalam doa, akibat terlalu jauhnya hubungan Hamba dengan Khaliknya, menyebabkan ’insting’ tadi tidak tajam, setajam silet. Eits..ini bukan nunjuk ke Anda loh, saya nunjuk ke diri sendiri. Betapa saya harus banyak banyak instropeksi diri, memohon ampun, berdoa meminta diberi petunjuk kebaikan, dll dll.

In the End. Saya ingin menyampaikan bahwa, mendidik anak menjadi anak yang Shalih itu tidak mudah. Sabar dan Ilmu adalah kombinasi yang ciamik dalam ’menyemai’ nilai nilai kebaikan pada anak kita. Saat merasa diri kurang sabar, berilmulah maka akan kau temukan berlian berlian penyusun sumbu sabarmu. Saat merasa diri sulit untuk mendapatkan ilmu, bersabarlah, dan keep in touch pada yang memberi ’insting’ kebaikan. Wallahu’alam bi shawab. Tulisan ini sebagian besar adalah opini, saya bukan ustadzah, saya bukan trainer, saya bukan psikolog, jadi Anda boleh setuju dan boleh tidak setuju, karena tulisan ini adalah murni hasil desakan dalam otak saya :p yang bisa jadi salah.

Selamat meng’elmu’, selamat menyemai, selamat bersabar :)

Terapi Menulis

Standar

Tahukah Anda? Menulis bagi saya adalah kontrol agar saya tetap berada di jalur ’kewarasan’. Memang situ ga waras Muth? ya ga gitu juga sih, saya punya sifat jelek yang entah dari mana sumber ini bermula, yaitu suka menyakiti diri sendiri, hiiy serem yak. Selain itu juga tiba tiba suka merasa bahwa diri ini tidak berharga, selalu salah, tidak mengenal diri sendiri, saat saya melakukan kesalahan maka seluruh tubuh sayalah yang bersalah, hina bina banget lah. Nah saya tahu itu adalah sebuah konsep diri negatif yang tertanam dalam diri saya, yang penyebabnya bisa bermacam macam.

Saat ini, saya dihadapkan pada dua amanah besar (tiga sama babehnya :p), akankah saya terus fokus pada konsep diri negatif tadi? yups, tidak!! Karena saya tahu saat saya seperti itu, maka yang akan jadi ’korban’ adalah orang terdekat saya. Itu semua adalah bagian masa lalu saya yang harus saya ’maafkan’ berdamai dengan diri sendiri, menyibukkan dengan membangun sebuah impian bernama keluarga, membangun mimpi, dsb..dsb.

Dan salah satu dari banyak kegiatan ’terapi’ saya adalah dengan menulis. Dengan menuliskan jejak jejak kebaikan, dengan menuliskan spirit untuk terus melangkah, dengan menuliskan harapan bahwa di depan sana akan ada sebuah masa depan, dengan menuliskan kisah pengingat dimana saya ternyata pernah ’menjadi baik’, maka saya tidak akan larut pada konsep diri yang negatif tadi. Bila suatu saat ’badai’ itu melanda kembali, oke, setidaknya ada jejak pengingat berupa tulisan yang dapat membuat saya tersadar…dar…dar…Semoga.

So, untuk fans saya (yaelaah Muth, situ oke? -_- ya kali aja ada yang ngefans), jangan bosan untuk menyupport saya menulis ya, walaupun isinya curhatan semua, tapi percayalah, like Anda, koreksi Anda, argumen Anda, komentar Anda adalah sangat berarti bagi saya. Kalaupun blog ini gaada yang baca (hiks..), saya sudah titip pesan ko ke Ayah Uzy, kalau saya meninggal duluan, tolong tunjukkan semua tulisan tentang anak anak, ceritakan kepada mereka betapa Umminya sangaaaat……. .

Yuk ah, sekian klarifikasinya kenapa blog ini isinya curhatan mululu. Kali kali nulis tentang politik kek Muth, atau tentang bola. Wkwkwkwk. Yu ya yuuu..

Saat Aidan bertemu Aisha

Standar

image

Aidan adalah kakak yang baik,serius, baik! yaaah jail jail dikit mah masih dalam kategori wajar laaah. Saat kemarin Ummi menitipkan Aisha untuk Aidan jaga terjadi sebuah percakapan yang membuat ckckckck..

Ketika itu Aidan yang sudah dititipi Ummi untuk menjaga Aisha, menghampiri Ummi yang sedang memasak di dapur. Ummi sedang mengolah ikan ketika itu. Dua orang anak Ummi pun ikut nimbrung, pegang pegang ikan. Lalu tiba tiba Aidan bilang :

A : Mi..Aa boleh minta tolong?
U : Boleh sayang, minta tolong apa?
A : Aa mau cuci tangan dulu, tolong jagain Aisha ya…

wkwkwk…gayamu Naaak, percis meniru gaya Ummi. Dari kamar mandi pun dia masih sedikit berteriak ’Miii..jagain ya Dedenya’

MasyaAllah Aidaaan, bagaimana tidak hormon oksitosin Ummi meningkat terus saat melihat bagaimana kamu peduli terhadap adikmu.

Entah, mungkin memang dari ’sananya’ Allah memberikan Ummi tipikal anak seperti Aidan. Dengan tabiat Ummi yang seperti ini, sepertinya Allah ingin agar Ummi belajar banyak darinya.

Melibatkan peran kakak untuk adiknya memang selalu Ummi usahakan. Dari semenjak Aisha lahir Ummi tidak pernah menitipkan Aidan dengan alasan repot mengurus Aisha. Seheboh hebohnya di rumah, Ummi ingin Aidan ikut merasakan ’aura’ itu. Ummi tidak ingin Aidan merasa tersingkir karena adiknya. Kalaupun suatu saat Ummi harus menitipkan Aidan karena ’riweuh’ hendak berpergian, dengan penjelasan yang jujur Alhamdulillah Aidan mau mengerti.

Di kesempatan lain Ummi tak ragu untuk meminta tolong Aidan membantu adiknya, menjaga adiknya, menyuapi adiknya, melibatkan diskusi dalam pengambilan keputusan terkait adiknya (walaupun hal sepele), mengapresiasi atas sikap baiknya, ’bersekongkol’ atas menyikapi tingkah adiknya “A..lucu ya dede teh..masa gitu gituan” “A..lihat dede, kenapa ya dede teh kaya gitu” “A..itu dede kenapa ya, aneh ya” dll dll.

Aidan pun suka Ummi posisikan sebagai ’guru kecil’ bagi Aisha. Misalnya saat Aidan merebut apa yang sedang Aisha pegang, Ummi katakan bahwa Aisha sedang belajar dari Aidan, Aisha nanti mengira bahwa merebut itu boleh karena Aa mencontohkan. Atau misalnya saat Aidan memakai baju, Ummi katakan pada Aisha (walaupun kayaknya blm ngerti) “tuh De..lihat Aa sudah bisa pakai baju sendiri, nanti Dede belajar sama Aa ya” dan Aidan pun menyahut “iya De, nanti Aidan ajarin ya De”. Dan contoh lain sebagainya :D

Saat ada perilaku kecil yang mengganggu kenyamanan adiknya, Ummi pun tak segan langsung mengoreksi, bila Aidan tak sedang ingin dikoreksi, yasudah tunggu dulu saja sampai emosinya reda. Begitu pun Aisha yang suka ’grasak grusuk’ ke Aanya, walaupun mungkin Aisha belum mengerti si Ummi ngomong apa, tapi Ummi pun tak segan mengoreksi Aisha. Sebagai tanda Adik tak selalu harus ’menang’ dan kakak tak selalu harus ’mengalah’. Mari kita pakai azas proporsional saja *halah*


Yang saya ceritakan di atas adalah kondisi ideal interaksi Aidan dan Aisha, pada kenyataannya, masih suka juga ko ada kondisi kondisi di luar ideal, ah tapi saya tidak mau fokus pada kondisi tidak ideal itu. Bahan di atas sebagai sarana #selfreminder buat saya, mengingatkan bahwa segala usaha pengasuhan ada strateginya ada solusinya. InsyaAllah ada. Apapun itu. Optimis.

Oia Aidan dan Aisha hanya terpaut umur 2 tahun 11 bulan, mungkin akan beda cerita saat jarak anak terlalu dekat atau terlalu jauh. Yaah pada akhirnya saya akan berkata, enjoy your life! mari kita berkhidmat atas situasi apapun yang menimpa kita. Keep meng’elmu’, keep menyemai, dan keep bersabar. Cheers!

Entah Apa Judulnya

Standar

Otak pas pasan
Pernah di Underestimat-i orang tua sendiri ’kelak akan menjadi apa anak ini’
Saking loadingnya.:)

Entah, bila mengingat masa lalu, saya jadi merasa sangaaat beruntung (bersyukur) bisa menapaki jejak seperti sekarang.

Berbekal asupan full susu formula, dengan posisi kedua orang tua bekerja, ’bermain’ tanpa aturan dan bebas bas bas, minim asupan ilmu agama, dll dll dll.

Dengan segala kondisi yang seperti itu, Allah ternyata memperjalankan saya dan saudara saudara saya berbeda (yaiyalah), saya merasa banyak.’dibentuk’ oleh lingkungan. Tentunya saya yakin tak lepas juga dari doa doa ibu dan bapak dengan segala keterbatasannya kala itu.

Jadi sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan Muth? Sekali lagi, saya merasa saya itu sangat beruntung berada di posisi yang tak terjerumus ke dunia gelap tak berujung. Alhamdulillah. Saya.merasa Allah itu super Maha Dahsyat dalam memperjalankan episode kehidupan saya sampai saat ini. Dengan segala lika likunya, dengan segala keluh kesahnya, dengan segala keinginan untuk menyerah, berputus asa dari RahmatNya, dll dll dll.

Saat menjalaninya pasti terasa berat, kalaulah tak ingat janji Allah akan dibukanya pintu pintu kebaikan saat seorang Hamba ingin mendekat padaNya, mungkin saya sudah mengibarkan bendera putih tanda menyerah.

Esok pun saya tak tahu apa yang terjadi dalam episode kehidupan ini. Berharap di setiap jengkalnya ada sebuah spirit yang semakin membaik, spirit seorang hamba yang ingin semakin dekat dengan Penciptanya.

Karena sesungguhnya kehidupan ini adalah tentang bagaimana kita berkhidmat atas segala peran, dan bagaimana menempatkan posisiNya dalam hati kita dalam posisi yang lebih dekat..dekat..dan dekat lagi.

Wallahu’alam

Tentang Rasa

Standar

Rasa. Itulah kata yang belakangan ini menghujam dalam pikiranku. (ceileeh)

Usia anak 0 sampai dengan 8 tahun, bagian otak yang berkembang terlebih dahulu adalah di pusat perasaannya. Maka….

Saat Anak susah makan, cek kembali historisnya, bagaimana kesan Ia terhadap proses makan di waktu yang lampau. Menyenangkan? Pernah dipaksa?
Saat Anak susah mandi, cek kembali historisnya.
Saat Anak susah diajak solat.
Saat Anak susah diajak puasa.
Saat Anak susah diajak mengaji.
Saat Anak susah diajak membantu pekerjaan rumah tangga.

Cek. Cek. Cek kembali histori masa lalu, apakah semua hal A B C D s.d Z yang susah susah tersebut pada mulanya diperkenalkan oleh orang tua hanya untuk sekedar BISA tanpa RASA? BISA dengan RASA TRAUMA? atau BISA dengan RASA TERPAKSA?.

Ini adalah tentang Cara.

“De..kita main Air yuk di kamar mandi, assik loh, kita bawa bola, atau kita bersihkan mobil mobilan yuk, sambil main air dibuka bajunya ya, nanti Ade main Air sama Ummi disabunin.Oke”

“De..yok mandi! ayooo cepetaan! iih nonton terus nih! diseret nih ya sama Ummi! ga boleh Nonton ya kalau ga mandi”

See. Tujuan sama, cara berbeda, dan RASA yang diterima anak pun berbeda bukan?

Rasa seperti apa yang akan kau tanamkan pada Aidan dan Aisha, Ummi?

Rasa seperti apa yang akan kau perlihatkan (dan kenalkan) pada Anak anakmu saat kau mencuci baju, mencuci piring, solat, mengaji, membereskan tempat tidur, membereskan mainan, musim Ramadhan tiba, bersekolah, bersosialisasi, menyapu, mengepel, menjemur, memandikannya, memberinya makan, membangunkannya,dll dll.

Apakah Rasa keluh kesah karena beban yang kau sendiri pun tak terbiasa? Apakah Rasa frustasi karena pekerjaan yang sama sekali tak kau nikmati? Ingat Anakmu melihat Rasa yang kau berikan terhadap sebuah pekerjaan.

atau..

Rasa terusik saat anakmu memintamu menemani bermain sedangkan engkau sedang mengaji. Ingatlah Muth, saat itu juga kau sedang mengajarkan bahwa pengalaman mengaji adalah pengalaman yang tidak menynangkan, karena waktu bermainnya tergantikan dengan waktu mengajimu.

Rasa..Rasa..Rasa..ya ini.adlah tentang Rasa..Bagimana aku menyemai Rasa SENANG dari setiap aktivitas yang suatu saat dia akan kuasai (BISA). Karena bisa belum tentu suka.

Tentang Rasa = Tentang Cara

Waktunya memutar otak apa saja hal hal yang ingin kita bisa dari anak anak kita dan BAGAIMANA menciptakan suasana MENYENANGKAN.

Untuk anak anak di bawah 7 tahun lakukan dengan 3B : sambil Bermain, Bercerita, dan Bernyanyi.

Gunakan insting daya kreatifmu Ummi! Selamat mendidik..selamat menyemai..selamat bersabar..

Bashirah

Standar

Di sebuah lingkaran diskusi, ada seseorang yang sinis terhadap gaya blusukannya Jokowi.

“apaan coba, ga pantes banget jadi presiden, masa gayanya begitu, blusukan, pake masuk gorong gorong, dia mah cocoknya jadi gubernur, ah ketinggian gubernur juga, jadi camat atau pak RT”

Astaghfirullah, rasanya seketika itu saya ingin meledak. Setajam itukah lidahnya, bukan, bukan karena saya pengaggum Jokowi (da memang kenyataannya bukan sih). Tapi lebih kepada, apakah ucapan itu pantas terlontar dari seseorang yang sudah mengenal kata Dakwah sejak lama? oke. semoga saja beliau sedang khilaf. Mana ada sih manusia sempurna.

Seketika itu pun saya reflek membela.

“Loh..bukannya khalifah Umar juga blusukan ke rumah rumah ya”

dan dibela oleh seseorang yang lain.

“ya kan level areanya beda, ini Indonesia gitu, lebih luas”

Menurut saya sih bantahannya ga nyambung, sebenarnya saya ingin berbicara, intinya adalah gaya pemimpin blusukan seperti itu tidak usahlah menjadi masalah, toh Umar saja melakukan. Masalah pencitraan/media yang dibayar (kalaupun benar), itu masalah lain.

Seketika itu pun saya jadi berpikir, tidak di dunia maya, tidak di dunia nyata, saat kita menempatkan hati kita dalam keadaan benci dan cinta dalam kadar yang tidak tepat maka siap siaplah berlaku tidak adil! ya tidak adil! kita akan memandang sesuai dengan prasangkaan kita yang bisa jadi salah.

Oh oke, mungkin sayanya saja yang Oon, yang tidak bisa melihat seterang dia melihat seseorang itu Hitam dan seseorang itu Putih. Dan tahukah Anda bahwa semua yang saya tuliskan di atas adalah berdasarkan prasangkaan saya, yang bisa jadi juga salah. So, tenang saja, Anda boleh setuju dan boleh juga tidak setuju.

Secara personal, saat saya belum bisa melihat seseorang itu hitam atau putih, maka yang akan saya lakukan adalah berprasangka baik TERLEBIH DAHULU, selanjutnya? saya serahkan pada Allah, memohon diperlihatkan yang baik itu baik dan yang buruk itu buruk. Dan ingat, yang baik tidak selamanya baik dan yang buruk tidak selamanya buruk. Its so flexible! Kekuatan mata hatilah yang diperlukan. Dan ini adalah PR besar bagi saya, karena itu menyangkut kedekatan saya dengan Illahi Rabbi.

Terakhir, mohon ingatkan saya jika saya khilaf, sering berprasangka buruk, lisan yang tidak terjaga, mohooooon sekali untuk diingatkan. Ya..ya..ya?

Salam 3 Jari. Persatuan Indonesia.