Berbahagialah Para Ibu!

Standar

Bahagia itu relatip! seperti halnya meninggalkan hal-hal yang tidak berguna menurut Hadist berikut :

Merupakan tanda baiknya Islam seseorang, yaitu ketika dia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya (Arba’ain ke-12).

Bisa saja menurut seorang pecandu Narkobah, nyimeng adalah hal yang berguna bagi dia, dan meninggalkannya adalah sesuatu yang menyakitkan. Bisa saja mencuri bagi seorang maling adalah hal yang berguna bagi dirinya. Jadi sesuatu yang relatif itu harus ada parameternya (bukan relatif lagi donk!), maksudnya harus ada batasan secara garis besarnya. Berguna itu berdasarkan apa, berorientasi pada apa, dan bahagia itu juga berorientasi pada apa.

Saya tergelitik menulis tentang bahagia-bahagiaan ini setelah membaca sebuah artikel bagus tentang “Pilihan masing masing seorang ibu, hendak menjadi apakah dia di Dunia ini?”. Apakah menjadi WK, SAHM, atau ‘pemenang sejati’  Bisnis di Rumah. Eh yang buat istilah ‘pemenang sejati’ bukan saya loh. HEhehe. Tapi memang sampai saat ini saya masih menganggap wanita mandiri finansial tapi masih bisa berdekatan dengan anaknya adalah sebuah pilihan terbaik diantara yang baik baik itu (IMHO tanpa nyinyir). Siapa yang ga mau coba bersedekah lebih tapi waktu untuk keluarga pun lebih? Siapa yang ga mau coba membantu orang lain dengan membuka lowongan kerja? Siapa yang ga mau coba mencari 9 pintu rezeki dari 10 pintu yang Allah sediakan? Saya? Mauuuuuu! Udah dijalankan? Ga bisaaaeuun -_-. Hehehe. Semuanya kembali ke ‘bakat’ alami, passion, dan lingkungan yang mendukung. So , mari saling menghargai takdir masing-masing. Bukan Pilihan masing-masing yah, karena terkadang seorang ibu dihadapkan pada sesuatu yang tidak ia pilih. Contohnya? Baiknya bersama kita simak paragraf di bawah ini dan jawab pertanyaannya dengan benar (hayaah..)

Mari kembali ke batasan batasan tentang bahagia itu, katanya “Jangan pernah mengabaikan kebahagiaan diri sendiri!”, lantas bahagia itu seperti apa sih? yang pasti berbeda setiap orang. Ada yang kebahagiaan utamanya bila karirnya meningkat terus, ada yang kebahagiaan utamanya anak anak tumbuh balalageur,  ada yang kebahagiaan utamanya bla..bla..bla. Dah, intinya beda-beda tergantung individu masing masing. Tapi oh tetapi…tak jarang seorang ibu dihadapkan pada kondisi “darurat” dimana dia mau tidak mau harus menjadi WK ataupun SAHM. Darurat pertama misalnya seorang Janda ditinggal cerai/meninggal suaminya dengan anak 5 yang MAU TIDAK MAU bekerja 8 to 4 p.m,  atau sebuah keluarga yang penghasilan suaminya kurang (bukan pas pasan lagi). Darurat kedua misalnya seorang ibu yang harus mengikuti suami ke negeri antah berantah dimana tak ada lowongan kerja bagi perempuan dan sama sekali tak ada kesempatan untuk berbisnis. Nah loh! masih bisa mencari kebahagiaan dari kondisi seperti itu? sementara batin kita menolaknya? Jawabanya, masih dwoonk. Kumaha carana?

Sepanjang otak saya bekerja saya pernah merekam sebuah memori Hadist yang baguuuuus banget, begini kira kira isinya :

 “Sungguh!mengagumkan kondisi seorang mukmin, segala kondisi yang menimpanya dianggap baik. Apabila mendapat kesenangan dia bersyukur, dan apabila ditimpa musibah dia bersabar. Dan itu lebih baik baginya.” (HR.Muslim)

Jadi pabila Anda adalah ibu yang ditakdirkan sesuai dengan pilihan Anda dan Anda berbahagia karenanya, maka bersyukurlah. Dan pabila takdir Anda membawa pada sesuatu yang itu sama sekali bukan kemauan Anda, maka bersyukurlah dan bersabarlah. Niscaya Anda akan berbahagia! percayalah! percayalah! Terdengar mudah tapi sulit dilakukan bukan? Ah engga, bisa koook dilakukan *menyugesti*

 Lalu..lalu.. orientasi bahagia itu kemana sih? Saya khawatir bila ada seorang ibu yang bahagia saat anak-anaknya terlantar (emang ada? kali aja ada), saya khawatir saat seorang ibu bahagia itu ketika dapat uang banyak dan karir tinggi tapi anaknya teu kaurus alias caludih (duh itu mah anak saya kalau lagi ingusan ey!), saya khawatir bila ada seorang ibu SAHM yang sibuk bahagia berBBMan sementara anaknya main ke tetangga dalam kondisi belum mandi belum makan dari pagi sampai sore. Jadi mau dibawa kemana ‘kebahagiaan’ kita? *nyanyi*. Teringat satu nasihat seorang bapak “Segala sesuatu itu menjadi baik, bila sesuatu itu dapat mendekatkan diri kita pada-Nya”. Jadi tanyalah pada hati nurani diri kita apakah ‘kebahagiaan-kebahagiaan’ yang kita lakukan itu menuntun kita semakin dekat denganNya? ( Semakin = Berusaha,  Dekat = Takwa). Saya sendiri? masih jaauuuuh dari takwa, minimal dengan tulisan ini menjadi pengingat pribadi untuk terus BERUSAHA takwa, caranya dengan berilmu (agama, parenting, kerumahtanggaan, profesi, manajemen, dll), berkumpul dengan tukang minyak wangi, dan mengamalkan ilmu. Jadi mari kita berbahagia para ibu! Wallahu’alam bi shawab.

Bangganya Kau Menjadi Besar, Nak! (Eps.Jajan perdana)

Standar

“Mi..Aa mau jajan, boleh?”

“Iya mangga” *Ngetes*

“Ummi tunggu di rumah ya, Aa mau Jajan disana” Sambil ngaleos

Eee..ni anak beneran..“Mana uangnya?”

“Mana ya mana ya” Sambil pura-pura nyari uang di sakunya.

“Tuh Ambil di dompet Ummi!” *masih ngetes, heran, ni anak tiba tiba berani*

“Ini mi?”

“iya”

Dan Aidan pun ngaleos keluar menuju warung, si Ummi ngeliatin dari jauh, daaan pulang pulang membawa wafer 500an dengan kembalian yang diplastikin sama ibu warungnya.

“Miii..Aa bisa Jajan!”

“Waah Aa berani?”

“KAN AA SUDAH BESAR” *Diucapkan dengan raut wajah bangga*

Setelah wafer habis..

“Mi..mau jajan lagi..”

-_- Ketagihan ey!

 

Kisah Hari Ini

Standar

“A..Ini namanya bayangan” Sambil menunjukan gambar bayangan di buku.”Aa juga punya yang namanya bayangan” Lalu si Ummi menunjukkan bayangan Aidan.

“Mana mi mana? Ooh ini”"Ko bayangannya ngikutin Aa mi?” Sambil lulumpatan
“Mi…mi..kenapa bayangannya ngikutin Aa?” *Wajah exiting* sambil terus lulumpatan

“Itu karena setiap bayangan pasti mengikuti bendanya A”

“Mi…mi..kenapa bayangannya ngikutin Aa?”
“Mi…mi..kenapa bayangannya ngikutin Aa?” (pertanyaannya diulang ulang -_-)

“Itu karena setiap bayangan pasti mengikuti bendanya A” (dengan jawaban yang diulang ulang)

 

Kehamilan Ke-2

Standar

Tak adil rasanya bila tak mendokumentasikan kehamilan kedua ini, karena dulu saat kehamilan pertama si Ummi dengan semangat membara ‘curhat’ tentang apapun di blog. Maka di kehamilan yang berusia 37 week ini saya hendak bercerita apa yang dirasakan saat kehamilan kedua :D

Kehamilan kedua ini merupakan hasil ‘todongan’ si Ummi kepada si Abi. Hahahaha. Setelah sebelumnya membuat ‘proposal’ melalui sms yang berisi Latar belakang, Tujuan, waktu dan tempat pelaksanaan (hadeuuuh..apasih mi..) Yaa gitulah pokonya mah. Dengan intensitas yang tidak memungkinkan untuk intens (1 kali saja saat masa subur) karena Abi sedang sakit, zigot pun terbentuk (Allahuakbar, tak ada yang tak mungkin bila Allah berkehendak). Empat tespek dengan harga dimulai dari 3rb rupiah sampai 25rb rupiah menunjukkan hasil yang sama, setrip dua! Alhamdulillaah.

Pada sesi mual kali ini berbeda dengan sesi mual saat Aidan Shalih dulu. Karena si Ummi harus berangkat ke sekolah untuk mengajar jadi mau tak mau tak ada ajang meringkuk di kasur seharian. Alhamdulillah selama di sekolah lambung ini tak pernah mengeluarkan isinya, hanya berupa ekspresi kerutan di muka saja dan bila sudah begitu Anak anak yang saya ajar biasanya sudah hapal “ibu mual yah?” . Dan saya pun meminta izin untuk meredakan ‘rasa ini’ dengan duduk atau makan permen. Ada yang tak biasa dari sesi mual kali ini, yaitu hiper saliva dan semakin malam semakin takberdaya! Jadi bukan morning sickness tapi night sickness. Air liur ini bo ya mengalir terus, kalau tak dikeluarkan ya Muntah deh :D

Alhamdulillah di rumah masih ada yang membantu untuk dimintai tolong, Aidan, Bibi Dinda, dan Suami tercinta bila tidak sedang dinas ke Jogja (ditinggal terus nih si Ummi selama kehamilan , tapi gak apa apa karena itu sudah menjadi bahan pertimbangan saat merencanakan dulu). Aidan sering sekali mengambilkan Ummi minum saat jidat ini berkerut “Ummi mual yah? Mau minum?”. Bibi Dinda bahkan pernah mengepel muntahan Ummi yang buanyaaaak saat Abi taka da, hehe, maaf ya Bibi, semoga amal baiknya dibalas oleh Allah, dan bantuan dari Abiku tersayang, jangan ditanya lagi, pengertiannya akan tak tersedianya makan malam atau kadang hanya ada goreng goreng tahu, telur aja di kulkas, pengertiannya untuk diminta tolong membeli makanan apapun yang Ummi suka, pengertiannya akan tubuh ini yang ingin tidur terus selama weekend, pengertiannya untuk membantu pekerjaan rumah tangga, belum lagi ditambah pekerjaannya di kantor yang menguras pikiran, MasyaAllah, balasan yang pantas hanya dari Allah saja ya Abiku .

Kontrol selama kehamilan pun tak menetap ke satu dokter, dan tidak tiap bulan seperti Aidan dulu. Karena setelah ummi baca-baca memang tidak urgent banget, kecuali ada diagnosis medis yang mendukung.Kontrol kehamilan ke-2 ini hanya sekali di trimester pertama untuk melihat ada janinnya atau tidak, lalu di trimester 2 s.d sekarang 4 kali. Selanjutnya entah Allah menakdirkan Ummi untuk melahirkan oleh siapa dan dimana, rencananya di klinik Bunda Nanda Cipadung dengan dokter Anni. Tapi mengingat jelang kelahiran Aidan dulu yang direncanakan oleh dokter Anna dan ternyata terjebak macet lalu digantikan oleh dokter Anita, menjadikan si Ummi berpikir tidak usah terlalu ngoyo ingin dilahirkan oleh siapa, rencanakan saja, toh hasil akhir Allah yang menentukan, di Bidan dekat rumah pun tak masalah.

Hmm..apalagi yah. Oia tentang perasaan hati Ummi secara keseluruhan selama kehamilan adalah bahagia. Tidak dipenuhi oleh tekanan-tekanan seperti waku kehamilan Aidan dulu. Lebih tegar dan lebih siap menghadapinya. Karena sudah bisa naik motor, jadi kemana mana naik motor s.d UK 35 w kemarin, ke sekolah, antar jemput Aidan ke enin, Antar jemput Abi ke stasiun/tempat angkot, serasa jadi wanita tangguh. Hahahaha. Oia si Ummi sempat jatuh dari motor dan drop kondisi badan, tapi Alhamdulillaah semua bisa dilalui dengan baik. Sekian dulu kisah kasih selama kehamilan kali ini. Jadwal launching 3 minggu lagi, semoga diberi kemudahan dalam persalinan yang kalau kata..kata siapa ya..perjuangan antara hidup dan mati. Bismillahi tawakaltu Alallahi Laa Haula walaakuwata illa billah.

Dan Siapakah?

Standar

Dan Siapakah yang menggerakkan bibir mungilnya, tatkala raga ini sudah separuh memadamkan baranya, tiba tiba Ia yang belum ada catatan amal dan dosanya pun berujar “Ummi baik..Ummi baik..jangan marah-marah lagi ya..Ummi sayang..Ummi sayang” Sambil berbisik dan mengeluskan tangan mungilnya ke tubuh penuh dosa ini.

Dan Siapakah yang menggerakkan tangannya, tatkala dengan perhatiannya Ia mengambil Vitamin yang hendak kuminum, dan memasukkannya ke mulut yang penuh dengan perkataan sia ini sambil berujar, “Sama Aa Mi..Sama Aa..Enak?”

Dan siapakah yang melembutkan hatinya untuk selalu mudah mengucapkan “terimakasih” tatkala ia bersyukur dan kata “maaf” tatkala ia merasa bersalah?

Dan siapakah yang memberinya petunjuk atas sisi pemaafnya, tak ada rasa dendam saat beribu marah ini menghunus hatinya saat beribu tingkah teman sepermainannya membuatnya menangis? Tak ada dendam.

Dan siapakah yang menuntunnya bereksplorasi, mengamati gejala alam, berpikir, menyimpulkan, membuat keputusan. Semoga akalmu senantiasa dituntun olehNya Nak.

Sesungguhnya engkaulah yang paling dekat sedekat dekatnya dengan penciptamu Nak. Dirimu yang masih Ma’sum (terbebas dari dosa) menandakan bahwa fitrah ilahiahmu masih murni, belum tertutupi oleh maksiat apapun. Engkau yang hobi sekali menangis sebagai tanda lembutnya hatimu, engkau yang suka bermain tanah sebagai pengingat diri ini bahwa disanalah tempat kembali kelak, engkau yang sedetik kemudian tersenyum setelah sebelumnya kau menangis tanda tak pernah mendendam, engkau yang sering sekali merusak barang tanda diri tak terikat pada duniawi.

Bila nanti tiba waktunya segala catatan amal dan dosa terukir, jadilah bandul yang tak terlalu jauh simpangannya ya Nak dan segeralah menjadi pemuda Shalih tanda kematangan akal.

Dan Siapakah yang menggerakan tangan ini untuk mengetik sebuah “hadiah” ini saat umurmu menjelang 3 tahun?

Selamat menjadi besar Anakku, Muhammad Aidan Hammam.

Sampingan

Selain blog, sesuatu yang sering saya curhati adalah merupakan seseorang, seseorang itu  memiliki 10 sistem organ dalam tubuhnya dan sepertinya metabolic rate di tubuhnya tinggi sekali sehingga seseorang itu susah sekali untuk gemuk , seseorang itu adalah suami saya. Segala ‘sampah’ keluh kesah saya tumpahkan ke dalam telinganya. Alhamdulillaah dia adalah pendengar dan baik dan saya adalah pembicara yang baik (hahaha…). Beberapa pesan dari beliau bila saya berkeluh kesah atas problematika hidup (naon sih)

1. “Sing Ikhlas nya mi, urang niatkeun ka Allah we, supaya jadi pahala *dengan nada menenangkannya*”. Tapi dilain waktu saat abi ‘berkeluh kesah’ saya pun suka memberi jurus yang ia berikan dengan intonasi yang sama *penting*,, yah dalam rangka saling mengingatkan.

2.” Ayo mi, kita mah ngasih aja terus solusi..solusi..solusi..kalau tahu masalahnya dimana..ayo kita cari tau solusinya”. Dibandingkan dengan eluh gue eluh gue eh maksudnya dibandingkan dengan keluhan-keluhan, lebih baik fokus bagaimana mencari solusi untuk memperbaiki keadaan. Terkadang beliau pun tak segan menawarkan solusi..solusi..solusi dari segudang keluhan saya terhadap sesuatu hal.

3.”Ingetna ka Gusti we nya mi”. Kalimat ini diucapkan ketika saya kesel sama dan melampiaskannya ke hal-hal diluar jangkauan kerasionalan seorang manusia (naon sih mi), Ya gitu deh..

Udah kayanya hanya 3 kalimat itu yang menghujam pikiran saya.

Ingat!

Terrible Two Aidan yang Wonderful (Part 2)

Standar

Untuk menunjukkan bahwa saya marah biasanya saya menggunakan ekspresi diam atau dengan menggunakan pernyataan “aa Ummi marah”, dan tak lama pun biasanya anak Ummi nan lucu itu langsung minta maaf. Kira kira begini percakapannya.

“Aa Ummi Marah” l Maaf mi…maaaf l *si Ummi jual mahal* l mi maaf mi..maaf *sambil ngebuntutin kemanapun Ummi pergi* l “Maaf kenapa?” l Lalu dia pun mengakui kesalahannya l dan Ummi maafkan.

Sekaraaaang…Anak Ummi yang satu ini sudah jago ngelesnya. Sebelum si Ummi mengucapkan “Aa Ummi marah”, dia duluan yang berkata “Ummi marah ajalah sok..” -_- hghghggg. Menggertak ala Aidan membuat saya ingin terbahak, tetapi dalam rangka mencegah inkonsistensi, Ummi tahan itu ketawa dan Ummi pun pura-pura cool dalam rangka mendiamkan, dan memang anak Ummi yang satu itu paling tidak tahan kalau didiamkan Umminya. yes! *tawalampir*

Di Episode lain, kadang malah jadi Aidan yang membuat pernyataan “Aa marah aja ah.” “Aa marah” dengan ekspresi yang samaaaa perciiiiis dengan ekspresi ‘cool’ saya ketika marah. Wkwkwk. Ni anak memang peniru ulung yah. Kalau udah gitu sih si Umminya jadi tergoda untuk ngeggodain *abis ga tahan dengan ekspresi ‘aktingnya’.

Membalikan pernyataan. Yah ini juga adalah salah satu tingkah barunya Aidan. “Aa harus makan biar sehat” l “Biar ajalah ga sehat juga”. “Aa mandi yuk, biar ga bau Asem” l gak apa apa bau asem juga. “

Banyak Pertanyaan. Kenapa harus makan? l Biar sehat l Kenapa harus sehat? l Biar ga sakit? l Kenapa biar ga sakit? l Aa mau nanti perutnya sakit? yaudah gausah makan l Diem deh..wkwkwk

Jawaban ga nyambung. Selain menciptakan kata khayalan “Kaka” sebagai bentuk penolakan, Aidan pun mengeluarkan jawaban gak nyambungnya “Ummi jangan kerja *ngetik di komputer* nanti ketabrak mobil” “Abi jangan mandi, nanti ketabrak motor”. Dll. Entah darimana kau menemukan sebab akibat yang gak nyambung itu Nak.

Ah Nak dibanding sikap ‘Ngeyel’mu yang menurut Ummi wonderful itu, ternyata sikap baikmu yang luar biasa wonderful juga jauuuuuuuuuuuuh lebih banyak. Perhatiannya, pelukan dan ciumannya ketika merayu saya, tak segan dimintai tolong, tak susah meminta maaf, semangatnya yang tinggi, cerianya yang menyejukkan hati, kepolosan tidurnya yang menentramkan jiwa. Tetaplah menjadi Bintang di hati Ummi dan Abi ya Nak.

Terrible Two Aidan yang Wonderful (Part 1)

Standar

Terrible Two adalah sebuah istilah yang entah siapa menemukannya, dan kenapa juga menggunakan istilah ‘Terrible’ yang dekat dengan konotasi negatif? Entahlah. Istilah ini digunakan bagi balita yang memasuki usia 2 Tahun, dimana dalam usia tersebut sosok peri yang baik hati berubah menjadi monster raksasa yang mengerikan dengan taring dan cakar yang tajam dan siap untuk menerkam Anda dimana saja. Hahaha. Lebai ah! (abaikan 0.0). Kalau menurut pengertian embah Wikipedia sih si Terrible Two ini artinya Fase perkembangan anak yang biasanya terjadi di sekitar usia dua tahun ( bisa juga kurang) yang sering ditandai dengan seringnya mengeluarkan kata penolakan ‘Tidak’ dan tempramennya yang berubah menjadi monster (loh ko monster lagee -_-) a.k.a Tantrum.

Saya, si Ummi yang inosen ini, menulis untuk me-mindset-kan diri agar menghadapinya secara biasa-biasa saja, gak usah lebai, apalagi sampai darah tinggi, muka merah padam, dan jantung berdebar. Alias saya ingin mencoba untuk memberi kontrol pada diri saya sendiri, agar taring emak-emak ini tidak bertambah panjang seiring dengan tingkah polah Aidan yang semakin Wonderful (engga dikutipin loh). Saya ingin menganggapnya WAJAR ketika Aidan :

1. Susah Diajak Mandi.

Penolakan untuk urusan yang satu ini banyaaaak banget alasannya. Biasanya saya langsung menawarkan pilihan “aa mau mandi air anget atau air dingin?”, karena kalau persuasinya “aa mandi Yuk” maka jawabannya adalah… (silakan diisi sendiri). Awalnya karena pertanyaannya berupa pilihan, maka diapun tak bisa berkutik dengan menjawab “Air Hangat”. Tetapi oh tetapi, otaknya berkembang pesat sekali, beberapa hari kemudian jawabannya berubah menjadi “air dingin gak mau, air anget gak mau, maunya air ledeng” (air ledeng = pengalihan). Baiklah, saya pun menimpali, “air ledeng hangat apa air ledeng dingin?”, ia pun menjawab ” Air ledeng aja”. Yasudahlah, “Okee..air ledeng aja, tuh udah ada di kamar mandi”, dan dia pun tak bisa berkutik, tapiii beberapa hari kemudian dia menjawab dengan jawaban khayalannya yaitu “mau mandi dengan Air kaka”. Nah pemirsa gak tahu kan Air kaka itu apa? sama saya pun gak tahu, sepertinya itu adalah modus gak mau mandinya ala Aidan.

Solusi ala ibu peri : Kalau sudah begini, hal pertama yang harus tertanam di pikiran saya adalah “tenang mii..tenaaang…ini adalah hal yang WAJAR”, setelah tenang saya harus mencari cara bisa dengan bergaya kocak seperti hendak menerbangkan pesawat terbang, dan saya membawa pesawat terbang itu ke kamar mandi, ngiiung..ngiiung. Atau tidak usah ada persuasi sama sekali, bangun tidur-saya ajak pipis-langsung dimandikkan (biasanya cara ini dilakukan ketika saya akan mengajar pagi-pagi). Sambil mandi kita komunikasi, aa Mandi biar bersih, wangi, sehat (mendoktrin), lama-lama saya yang ngetes “Aa mandi biar apa?”

Solusi ala nene sihir : angkat kedua tangan-seret ke kamar mandi “brus brus brus”, atau ngomel ngomel “Aa..harus Ummi paksa? cepet mandi!”. Cara ini pernah saya lakukan? ya pernah, karena nyatanya tidak setiap saat saya jadi ibu peri baik hati. Jadi masalah sebenarnya ada di saya, yang LUPA bahwa semua penolakan itu adalah hal yang WAJAR. Ayo nene Sihir! keluarlah dari tubuh Ummi! hus..hus..hus..

2. Susah makan

Nah kalau ini mah kayaknya masalah Aidan sejak sebelum umur 2 tahun. Bedanya sekarang triknya yang dia lakukan sudah semakin pintar. Kalau ga ngaggegel jarinya “Aa makan tangan aja”, nonggeng menghindarkan mukanya, atau engga mencari-cari makanan yang tidak ada di rumah. “Aa mau tempe” “Aa mau ayam” dan seperti biasa modus ala Aidan “aa mau makan Kaka”.

Solusi ala ibu peri : mengajaknya memasak sehingga dia tahu prosesnya, “a masa ini yang ummi masak ga dimakan kan tadi udah dibuat bareng ummu. ummi masak kan buat aa”. Memasak makanan berkuah (so far, kalau masakannya berkuah, makannya lebih lahap), memercayakannya untuk makan sendiri (tapi seringnya kabur di tengah jalan, dengan alasan kenyang), makan sambil main yang interaktif dua arah (kalau sambil nonton/main gadget biasanya diemut).

Solusi ala nenek sihir : ngomel-ngomel dan berakhir pundung alias mendiamkannya (biasanya dia langsung minta maaf dan mau makan). Cara ini dilakukan ketika entah harus pakai cara apa lagi agar Aidan mau makan. Oia, walaupun sesekali jadi nene sihir ‘doktrin’ harus makan biar sehat, biar tinggi, biar pintar harus terus dilakukan. Mencegah timbulnya perasaan ‘menyuruh’ tanpa alasan.

3.Susah Tidur Malam

Walaupun itu mata udah 3 Watt tapi keinginan untuk bermainnya masiiih aja terus ada. GENGSIan! kayak emaknya!

Solusi ala ibu peri : Menjelaskan hari ini sudah malam, waktunya tidur, kalau main ketika matahari terbit. Sebelum bobok baca buku (seringnya itu buku ga habis-habis minta dibacain terus), baca doa bersama, murojaah surat pendek. Ceritanya sih ritual menjelang tidur, tapi seringnya ketika mengucapkan “baca doa mau tidur” langsung deh bilang “gak mau tiduuur”. Kalau udah gitu biasanya ibu peri berubah jadi nenek sihir, apalagi kalau ini badan udah lelah sangat.

Solusi ala nenek sihir : ngomel-ngomel-mendiamkan-Aidan nangis-Aidan minta maaf-Ummi minta maaf- dan baru mau tidur deh. Duuh Naak, Ummi gak mau sering-sering jadi nenek sihir looh.

Kalau diinget-inget cukup sering juga yah saya berubah jadi nenek sihir, maka dari itu saya menuliskan ini, sebagai pernyataan bahwa semua tingkah Aidan itu adalah hal yang WAJAR dan harus disikapi dengan WAJAR juga, tidak lebai lebai amat, tegas untuk mendisiplinkan? saya rasa boleh tapi tidak dimasukkan ke dalam hati yang berubah jadi rasa marah dan kemudian berakibat pada jantung berdebar dan tangan bertindak.  Ya Allah sabarkanlah saya dan perkuat kesabarannya. Aidan anak Ummi sedang belajar, dia sedang mempelajari bagaimana cara umminya marah, bagaimana cara umminya bersabar menghadapi masalah, cara umminya ngomel-ngomel, cara umminya menunjukkan rasa sayangnya, yang KELAK akan dia TIRU. Mana yang lebih banyak kau berikan Ummi? maka akan seperti itulah ia kelak.

Tentang Buku

Standar

Buku adalah mainan yang tidak familiar saat saya masih kecil, saya lebih senang bermain di luar, bermain peran, ucing sumput, pokoknya aktivitas yang melibatkan kelompok. Walaupun orang tua saya setiap minggu (atau bulan yah?) selalu membelikan majalah Aku Anak Shaleh, tapi tidak membuat saya menyenangi buku (apalagi membaca). Majalah Aku Anak Shaleh dan majalah majalah lain yang dibelikan orang tua, sukses dilahap oleh teteh saya, dan memang terlihat hasilnya saat teteh SD, SMP, SMA, dia sangat suka membaca novel, saya? boro-boro! Prestasi terhebat perihal membaca ini adalah rajin membaca komik saat saya SMA. Saat kuliah? baru terasa..i’m so sloooow..Kalau saya melihat teman-teman saya yang wawasannya luas, kalau bicara dia bisa mengambil dari berbagai sudut, pengetahuannya luar biasa, tak lain dan tak bukan karena mereka sudah terbiasa dengan membaca sejak masa kanak-kanak. Saat kuliah pun baru terasa, i’m so keteteran saat harus memahami sebuah text book. Oalaah..ini buku tentang apa toh, dan lebih senang diterangkan teman dibanding memahami sendiri dari text book. Oh Noooo.

Saya pun tidak mau hal tersebut terulang di generasi setelah saya, lalu saya menemukanlah sebuah buku yang berjudul ‘Read Aloud Handbook’. Disitu disebutkan bahwa yang paling penting adalah bukan seberapa cepat Anak anda dapat membaca, akan tetapi bagaimana sang anak dapat menyukai buku/membaca dengan konsisten. Sebuah penelitian menyebutkan (tepatnya, baca aja bukunya sendiri yak :D ) bahwa saat baru bisa membaca anak-anak sangat senang membaca buku, akan tetapi minatnya terhadap buku menurun seiring dengan bertambahnya usia. Read Aloud disini dimaksudkan agar orang tua sedini mungkin MEMBACAKAN buku untuk anak-anaknya pun ketika mereka belum bisa membaca. Dimulai dari kata-kata sederhana sampai dengan kata-kata kompleks, ini semua adalah tentang seni mendengarkan, seni yang harus secara perlahan kita tanamkan untuk anak-anak kita. Bila kegiatan ‘dibacakan buku’ sewaktu kecil menjadi kegiatan yang menyenangkan bagi anak kita, maka hal tersebut akan masuk ke alam bawah sadarnya, dan Tadaaaa… tanpa disuruh anak kita akan menjadi pelahap buku.

Saya tidak akan membahas banyak buku tersebut, karena terlalu panjang :D heheheh. Saat ini saya sudah rutin membacakan buku untuk Aidan, dimulai dari buku Halo Balita yang banyak gambarnya dan sedikt tulisannya. Awalnya Aidan suka ngaleos kalau lagi dibacakan buku, sulit fokus, akan tetapi setelah menggunakan trik pengubahan intonasi yang lebai (hahaha) dia menjadi tertarik untuk mendengarkan dan mengamati. Bahkan dia hapal cerita di buku buku tertentu dan suka menceritakannya kembali dengan menggunakan bahasanya. Yang saya rasakan sampai saat ini adalah kemampuan kosa-katanya yang lumayan laah, dan yang penting bagi saya adalah ‘candu’nya dia terhadap buku.

Godaan utama dari membaca, saat ini adalah gadget dan mainan, si Ummi berencana akan mengkarduskan mainan Aidan yang kebanyakan (mobil-mobilan dan kereta!!), kalau masalah gadget, kayaknya aplikasi games di hape abi harus dihapusin nih ;D Eh tepatnya, dibuat aturan supaya penggunaannya lebih bijak kali ya. Membelikan mainan pun sepertinya harus ditimbang manfaat mudharatnya.

Kembali ke buku, saya baru menemukan serial buku bagooos yaitu WWP anak-anak, Widya Wiyata PErtama Anak-Anak, awalnya saya tertarik karena testi dari beberapa orang, yang menyebutkan itu adalah buku semasa kecilnya, dan buku itu berhasil menjadikannya menyukai buku tanpa disuruh! (sluuurp..mengendus korban iklan), dan ketika saya tahu harganya..weeew..hampir seharga motor untuk 24 Seri bukunya, karena dilengkapi oleh si Walter, pen yang bisa berbicara. Well, saya berpikir dulu saat belum ada si walter, buku itu tetap menjadi buku yang menarik dan bermanfaat, lalu saya pun mencari buku Sekon! dan Alhamdulillaah dapat dengan harga yang tak sampai 1 juta untuk 15 serinya. Setelah melihat isinya? Waaah!! saya pun suka!!! Buku tentang pengetahuan-pengetahuan sederhana yang sering kita jumpai di sekitar kita! Saat ini tiap malam saya selalu membacakan buku WWP tersebut (dengan bahasa sederhana yang dimengerti Aidan tentunya).

Buku selanjutnya yang saya incar adalah, buku tentang Sejarah Rasul versi anak-anak. Mari berburu Sekoon, etapi nampaknya buku yang ini sangat jarang ada yang sekonnya :D . Oia saya jadi senang berburu buku sekon karena harganya yang lumayan, untuk isi dan kualitas fisik buku yang hampir sama dengan yang baru, harganya bisa setengah dari harga toko. Mari berburu! (kaya yang punya uang banyak aja ;p..hehe)

Aidanku Sayang Aidanku Pintar

Standar

Sejak Usianya 25 Bulan Aidan sudah bisa mengungkapkan keinginannya buang hajat (yee ^^), itu tandanya Ummi bisa punya anak lagi #lho?. Ya, Ummi merencanakan bila Aidan sudah lulus Toilet Training (TT) , baru  akan menambah personil di keluarga kecil kita. Gaya Toilet Training ala Ummi, Ummi sebut sebagai TT with love..hehe..Awal-awal sih ummi suka uring uringan sendiri kalau Aidan ngompol, apalagi kalau pas ditanya mau pipis atau engga? Dan jawabannya engga terus, tapi 5 detik kemudian ceer #gendog. Mimik Aidan pun terlihat seperti orang bersalah, tunduk, takut, dan pikarunyaeun. Sejak saat itu Ummi berjanji gak akan lebai lebai amat menanggapi ‘ompol’nya, toh Aidan kan sedang belajar. Dia sedang belajar merasakan ‘rasa’ kantung kemihnya penuh, dia sedang merasakan ‘rasa’ dorongan kuat dari “belakang’, dia sedang belajar ‘rasa’ empati saat Umminya membersihkan Pup dan Cairan seninya yang tercecer dimana saja, dia sedang belajar berdiskusi, bernegosiasi, mengartikan maksud, memahami lingkungan, mengamati perubahan, ya Anak Ummi sedang belajar. Maka bantulah Ia dalam belajarnya. Bantulah ia dengan komunikasi dua arah, bantulah ia dengan intonasi lembut tak menyalahkan, bantulah ia dengan mimik muka tersenyum tanda memotivasinya, bantulah ia dengan penuh rasa sabar dan syukur. Ummi hanya berikhtiar, Allah yang menentukan kapan kau lulus TT.

Sejak postingan awal tentang Aidan sampai sekarang usianya menginjak 27 Bulan, Aidanku tetap menjadi buntutku -_-. Tambahannya, sekarang Aidan sudah bisa Ummi titip ke enin. Bila sedang berdua saja di rumah, yang Ia lakukan masih seperti dulu, membuntuti Ummi kemanapun Ummi pergi. Bahkan ketika Ummi baca buku dengan gaya nyender di tembok, Ia pun mengambil bukunya sambil lirik-lirik Ummi menyamakan gaya tubuhnya dengan Ummi. Dan ketika Ummi sedang GJ ga tau mau ngapain, Aidan pun ikut GJ gatau mau ngapain. “mi,,gi apa?” l “cape A, mau gogoleran dulu ah” l ambil mobil, ikut gogoleran l “A,,main jug di luar, main apa kek, kereta, baca buku” l “engga ah, sini aja”. Begitulah kira-kira percakapan dua orang yang sedang GJ. :D . Atau ketika Ummi hendak masak “A..Ummi masak dulu ya” l “aa ikuut..aa ikut ‘bantu’ Ummi” l. Atau ketika Ummi sedang di kamar mandi “Aa disini dulu ya..ummi mau ke WC” dari kejauhan terdengar terus terusan “Mii..gi Apa? Mi..gi Apa?” dan ketika keluar dari WC,  Aidan sedang gogoleran atau nyumput di belakang pintu. Memang Insisiatif Aidan Ummi rasa sangat kurang, Aidan adalah follower sejati bila sedang main dengan teman sebayanya, oleh sebab itu salah satu latar belakang Aidan harus segera jadi kakak adalah agar Aidan bisa sedikit jadi ‘leader’ hehehe,

Aidan masihlah anak yang perasa, bila kepercayaannya terkhianati *lebai* Air mata Aidan langsung mengalir. Misalnya, Aidan dipercaya oleh Ummi mengambil Tahu dan menyerahkan Uang dari Mang Tahu, lalu mang tahu bilang “sama mamang aja, nanti jatuh” langsung deh nangis dan ngadu ke Ummi. Akhirnya si mang tahu (tofu) langganan itu tahu (know), kalau Aidan bisa dipercaya mengemban amanah *haiah*. Contoh lain ketika Ummi memercayai Aidan untuk menjadi Anak yang suka berbagi, “A, kasih the Cilly susu” dengan semangat 45 Aidan pun menyodorkan susu ultranya, dan tante cilly menolaknya “adduh tante ga suka susu, bauu” netes lagi deh air matanya..huaahahaha..Kata enin “baru nemu anak se perasa ini”. Hohoho. Konon katanya si Ummi waktu kecil pun adalah seorang yang perasa bahkan sudah masuk ke tahap cengeng, tapi tenanglah Nak! Dengan kau bergaul dan berorganisasi kau akan tumbuh menjadi jiwa yang tangguh *haiiik*.

Sekian dulu kabari dari dunia perAidanan. Ditulis saat Usianya 27 Bulan. September 2012.