Karir tinggi, gaji besar, disanjung tetangga, tapi anak dan suami terlantar? Tidak, bukan itu yang saya perjuangkan, bukan itu. Lantas apa gunanya orang tuamu menyekolahkanmu tinggi-tinggi kalau kau hanya mengabdikan dirimu untuk anak dan suamimu? Yang jelas bukan untuk karir tinggi dan gaji besar.
Teringat kata-kata seorang bapak kepada anaknya (yang pasti bukan bapak saya), begini katanya “Bapak menyekolahkanmu tinggi, agar kelak bila anakmu dewasa kau akan menjadi teman diskusi yang baik (nyambung) bagi dirinya”. Yup saya setuju. Atau kata-katanya ibu Ainun H yang pada intinya “untuk apa bekerja, tapi sebagian uang kita diberikan kepada pengasuh anak kita/daycare, sementara anak kita kurang mendapat sentuhan dari ibunya”.
Saya tidak menafikan seorang ibu yang mempunyai karir, toh ibu saya sendiri pun adalah wanita karir. Tapi yang ingin saya garis bawahi adalah tidak setiap ibu berpendidikan itu harus bekerja dan digaji orang. Itu mindset lama kawan! Mengapa tidak kita ubah “Setiap ibu, harus produktif menciptakan manfaat untuk sekitarnya dengan menciptakan lapangan kerja”. Kenapa menciptakan lapangan kerja? itu artinya kamu adalah seorang bisniswoman. kenapa bisniswoman? karena waktunya bisa fleksibel, tidak terikat jam kerja kantoran, dan artinya kamu masih bisa bersama anakmu dan mengatur urusan rumah tangga lainnya.
Jauh-jauh hari sebelum menikah saya sudah memikirkan hal ini, pilihannya dua, antara menjadi guru yang jam mengajarnya pun fleksibel atau menjadi bisniswoman. Kalau pun saya ditakdirkan untuk menuntut ilmu sampai s3, tidak masalah bagi saya, karena memang menuntut ilmu itu sepanjang hayat, bukan? Aktualisasi dari ilmu yang didapat? ya dengan mengajar.
Tapi, sekali lagi, untuk apalah semua itu kita perjuangkan bila anak dan suami kita terlantar. Sebuah kutipan dari seorang ibu di itbmotherhood (teh Rina Andriani) yang membuat ‘jleb’ bagaikan pisau yang mengiris-iris hati saya (lebai), berikut kutipannya :
Terpikir oleh saya membalik kalimat terakhir dari kutipan surat Kartini. “Dan, bagaimana ibu bumiputera itu sanggup mendidik anaknya, bilamana mereka sendiri tidak berpendidikan?”
Sehingga bila dibalik kalimat tersebut menjadi “Bagaimana bilamana ibu bumiputera yang berpendidikan tidak sanggup mendidik anaknya?”
Ya, menjadi ibu berpendidikan tinggi katakanlah sarjana, bukan berarti dia mampu mendidik anak-anaknya atau memanajemen rumah tangganya dengan baik. Jadi, inilah yang ingin ummi perjuangkan, Nak (anak ummi), bi (abi)..Menjadi istri dan ibu solehah yang sanggup mendidik anak-anaknya dan sanggup memanajemen rumah tangga dengan baik. Ingatkan ummi selalu ya bi (abi) bila perjuangan ummi sudah menyimpang, atau bila semangat ummi menurun. Ya, Ummi akan berjuang untuk itu.
in setuju sama pernyataan Muti yang ini “Setiap ibu, harus produktif menciptakan manfaat untuk sekitarnya dengan menciptakan lapangan kerja”. bener Mut, yang iin rasakan sendiri dan yang jadi motivasi in utk terus beraktifitas di dunia kerja adalah hal tersebut. in ingin membuka jalan iin ke Surga dengan apa yang bisa iin lakukan. karena yang iin pikir, meskipun nanti berumah tangga pun menjadi rahmatan lil’alamin adalah suatu kewajiban yang tak bisa dihindarkan, cuman memang bentuknya bisa macem2. nah,, alasan kenapa iin milih PNS pun supaya fleksibilitas dalam pengaturan waktu bisa berjalan secara maksimal–hehehe meskipun in tau in juga belum berumah tangga jadi belum bisa ngerasain,,, tapi yang iin lihat dari ibu2 yang bekerja di sini, lumayan proporsional kok ngebagi waktunya… alhamdulillah.
jadi pengaturan dan manajemen yang jadi faktor utama pemenuhan amanah kita. yang in percaya kayanya mah bisa2 aja kok berkarir dan bekerja sbg Ibu dan Isteri terbaik, heheheh…
mudah2an ketika saatnya nanti datang, iin benar2 bisa ngelakuin hal tsb..^_^
iya iin sayang..banyak ko yang berhasil minimal di mata manusia seperti muti, contohnya aja bu Yani Pak Agung..subhanallah membesarkan 5 anak dengan terus memberikan manfaat itu hal yang tidak mudah. Tapi yang muti lihat dari ibu Yani, ya sosok pengajarnya itu, yang punya waktu fleksibel untuk keluarga. Yang muti sedihkan adalah ketika orang luar yang memandang sebelah mata LULUSAN ITB KO ga KERJA, ataupun ngeliat lingkungan sekitar yang anaknya diasuh orang lain, ibunya ambisius dalam berkarir, dan seperti melepastangankan sang buah hati, manajemen RTnya keteteran, dsb (semoga saja itu salah satu jalan menuju pendewasaannya, mungkin memang harus seperti ini dulu). Yah begitulah iin sayang, percaya sama iin, bila kelak waktu itu datang iin akan menjadi SUPER MOMMY!!
eh bu Yani anaknya 4 ya..salah..hehe
Muti,saya setuju juga,kita sekolah dan jadi pinter supaya kita bisa ngejalanin kodrat kita yang perempuan ini dengan lebih baik. Walaupun saya masih pengen berkarir sih, hehe,tapi semangat menjalankan kewajiban perempuan masih membara!!! Saya mah salut sama lulusan ITB yang gak kerja. Semangat ummi !!
iya icha,,semangat jugaaa!! Nanti juga dirabarasakan sendiri ca,dan kebetulan (?) Allah menakdirkan saya belum sempat berkarir (akankah?mungkin..hihi). Kadang suka mengamati ibu2 d itbmotherhood, yang kerja pengen resign, yang full time mother pengen kerja. Jadi si saya suka menyimpulkan sendiri, rumput tetangga memang lebih hijau. Pelajarannya, mari kita coba syukuri yang diraih saat ini, peran apapun yang dijalankan mari kita nikmati sebaik-baiknya dan di manaje sebaik-baiknya. Mengenai mimpi kita yang belum diraih, mari kejar teruuuus!! Semangat!! Aidan!!
wah, saya jadi sign-up wordpress nih, karena ingin bgt komen postingan mba muti.
Suka sekali dengan Quote : “Dan, bagaimana ibu bumiputera itu sanggup mendidik anaknya, bilamana mereka sendiri tidak berpendidikan?”
Sehingga bila dibalik kalimat tersebut menjadi “Bagaimana bilamana ibu bumiputera yang berpendidikan tidak sanggup mendidik anaknya?”
kebetulan istri saya mengajar di SD, dan inginnya istri di rumah saja, menjadi pendidik anak2 kami, karena insyaAlloh gaji saya cukup untuk menafkahi keluarga.
btw ijin copas tulisannya mba, mau dilihatkan istri di rumah.