Hai Pria Ganteng

Standar

Dear pria ganteng yang berhasil mencuri hatiku…

Aku mau kau menjawab pernyataan cintaku padamu.

Ya! Pernyataan cinta saat kita berdua menatap langit jingga di pinggir pantai Anyer.

Ah… tapi kurasa tak mungkin kaulakukan, karena mungkin itu terlalu sulit bagimu. Sulit untuk memenuhi syarat dariku kalau kau menjawab “ya, aku benar benar mencintaimu” :p

Tapi aku masih menunggu hai pemikat Asaku! Menunggu, menanti, sebuah jawaban cinta darimu.

Ups. Sepertinya aku melupakan sesuatu…

Bahwa kau bukan roman picisan yang pandai menyusun kata gombal seperti diriku.

Bahwa kau lebih suka menunjukan cintamu padaku dalam bentuk kesabaranmu.

Bahwa kau lebih suka menunjukan besaaarnya cintamu padaku dalam bentuk tanggung jawabmu dan kerja kerasmu mencari sebutir batu akik untukku.

Bahwa kau lebih suka menunjukkan dalamnya cintamu padaku dalam bentuk kasih sayangmu padaku dan anak anakku.

Bahwa kau lebih suka menunjukkan luasnya cintamu padaku dalam bentuk perhatianmu terhadap orang tuaku.

Ah. Iya, aku lupa, bahwa kau tak pandai berkata kata. Tapi sikapmu melebihi penggombal terhebat pencuri hati Ratu tercantik sejagad. Sikap tanpa kata kata indah, sikap tanpa kata kata bualan.

Ah… pria gantengku… Tapi tak apa ko bila kau mengirimkan sebait puisi gombal untukku. Aku senang ko digombali, apalagi datangnya darimu, darimu yang tak pandai berpuisi puitis :p

empat kali empat enam belas…
sempat tidak sempat harus dibalas :p

Barakallah Fii Jatah usia yang tersisa Ayahku sayaang…

I Love U coz Allah…

kepala tiga ey sekarang maah! traktiiiir :)

Doa Bapak

Standar

Salah satu yang dirindukan dari Bapak adalah, doanya. Saat anak anaknya sakit, Bapak sering mengusap di bagian tubuh yang sakit sambil berdoa. Seperti saat saya jatuh dari motor saat SMA dan saat hamil Aisha. Tanpa suara, mulutnya bergerak berucap doa.

Atau seperti saat momen tertentu, saya mencium kedua pipinya dan tangannya, mulut Bapak pun bergerak tanda mendoakan.

Bapak pernah bilang, salah satu doa yang dimakbul oleh Allah adalah doa Bapak pada Anaknya. Beliau bilang, kalau seorang Ibu sudah biasa, mungkin karena sulitnya bagi seorang Bapak untuk mendoakan anaknya, maka doa Bapak ini lebih spesial. Sulit dari segi ikatan hati yang tak sedalam seorang Ibu-Anak, sulit dari segi waktu yang dimiliki seorang Ayah untuk berdoa.

Kini, momen ’komat kamit’ itulah yang sering saya rindukan. Tak ada lagi sosok Bapak yang sering mendoakan anaknya. Amal doa Bapak sudah terputus, giliran kami anak anaknya yang mengirim doa untuknya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Apabila seseorang meninggal, maka terputuslah (pahala) amalnya, kecuali dari tiga jalur amal: amal sedekah jariyah, ilmu yang tetap dimanfaatkan, dan anak saleh yang mendoakannya” (HRMuslim).

image

Tetap Sayang

Standar

Ada masanya yang entah itu berasal dari mana, Aidan seriiiiing sekali ’mengumpat’

“Ummi galak!”
“Weeee”
“Ummi Jelek!”

Tiga ’umpatan’ itu yang sering terlontar. Beragam respon pernah saya coba mulai dari sedikit menggunakan intonasi serius sampai santai.

“Ga boleh tahu bilang gitu teh, kata katanya tidak baik”

“Jelek/galak teh apa?” nyatanya ia tak bisa menjawab dengan yakin, ia mengaitkan jelek/galak dengan perilaku Umminya yang menurutnya tidak menyenangkan. Misal saat parebut jeung Adiknya.

“Berbagi A”
“Dasar Ummi jelek!”

Heu. Sampai pada titik saya ’pasrah’ deh mau dia ngomong apa juga. Saya bilang “Iya, Ummi galak udah nyuruh nyuruh Aidan berbagi, gapapa deh Ummi galak, yang penting sayang sama Aidan”

“Iya deh Ummi jelek, yang penting Ummi tetep sayang”

Saya terangkan juga, kalau dia melakukannya ke orang lain, orang lain belum tentu menerimanya dan tetap sayang/mau bermain dengannya.

Sampai suatu ketika, saat kemarin dia rebutan mainan dengan adiknya.

“Berbagi sholeh”

“Kan Ummi tetap sayang kan sama Aidan?”

Ekwkwkwkwk. Kena deh! mBlunder :p

phiiuuuh… sepertinya cara ’tetap sayang’ bukan ide yang tepat.

Paling tepat sih UUD, Ujung Ujungnya Dialog, atas sesuatu yang dia permasalahkan. Adapun tentang kata ’umpatan’ yang dia keluarkan, bisa dibahas lain kali dengan bab yang berbeda “Bab TTKI”

Dzon

Standar

Copas komen seseorang bernama Rezha Rochadi di status seseorang. Sebagai reminder tentang Dzon.

——–

Tidak boleh menyimpan pengetahuan yang sifatnya menduga-duga karena itu akan menjadi waham juga. Waham dihilangkan dengan belajar, mencari pengetahuan sampai level detil dan bertabayyun.

Waham ini kalau di Quran Hadist dinamakan Dzon,

Dipertegas lagi oleh QS [10]:66 yang menjelaskan bahwa dzon erat kaitannya dengan “menduga-duga” (yakhrushun). Pengetahuan berdasarkan dzon yang menduga-duga inilah yg akan menjadi waham, bukan ilmu yg termanifestasi dari al Haqq.

“Dan mereka tidak mempunyai sesuatu ilmu (pengetahuan) tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti dzon/persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap al Haqq” – QS [53]:28

“Mereka tidak mengikuti kecuali prasangka/dzon belaka, dan mereka hanyalah menduga-duga (yakhrushun)” – QS [10]:66

Pertanda negatif bahwa pengetahuan kita masih berbasis waham, bukan ilmu manifestasi al Haqq, adalah pengetahuan-berbasis-waham itu melahirkan sifat mencari-cari kejelekan (tahassus), saling memata-matai (tajassus), saling membenci (hasad) dan suka bergunjing (ghibah).

Berhati-hatilah kalian terhadap prasangka (dzon), karena prasangka itu adalah sedusta-dusta perkataan. Janganlah kalian saling mencari-cari kejelekan (tahassus), saling memata-matai (tajassus), saling hasad, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian, wahai hamba-hamba Allah, orang-orang yang bersaudara” [H.R. Al-Bukhari no. 6064].

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka (dzon), sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain (tajassus) dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain.” [QS Al Hujuurat:12]

Sedangkan pertanda positif dari kehadiran waham adalah hadirnya keraguan dalam diri. Keraguan tersebut hadir karena ada waham yg hendak digugurkan. Dengan kata lain, keraguan itu tak akan muncul kalau tidak ada waham. Hal ini sangat berbeda dengan ilmu-manifestasi-alHaqq yg mengarah pada keyakinan (al Yaqien) pada al Haqq. Sehingga benar jika al Ghazali menyatakan, keraguan adalah pintu awal menuju keyakinan. Karena ada waham yg hendak digugurkan (dengan dipicu oleh keraguan) menuju al Haqq (yang melahirkan al Yaqien dengan pelbagai levelnya itu).

—–

angguk angguk baca ini… ko ya pas banget dengan apa yang sedang dipikirkan

https://m2.facebook.com/notes/rezha-rochadi/perbedaan-antara-waham-dan-ilmu-yang-haqq/10151043820751607

Isu Oh Isu…

Standar

“Mi… ayah mah ingin keluarga kita teh menghabiskan energinya untuk membangun sesuatu, bukan untuk melawan sesuatu. Kalau melawan sesuatu, ya kaya kita musuhan aja, gaenak. Kita bilang A dia bilang B kita bilang C dia bilang D. Terus aja gitu, sayang energinya”

Mungkin yang dimaksud Ayah (ayah saha deuih), adalah itulah kenapa amar ma’ruf disebut dahulu baru nahyi munkar. Bukan tidak boleh bernahyi munkar, tapi masalah posisi/peran saat ini dan porsinya. Amar ma’ruf harus didahulukan dan mendapat porsi yang lebih besar, dibanding nahyi munkar. (Kecuali kalau tugasnya memang sudah nahyi munkar semacam polisi, satpol pp, satpam kali ya)

Jadi teringat, tanggapan ustad felix siau atas sebuah ormas yang porsi nahyi munkarnya seriiiing sekali disorot media dengan cara anarkis, sehingga timbul stigma negatif masyarakat awam.

Beliau menjawab kurlebnya ’saya berdiam diri atas tindakan ormas tsb’ (lupa lagi istilah kerennya). Tidak membenarkan tindakan kekerasannya, karena Islam itu penuh kelemahlembutan. Tapi juga tidak menyalahkan, karena kita tidak tahu situasi saat itu seperti apa. Misalnya saja, saat di sebuah area tertentu ada lokalisasi kemaksiatan (judi, premanisme) kemudian disitu ada seorang warga yang tak berdaya yang khawatir anak anaknya akan terpengaruhi, kemudian meminta bantuan ke pihak berwenang tapi tak ditanggapi, baru ditanggapi dan disambut baik oleh ormas tersebut. Nah bagaimana kalau keadaannya seperti itu? pan kita tidak tahu persisnya seperti apa. Tiba tiba weh yang muncul di media hanya perilaku anarkis ormas tersebut. Begitu secara garis besar beliau menjelaskan.

Nahyi munkar berupa analisis analisis komentator dadakan sangaaaaat buanyaaak beredar di medsos. Beliau beliau mengkritisi ’kedzoliman’ dengan melihat berbagai aspek sesuai dengan pemahamannya masing masing. Perang pemikiran dengan ’lawan’ yang berbeda dalam mengambil sudut pandang sungguh membuat dunia ini berwarna, sungguh.

Tapi bagi saya pribadi, kicauan para komentator tersebut, baik yang berupa nahyi munkar ataupun bukan, hanya dapat membuat saya sebatas ’cukup tahu saja’. Tidak menjadikan saya jadi bisa terbang layaknya superman(?). Kadang menemukan diskusi ’cukup tahu saja’ tapi seruuuu. Karena dalam komen bersautan/diskusi tersebut saya menemukan sesuatu, menemukan hikmah, menemukan keluasan pikiran orang lain, menemukan kerendahhatian orang lain, menemukan kesantunan orang lain dalam mengemukakan gagasannya. Adeem.

Tapi adakalanya saya menemukan diskusi ’cukup tahu aja’ dengan tidak berpangkal pada satu titik. Debat kusir! ga ada niatan nyari winwin solusi! masing masing sibuk dengan kutubnya masing masing. Atau ada juga diskusi yang ’hanya sekedar’: bersautan opini, mengeritik suatu hal, udah weh. So?

Bukan tidak suka, tapi seperti yang saya tulis di salah satu grup wattsap. Saya sangat khawatir dengan sebuah isu yang dilemparkan, kemudian timbul asumsi asumsi/prasangka buruk yang BISA JADI sebenarnya prasangka tsrsebut tidak sesuai dengan kenyataannya. Gimana caranya biar ga jadi prasangka yang mengendap? ya dikeluarkan, dengan bertanya, berdiskusi, berkomunikasi dengan yang diisui.

Ceuk saya di grup itu teh.

Walaupun ternyata saya salah menafsirkan bahwa prasangka buruk itu tidak sama dengan men-challenge sebuah gagasan (meskipun challengenya belum tuntas, karena masih ngambang)

Entah pemikiran saya teh pemikiran yang benar atau bukan, ini juga ceritanya sedang menGeluarkan sebuah gagasan. Sok mangga bila ada yang mau memberi krisar.

Da saya maa apa atuh, cuma manusia yang banyak omong dan sering salah :( Butuh banyak diam dan sering diingatkan.

Jadi usul saya mah, saat kita melempar sebuah isu. Yang harus diperhatikan adalah:

1. Apa tujuan melempar isu?

Bila tujuannya ’hanya sekedar’ mengkritik dan tidak ada usaha solutif/klarifikasi… hmmm… layak ga sih dilemparkan? *nanya beneran ini mah*

Bila tujuannya hanya ingin mengetahui pandangan orang lain, maka IMO bersiaplah dengan gelas setengah isi setengah penuh. Untuk menghindari judgment/sinisme terhadap pandangan orang lain.

2. Cara melempar dan menanggapi isu.

Kalau ini mah gimana style masing masing sih ya. Yang pasti mah saya juga masih harus sangaaaaaaaaaaaaaat belajaaaaaar. Bagaimana mengutarakam gagasan dengan cara yang santun.

Kalau saya parameternya gampang, kalau detak jantung di dada bergerak lebih kencang. Itu artinya ada ikan emosi yang terpancing.

Pernah suatu ketika saya, nasteung dengan pernyataan seorang teman, saat mengetik saya gemetaran, kata kata yang saya tulis sungguh sinis, saya hapus beberapa kali, tulis lagi, hapus lagi sampai pada satu titik. Oke, ini ga sehat. Saya harus solat dan releasing aka berdoa dulu. Dan Alhamdulillah setelah berdoa saya bisa lebih tenang, dan diskusi pinasteungeun itu bisa berakhir dengan tidak ada kata umpatan dari saya :pTerimakasih Allah.

3. Apalagi ya… ada yang mau memberi ide  :p

Sepertinya sudah ah cukup. Semakin banyak ngomong semakin banyak potensi melakukan kesalahan. Semakin banyak nulis semakin banyak potensi kesalahan.

Wallahu’alam Bishawab. Memohon pada Allah agar kita semua diberikan Huda olehNya.

Pacaran? Boleh, Asal Diridhai Allah.

Standar

Suatu ketika, saya ingaat momen saat SMA. Momen dimana tempat dan situasi yang sama ketika saya bilang “Pak dua minggu lagi kalau kang Uzy ngekhitbah gimana?”. Ketika itu Bapak sedang cuci piring, lalu saya nimbrung ngeliatin Bapak cuci piring (iya, ngeliatin doank! ga bantuin -.-). Bedanya saat SMA, pertanyaan yang saya ajukan adalah “Pak, Tia boleh ga pacaran?”. Jawab Bapak ketika itu adalah “Boleh, asal diridhai Allah”

Barulah setelah saya mengaral melintang, menggaris membujuri saya paham maksud dari “Boleh, asal diridhai Allah”. Ungkapan tersebut adalah ungkapan yang datang dari seseorang bernama Bapak, yang saat menyatakan cintanya, memang benar benar sudah siap untuk menikah, ya, karena setahu saya, Bapak bukanlah roman picisan yang mengumbar cintanya kemana saja, apalagi sampai memberi harapan palsu pada wanita, hg!

Barulah saya paham saat membaca ’surat cinta’ Bapak, cara Bapak mendekati Ibu sebagai salah satu contoh, ’mengumbar’ cinta tetap dalam koridor keridhaan Allah.

“Berpacaran” dengan tetap dalam koridor yang diridhai Allah tertuang dari kalimat kalimat surat cinta yang Bapak tulis.

Di dalamnya ada pernyataan cinta, tapi takut akan cinta yang membahayakan dirinya.

Di dalamnya ada ungkapan pujian, tapi tetap ada ungkapan berlindung diri dari godaan syeitan yang dapat merusak cinta suci.

Di dalamnya ada sebuah maksud ingin mencinta lebih dalam, tapi tetap tak mengabaikan kebahagiaan sang wanita.

Di dalamnya ada sebuah harapan, tapi ada juga rasa ketakutan atas ketidaktahuan tentang misteri masa depan.

Di dalamnya ada kalimat keridhaan ditolak cintanya, tapi ada ketakutan yang besar akan hilangnya cinta pada Sang Pemilik Cinta.

Saya yakin saat saya bertanya “Pak, Tia boleh pacaran?” , Bapak belum tahu bahwa di era putrinya ini penyakit PHP sedang mewabah, sampai sekarang!. Begitu banyak cowo menye-menye di dunia ini Pak! Ramah pada setiap wanita! membuat tabungan harapan di hati tiap tiap wanita! hg!

Saya yakin saat itu Bapak belum tahu persentase ’kecelakaan’ akibat berpacaran terlebih dahulu begitu tinggi. Bapak mungkin harus kenalan dengan Bapak Felix Siau, Bapak ustad garis keras untuk perihal pacaran.

Bapak mungkin saat itu bilang “boleh” sesuai dengan pengalaman dan pemahamannya saat itu. Ya, baru Tia pahami sekarang, Pak.

Buat Eloh Eloh yang bukan penganut garis keras macam Pak Felix atau bukan penganut garis lembek macam pemuda/i PHP penuh tebar pesona, ikuti nasehat Bapak saya ya ;)

“Boleh, asal diridhai Allah”.

Nah loh, susah kan cuy! Aye juga tahu cuy! syeitan jago bener kan ngegoda manusia? Jadi gimana nih cuy?

Aye sih ngikut kata katanya ust.Darlis. Sudah siap? menikahlah! Belum siap? tinggalkan.

Wallahu’alam.

Cinta Pertamaku MilikMu

Standar

“Kang Uji, ini gitu waktunya, biasanya Bapak makan 1 obat langsung mereda, kemarin malam sudah makan 4 obat juga masih aja terus sakit” Ucap Bapak saat ditunggui oleh Ayah Uzy.

Jam setengah 2 malam, nada dering telepon membangunkan saya dan Ayah.

“Mi, dari ibu”

“Muhun Bu, aya naon?”

“Tia… tiasa kadieu, ieu Bapak kaserang deui, meni lami” Ucap ibu dengan suara gemetar.

Jantung ini pun berdegup kencang.

“Muhun Bu, Tia kaditu ayeuna”

Membayangkan, sosok tua ibu bersama Bapak, berdua saja, di tengah malam dengan situasi itu. Teteh dan Aa sedang di bidan ujung berung karena, teteh sedang menyambut peristiwa besarnya.

Membawa anak anak yang sedang tertidur pulas, di tengah hawa dinginnya malam yang menyapa seperangkat kendaraan roda dua kami, akhirnya kami sampai ke rumah Ibu.

“Kumaha Bu ayeuna?”

Tampak Ibu dan Bapak sudah bersiap hendak pergi.

“Tos nelepon ka Om Rif (dokter), kalau serangan lama gini mah harus segera ke RS”

“Teteh sudah melahirkan jam 1.30 tadi, A Andri lagi kesini menjemput”

Saya pun menghampiri Bapak, sambil mengusap usap punggungnya.

“Kumaha karaosna ayeuna Pak?”

“Sekarang mah sudah mending, tadi sampai tiga baju, keringat teruuuus saja mengalir, seeur pisan, ku ibu teras we di gosok sareng dipijitan” Ucap ibu.

“Bapak itu kalau dari fisik kelihatannya sehat, tapi di dalam sini kerasa, sakiiit sekali, menjalar sampai ke belakang, ke sini, ke sini” Ucap Bapak sambil menunjukkan bagian bagian yang sakit.

“Ummi didieu we nya, jaga bumi Aki sareng Nin”

Subuh Hari

Waktu subuh tiba, dan bergegas untuk shalat. Ada dorongan yang sangat besar untuk membereskan rumah ibu bapak. Membereskan kamar teteh untuk menyambut buah hati. Menyapu dan mengepel lantai seraya dalam hati kecil berkata ’takut ada tamu banyak’. Dan menggosok kamar mandi. Lagi lagi saat menggosok kamar mandi ada suara hati yang entah dari mana asalnya berkata sesuatu yang tak bisa dijelaskan.

Pagi Hari

“Tia, kang Uji tiasa kadieu, gentosan sareng ibu ngajagi Bapak, Enin bade istirahat heula di bumi mang Rudi” ucap Ibu.

Saat itu Bapak masih belum menempati ruangannya, masih di UGD. Ibu yang sedari malam belum beristirahat bahkan disuruh Bapak pulang kembali ke Rancaekek.

“Tos ibu mah uih we ka Rancaekek” ucap Bapak.

Tapi karena perjalanan Rancaekek-Al Islam tidak dekat, maka diputuskan agar ibu beristirahat di Antapani.

“InsyaAllah Bapak didieuna 5 harian, da kedah di suntik obat pengencer teras” Kata ibu sewaktu saya menelepon Ibu.

Jam 10 Pagi

Saat Ayah Uzy kesana, ibu sudah tidak ada. Ayah pun menemani Bapak, mengobrol seperti biasanya.

“Tia mana?”

“Kedahna mah di ring Bapak teh, ngan awis 60 juta”

Dan pernyataan Bapak yang saya tulis di awal tulisan.

Alhamdulillah saat Ayah Uzy kesana, Bapak sudah bisa pindah ruangan ke ruang HCU. Akan tetapi kartu BPJS untuk pengurusan pindah ruangan terbawa oleh ibu. Ayah Uzy pun dengan sigap siaga menggunakan motornya untuk mengambil kartu BPJS di tempat yang telah disepakati.

Karena berburu dengan waktu, loket BPJS akan ditutup jam 12. Ayah Uzy pun bersegera, berlarian, untuk mengurus administrasi pindah ruangan.

Jam 12

Alhamdulillah Bapak sudah bisa pindah ke ruangan HCU.

“Bapak hoyong pipis, tapi di ruangan ditu we” ucap Bapak                                            

Saat sudah pindah ruangan, Ayah pun izin Shalat, Bapak diurus oleh perawat.

Belum sampai Rakaat kedua selesai.

“Keluarga Bapak Achmad Syafrudin!” Terdengar seseorang memanggil manggi setengah berteriak.

Ayah Uzy pun belum menyelesaikan Shalatnya. Saat disana Bapak sedang diambil tindakan. Bapak terserang lagi. Serangan yang terakhir.

“Bapak lagi kritis, mana keluarga yang lain?” Ucap dokter.

Ayah pun menelepon ibu, saya, dan A Andri. Dengan suara begetar dan menangis.

“Ngadoa sing seeur nya Mi, Bapak kritis”

Hati ini langsung tak menentu, shalat lalu ganti baju dan mempersiapkan anak anak untuk.pergi.

Saya ingin kesana.

“Bapak kritis, coba panggil segera keluarga yang lain kesini” Dokter mengulang pernyataannya untuk kedua kalinya.

Perawat hilir mudik memberi.tindakan pada Bapak. Memberi kejutan listrik satu kali. Datang seseorang yang bukan perawat dan juga bukan dokter.

“Kalau kuat, ayo talqinin Bapak” Ucap Bapak yang kelihatannya seperti pak Ustad.

Petugas perawat teruus memberi bantuan medis, silih berganti. Ayah pun terus mentalqini disebelah Bapak. Menunduk dan menangis.

“Pak… ieu Ibu” Sambil memegang jidat Bapak.

Ibu pun akhirnya datang dan duduk lesu sambil terus menatap Bapak. Tak sampai 10 menit, gerak mulut Bapak yang sudah terpasangi alat berhenti.

Ya… dalam akhir hayatnya Bapak mengucapkan sesuatu. Sesuatu yang kita semua berharap itu adalah sebuah kalimat Keridhaan. Kalimat Keridhaan atas panggilan dari Rabbnya.

Sebuah kalimat penghambaan saat ditiupkannya ruh ke dalam janin berusia 4 bulan.

Sebuah kalimat penghambaan dengan konsekunsi yang teramat besar dan mendalam.

Wallahu’alam bi shawab…

****

Dear Bapak…

Bapak… Tia baca, bahwa peristiwa sakaratul maut adalah peristiwa yang teramat berat.

Bapak… Tia baca, bahwa peristiwa sakaratul maut adalah peristiwa yang teramat sakit.

Peristiwa diambilnya ruh dari jasad.

Peristiwa gerbang awal memasuki kehidupan kekal dan abadi.

Berharap Bapak termasuk ke dalam golongan orang orang yang dibawa ke Sidrhatul Muntaha.

Dari Abu Hurairah, ia berkata : Apabila ruh orang mukmin keluar, dua malaikat menjemputnya dan membawanya naik. (Hammad berkata : Abu Hurairah menyebutkan harum baunya seperti minyak wangi). Dan penghuni langit berkata, “Ini adalah ruh yang baik yang datang dari bumi. Semoga Allah memberikan rahmat kepadamu dan kepada jasad yang engkau tempati”. Lalu ruh itu dibawa ke hadapan Tuhannya ‘Azza wa Jalla, lalu Dia berfirman, “Bawalah ia ke batas yang terakhir (Sidratul Muntaha)”…. (HR. Muslim)

Pak… semoga ruh Bapak termasuk ke dalam ruh golongan orang orang yang ingin disegerakan untuk menghadap Rabbnya.

Dari Abu Sa’id Al-Khudriy RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Apabila jenazah diletakkan dan orang-orang mengangkatnya di atas pundak mereka, jika jenazah itu baik maka ia berkata, “Ajukanlah saya”….(HR. Muslim)

Pak… semoga ruh Bapak termasuk ke dalam golongan jiwa yang tenang.

“Hai jiwa yang tenang… ً

Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.

Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku

Masuklah ke dalam SurgaKu” (QS. Fajr)

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِ مِنْ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنْ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَ مِنْ عَذَابِ النَّار

Ya Allah ampunilah beliau, sayangilah beliau, selamatkan beliau, maafkan beliau, muliakanlah tempat tinggal beliau, luaskanlah kubur beliau, mandikanlah beliau dengan air, salju dan embun, bersihkanlah beliau dari dosa-dosa sebagaimana baju yang putih dibersihkan dari kotoran, gantikanlah untuk beliau rumah yang lebih baik dari rumahnya dahulu dan keluarga yang lebih baik dari keluarganya yang dahulu dan pasangan yang lebih baik dari pasangan yang dahulu, masukkanlah beliau ke dalam surga dan lindungilah beliau dari siksa kubur dan siksa neraka.

Bapak. Yang telah Allah kadarkan sejak ditiupkan ruh berumur 4 bulan dalam kandungan. Lahir 29 Oktober 1946. Meninggal 14 Maret 2015.

Ya… telah Allah tetapkan.

Rabb. Bapak milikMu. Supermanku adalah milikMu. Cinta pertamaku adalah milikMu.

Kuserahkan segala urusanku kepadaMu.

Kuserahkan Bapak kepadaMu.

Dariku anakmu, anak yang mewarisi sisi lembutmu, anak yang mewarisi sisi melankolismu, anak yang kau beri nama yang sangat indah…

My (Lately) Superman

Standar

“Kasih Orang tua sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah”

Suatu ketika di sela sela obrolan, Bapak pernah bertanya pada saya.

“Tia, merasa dekat ga dengan Bapak?”

Pertanyaan paling sulit yang keluar dari mulut Bapak. Karena, saya merasa ikatan hati kita tidak dekat, tapi tidak jauh juga. Lalu saya jawab.

“Ya… biasa-biasa aja”

Kami, resmi berstatus anak dan bapak sejak 27 tahun yang lalu. Tapi, tidak sepanjang itu saya merasa bahwa Bapak adalah my Hero, my Superman, tidak.

Tapi mungkin berbeda dengan perasaan Bapak terhadap anaknya. Sebandel dan sengeyel apapun anak anaknya, mereka tetap menjadi cahaya penyejuknya, mereka tetap menjadi bintang harapannya, dan mereka tetap menjadi pahlawan kecilnya. Mungkin.

Maka benarlah peribahasa di atas, bahwa porsi rasa sayang orang tua terhadap anaknya jauuuuuh lebih besar dan mendalam dibanding porsi sayang anak terhadap orang tuanya.

Baru, baruuu saja saya mencoba untuk menyelami sesosok tak sempurna bernama Bapak.  Sebelumnya saya merasa ikatan kami sebatas ikatan ’formalitas’ belaka. Bapak sibuk bekerja, saya sibuk sekolah. Bapak pensiun, saya sibuk kuliah.

Pola komunikasi kami pun sungguh unik, berbicara lebih sering hanya untuk hal hal eksternal. Untuk masalah menyelami hati masing masing? sangat jarang.

Apalagi saat saya kuliah. Sesekali saat ada butuhnya, barulah saya mengunjungi Bapak.

“Pak… Tia mau nikah, ada lelaki ganteng yang mengirim proposal pada Tia”

Baru… baruu saja. Ketika saya memiliki anak, berilmu parenting, dan kemudian sering sharing dengan Bapak, Allah menuntun kami untuk saling mengenal hati masing masing.

Saat itu pula lah, Bapak mulai lebih sering mengeluarkan ’wasiat nasihat’ kepada saya.

Pernah suatu ketika saya menulis di blog dengan judul ’Benalu Cinta’ (tapi sudah dihapus :p). Dalam perasaan gamang saya atas perasaan-perasaan ’sayang tapi kecewa’, saya sampai menulis.

“Haruskah aku menuntut orang tuaku di Padang Mahsyar, atas kelalaian mereka?”

Akhirnya Allah menuntun kami untuk berada dalam situasi berbicara dari hati ke hati 3 bulan sebelum bapak meninggal, ganjalan ganjalan dalam hati yang belum terucap.

Dan beliau sambut keresahan saya dengan sebuah pernyataan menenangkan sekaligus kebijaksanaan tanda kematangan jiwanya…

Pernyataan yang akhirnya saya tahu bahwa

Yes! He’s my Superman! He’s my Hero! He’s my Inspiration!

Hijrah Tauhid

Standar

Akhir akhir ini di newsfeed berseliweran kisah kisah tentang Hijrah! Masya Allah…

Hijrah utama dan pertama adalah hijrah tauhid. Hijrah dimana mengingkari bentuk penghambaan lain selain Allah.

Laa Ilaa Ha Illallah…

Tidak ada Illah kecuali Allah

Illah dalam arti luas adalah sesuatu yang diibadahi, sesuatu yang mendominasi diri kita.

Materi pertama yang saya dapatkan waktu di LMD dulu adalah mengenai Tauhid Pembebasan.

Dimana kita membebaskan diri dari Thagut Thagut atau Illah Illah yang membelenggu diri kita untuk bertauhid kepada Allah.

“Kalau kamu ga solat gara gara TV, TV itulah Illah kita!”

“Kalau kamu ga shalat gara gara ngongkrong nongkrong, nongkrong itulah Illah kita!”

Ya! Ya! Tanpa sadar dulu saya seriiiiing sekali mengingkari Dia yang utama dan yang pertama, padahal saya mengaku islam, dimana kalimat syahadatlah yang menjadi penentunya!

Ingin diakui islam, tapi saya sendiri yang mengingkarinya!

Illah ini pun dapat menjelma menjadi apaaaaaa saja.

Kita tengok Zaman nabi Musa, illah berupa kekuasaan Firaun.

Kita tengok Zaman jahiliyah sebelum Rasul datang, illah berupa berhala, membunuh bayi perempuan.

Kita tengok Zaman Nabi Luth, Illah berupa hawa nafsu seksual dari kaum sejenis.

Kita tengok Zaman sekarang?

Semua ada.

Pada akhir zaman ini, semua karakteristik kejahiliyahan di zaman para nabi berkumpul! bersatu! bercampur! membentuk sebuah kekuatan!

Luar biasa!

Orang orang islam keturunan seperti saya dijauhkan sedemikian rupa dari islamnya itu sendiri, lewat musik! sinetron! infotaimen! film!

Ya! Ya! Untuk apa?

Untuk menjadikan mental umat Islam LAZY MIND! Mental pemalas!

Sehingga tak ada lagi yang dipikirkannya selain masalah perut, di bawah perut, dan kesenangan semu. Itu saja.

“Oh… maaf ya, kalau saya udah rajin tuh solat 5 waktu, sama dukun juga anti, Alhamdulillah. Seharian kerja, ga masalah donk dihibur sama sesuatu yang semu?”

Ya! Ya! Sangat tidak masalah.

Teringat sebuah kawan yang berkata.

“Kita harus curiga sama Allah, Allah pasti menciptakan kita tak sekedar untuk bekerja lantas memenuhi isi perut kan?”

Lebih luasnya, Allah ingin kita. Saya dan Kamu, mengikuti jejak para Nabi, berilmu dan mengamalkannya. Berilmu dan menebar manfaat. Berilmu dan membebaskan thagut pembelenggu manusia. Berilmu dan membangun sebuah peradaban islam rahmatan lil alamin.

Ya! Curigalah bahwa Kamu adalah orang yang dipilihNya! Iya, Kamu!

Cinta sebelum menikah? Atau menikah baru cinta?

Standar

Pagi tadi saya kedatangan seorang adik yang sedang galau atas perasaannya :p.

Di sela sela obrolannya sang adik bilang

“Sama Qiyadah (pimpinan) kan ga boleh teh, nikah sesama Fur**ka (organisasi pembinaan remaja)”

“kenapa?”

“Supaya organisasinya tetap sehat, khawatir malah jadi penyakit dalam jamaah”

Hm. Seketika tombol reaktif saya menyala. Saya teringat sebuah ayat AQ yang berbunyi:

“….maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau….”

Ayat itu menyiratkan, ga masalah toh? menyukai seseorang lantas pada akhirnya di sahkan melalui lembaga pernikahan?

Oke. Saya mengerti, ini adalah kekhawatiran majemuk(?) Qiyadah mengenai ketidaksehatan sebuah organisasi Dakwah karena didalamnya ada bibit bibit ’merah jambu’ yang khawatir AKAN KEBABLASAN, sehingga timbul stigma negatif dari luar terhadap organisasi Dakwah. Tapi apakah dengan TIDAK MEMPERBOLEHKAN sesama anggota organisasi menikah itu solusinya?

Maaf, kalau saya boleh berpendapat, itu seperti menebang pucuk daun menguning di tengah ketidakberdayaan akar menyerap nutrisi. Solusinya tidak manusiawi! ga nyambung masbro!

Kalau sekiranya Qiyadah tersebut khawatir akan timbulnya bibit bibit ’merah jambu’ yang berkepanjangan, ya perkencang pembinaannya donk!

Beritahu pada binaan ikhwannya untuk bersikap biasa biasa aja sama akhawat! Keramahan ikhwan bisa disalahartikan oleh akhawat!

Beritahu binaannya mengenai adab interaksi, menjaga pandangan, aturan jam malam. Rapat ko malam malam! sigh!

Beritahu pada binaan ikhwannya, kalau sudah siap? menikah! belum siap? jangan menye menye ga jelas sama akhawat! ga ada zona abu abu! gentle!

Beritahu pada binaan ikhwannya mengenai bagaimana seharusnya seorang laki laki memiliki daya juang, visi berkeluarga orentasi akhirat!

Beritahu pada binaan ikhwannya mengenai wawasan berumah tangga yang ternyata ga hanya enaknya aja!

Beuh. Nepsong saya. Maap maap. Saya tahu nepsongnya saya ga solutif, tapi mudah mudahan ini bisa dibaca oleh yang berkepentingan.

Buat Akhawat? seperti nasihat yang pernah saya dapatkan di sini. Tak usah khawatir akan jodohmu siapa, fokuslah pada perbaikan dirimu.

Lantas apakah menikahi seseorang yang tak kita cintai terlebih dahulu sudah pasti itu yang terbaik? belum tentu juga honey! Coba deh tengok peristiwa bubar jalan duo aktivis dakwah yang melalui proses menikah sebelum mencinta ini? ada? ada!

Maksud saya, mau pakai cara cinta sebelum menikah atau menikah dulu baru cinta. Itu sama sama ada resikonya, sama sama ada kekurangan kelebihannya. Toh yang seharusnya menjadi bahan pemikiran kita bukan hanya tentang ’Kita ingin pakai cara yang mana’ saja kan? Yang justru harus menjadi concern kita adalah, Bagaimana kita sedapat mungkin berproses dengan cara cara yang diridhai Allah.

Apakah kita sudah membersihkan hati hati kita dari seseorang yang datang pada kita, saat ia datang?

Apakah kita teruuus menjalin bonding yang kuat dengan Allah sebelum/selama proses itu berlangsung?

Apakah visi berkeluarga kita sudah lurus?

Apakah kita terus menjaga adab adab berinteraksi dengan lawan jenis kita?

Apakah kita terus berikhtiar menjadi pribadi lebih baik, sehingga Allah akan mendekatkan dia yang entah siapa dan entah dimana, sesuai dengan kualitas kita saat itu?

Karena, ujian cinta itu tak akan berakhir saat kita menemukan dia sang tambatan hati. Saat Allah merasa seseorang tersebut belum lulus ujian cintanya. Maka Ia akan datangkan kembali ujian cinta di kemudian hari.

Jadi sesungguhnya, pertanyaan pertanyaan di atas berlaku tidak hanya untuk para bujangan bujangwati saja. Tetapi juga untuk saya, suami saya dan siapa saja yang sudah menikah, yang mungkin kelak akan Allah uji lagi di masa yang akan datang.

Jadi ini adalah bukan tentang cara menikah dulu baru cinta atau cinta dulu baru menikah. Ini adalah tentang bagaimana kita terus memperbaiki diri, terus menjaga diri dari hal hal yang dapat membuka jalan pintu syeitan masuk, dan terus mempertebal keimanan kita. Masalah rasa cinta? Itu urusan Allah, Dia yang Maha Mendatangkan rasa Cinta dengan mudahnya akan tetapi Dia juga Yang Maha Menenggelamkan rasa Cinta dengan mudahnya.

Dan apakah kita berhak memutus rasa cinta hanya gara gara sepasang anak adam berada dalam satu organisasi yang sama?

Wallahu’alam bi shawab