Olah Napas ala Umminyai

Standar

Lahiran pertama, sama sekali blank tentang olah napas pada saat lahiran. Alhasil? di tengah tengah rasa ingin mengedan tapi belum diperbolehkan karena belum lengkap, saya pun lupa napas!

“Suster, eungap! gabisa napas!”

“Iya, ibunya tarik napas yang panjang… keluarkan sambil bilang huf… huf… huf…”

Sang suster/bidan pun mencontohkan, saya meniru.

Pada lahiran kedua, saya coba latihan olah napas lewat tilawah karena tertarik status salah satu teman saya di facebook. Lengkapnya lupa lagi, intinya menjadikan tilawah sebagai latihan olah napas.

Detilnya sebenarnya saya ga tahu persis, saya hanya menduga duga. Karena saat lahiran disuruh tarik napas panjang lewat hidung dan mengeluarkan lewat mulut, maka saat tilawah pun saya mencoba hal tersebut.

Teknisnya, ambil satu ayat yang tidak terlalu panjang, tapi cukup untuk satu tarikan napas kita. Kemudian ambil udara dari hidung, dan keluarkan dari mulut seiring kita melantuntkan ayat suci tersebut.Tidak usah terburu buru, pastikan udara yang masuk melalui hidung cukup banyak.

Ini bukan tilawah kejar setoran yak :p Tapi memang diniatkan sebagai latihan olah napas (selain diniatkan mencari RidhaNya, tentunya). Pan kalau tilawah kejar setoran biasanya udara keluar masuk lewat mulut, sambil ngos ngosan tea :p. Napas yang pendek pendek, menjadikan kita cepat cape, dan menjadi tak terkontrol.

Terus? Terus pas prakteknya gimana? Pas lahiran kedua ini, blank! bener bener lupa… hehe. Akhirnya lagi lagi saya minta bu Bidan untuk mencontohkannya, dan saya menirunya. Hebohlah pokonya mah.

“Tarik napaaas lewat hidung, keluarkan sambil bilang haaah… haaah… haaah”

Sedikit berbeda dengan intruksi lahiran pertama, dan yang ini lebih enak.

Sampai kemudian, di grup bumils cantik, saya dapat share tentang olah napas biasa aja, tanpa suara haah haah haah atau huuf huuf.

“Tariiik napas panjang lewat hidung, keluarkan perlahan lewat mulut”

Kalau kata teh Rika di grup itu, sebenarnya banyak teknik olah napas ini, kalau dipelajari semua.bisi bingung, jadi ambil aja mana yang paling nyaman buat kita.

Dan saat lahiran ketiga kemarin, saya konsisten menggunakan cara terbaru.

Mulai dari gelombang cinta yang biasa saja, sampai dengan.gelombang cinta yang kuaaat. Konsisten dengan,

“Tarik napas lewat hidung yang panjaaaang, keluarkan lewat mulut perlahan”

Saat udara keluar dari mulut, biasanya ada suara desahan yang keluar. Sambil mengeluarkan udara, sambil berdesah pun ternyata enak, kita menjadi fokus mendengarkan desahan kita.

Karena kekonstanan itu, ternyata perasaan ingin mengejan sewaktu bukaan belum lengkap sangat bisa diminimalisir. Karena tiba tiba udah bukaan 9-10 aja pas dicek :D

Latihan olah napas melalui tilawahnya tetap dilakukan. Sambil terus membangun kepasrahan dalam diri. Membangun ketawakalan dalam diri, bila waktu itu tiba.

“Saya mah makhluk yang tak berdaya, Engkaulah yang memiliki daya itu”

Membangun ketawakalan. Tidak ditolak rasa sakitnya. Olah napas. Ekspresikan rasa sakit dengan dzikir, nyengir, meremas benda, dll dll :D (Asal jangan teriak teriak, saving energy buat sesi mengejan).

Muhammad Aiki

Standar

“Nak… namanya siapa atuh? Aiki gapapa? Kalau gapapa coba senyuuum… kalau ga mau, nangis ya”

Dan bayi merah itu pun tersenyum :) *kisahnyata*

image

Muhammad. Sang Uswatun Hasanah. Teladan terbaik.

Bukankah sebaik-baiknya contoh adalah Muhammad SAW?

Kami sematkan nama Rasulmu, agar kau ingat kepada siapa kau hendaknya mencontoh, segala tindak tanduk, lisan yang basah dengan asmaNya, ikatan kuat dengan RabbNya, kasih sayang terhadap sesama, sosok terbaik bagi keluarga dan sahabat-sahabatnya.

Aiki. Ai, Cinta. Ki, Menerangi/Bersinar.

Menjadi seseorang yang hatinya dipenuhi rasa cinta. Cinta terhadap Rabbnya. Cinta terhadap Rasulnya. Cinta terhadap Agamanya.

Dan ia ejahwantahkan rasa cintanya itu, terhadap manusia dan lingkungannya. Cinta yang menerangi!

Menerangi hati-hati yang kelam, hati yang gelap.

Menerangi gulita malam sang dunia, yang mulai usang berselimut debu maksiat.

Ya. Cinta yang menerangi!

Bukan cinta yang sesat dan menyesatkan.

Muhammad Aiki, anak Ummi dan Ayah yang ke-3. Nama ini adalah doa untukmu, harapan kami untukmu Nak. Utamanya adalah menjadi cermin untuk kami.

Sudahkah kami menjadi pribadi dalam doa yang tersemat melalui nama anak anak kami?

Mampukan kami, Rabb.

Mampukan kami dalam mendidik diri dan mendidik anak-anak kami.

Diary Rempong 1

Standar

Selasa Kemarin, pertamakali hanya berempat saja di rumah setelah Ayah pergi kerja.

Hanya ada…

Ummi…

Aa Aidan 5.5 tahun

Teteh Aisha 2.5 tahun

Dede Aiki 6 Hari…

Jam 6.30 Ayah nyiapin air panas buat Aiki mandi. Ummi bangun saat kepala masih pusing. Mandiin. Nenenin.

Ayah mandiin Aisha. Nyuci popok dan jemur. Siap siap berangkat ke kantor. Jam 7.30 berangkat.

Krik… krik… berempat aja di rumah.

Drama 1 : Lagi ngejemur Aiki, si teteh lehoan, disuruh ambil tisue, ga mau…

Drama 2 : Aa bangun, suruh mandi heseeeenya minta ampun, padahal udah dibuligir, airnya dingin lah, ga mau keramas lah. Singkat cerita, dibuat kesepakatan kalau mau pakai air hangat pagi pagi sebelum Ayah berangkat kerja. Akhirnya mandi juga setelah sang Ummi bawel.

Drama 3 : Si teteh meni hesyeee ngabisin sarapan yang tinggal seupil. Dikasih tahu ga boleh makan kue sebelum sarapan habis, malah ngahajakeun. Sambil senyum ke arah Ummi dia gigit ujung kue yang belum boleh dia makan. Seolah berkata

“Nih aku gigit… hayoo Ummi mau apa… hayooh”

Drama 4 : Aanya ngabisin sarapan oge meni lamaa. Banyak itu ieuna. Akhirnya dibatas pakai waktu, baru habis.

Ummi baru sarapan jam 10an, diselingi nenen, ganti popok, nyebokin Aisha. Selesai makan, mandi.

Si neng tunduheun, minta ditemenin. Ummi ikut tidur bentar, Aidan main lego sendiri. Bangun bangun, ayam di meja makan buat makan siang raib, ucing!

Terpaksa masak. Masak simpel dari perfect 10. Kukus sayuran. Makan siang.

Aidan Ummi makan. Ngobrol sama Aidan. Curhat sambil nangis.

“ko Ummi nangis”

“Sedih A, Ummi teh gamau marah marah, cape”

Kondisi yang belum jagjag, tidur yang masih kurang, menjadikan kegiatan melayani anak anak menjadi 100x lebih sulit. Sulit untuk bersabar.

Saat cuci piring, terus berdoa.

Allahuma Yassir Wala Tu’assir.

Bari cirambai.

Tidak akan tahu lulus, kalau tidak ada ujiannya.

Kepada siapa lagi ku memohon kalau tidak kepadaMu, Rabb.

Mudahkanlah. Kuatkanlah.

Review Klinik Barokah

Standar

Pertama kali tahu ada klinik melahirkan ini waktu kopdar sabumi Bansel di rumahnya Ummi Aliyya, yang ternyata adalah istri dari Lutfi teman saya di kampus dulu. Ngobrol ngobrol sama ibu ibu yang lain, ternyata salah satu ibu Bansel ada yang melahirkan juga disana. Berbekal info tersebut, akhirnya saya memutuskan untuk coba kontrol ke dsog disana. Sayangnya, para dsog yang praktek di sana tidak melayani untuk membantu melahirkan, hanya sebatas layanan usg dan konsultasi para bidan mengenai tindakan medis tahap lanjut (vakum, induksi, dll).

Kedatangan pertama kesana, ternyata salah jadwal. Hihi. Informasi yang diberkan Ummi Aliyya ternyata tidak update. Akhirnya kami pun kesana hanya.untuk memfoto jadwal praktik dsognya saja.

image

Daaan, saya pun memilih dr.Windy, karena pas hari minggu, dan prefer di usg dengan dokter perempuan, pikir saya kali itu.

Saat hari H? jreng jreeeng, ternyata dokter Windy itu laki laki. Heu. Berdiskusi dengan suami, akhirnya kami teruskan pemeriksaan dengan dr.Windy. Dokternya nyunda, nampak soleh, dan pemeriksaannya detil. Saat kontrol terakhir, karena bertepatan dengan hari selasa, akhirnya kami mencoba kontrol dengan dokter Indah.

Setiap kontrol usg, biasanya sang dokter ditemani dengan bidan disana. Saat posisi masih sungsang, di tempat lain saya diajari untuk senam sungang oleh bu Bidan.

Bu Bidannya sendiri ga ngitung ada berapa, sepertinya 1 orang bidan senior alias yang punya Kliniknya (bidan Otoy), sekitar 5 orang bidan tetap (yang masih muda muda dan geulis geulis), ditambah 2 orang calon bidan yang sedang praktik tahap akhir.

Pelayanannya sendiri Alhamdulillah memuaskan, serasa di rumah sendiri. Disana ada beberapa kelas, mulai dari kelas 3 s.d kelas VIP.

image

Ruangannya luas dan bersih, dan utamanya sepiiii. Bebas dari keramaian kota, walaupun ada di kota, karena lokasinya yang masuk ke gang (bukan gang sempit banget, mobil mah masih bisa masuk lha…)

image

Ngobrol sama bidannya juga asik asik, ramah,dan very helpfull. Cuma di momen tertentu saat merasakan kontraksi, bu Bidannya sempet ngobrol, sedikit mengganggu, tapi tertutupi sama keramahan-keramahan^^ bu Bidan yang lebih banyak :).

image

Biayanya? Hm. Biaya per kelasnya sih ga hapal, tapi kemarin ambil kelas 1, dihitung 2 hari habis sekitar 3jt kurang dikit. Bisa pakai BPJS juga, tapi ga total dicover BPJS, yang dicover hanya 600rb, sisanya harus bayar sendiri.

Makanan? Oke. Enak pisan malah kata saya mah, cuma kurang sayuran berserat aja sih. Pulang pulang susah BAB deh.

Kasur persalinannya ada 3 buah, nah pas saya itu kebagian yang lebar kasurnya sempiit, hanya cukup seukuran badan saya, jadi agak takut pas IMD, khawatir bayinya jatuh. Padahal 2 kasur lainnya lebih lebar.

Sewaktu persalinan, semua bidannya turun tangan. Ngebantu megangin kaki, ngerangsang PD biar ada kontraksi. Paling yang agak mengganggu pas dilakukan tindakan ’reparasi’. Heu. Ga ngerti juga detilnya gimana, cuma si bu Bidan bilang ada yang mau dirapihin, bekas lahiran terdahulu dan itu ternyata lamaaa. Jahitnya juga sakit >…<, Ah. nangis guling guling deh pokonya. Perasaan dulu ga gini gini amat. T.T.

Ah. Sudahlah sekarang mah cuma berdoa yang banyaak supaya cepet pulih dan BAB kembali lancar.

Sekian reviewnya, dari skala 10 saya kasih 8.5 lha.

Dibalik Senyuman Untukmu, Tamu.

Standar

Dibalik senyuman saat menerima tamu, ada jahitan yang belum kering, senut senut.

Dibalik sapaan ramah menerima tamu, ada setumpuk popok yang belum dicuci, bau!

Dibalik sajian yang dihidangkan untuk tamu, ada Air Susu yang teriak teriak minta dikeluarkan, meriang.

Dibalik doa yang dipanjatkan tamu, ada mata yang masih meminta untuk terpejam karena begadang, ngantuk!

Dibalik tawa sang tamu, ada kekhawatiran tak bisa memuliakan tamu, menyajikan apa, cukupkah tempatnya, bersihkah tempatnya, sementara diri lupa diurus, dilema.

Di balik air mineral yang disediakan untuk tamu, ada usus besar yang masih ketakutan untuk mengeluarkan isinya, konstipasi.

Ah. Kalau saja tak ada perintah memuliakan tamu, mungkin pintu sudah ditutup rapat.

Tapi tak bisa hati berbuat sekehendak, karena sang tamu harus tetap dimuliakan :)

Hanya dapat berdoa agar diri dimampukan… dikuatkan…

Untuk melayani tamu…

Memuliakanmu…

Walau jauh dari kesempurnaan :)

Gelombang Cinta Mengantarkanmu Hadir (Kelahiran Ai3)

Standar

MasyaAllah Nak…

Perjuangan panjang menghantarkanmu ke alam dunia akhirnya berujung juga. Telah lahir hamba Allah, laki laki dari rahim Umminyai berkat Rahmat dan Rahim dariNya.

Tiap anak ternyata punya rasa yang berbeda saat gelombang cinta itu datang (baca: kontraksi).

Untuk Ai3 ini yang paling terasa adalah jeda yang panjang, perjalanan pembukaan yang panjang, dan gelombang cinta yang tak beraturan. Sang gelombang.cinta alias mulas kontraksi datang saat Ummi bergerak, bergerak, dan bergerak! Terkadang sudah bergerak pun kontraksi berjeda lamaaaaa. MasyaAllah.

Selasa, 2 Februari 2016

Pembukaan 1

Sore-sore jadwalnya kontrol ke dokter. Karena sang Ayah baru pulang dari negri antah berantah, maka diputuskan hari itu untuk kontrol di dekat rumah saja (biasanya ke Santosa, nyari yang haratis :p). Ketuban OK, posisi OK, dan dicek ternyata sudah ada bukaan 1. Saya pun disuruh untuk melakukan induksi alami agar mulut rahim menipis.

Sepanjang malam terasa gelombang cinta frekuensi kecil, dan si Ummi ga bisa tidur. Kontraksinya teratur, tiap 10 menit sekali, tapi rasanya ringan.

Rabu, 3 Februari 2016

Pembukaan 2-4

Barulah setelah induksi alami sang gelombang cinta semakin kuat, dan ada lendir darah yang keluar. Karena feeling anak ke-3 lebih cepat, maka subuh hari saat anak anak masih tidur, Ayah dan Ummi pergi ke bidan tempat mau melahirkan, Klinik Barokah di Jl.Sekelimus.Buah Batu.

“Rasanya kayak gini, kayaknya pembukaan 3 deh”

daaan

Ternyata baru pembukaan 2! Hoho.

Daripada pulang lagi, di rumah juga bingung mau ngapain akhirnya kami memutuskan jalan jalan di sekitar Klinik. Tujuan pertama adalah mencari sarapan! Anak-anak? Ditunggui nenek dan mang Ugi di rumah, sementara kakek mengantarkan perbekalan baju ke klinik.

Setelah sarapan kami kembali lagi ke klinik. Jadwal periksa dalam lagi sekitar jam 10an katanya. Akhirnya karena ngantuk berat, kami pun tidur di klinik pagi itu (Iya, kami! Ayah dan Ummi… walaupun Ayah ga ikut begadang, tapi ternyata Ayah masih jetlag).

Sekitar jam 10an kami kabur dari Klinik untuk jalan jalan kembali. Kali ini tujuannya ke Griya buah batu. Ngangkot! Disana ngapain? cuci mata aja. Sampai lantai atas, eeh ada game master, dengan senang hati saya pun mengajak Ayah ke sana. Kali pertama ngedate bareng Ayah ke game master, biasanya kesana ya anak anak pemain utamanya :D.

Seru juga main sama Ayah. Sambil main, sambil ngerasain senut senut di perut. Durasinya sudah 10 menit 3x @30detik. Tapi lagi-lagi, ada kalanya sudah jalan panjaaang tapi kontraksinya malah turun jadi 10 menit sekali, bahkan lebih dari 10 menit. Pulang dari Griya, jalan dikit lalu naik angkot, kembali ke Klinik.

Shalat, makan siang, dan cek bukaan sekitar jam 13.30, sementara itu Ayah pulang dulu ke rumah untuk ngambil charger dan mempersiapkan duoAi ke Banjaran. Setelah dicek? Bukaan 4! Yeaay, nambah 2. Jadwal cek lagi sekitar jam 17.30.

Pembukaan 4 s.d 6

Istirahat kembali di klinik, alias tidur, dan si kontraksi jadi hilang! Heu. Antara husnudzon ’bageur ih dedenya nyuruh Ummi tidur’ dan suudzon ’bukaannya curiga ga nambah nih’, akhirnya setelah Ayah kembali, saya pun tidur hayam. Pereum pereum ga serius. Sementara itu Ayah mengejar ’setoran’ jetlagnya yang masih kurang alias tidur kembali!

Sementara Ayah tidur saya kuriling-kuriling di Klinik. Minjem gymball, goyang goyang, bulak balik ke atas ke bawah, ngobrol sama bu bidan yang jaga. Baca brosur, wattsappan sama Maim dan sama grup bumil cantik yang senantiasa memberi support, akhirnya kembali ke kamar. Eh Ayah sudah bangun, dan ngajak jalan- jalan lagi.

Setelah shalat Ashar, kami pun jalan jalan memilih rute yang berbeda. Sewaktu menempuh jarak yang sudah agak jauh, ko rasa mulesnya meningkat. Akhirnya saya bilang ’Ayah, kalau balik lagi yang paling cepat lewat mana?’. Whehe. Saya khawatir rasa ’tiba tiba sulit atur napas’ yang dirasakan saat 2x jelang lahiran itu datang. Apalagi melihat riwayat duoAi yang terjadi akselerasi dari pembukaaan 4 ke 10nya.

Di tengah jalan mau pulang, sudah buat strategi aja si Ummi.

Strategi 1, nyegat motor yang lewat seraya berkata…

“Pak… pak… saya mau lahiran, cepet kita ke Klinik Barokah”

dan saya pun naik motor bapak bapak yang lewat, sementara Ayah lari.

Strategi 2, karena saya melihat ada segerombolan pemuda yang sedang main bola, lalu saya berpikir.

“A… A… tolong gotong saya, cepetan! ini saya mau melahirkan!”

Strategi 3, Nyari rumah pintu terbuka, saya nyelonong masuk, dan bilang.

“Bu… bu… saya udah ga tahan mau lahiran. Punya motor/mobil bu? tolong anterin saya”

Begitulah strategi saya.

Tapi Alhamdulillah, selama perjalanan pulang, walaupun mulesnya semakin menjadi, saya paksakan untuk jalan.

“Gusti… abdi mah alim babar di jalan”

Melihat gedung Klinik, lega rasanya :D. Jalan jalan di Klinik aja deh! Sekitar jam 17.00-17.30 periksa dalam kembali, bukaan 6! yeaay! Tuh kan yang sekarang mah laju kontraksinya relatif konstan, dulu pas duoAi bener bener ngaderedet dari bukaan 4 ke atasnya, yang lama bukaan 1-4.

Pembukaan 6 s.d lengkap

Setelah pembukaan 6 ini, saya terus merabarasakan tubuh saya.

“Kapankah rasa mau ngeden itu datang?”

“Kapankah rasa susah mengatur napas itu datang?”

“Kapankah rasa ga bisa jalan itu datang?”

Gelombang cintanya semakin kuenceeeeeeeng, masih 10 menit 3x, tapi lebih lama dan tiap gelombang itu datang, saya atur napas. Tarik napas yang panjaaaaaaaaang lewat hidung, dan hembuskan perlahan lewat mulut, plus ekspresi muka nyengir. Kalau sewaktu lahiran duoAi saya peluk peluk Ayahnya. Kali ini saya mencoba untuk fokus hanya pada nafas, dan benda mati di sekeliling saya seperti gagang pintu, sepre, gagang kursi. Benda mati tersebut menjadi objek remasan tangan saya. Kan kasihan kalau Ayahnya yang jadi objek :p. Owyah, sedikit hal yang mengganggu saat kita merasakan gelombang cinta itu yaituuuu… suara berisik! Suara TV, suara orang ngobrol, ketawa, dll dll. Rasanya pengen teriak “woy suara berisik! empati dikit donk! lagi sakit mules nih!”. Tapi Alhamdulillah, situasi kemarin masih kondusif, sehingga energi teriak teriak saya ga perlu dikeluarkan :D

Bukaan 6 jam 17.00 cek bukaan lagi jam 21.00.

“Semoga sebelum jam 9 sudah lahir ya Bu” Kata bu bidan junior.

Ah. Kalau bisa mah sekarang aja lah. Heu. Perjalanan kali ini sungguh harus membuat sang Ummi bersabar. Terimakasih Nak, kau telah mengajarkan sabar bab 4578 dalam diary kehidupan Ummi :”)

Selama menunggu kontraksi lengkap ini, saya teruuuus jalan jalan, goyang goyang di gym ball, ngobrol sama bu Bidan, dan saat maghrib tiba saya pun masih menyempatkan diri untuk ganti pembalut, wudhu, dan shalat. Di tengah baca alftihah, terasa gelombang itu datang, panjaaang, saya berhenti, dan mengatur napas. Tarik napaaas dari hidung, keluarkan dari mulut. Sempat mikir pas shalat ’sah ga ya solatnya, ada interupsi dulu :D’. Akhirnya rakaat kedua dan ketiga shalat sambil duduk untuk mempercepat gerakan da takut gelombang cintanya datang lagi. Setelah shalat, muter muter lagi di klinik, terasa gelombang cinta mengencang lama, tapi rasa susah napas itu ko ya ga muncul juga.

“Bu bidan, parameter naik kasur apa sih? dulu mah pas saya susah jalan, plus susah ngatur napas”

“Pas anus menonjol, bisa naik kasur Bu”

“Yaudah, saya jalan jalan dulu aja ya… Nunggu sampai gabisa jalan sama susah ngatur napas”

Akhirnya sekitar jam 19 lebih sekian, saya bilang ke Bidan.

“Bu, kapan atuh kita naik kasur? Hayu ah sekarang aja”

Inginnya sih minta cek bukaan, tapi khawatir melangkahi bidan senior kalau saya mintanke bidan junior.

Akhirnya naik kasur, miring kiri, dicek belum ada anus yang menonjol, dan memang rasa mengedan yang membabibuta belum muncul. Keinginan mengedan dikit memang terasa, tapi sepertinya tertutupi oleh pengaturan napas saya yang relatif konstan.

“Tarik napas lewat hidung panjaaaaaang, hembuskan lewat mulut perlahan”

Karena ga dicek cek bukaan juga, akhirnya saya bilang.

“Nih… nih udah mau ngeden…”

Padahal masih bisa terkontrol.

Bidan senior pun datang, cek bukaan.

“Wah udah 9 ke 10, yuk pakai perlengkapan, kita pecahin ketuban dulu”

Noh. Noh. Kan udah gede kan bukaannya. Dalam hati. Ternyata pengaturan napas yang konstan.sangat berpengaruh pada kontrol kita terhadap tubuh kita, kita jadi bisa terkoneksi dengan tubuh kita, berkonsentrasi terhadap napas bukan terhadap rasa sakit. Ya, rasa sakit mah pasti lah, tapi bisa dikendalikan dengan pengaturan napas, dan ekspresi nyengir, dan remasan tangan tanda bahwa memang sakiiit tauuu. Hihi. Sebelum merasakan itu semua, di otak memang sudah dimindsetkan, bahwa kepasrahan terhadap takdir Allah paling penting, penerimaan terhadap diri yang hendak merasakan sakit, dan membuka diri terhadap rasa sakit, dan tidak menolaknya. Rasa sakit itu datang karena seseorang yang kita cintai akan datang. Rasa sakit itu datang demi sebuah cinta yang lebih besar. Sementara merasakan rasa sakit, dia pun sedang sama sama berjuang.

“Kita sama sama berjuang ya Nak”

Whoho. Jadi pengen nangis deh.

Finally, ketuban dipecahkan, dan ada dorongan kuat darimu. Prosesmu terlahir ke dunia pun disambut oleh suara Adzan Isya. Allahuakbar!

Telah lahir anak Ummi yang ke-3, seorang Hamba Allah Laki-laki, jam 19.30 Rabu 3 Februari 2016/ 25 Rabiul Akhir. Berat 3.2 kg Panjang 51cm.

I’m Standing with SSA ’Syar’i’

Standar

Hoo… baru tahu setelah saya membaca tulisan-tulisan di grup Peduli Sahabatnya kak Sinyo Egie, ternyata perilaku/tindakan seks sesama jenis itu tidak melulu dilakukan oleh seseorang yang sejak kecil memang ’terkondisikan’ untuk menjadi seorang SSA.

Ada juga yang iseng iseng saat sudah besar, padahal sebelumnya sama lawan jenis fine fine saja, eeeh malah ketagihan setelah iseng iseng itu.

Kebalikannya, adapun kasus lain, dengan situasi kondisi yang terjadi sejak kecil, kemudian menjadikan seseorang tersebut memiliki kecenderungan SSA, tapi dia bertahan untuk tidak terjerumus ke dalam tindakan/perilaku seks sesama jenis. Ia tahan hasrat yang ia anggap ujian ini. Ia bersabar dengan kondisinya. Bahkan ia masih memiliki mimpi menjadi seorang suami dan Ayah yang baik.

Persamaan keduanya, sama sama (akhirnya) SSA. Perbedaannya ada di bagaimana mengelola nafsu seksnya.

Jadi? Yang menjadi salah dan masalah itu sebenarnya di mengumbar nafsu sesama jenisnya kan ya? yang menjadi masalah itu saat si A mengajak si B untuk sama sama menikmati perilaku seksnya kan ya? yang menjadi masalah itu saat terjadi penularan penyakit atas perilaku seksnya kan ya? yang menjadikan masalah itu karena ada gerakan yang membenarkan perilaku seks sesama jenis itu kan ya?

Adapun mengenai orientasinya? Selama masih bisa bersabar, menahan diri dari nafsu seks sesama, menahan diri dari mengubah bentuk yang telah ia berikan, tak masalah kan? Sambil terus para SSA yang Allah uji tersebut berusaha dan berdoa agar diperkenankanNya untuk kembali ke fitrahnya. Dan saya berdiri disamping mereka, mereka yang sedang berjuang untuk bersabar, mereka yang berjuang untuk berubah.

Aishastory

Standar

Cerita Aisha 1

Suatu hari dua orang anak sedang cingogo alias jongkok karena lama menunggu angkot… Sang Ummi pun ikut jongkok kemudian iseng bertanya…

“Bu… bu… ini  AAnya ya?”
“Iya…” ucap Ai2

kemudian lanjut ke pertanyaan…

“Pak… pak… ini Adenya ya Pak?

Belum juga dijawab si Bapak kecil, si Ibu kecil protes…

“Aku mah teteh da…”

qiqiq… deuuh… yang mau jadi teteh ^.^. Gamau dipanggil ceuceu, pengennya teteh, tapi dipanggil ’De’ masih mau :D

Cerita Aisha 2

Suatu malam duoAi, umminyai, dan Enin tidur berempat…

“Aku mau deket Ummi!”

“Aku yang deket Ummi!” – parebut.

“Kan gantian De, sekarang Aisha deket Enin ya” kata Ummi teh.

“Gamau, aku mah syenengnya deket Ummi”

“Kenapa?”

“Soalnya kalau Ummi cantik, kalau Enin acak-acakan” (Baca: rambut galing)

“Lha… kayak Aisha ga acak acakan aja… niih… rambut galing Aisha dari siapa? Ini teh rambut galingnya dari Enin tau neng…”

“Ya bukan atuh… ini mah dari Allah…”

Wkwkwk. Kena deh :D

Makin gede, makin pintar kamu neng… Semoga Allah senantiasa menunjukkan petunjuk kebaikan dalam dirimu ya Nak.

image