Pacaran? Boleh, Asal Diridhai Allah.

Standar

Suatu ketika, saya ingaat momen saat SMA. Momen dimana tempat dan situasi yang sama ketika saya bilang “Pak dua minggu lagi kalau kang Uzy ngekhitbah gimana?”. Ketika itu Bapak sedang cuci piring, lalu saya nimbrung ngeliatin Bapak cuci piring (iya, ngeliatin doank! ga bantuin -.-). Bedanya saat SMA, pertanyaan yang saya ajukan adalah “Pak, Tia boleh ga pacaran?”. Jawab Bapak ketika itu adalah “Boleh, asal diridhai Allah”

Barulah setelah saya mengaral melintang, menggaris membujuri saya paham maksud dari “Boleh, asal diridhai Allah”. Ungkapan tersebut adalah ungkapan yang datang dari seseorang bernama Bapak, yang saat menyatakan cintanya, memang benar benar sudah siap untuk menikah, ya, karena setahu saya, Bapak bukanlah roman picisan yang mengumbar cintanya kemana saja, apalagi sampai memberi harapan palsu pada wanita, hg!

Barulah saya paham saat membaca ’surat cinta’ Bapak, cara Bapak mendekati Ibu sebagai salah satu contoh, ’mengumbar’ cinta tetap dalam koridor keridhaan Allah.

“Berpacaran” dengan tetap dalam koridor yang diridhai Allah tertuang dari kalimat kalimat surat cinta yang Bapak tulis.

Di dalamnya ada pernyataan cinta, tapi takut akan cinta yang membahayakan dirinya.

Di dalamnya ada ungkapan pujian, tapi tetap ada ungkapan berlindung diri dari godaan syeitan yang dapat merusak cinta suci.

Di dalamnya ada sebuah maksud ingin mencinta lebih dalam, tapi tetap tak mengabaikan kebahagiaan sang wanita.

Di dalamnya ada sebuah harapan, tapi ada juga rasa ketakutan atas ketidaktahuan tentang misteri masa depan.

Di dalamnya ada kalimat keridhaan ditolak cintanya, tapi ada ketakutan yang besar akan hilangnya cinta pada Sang Pemilik Cinta.

Saya yakin saat saya bertanya “Pak, Tia boleh pacaran?” , Bapak belum tahu bahwa di era putrinya ini penyakit PHP sedang mewabah, sampai sekarang!. Begitu banyak cowo menye-menye di dunia ini Pak! Ramah pada setiap wanita! membuat tabungan harapan di hati tiap tiap wanita! hg!

Saya yakin saat itu Bapak belum tahu persentase ’kecelakaan’ akibat berpacaran terlebih dahulu begitu tinggi. Bapak mungkin harus kenalan dengan Bapak Felix Siau, Bapak ustad garis keras untuk perihal pacaran.

Bapak mungkin saat itu bilang “boleh” sesuai dengan pengalaman dan pemahamannya saat itu. Ya, baru Tia pahami sekarang, Pak.

Buat Eloh Eloh yang bukan penganut garis keras macam Pak Felix atau bukan penganut garis lembek macam pemuda/i PHP penuh tebar pesona, ikuti nasehat Bapak saya ya ;)

“Boleh, asal diridhai Allah”.

Nah loh, susah kan cuy! Aye juga tahu cuy! syeitan jago bener kan ngegoda manusia? Jadi gimana nih cuy?

Aye sih ngikut kata katanya ust.Darlis. Sudah siap? menikahlah! Belum siap? tinggalkan.

Wallahu’alam.

Cinta Pertamaku MilikMu

Standar

“Kang Uji, ini gitu waktunya, biasanya Bapak makan 1 obat langsung mereda, kemarin malam sudah makan 4 obat juga masih aja terus sakit” Ucap Bapak saat ditunggui oleh Ayah Uzy.

Jam setengah 2 malam, nada dering telepon membangunkan saya dan Ayah.

“Mi, dari ibu”

“Muhun Bu, aya naon?”

“Tia… tiasa kadieu, ieu Bapak kaserang deui, meni lami” Ucap ibu dengan suara gemetar.

Jantung ini pun berdegup kencang.

“Muhun Bu, Tia kaditu ayeuna”

Membayangkan, sosok tua ibu bersama Bapak, berdua saja, di tengah malam dengan situasi itu. Teteh dan Aa sedang di bidan ujung berung karena, teteh sedang menyambut peristiwa besarnya.

Membawa anak anak yang sedang tertidur pulas, di tengah hawa dinginnya malam yang menyapa seperangkat kendaraan roda dua kami, akhirnya kami sampai ke rumah Ibu.

“Kumaha Bu ayeuna?”

Tampak Ibu dan Bapak sudah bersiap hendak pergi.

“Tos nelepon ka Om Rif (dokter), kalau serangan lama gini mah harus segera ke RS”

“Teteh sudah melahirkan jam 1.30 tadi, A Andri lagi kesini menjemput”

Saya pun menghampiri Bapak, sambil mengusap usap punggungnya.

“Kumaha karaosna ayeuna Pak?”

“Sekarang mah sudah mending, tadi sampai tiga baju, keringat teruuuus saja mengalir, seeur pisan, ku ibu teras we di gosok sareng dipijitan” Ucap ibu.

“Bapak itu kalau dari fisik kelihatannya sehat, tapi di dalam sini kerasa, sakiiit sekali, menjalar sampai ke belakang, ke sini, ke sini” Ucap Bapak sambil menunjukkan bagian bagian yang sakit.

“Ummi didieu we nya, jaga bumi Aki sareng Nin”

Subuh Hari

Waktu subuh tiba, dan bergegas untuk shalat. Ada dorongan yang sangat besar untuk membereskan rumah ibu bapak. Membereskan kamar teteh untuk menyambut buah hati. Menyapu dan mengepel lantai seraya dalam hati kecil berkata ’takut ada tamu banyak’. Dan menggosok kamar mandi. Lagi lagi saat menggosok kamar mandi ada suara hati yang entah dari mana asalnya berkata sesuatu yang tak bisa dijelaskan.

Pagi Hari

“Tia, kang Uji tiasa kadieu, gentosan sareng ibu ngajagi Bapak, Enin bade istirahat heula di bumi mang Rudi” ucap Ibu.

Saat itu Bapak masih belum menempati ruangannya, masih di UGD. Ibu yang sedari malam belum beristirahat bahkan disuruh Bapak pulang kembali ke Rancaekek.

“Tos ibu mah uih we ka Rancaekek” ucap Bapak.

Tapi karena perjalanan Rancaekek-Al Islam tidak dekat, maka diputuskan agar ibu beristirahat di Antapani.

“InsyaAllah Bapak didieuna 5 harian, da kedah di suntik obat pengencer teras” Kata ibu sewaktu saya menelepon Ibu.

Jam 10 Pagi

Saat Ayah Uzy kesana, ibu sudah tidak ada. Ayah pun menemani Bapak, mengobrol seperti biasanya.

“Tia mana?”

“Kedahna mah di ring Bapak teh, ngan awis 60 juta”

Dan pernyataan Bapak yang saya tulis di awal tulisan.

Alhamdulillah saat Ayah Uzy kesana, Bapak sudah bisa pindah ruangan ke ruang HCU. Akan tetapi kartu BPJS untuk pengurusan pindah ruangan terbawa oleh ibu. Ayah Uzy pun dengan sigap siaga menggunakan motornya untuk mengambil kartu BPJS di tempat yang telah disepakati.

Karena berburu dengan waktu, loket BPJS akan ditutup jam 12. Ayah Uzy pun bersegera, berlarian, untuk mengurus administrasi pindah ruangan.

Jam 12

Alhamdulillah Bapak sudah bisa pindah ke ruangan HCU.

“Bapak hoyong pipis, tapi di ruangan ditu we” ucap Bapak                                            

Saat sudah pindah ruangan, Ayah pun izin Shalat, Bapak diurus oleh perawat.

Belum sampai Rakaat kedua selesai.

“Keluarga Bapak Achmad Syafrudin!” Terdengar seseorang memanggil manggi setengah berteriak.

Ayah Uzy pun belum menyelesaikan Shalatnya. Saat disana Bapak sedang diambil tindakan. Bapak terserang lagi. Serangan yang terakhir.

“Bapak lagi kritis, mana keluarga yang lain?” Ucap dokter.

Ayah pun menelepon ibu, saya, dan A Andri. Dengan suara begetar dan menangis.

“Ngadoa sing seeur nya Mi, Bapak kritis”

Hati ini langsung tak menentu, shalat lalu ganti baju dan mempersiapkan anak anak untuk.pergi.

Saya ingin kesana.

“Bapak kritis, coba panggil segera keluarga yang lain kesini” Dokter mengulang pernyataannya untuk kedua kalinya.

Perawat hilir mudik memberi.tindakan pada Bapak. Memberi kejutan listrik satu kali. Datang seseorang yang bukan perawat dan juga bukan dokter.

“Kalau kuat, ayo talqinin Bapak” Ucap Bapak yang kelihatannya seperti pak Ustad.

Petugas perawat teruus memberi bantuan medis, silih berganti. Ayah pun terus mentalqini disebelah Bapak. Menunduk dan menangis.

“Pak… ieu Ibu” Sambil memegang jidat Bapak.

Ibu pun akhirnya datang dan duduk lesu sambil terus menatap Bapak. Tak sampai 10 menit, gerak mulut Bapak yang sudah terpasangi alat berhenti.

Ya… dalam akhir hayatnya Bapak mengucapkan sesuatu. Sesuatu yang kita semua berharap itu adalah sebuah kalimat Keridhaan. Kalimat Keridhaan atas panggilan dari Rabbnya.

Sebuah kalimat penghambaan saat ditiupkannya ruh ke dalam janin berusia 4 bulan.

Sebuah kalimat penghambaan dengan konsekunsi yang teramat besar dan mendalam.

Wallahu’alam bi shawab…

****

Dear Bapak…

Bapak… Tia baca, bahwa peristiwa sakaratul maut adalah peristiwa yang teramat berat.

Bapak… Tia baca, bahwa peristiwa sakaratul maut adalah peristiwa yang teramat sakit.

Peristiwa diambilnya ruh dari jasad.

Peristiwa gerbang awal memasuki kehidupan kekal dan abadi.

Berharap Bapak termasuk ke dalam golongan orang orang yang dibawa ke Sidrhatul Muntaha.

Dari Abu Hurairah, ia berkata : Apabila ruh orang mukmin keluar, dua malaikat menjemputnya dan membawanya naik. (Hammad berkata : Abu Hurairah menyebutkan harum baunya seperti minyak wangi). Dan penghuni langit berkata, “Ini adalah ruh yang baik yang datang dari bumi. Semoga Allah memberikan rahmat kepadamu dan kepada jasad yang engkau tempati”. Lalu ruh itu dibawa ke hadapan Tuhannya ‘Azza wa Jalla, lalu Dia berfirman, “Bawalah ia ke batas yang terakhir (Sidratul Muntaha)”…. (HR. Muslim)

Pak… semoga ruh Bapak termasuk ke dalam ruh golongan orang orang yang ingin disegerakan untuk menghadap Rabbnya.

Dari Abu Sa’id Al-Khudriy RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Apabila jenazah diletakkan dan orang-orang mengangkatnya di atas pundak mereka, jika jenazah itu baik maka ia berkata, “Ajukanlah saya”….(HR. Muslim)

Pak… semoga ruh Bapak termasuk ke dalam golongan jiwa yang tenang.

“Hai jiwa yang tenang… ً

Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.

Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku

Masuklah ke dalam SurgaKu” (QS. Fajr)

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِ مِنْ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنْ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَ مِنْ عَذَابِ النَّار

Ya Allah ampunilah beliau, sayangilah beliau, selamatkan beliau, maafkan beliau, muliakanlah tempat tinggal beliau, luaskanlah kubur beliau, mandikanlah beliau dengan air, salju dan embun, bersihkanlah beliau dari dosa-dosa sebagaimana baju yang putih dibersihkan dari kotoran, gantikanlah untuk beliau rumah yang lebih baik dari rumahnya dahulu dan keluarga yang lebih baik dari keluarganya yang dahulu dan pasangan yang lebih baik dari pasangan yang dahulu, masukkanlah beliau ke dalam surga dan lindungilah beliau dari siksa kubur dan siksa neraka.

Bapak. Yang telah Allah kadarkan sejak ditiupkan ruh berumur 4 bulan dalam kandungan. Lahir 29 Oktober 1946. Meninggal 14 Maret 2015.

Ya… telah Allah tetapkan.

Rabb. Bapak milikMu. Supermanku adalah milikMu. Cinta pertamaku adalah milikMu.

Kuserahkan segala urusanku kepadaMu.

Kuserahkan Bapak kepadaMu.

Dariku anakmu, anak yang mewarisi sisi lembutmu, anak yang mewarisi sisi melankolismu, anak yang kau beri nama yang sangat indah…

My (Lately) Superman

Standar

“Kasih Orang tua sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah”

Suatu ketika di sela sela obrolan, Bapak pernah bertanya pada saya.

“Tia, merasa dekat ga dengan Bapak?”

Pertanyaan paling sulit yang keluar dari mulut Bapak. Karena, saya merasa ikatan hati kita tidak dekat, tapi tidak jauh juga. Lalu saya jawab.

“Ya… biasa-biasa aja”

Kami, resmi berstatus anak dan bapak sejak 27 tahun yang lalu. Tapi, tidak sepanjang itu saya merasa bahwa Bapak adalah my Hero, my Superman, tidak.

Tapi mungkin berbeda dengan perasaan Bapak terhadap anaknya. Sebandel dan sengeyel apapun anak anaknya, mereka tetap menjadi cahaya penyejuknya, mereka tetap menjadi bintang harapannya, dan mereka tetap menjadi pahlawan kecilnya. Mungkin.

Maka benarlah peribahasa di atas, bahwa porsi rasa sayang orang tua terhadap anaknya jauuuuuh lebih besar dan mendalam dibanding porsi sayang anak terhadap orang tuanya.

Baru, baruuu saja saya mencoba untuk menyelami sesosok tak sempurna bernama Bapak.  Sebelumnya saya merasa ikatan kami sebatas ikatan ’formalitas’ belaka. Bapak sibuk bekerja, saya sibuk sekolah. Bapak pensiun, saya sibuk kuliah.

Pola komunikasi kami pun sungguh unik, berbicara lebih sering hanya untuk hal hal eksternal. Untuk masalah menyelami hati masing masing? sangat jarang.

Apalagi saat saya kuliah. Sesekali saat ada butuhnya, barulah saya mengunjungi Bapak.

“Pak… Tia mau nikah, ada lelaki ganteng yang mengirim proposal pada Tia”

Baru… baruu saja. Ketika saya memiliki anak, berilmu parenting, dan kemudian sering sharing dengan Bapak, Allah menuntun kami untuk saling mengenal hati masing masing.

Saat itu pula lah, Bapak mulai lebih sering mengeluarkan ’wasiat nasihat’ kepada saya.

Pernah suatu ketika saya menulis di blog dengan judul ’Benalu Cinta’ (tapi sudah dihapus :p). Dalam perasaan gamang saya atas perasaan-perasaan ’sayang tapi kecewa’, saya sampai menulis.

“Haruskah aku menuntut orang tuaku di Padang Mahsyar, atas kelalaian mereka?”

Akhirnya Allah menuntun kami untuk berada dalam situasi berbicara dari hati ke hati 3 bulan sebelum bapak meninggal, ganjalan ganjalan dalam hati yang belum terucap.

Dan beliau sambut keresahan saya dengan sebuah pernyataan menenangkan sekaligus kebijaksanaan tanda kematangan jiwanya…

Pernyataan yang akhirnya saya tahu bahwa

Yes! He’s my Superman! He’s my Hero! He’s my Inspiration!

Hijrah Tauhid

Standar

Akhir akhir ini di newsfeed berseliweran kisah kisah tentang Hijrah! Masya Allah…

Hijrah utama dan pertama adalah hijrah tauhid. Hijrah dimana mengingkari bentuk penghambaan lain selain Allah.

Laa Ilaa Ha Illallah…

Tidak ada Illah kecuali Allah

Illah dalam arti luas adalah sesuatu yang diibadahi, sesuatu yang mendominasi diri kita.

Materi pertama yang saya dapatkan waktu di LMD dulu adalah mengenai Tauhid Pembebasan.

Dimana kita membebaskan diri dari Thagut Thagut atau Illah Illah yang membelenggu diri kita untuk bertauhid kepada Allah.

“Kalau kamu ga solat gara gara TV, TV itulah Illah kita!”

“Kalau kamu ga shalat gara gara ngongkrong nongkrong, nongkrong itulah Illah kita!”

Ya! Ya! Tanpa sadar dulu saya seriiiiing sekali mengingkari Dia yang utama dan yang pertama, padahal saya mengaku islam, dimana kalimat syahadatlah yang menjadi penentunya!

Ingin diakui islam, tapi saya sendiri yang mengingkarinya!

Illah ini pun dapat menjelma menjadi apaaaaaa saja.

Kita tengok Zaman nabi Musa, illah berupa kekuasaan Firaun.

Kita tengok Zaman jahiliyah sebelum Rasul datang, illah berupa berhala, membunuh bayi perempuan.

Kita tengok Zaman Nabi Luth, Illah berupa hawa nafsu seksual dari kaum sejenis.

Kita tengok Zaman sekarang?

Semua ada.

Pada akhir zaman ini, semua karakteristik kejahiliyahan di zaman para nabi berkumpul! bersatu! bercampur! membentuk sebuah kekuatan!

Luar biasa!

Orang orang islam keturunan seperti saya dijauhkan sedemikian rupa dari islamnya itu sendiri, lewat musik! sinetron! infotaimen! film!

Ya! Ya! Untuk apa?

Untuk menjadikan mental umat Islam LAZY MIND! Mental pemalas!

Sehingga tak ada lagi yang dipikirkannya selain masalah perut, di bawah perut, dan kesenangan semu. Itu saja.

“Oh… maaf ya, kalau saya udah rajin tuh solat 5 waktu, sama dukun juga anti, Alhamdulillah. Seharian kerja, ga masalah donk dihibur sama sesuatu yang semu?”

Ya! Ya! Sangat tidak masalah.

Teringat sebuah kawan yang berkata.

“Kita harus curiga sama Allah, Allah pasti menciptakan kita tak sekedar untuk bekerja lantas memenuhi isi perut kan?”

Lebih luasnya, Allah ingin kita. Saya dan Kamu, mengikuti jejak para Nabi, berilmu dan mengamalkannya. Berilmu dan menebar manfaat. Berilmu dan membebaskan thagut pembelenggu manusia. Berilmu dan membangun sebuah peradaban islam rahmatan lil alamin.

Ya! Curigalah bahwa Kamu adalah orang yang dipilihNya! Iya, Kamu!

Cinta sebelum menikah? Atau menikah baru cinta?

Standar

Pagi tadi saya kedatangan seorang adik yang sedang galau atas perasaannya :p.

Di sela sela obrolannya sang adik bilang

“Sama Qiyadah (pimpinan) kan ga boleh teh, nikah sesama Fur**ka (organisasi pembinaan remaja)”

“kenapa?”

“Supaya organisasinya tetap sehat, khawatir malah jadi penyakit dalam jamaah”

Hm. Seketika tombol reaktif saya menyala. Saya teringat sebuah ayat AQ yang berbunyi:

“….maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau….”

Ayat itu menyiratkan, ga masalah toh? menyukai seseorang lantas pada akhirnya di sahkan melalui lembaga pernikahan?

Oke. Saya mengerti, ini adalah kekhawatiran majemuk(?) Qiyadah mengenai ketidaksehatan sebuah organisasi Dakwah karena didalamnya ada bibit bibit ’merah jambu’ yang khawatir AKAN KEBABLASAN, sehingga timbul stigma negatif dari luar terhadap organisasi Dakwah. Tapi apakah dengan TIDAK MEMPERBOLEHKAN sesama anggota organisasi menikah itu solusinya?

Maaf, kalau saya boleh berpendapat, itu seperti menebang pucuk daun menguning di tengah ketidakberdayaan akar menyerap nutrisi. Solusinya tidak manusiawi! ga nyambung masbro!

Kalau sekiranya Qiyadah tersebut khawatir akan timbulnya bibit bibit ’merah jambu’ yang berkepanjangan, ya perkencang pembinaannya donk!

Beritahu pada binaan ikhwannya untuk bersikap biasa biasa aja sama akhawat! Keramahan ikhwan bisa disalahartikan oleh akhawat!

Beritahu binaannya mengenai adab interaksi, menjaga pandangan, aturan jam malam. Rapat ko malam malam! sigh!

Beritahu pada binaan ikhwannya, kalau sudah siap? menikah! belum siap? jangan menye menye ga jelas sama akhawat! ga ada zona abu abu! gentle!

Beritahu pada binaan ikhwannya mengenai bagaimana seharusnya seorang laki laki memiliki daya juang, visi berkeluarga orentasi akhirat!

Beritahu pada binaan ikhwannya mengenai wawasan berumah tangga yang ternyata ga hanya enaknya aja!

Beuh. Nepsong saya. Maap maap. Saya tahu nepsongnya saya ga solutif, tapi mudah mudahan ini bisa dibaca oleh yang berkepentingan.

Buat Akhawat? seperti nasihat yang pernah saya dapatkan di sini. Tak usah khawatir akan jodohmu siapa, fokuslah pada perbaikan dirimu.

Lantas apakah menikahi seseorang yang tak kita cintai terlebih dahulu sudah pasti itu yang terbaik? belum tentu juga honey! Coba deh tengok peristiwa bubar jalan duo aktivis dakwah yang melalui proses menikah sebelum mencinta ini? ada? ada!

Maksud saya, mau pakai cara cinta sebelum menikah atau menikah dulu baru cinta. Itu sama sama ada resikonya, sama sama ada kekurangan kelebihannya. Toh yang seharusnya menjadi bahan pemikiran kita bukan hanya tentang ’Kita ingin pakai cara yang mana’ saja kan? Yang justru harus menjadi concern kita adalah, Bagaimana kita sedapat mungkin berproses dengan cara cara yang diridhai Allah.

Apakah kita sudah membersihkan hati hati kita dari seseorang yang datang pada kita, saat ia datang?

Apakah kita teruuus menjalin bonding yang kuat dengan Allah sebelum/selama proses itu berlangsung?

Apakah visi berkeluarga kita sudah lurus?

Apakah kita terus menjaga adab adab berinteraksi dengan lawan jenis kita?

Apakah kita terus berikhtiar menjadi pribadi lebih baik, sehingga Allah akan mendekatkan dia yang entah siapa dan entah dimana, sesuai dengan kualitas kita saat itu?

Karena, ujian cinta itu tak akan berakhir saat kita menemukan dia sang tambatan hati. Saat Allah merasa seseorang tersebut belum lulus ujian cintanya. Maka Ia akan datangkan kembali ujian cinta di kemudian hari.

Jadi sesungguhnya, pertanyaan pertanyaan di atas berlaku tidak hanya untuk para bujangan bujangwati saja. Tetapi juga untuk saya, suami saya dan siapa saja yang sudah menikah, yang mungkin kelak akan Allah uji lagi di masa yang akan datang.

Jadi ini adalah bukan tentang cara menikah dulu baru cinta atau cinta dulu baru menikah. Ini adalah tentang bagaimana kita terus memperbaiki diri, terus menjaga diri dari hal hal yang dapat membuka jalan pintu syeitan masuk, dan terus mempertebal keimanan kita. Masalah rasa cinta? Itu urusan Allah, Dia yang Maha Mendatangkan rasa Cinta dengan mudahnya akan tetapi Dia juga Yang Maha Menenggelamkan rasa Cinta dengan mudahnya.

Dan apakah kita berhak memutus rasa cinta hanya gara gara sepasang anak adam berada dalam satu organisasi yang sama?

Wallahu’alam bi shawab

Hijrah Cinta

Standar

Sebenarnya pengen pengen engga nulis tentang ini. heuheu. Karena:

1.Malu ini teh Aib. Allah aja udah nutupin Aib saya, masa saya umbar umbar ke khalayak.

2. Menjaga perasaan suami saya.

Tapi kalaulah bisa diambil garis besarnya yang saya pun sudah ceritakan ke suami, akan saya bagi ke dalam part part episode *halah*.

Episode preschool

Pertama kali menyadari ada dua jenis makhluk Allah itu saat berumur 4 tahun, dan mulai umur segitulah saya mulai suka dengan lawan jenis. Tetiba saja dari balik jendela saya mengintip sekumpulan anak SD yang sedang olah raga di lapangan depan rumah. Dan berkata pada teteh saya

“Teh..teh itu pacar Tia”

Pacar yang saat itu saya pun belum tahu artinya apa. Hanya saja pilihan ’Pacar’ pertama saya begitu unik! Hitam legam dan kurus kerempeng!

Saat usia SD dan sudah terpapar cowo cowo ganteng barulah saya menyadari bahwa beliau yang entah siapa namanya itu ternyataaa… ga cakep T.T. Huhu. Maap ya Allah, cakep ganteng kan relatif ya. Maapkan mata saya yang ketika itu masih belum dapat mensyukuri ciptaanmu.

Usia SD

Selama SD, saya masih inget tuh nama nama kecengan saya, iya kecengan! dari SD saya tukang ngeceng lelaki berparas manis.*halaahmuth*. Saya adalah anak yang ekspresif sejak dulu, Alhamdulillah jaman dulu belum ada medsos. Mungkin saat sudah ada, saya pun sama dengan anak SD yang kemarin sempet heboh dengan status status di FBnya yang sangat ’dewasa’. Jadi, tenaaang saja ya Dek, masa depanmu masih panjang, ga usah hiraukan bully bully ga jelas dari orang yang ga memahami perasaanmu. Cuma titip pesan untuk orang tuanya, berdoa yang kenceng, berdoa agar si gadis kecil ’diselamatkan’ selalu oleh Allah.

Ini tadi lagi ngomongin apasih, Oia, saya mengekspresikan perasaan-perasaan saya lewat buku diary. Rentetan nama kecengan saya, saya tulis dengan jelas, mulai dari kecengan ke 1 s.d kecengan ke 378. :p.

SMP SMA

Skip ah.

Kuliah

Masa awal kuliah saat belum hijrah pun sama! tukang ngeceng!
Saat sudah hijrah? sama! Bedanya kali ini haluan kecengan saya berubah, kali ini saya tertarik dengan lelaki yang sering disebut ikhwan. Itu tuuh ikhwan itu yang sering gaul di masjid, terkadang jidat mereka berwarna hitam, dan saat berpandangan dengan perempuan, suka nunduk nunduk gitu deh :p

Saya takjub! saat saya memasuki dunia ikhwan, saya banyaaaak menemukan ikhwan ikhwan ajaib.

“Looh…ada toh laki laki yang tukang ngapalin qur’an”

“Ya ampuuun… ini ngapain sih nunduk nunduk kalau ngomong sama saya”

“Iiih… ada juga jenis ikhwan yang konyol, kirain tukang ibadah doank!”

“Ya ampuuun itu kalau ngomong jago banget”

Dan ikhwan ikhwan ajaib lainnya yang tak bisa saya sebutkan satu per satu. Entah dari mana mulanya, saya yang memang ga galak galak amat sama ikhwan pun bergaul dengan mereka ya biasa biasa aja. Akan tetapi… ternyata… Syeitan pun bermain di sana! OMG! Yaiyalaaah, wong ikhwan juga manusia dan saya pun manusia. Apalagi ditambah jiwa yang baru banget ’lahir’ ini.

Beberapa orang ikhwan pun terkena sasaran tembak saya, maksudnya, saya suka sama mereka! Mereka? iya! banyak. Sampai suatu ketika saya bilang pada Irma sahabat saya. Maim diantara a, b, c siapa yang paling cocok sama Muti? kira kira.siapa yang jadi suami Muti? qiqiqiqiq. Dan ketika masa masa itu pun saya galau pengen nikah, bukan apa apa, saya ceritanya ingin menjaga hati saya sendiri. Tapi ajuan saya ditolak oleh orang tua saya, dan saya pun disibukkan oleh kuliah saya. Ketika itu, semester 3, tahun 2007.

“Proposal? ketemu sama jodoh lewat proposal yang kita pun ga tahu siapa orangnya? ih males banget! ga mau deh saya pake cara kaya gitu!”

Karena saya berkeyakinan, jodoh saya adalah orang yang aktivitasnya dekat dengan saya. Sampai kemudian beberapa peristiwa terjadi.

“Muth… kayaknya kamu terlalu dekat dengan si a deh” Ucap teteh pembina menasehati. Saya telan mentah mentah, tidak saya terima tidak saya tolak.

“Ada 4 tingkatan perangkap Syeitan dalam menjerumuskan manusia, perangkap itu bisa berupa perangkap cinta..bla..bla..bla…(saya tulis di blog dengan judul Perangkap Syetan Itu Bernama Cinta)” Ucap Ustad Hervi saat memberi kajian.

saya mulai berpikir…

“Tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan hal hal yang tak bermanfaat baginya” Ucap kang Abdur yang saat itu mengisi kajian hadist, yang membuat hati ini, jleb.

saya pun tersindir…

“Hai laki laki… kalau sudah siap, menikahlah! kalau belum siap tinggalkanlah! tak ada pilihan diantaranya! be gentle!” Ucap ustad Darlis saat mengisi acara di masjid Salman.

ooo…gitu ya harusnya laki laki itu bersikap

“Muuth… jodoh itu misteri. Kita fokus pada perbaikan diri kita saja. Jodoh kita yang entah siapa dan entah dimana pun sama sedang memperbaiki diri. Kelak Allah akan mempertemukannya dengan cara yang tak diduga duga” Ucap teteh mentor saya.

baiklah… sepertinya saya mulai paham

“Tahu ga? kalau perempuan sudah membuka satu pintu hatinya, maka pintu pintu lain akan terbuka, kuncinya ada di kita” Ucapnya lagi di lain kesempatan.

oke…saya harus memegang kuncinya

“Tahu ga, kalau cinta itu suci, saking sucinya, maka gausah  diumbar kemana mana” Ucap teh Syifa.

Nasihat nasihat itu saya dapatkan dalam waktu yang hampir bersamaan, awal tahun 2008 s.d pertengahan 2008. Sampai akhirnya saya memutuskan, oke, saya harus bersikap! Tapi bagimana? ada beberapa nama yang masih tersimpan di hati. Ya, saya tak menyalahkan rasa, karena itu pemberian dari Allah.

Ada seorang lelaki yang terus ’mengejar’ saya, mungkin karena sebelumnya pun saya terlalu membuka hati saya. Ada seorang kakak yang begitu perhatiannya dengan saya, setiap akhir semester dia selalu menanyakan perihal akademik saya. Ada seorang laki laki yang sangat baik, tapi memang tidak hanya tertuju kepada saya, dan saya bisa membacanya, bahwa ia menyukai sahabat saya.

Saya pun selesaikan satu persatu permasalahan, tapi tidak dalam satu waktu, dimulai dari perasaan terdangkal s.d terdalam *halah*

Saya akhirnya menguatkan diri dan tegas untuk berkata ’jangan sms lagi’ pada dia yang sering mengsms aneh pada saya.

Saya akhirnya menguatkan diri untuk meminta bantuan Sahabat untuk mengonfirmasi apa sebenarnya perasaan beliau saat ini terhadap saya. Saat itu dia sudah lulus, dan sudah mulai jarang berinteraksi. Ya, dia mengakui, dan dia tersadar bahwa dia belum siap menikah. Oke. Saya korban PHP kalau gitu :p

Saya pun akhirnya menguatkan diri, untuk berkata bahwa ’saya tidak nyaman dengan keramahannya’, saya ’melepaskan’ ia karena takut rasa harap ini semakin besar, dan lambat sadar bahwa diri ini sebenarnya sedang di PHPi. :p
Tsaah sinetron banget sih Muth.

Saya pun terbebas dari mereka! Tapi sungguh, perasaan yang dirasa tak semudah saya menuliskan kata kata.

Saya pun, dengan Bismillah, saya mengajukan proposal kepada teteh mentor saya, untuk meminta dicarikan seorang ikhwan, lelaki, yang gimana kata Allah aja deh sekarang mah.

Beberapa Bulan Kemudian…

Saat saya sudah melepaskan segala perasaan, dan akhirnya tegas pada diri sendiri, tiba tiba ujian datang dari masa lalu saya yang memberikan ’kode ta’aruf’. Saya pun jadi ketakutan! Kali ini saya tak bisa mempercayai perasaan saya sendiri. Saya bilang ke teteh mentor saya bahwa saya takut, dan entah apa yang dilakukan mentor saya. Beberapa hari kemudian saya pun menerima sebuah proposal ikhwan, yang kini menjadi suami saya.

Saat saya bertemu dengan lelaki itu, lelaki yang pertama kali jumpa di gerbang pintu rumah kayu, InsyaAllah… saya sudah membebaskan diri dari perasaan perasaan yang membelenggu jiwa.

Dalam ketidaktahuan tentang perasaan hari esok, apakah rasa cinta saya akan bertambah?

Dalam ketakutan akan perasaan cinta hari esok, apakah saya bisa mencintai seseorang yang baru kukenal?

Dalam kepasrahan saya mengenai janji Allah yang berkata bahwa akan ada kebaikan kebaikan lain…

Dalam harapan saya mengenai terbangunnya sebuah keluarga yang kokoh berlandaskan ruhiyah tinggi

Saya pun mengembalikan semua.urusan kepada Allah. Karena memang saya serba tak mengetahui masa depan saya.

********
Kemarin, via Telepon

“Ayah…ayah udah lulus belum.ujian cintanya?”

“Maksudnya gimana Mi?”

“Ya…lulus… jadi udah selesai gitu, urusan suka sukaannya sama lawan jenis”

“Ya…kan gaada kata lulus atuh Mi yang kaya gini mah, bisa aja nanti Ayah diuji. Lulus mah nanti kalau sudah meninggal”

“Ooh…gitu ya….hmmm…maksudnya teh apakah Ayah tetap menjaga diri Ayah dari hal hal yang dapat menjaga pintu syeitan masuk, kaya tetap tidak berkhalwat (berduaan dengan lawan jenis) menjaga pandangan, yang kaya gitu Yah”

“Yaaa… itu mah kondisional atuh Mi, kan yang kaya gitu mah naik turun, seperti halnya keimanan”

“Hmmm…hmmm… intinya… Ummi teh pengen bilang ’Ummi takut Ayah berpaling dari Ummi’ udah gitu aja”

Tak kuat melanjutkan kata kata, hanya mendengarkan ia yang membesarkan hati ini.

Ia yang semula tak kukenal siapa, ia yang semula sungguh tak bisa kutebak apa perasaannya. Kini semakin bertambah kecintaanku kepadanya, kini semakin bertambah rasa sayangku kepadanya.

Rasa ketakutan akan kehilangan sikap baiknya, rasa ketakutan akan kehilangan kesabarannya, rasa ketakutan akan kehilangan partner diskusi yang baik, rasa ketakutan kehilangan seorang kakak yang bijaksana, rasa ketakutan kehilangan ’rem’ laju rodaku, rasa ketakutan kehilangan Ayah yang sangat baik dalam memperlakukan istri dan anak anaknya. Sangaaat baik.

Rabb, dia adalah milikMu. Kuserahkan segala urusanku kepadaMu.

Mengajarkan Sabar

Standar

Sejak Bayi Merah

Mengajarkan sabar pada anak sudah bisa dimulai sejak baru banget keluar dari rahim kita loh Bu…!

Layaknya danau, ada yang alami dan ada yang buatan. Mengajarkan sabar pada anak bisa dengan cara alami dan buatan.

Alami maksudnya, tidak dibuat buat si ibu. Contohnya adalah ketika sang anak mulai menyusui PD kita. Saat anak menyusui, anak membutuhkan waktu sampai dengan air susu tersebut keluar kan? nah! itulah pelajaran sabar pertamanya! Keren ya, Allah itu :) Saya jadi ingin tahu nih penelitian tentang Pengaruh Perbedaan Ukuran Lubang Dot Botol Terhadap Tingkat Kesabaran Bayi *eaaapentingpisan*.

Eiiits. Tapi jangan salah, ada durasinya. Setidaknya peristiwa keluarnya air susu saat dihisap mengajarkan durasi waktu dalam memenuhi permintaan anak. Tidak terlalu lama dan tidak terlalu sebentar.

Apa akibatnya bila terlalu cepat? maka ia akan belajar tergesa gesa, ga sabaran!. Kelak ia akan selalu meminta disegerakan dalam memenuhi segala kebutuhannya.

Begitupun saat merespon terlalu lama, anak akan merasa lingkungannya tak bisa ia percayai, padahal modal trust ini suangaaat dibutuhkan untuk perkembangan (terutama sosio emosional) di tahap selanjutnya.

Parameternya apa nih? cepat lambat kan relatif. Parameternya, pake feeling :p Pokoknya, saat anak menangis sedangkan kita sedang mengerjakan sesuatu (misalnya lagi goreng ayam), ya selesaikan dulu saja goreng ayam HANYA untuk satu sesi menggoreng ketika itu saja. Seraya mengkonfirmasi “Dek…bentar Bunda goreng ayam dulu”. Jangan sampai ada improvisasi tambahan “Bentar ya Dek, udah goreng mau ngulek sambel dulu, terus ngumbah wadah dulu, meni pedi dulu dll dll”hehe.

Durasi Doa

Saat kemarin saya dengan semangat membara hendak mengantar Aidan sekolah, Aidan terjatuh! saking melihat aura semangatnya saya, dia pun jadi semangat, dan tanpa sadar tergesa gesa.

Seketika saya berpikir, “sign apa nih?” (BTW sekarang saya lagi hobi ngebaca alam :p, tiap ada kejadian, lantas saya berpikir.’maksud Allah apa ya? Allah ingin saya ngapain ya?’ hehe)

Nah. Lanjut. Oalaah… saya lupa berdoa toh. Lantas berpikir, islam mengatur dengan sedemikian Indahnya mengenai adab doa sebelum melakukan sesuatu itu pasti ada maksudnya.

Ya! Ya! Salah satunya adalah mengajarkan kita untuk tak tergesa gesa.

“Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa….” (QS. al-Anbiya': 37)

Tentunya selain itu, Allah ingin kita selalu mengingatNya, dimanapun dan kapanpun saat melakukan aktivitas.

Durasi doa bisa juga tuh dijadikan parameter sebelum anak melakukan sesuatu.

“Aidan pengen banget ya Es krimnya?”
“Iya… cepetan buka Ummi!” – ga sabaran ceritanya
“Boleh… niih lihat Eskrimnya enaaak banget”
“Siniin mi.. siniin…” – udah mupeng banget plus ngacai
“Kita berdoa dulu ya…” – ajak anak sampai tenang, dan berdoa.

“Hayu… Mi… cepetaaan!! kita main sepedaa ke lapangan!!”
“Hayu…kemon, Aanya sini dulu”
“Cepetan Mii…”
“Sini dulu bageur, kita berdoa dulu”

Minimal dengan berdoa, walaupun anak belum mengetahui artinya, tapi pembiasaan itu ternyata bisa digunakan untuk melatih anak sabar/tidak tergesa gesa.

Sabar Berbagi

Ide selanjutnya adalah mengajarkan sabar dengan cara berbagi.

Kita setting sebuah keadaan dimana sesuatu yang anak inginkan sengaja kita batasi. Misalnya, dulu pernah saat Aidan meminta dibuatkan teh manis, saya bilang;

“A… buatnya satu gelas aja ya, gelasnya besar”
“Oke”
“Tapi kalau Dede minta kasih ya?”

Kalau menolak, beri penjelasan bahwa kita sedang akan belajar berbagi. Kalau keukeuh ga mau, ya udah saya pun keukeuh juga tak akan membuatkan :p. Nah, selanjutnya biarkan dia (si kakak) yang mengatur timing bergantiannya.

“Aidan dulu ya De… Nih, sekarang Dede eun”

Biasanya jadi adiknya yang ga mau gantian >.< Kalau udah gitu waktunya Emak turun tangan.

"Berbagi bageur, sok kasih Aanya, gantian yaa"

Saat sadar bahwa setting ini menguntungkan kedua belah pihak, lama lama mereka akan enjoy melakukan permainan berbagi ini. Dan hidung Emak pun kembang kempis kembang kempis karena bangga melihat mereka berdua akur :p whehehehe.

Sabar Mengungkapkan Maksud

Sebesar Aisha (21m) lagi masa masanya pengen tahu banyak, menginginkan banyak hal, eksplor banyak hal akan tetapi kemampuan KOMUNIKASI VERBALNYA masih tahap beginner banget. Biasanya dia mengekspresikannya dengan rengekan.

Nah. Sebelum memasuki ke fase tantrum yang semakin dahsyat. Kita bisa loh meminimalisir kedahsyatannya dengan cara membiasakan dia untuk mengungkapkan maksudnya. Misalnya nih ya, kita sebenarnya sudah menangkap bahasa tubuh anak bahwa anak tersebut ingin nenen. Lantas kemudian kita tanya dulu:

“De, mau nenen?”
“Iya”
“Sok bilang dulu ’miii nenen’”

Dan dia pun menirunya. Kalau ini terus dibiasakan maka saat kita menangkap sinyal ’rengekan nenen’. Kita cukup bilang:

“De mau nenen? sok bilangnya gimana?”

Cara ini tak hanya berlaku untuk perihal ’nenen’ saja. Saat kita menangkap bahasa tubuh anak berupa rengekan minta digendong, rengekan minta main keluar, rengekan minta dibacakan buku, rengekan bosan, rengekan mainannya terjatuh rengekan apapun. Stepnya:

1.Konfirmasi perasaan/keinginannya: “Kenapa sayang? mainannya jatuh?”
2.Contohkan untuk mengungkapkannya secara verbal sesuai dengan kemampuan berbahasanya saat itu “Sok, bilang ’Mi tolong Ambil’”
3.Apresiasi saat dia bisa membahasakan dengan baik “Bisa ya, Aisha bisa bilang baik baik? pintaar”

Cara ini pun biasanya saya pakai untuk Aidan (4.5y). Karena tantrumnya Aidan levelnya dahsyat, maka saat saya tak bisa mengonfirmasi perasaannya saya akan tunggu ia sampai tenang (baca selengkapnya: tentang time out))

Penting dan sering terlupakan :p

Ialah kita sebagai orang tua yang harus duluan sabar. Karena mendidik anak adalah seperti mendidik diri sendiri, setuju?

Dengan melihat cara kita yang tetep cool saat menghadapi masalah, disitulah anak juga akan belajar untuk cool. Buat saya juga masih PR nih, terutama untuk Aidan, karena kata teori kalau komunikasi sejak awal lancar jaya dengan minim emosi marah maka usia 4 tahun anak sudah bisa mengungkapkan keinginannya dengan bahasa yang baik. Berhubung dulu saya memulai ketidaksabaran dengan Aidan sejak ia usia 1 tahun, dimana saya sering galak sama doi kalau doi lagi GTM, jadinyaaa sampai sekarang Aidan belum lulus nih tantrumnya. T.T.

Saat ini saya sedang melangkah selangkah dua langkah untuk menyabarkan diri ini, agar kelak aura sabarnya bisa menular.

Oia satu lagi, memburuburui anak untuk melakukan sesuatu juga bisa jadi salah satu faktor anak jadi kurang sabar loh. Misalnya memburuburui anak saat aktivitas makan, mandi, jalan “cepet…cepetaan”. Nanti dia akan bingung, yang mana yang harus ia kerjakan dengan cepat, yang mana yang harus ia tahan untuk bersabar. Khusus untuk membuat anak gesit tanpa merasa diburuburui juga ada settingannya sendiri. Untuk ini belum banyak yang bisa dibagi :p karena masih belum banyak progressnya. Hehe.
Tapi kata kuncinya ada di pengaturan waktu dan pemahaman mengenai konsekuensi dari gerakan lambatnya, tanpa ada kalimat memburu burui terucap dari mulut kita.

Sekian sharingnya, mudah mudahan bermanfaat :)

Belajar dari Salman

Standar

Tembok bawah atap Salman yang warna warni,  mengajarkan mengenai arti dibangunnya sebuah misi peradaban di tengah keberanekaragaman Umat Islam.

Sampai suatu saat saya lupa, saya shock mendengar salah satu aktivis liberal menjadi salah satu pembicara di sana. Tombol reaktif saya pun langsung ON dan meminta klarifikasi dari teh Arry yang ketika itu masih aktif di Salman.

“Kaya ga tahu Salman aja Muth”

Sejenak berpikir, dan akhirnya saya memahaminya. Salman memang sebuah masjid yang terbuka untuk golongan mana saja, tapi bukan berarti Salman tidak punya sikap. Hanya saja, sikap Salman diejahwantahkan ke dalam bentuk ’diskusi intelektual’. Bukan berupa twitwar yang tak berujung.

Oke. Oke saya paham.

Pola pikir Salman ini, menjadikan saya sebegitu terbukanya dengan aliran aliran mana saja. Tarbiyah, HTI, Salafi, Persis, dll, dll. Saya tak pernah menolak gagasan mereka, adapun ketika saya bertanya tentang suatu hal, itu adalah dalam rangka pencarian saya terhadap sebuah jamaah yang paling cocok dengan pola pikir saya. Dan sejujurnya, saya belum menemukannya :p. Ada satu titik dimana batin ini menolak.

Apa akibat dari keterbukaan ini? sensor kritis saya menyala!

Saat ada taklimat taklimat, saat ada oknum yang menjelek jelekan oknum jamaah lainnya, saat ada oknum yang sibuk mencari celah jamaah lain, serasa ada sensor tubuh yang menyala.

“Halooo… masih usum ya, jelek jelekin jamaah lain? sayang energinya masbro! mending dipakai untuk menyelesaikan masalah yang sebenarnya bisa diselesaikan bersama. Masalah yang SAMA lebih buanyaaaaak dibandingkan dengan PERBEDAAN yang hanya seujung tahi kuku”.

Saking seringnya saya kritis, sampai suami saya bilang “Ummi… ga takut apa dimusuhin sama yang lain?”. Hihihi.

Saya mah woles aja sih, paling banter juga saya tidak dilibatkan dalam syuro di dalam syuro atau kelompok saya mandeg di kelompok ajep ajep yang sefrekuensi sama saya. Its oke, ga masalah. Yang penting saya sudah mengupayakan diri untuk tidak taklid buta terhadap sebuah keputusan.

Yang saya ingat selalu nasihat dari teteh mentor saya yang sekarang:

“Tidak ada yang salah dengan dakwah ini, dakwah tidak pernah salah. Adapun saat menjalankannya ada kekeliruan kekeliruan, bukan salah dakwah! Dan teteh mah selalu berdoa, mudah mudahan Allah sendiri yang menunjukan pada teteh saat ada seseorang yang ’menyimpang’ dalam dakwah. Kalau kita tak bisa ’menggapainya’, biarlah Allah sendiri yang akan menyeleksi mana orang orang yang masih tulus berdakwah”

Aamiin teh. Dan saya pun berdoa semoga saya dipertemukan dengan orang orang yang tulus membangun peradaban dari ’akar’nya, bukan karena ada embel embel menjelang pemilu, bukan karena ada embel embel ’tegakkah khilafah’.

Karena IMO, kemenangan Dakwah itu sebuah keniscayaan, saat ’akar-akar’ kembali kepada fitrahnya, fitrah menghamba pada sang Khalik. Fitrah meniadakan Tuhan selain Allah. Fitrah melepaskn diri dari thagut thagut yang membelenggu.

Tunjukkan jalannya Rabb.

Lagu Si Kancil! Ga banget!

Standar

Tetiba terdengar lagu si kancil anak nakal dari mang odong odong di sebrang jalan..

Bila pemirsa belum tahu gimana liriknya…begini nih

“Si Kancil Anak Nakal Suka Mencuri Ketimun, ayo lekas dikurung, jangan diberi ampun…”

Selintas bagus ya liriknya, mengandung pesan moral jangan mencuri

Tapi coba amati lebih jauh, ada yang ga pas nih kayaknya…

Pertama, kata kata Nakal! Kenapa ga bagus? karena setuju doonk gaada kan orang yang mau dicap jelek apalagi anak kecil yang unyu unyu yang wiring saraf di otaknya aja blm terjalin kuat atas sebuah nilai, bo ya masih belajar gitu loh.

Melabeli anak dg sesuatu yang buruk, maka tinggal menunggu waktu saja, anak tsb akan menjadi apa yang dilabeli. Kamu mah Nakal! Baong! Ga cantik! Bodoh! Pemalas! Pemalu! Ga PDan! Alay! de el el de el el.

Kebayang donk kalau yang denger segede Aidan yang otaknya masih kayak spons banget, pastinya akan menjadi sebuah wiring di otak bahwa nyebut nyebutin orang pakai kata kata ga bagus, ngejek ngejek orang itu boleh.

Nah, buat kita kita yang udah pada gede tapi masih suka ngejek, Bajingan! Brengsek! Tolol! mari tarik garis ke belakang, jangan jangan lagu ini turut memengaruhi.

Terus, yang kedua kalimat “suka mencuri ketimun”. Setidaknya ada 2 hal yang menjadi catatan saya. Pertama, mengajarkan perilaku suudzon. Memang sudah pasti si kancil mengambil ketimun untuk mencuri? Bisa saja dia belum tahu bahwa yang dilakukannya adalah tindakan yang salah. Atau bisa saja si kancil salah mengambil barang belanjaan ketimunnya. Atau bisa saja itu memang ketimunnya yang diam diam ia tanam.

Kedua, adalah perilaku mengeneralisir. Karena di lagu tersebut tidak ada kata-kata ’oknum’, atau Toni si kancil, maka anak akan menganggap semua kancil suka mencuri. Nah loh, cek cek diri, jangan jangan kita salah satu korban lagu itu :p

Kalimat selanjutnya datang dari kalimat “ayo lekas dikurung”. Tentang hukuman. Bagus sih, kalau yang dengar orang dewasa yang sudah mengerti konsekuensi akan sebuah perilaku. Lha ini wong cilik, dia masih harus sering salah! untuk kemudian kita luruskan perilakunya.

Jangan-jangan lagu ini pun turut menyumbang perilaku ’mengancam’ dari orang tua.
Ayo looh…ta kurung looh kalau ga makan”. Makan sama dikurung ga ada nyambung nyambungnya masbro! Kalau ga makan ya nanti sakit, kalau ga makan ya nanti ga ada tenaganya. Gitu lokh!

Kalimat terakhir “jangan diberi ampun”. Buseeet ini lagu ngajarin buat siapa sih sebenernya… Heuheu. Jadi nepsong sayah! Kesian banget yak! kalau gara gara ini fitrah pemaafnya anak kecil jadi ternodai *tsah*.

“Aku takkan mengampunimu Ummi, karena Ummi ga bolehin aku nonton sponge bob!”

Aih, jangan sampai deh. Na’udzubillahimindzalik.

Lagu ini oke banget, buat orang dewasa yang penalarannya sudah canggih! buat anak kecil? engga deh kayaknya. Mendingan lagu dudidudidam dam dudidudidam deh!

Yuk ya yuu…

Sekian cuap cuapnya. Cheers!

Hijrah Me Time *halah*

Standar

Me Time sayaaah… membaik seiring membaiknya juga pengelolaan Emosi saya.

Tergelitik membaca soal Me Time di Kompasiana, jadi gatel deh ingin nulis juga tentang ini. Bacaan selengkapnya yang saya baca ada disini. So, far setuju dengan yang ada di artikel tersebut. Sekarang saya ingin mengambil dari sudut pandang saya.

Me Time bagi saya adalah waktu dimana otak bisa direfresh dari kejumudan kejumudan rutinitas dalam mengarungi samudera kehidupan *tsah*. Saat saya belum bisa menikmati semua pekerjaan Rumah Tangga dan amanah sebagai ibu, percayalah! percayalah! Bahwa Me Time ini sangat dibutuhkan! Untuk apa? Untuk menjaga diri ini agar tetap berada pada jalur kewarasan.

Berbagai Me Time pernah saya coba, mulai dari ’lari dari masalah’ karena melihat tumpukan piring yang buaaanyak, pakaian yang belum dijemur, magic com yang belum direndam, plus perut kukurubukan karena belum makan. Saya pun lari dari masalah! Tidur! Ga mood! Anak anak diurus seadanya! Sono sono! Jangan ganggu! Ummi sedang masuk dalam gua hibernasi :p

Atau pernah juga saya mencoba untuk internetan sepanjang waktu, sampai pusing! dan mual! Suami saya yang cool sangat mengerti keadaan saya, sama sekali beliau tak pernah mengeluh atas ketidakberesan saya dalam mengerjakan Pekerjaan Rumah Tangga.

Kemudian pernah juga saya membelanjakan uang belanja dengan jajanan jajanan yang saya sukai sewaktu saya pundung sama suami *noh, ga nyambung kan*, Keripik karuhun, coklat, chitato, dll, dll.

Me Time paling sering sih FBan di sel sela rutinitas. Kemudian Me time mingguan keluar rumah dan mengikuti liqoan pekanan. Kalau yang ini Me Time nya masih mangpaat dan wajar lha ya.

Sesudah negara api menyerang (negara api) , akhirnya saya bisa lebih pandai mengelola emosi. Saya release emosi sebelum waktu subuh tiba, dan saya melakukan terapi Diam, lebih banyak membaca sekitar. Apa akibatnya? akibatnya Allah memberikan ’sign’nya pada saya untuk keras pada diri sendiri dalam mengatur hidup saya. Keras disini bukan berarti memaksa diri, sampai kepala cenut cenut ya, pan udah di release dulu sampai emosi negatifnya hilang. Keras disini dalam artian, saya ingin menggunakan setiap detik waktu kehidupan menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Efek release ternyata luar biasa!! Saya bisa jadi lebih nerimo atas apa yang terjadi dalam hidup saya, ga ada beban sama sekali dalam menjalankan semua aktivitas RT.

Cinta itu giving giving giving giving…

Itu salah satu efek yang saya rasakan.

Kuncinya ada di release itu tadi. Berdoa yang panjaaaaaaaaaaaaaaaaaaang sepanjang kita ingin mengeluhkan tentang sesuatu. Berdoa yang detiiiiiiiiiiiiiiiiiiil sekali.

Dan diam. Diam untuk mentafakuri setiap rencanaNya, diam untuk mentafakuri nikmatNya, diam untuk mencoba memahami terlebih dahulu. Ya, Diam.

Kembali ke Me Time. Saat sudah menjalankan dua terapi tsb, Doa dan Diam. Ternyata dengan sendirinya Allah menunjukkan Me Time terbaik untuk saya, untuk saat ini. Yaitu, dengan menulis!

Ada juga ibu yang menjadikan shalatnya sebagai me time, membaca qurannya sebagai me time, menghapal qurannya sebagai me time. Berarti saat melakukan itu semua ibu tsb sudah sangat khidmad kan ya?

Dia bisa segar kembali karena shalatnya, dia bisa segar kembali karena tilawahnya, dia bisa segar kembali karena hapalan qur’annya.

Ah! luar biasa ibu ibu seperti itu. Bila kita belum bisa seperti itu? Yauwes, ga masalah. Kita yang bisa mengukur diri kita sendiri. Sudah berada di titik mana kita saat ini? Dan ingin melangkah ke titik mana kita?

Karena transformasi diri tak pernah berakhir! never!