Asumsi Oh Asumsi

Hati-hati dengan Asumsi. Asumsi yang dapat menggiring seseorang berpikiran sama dengan si pembawa asumsi, sehingga seolah-olah itu adalah fakta yang terjadi, bukankah itu juga bisa menjadi fitnah? Terlebih bila ternyata asumsinya salah. Maka memang sikap yang paling baik adalah sikap mendengarkan klarifikasi dari dua sudut pandang, sebelum menyebarkan asumsi pribadi.

Kalau tidak ada niatan untuk mengklarifikasi? Ya cukuplah asumsinya disimpan di dalam hati, dan berdoa meminta ditunjukkan yang benar itu benar dan yang salah itu salah.

Kalau asumsi dibawa untuk forum diskusi? Harus ditanya kembali niatnya apa dan goalnya mau sampai mana? Hanya sekedar menumpahkan unek unek, mengumpulkan kawan yang berasumsi sama, atau sampai tahap mencari solusi bersama?.

Ah, tapi da saya juga pernah kaya gitu. Mendengarkan cerita kawan, mengeluarkan asumsi pribadi, tanpa mengklarifikasi ke pihak bersangkutan-Alhamdulillahnya tidak sampai menggiring opini ke khalayak ramai, menggalang kekuatan untuk memperkuat asumsi pribadi saya.

Mudah-mudahan catatan kecil ini menjadi pengingat untuk saya pribadi, agar bersikap lebih hati-hati dalam bersikap.

Letter For My Lil Brother

Hai Dek… ingin rasanya mengembalikan waktu ke masa lalu. Masa dimana aku, tetehmu ini, menganggapmu sebagai anak kecil, lucu, dan saaaangaaat menggemaskan.

Masa Kecilmu…

Berlarian ke sawah adalah Hobimu, sampai sandalmu terjerembab ke dalam lumpur di sawah dan berujar.

Teteh Tia, Teteh Tia, sandalku masuk lumpur mi’ ucapmu yang ketika itu pulang menggunakan sebelah sandal.

Akupun mengambilnya, dan memandikanmu yang ketika itu penuh dengan lumpur.

Pernah juga kita bertengkar-tepatnya, aku yang marah, gara-gara kau menghabiskan mie Ayam kepunyaanku. Kubanting piring itu, lalu masuk kamar.

Masa remaja mu…

Gramedia adalah toko buku favoritmu, disana kau betah berlama-lama membaca. Kau pun tertarik dengan buku-buku tentang Dajjal, dan sebangsanya. Pernah juga kuberikan buku karangan Salim A Fillah kepadamu-dengan menyimpan harapan dalam hati, mudah-mudahan kau tumbuh menjadi pemuda dengan karakter yang kuat, karakter pemuda Islam.

Kita pun sering berdiskusi tentang apa yang akan kau lakukan kelak, mimpi-mimpimu, dan cinta yang saat ini sedang kau jelajahi😀.

Rindu, sesungguhnya tetehmu ini sangat rindu mengobrol apa saja denganmu, mendengarkan segala pemikiran-pemikiranmu, dan mengamati cara pandangmu.

Kapan kau akan mengobrol kembali disini Dek?

Sering juga ku mengirimkan surat surat tanda cinta, walaupun seringnya tak berbalas :”).

Sampai tiba masa itu, masa dimana kita semua sama-sama kehilangannya. Kehilangan orang yang sama-sama sering mengeluarkan nasihat kepada kita.

Teteh yakin, segala petuahnya-sudah kau pahami dengan baik, segala keinginannya, sudah kau pahami dengan baik.

Bila belum?

Sesungguhnya harapannya, sudah tertulis jelas dalam namamu…

Menjadi manusia yang kalbunya selamat.

Doa, tetehpun di hari ini, mudah-mudahan Allah senantiasa menyelamatkan kalbumu. Menyelamatkan hatimu dari keputusasaan. Menyelamatkan hatimu dari dunia yang melenakan.

Ah, dunia yang melenakan. Ini adalah pesannya untukku, dan kurasa ini adalah pesan yang sama untuk anak-anaknya.

Semoga engkau adalah insan yang dicelup Allah. Disishkan, disembunyikan dari hingar bingarnya dunia yang gemerlapan namun menyesatkan.

Begitu pesannya. Mudah-mudahan Allah mampukan kita ya Dek, untuk menjadi seseorang yang dia inginkan.

Barakallah fii Umriik… my lil brother…

Amazing Six Part.1

Gustiiii… tarik napaaas hembuskaaan.

Rasanya hampir lupa kapan terakhir kali saya marah sampai bentak-bentakin anak. Sampai tiba hari ini. Keseeel gustiii. Halnya sih simpel, dia ga mau mandi gara-gara takut Hantu. Memang dari kemarin dia nanya-nanya terus tentang hantu, dan saya bilang hantu itu gaada, yang ada makhluk Allah yang bernama jin. Dia suka menyerupai makhluk sesuai yang manusia takutkan.

‘Ada tahu Mi, hantu teh, dia bisa nembus ke badan’

‘Dia juga bisa masuk ke panci, ke air’

Saya coba biasa-biasa aja awalnya, ngejelasin se lempeng mungkin, tanpa ada tendensius apapun.

Dan berusaha mengajaknya berpikir.

Gimana caranya tembus ke panci?’

‘Terus pancinya jadi gimana?’

Dan menjelaskan berulang-ulang tentang Jin Jin Jin, yang memang terdapat golongan Jin yang suka meng-usil-i manusia.

Hasilnya?

Tetap ga ngaruh.

Dia rela untuk kehausan untuk tidak mengambil minum di dapur, karena takut hantu.

Dia rela untuk menahan pipisnya, karena takut hantu.

Selidik punya selidik, kawan sepermainannya lah yang menjadi inspirasi tingkah nya kali ini. DITAMBAH permainan Games hantu yang ia tonton di rumah kawannya. Saat dia menceritakan gamesnya sih nampaknya biasa-biasa saja, hanya sekedar main tembak- menembak hantu. TAPI ternyata efeknya luar biasa.

Ada tahu Mi, di China juga ada hantunya’

Puncaknya adalah pagi tadi saat dia disuruh mandi.

Ada Hantu di Kamar mandi…’ Ucapnya.

Ketika itu saya langsung reaktif, entah karena saya yang sangaaaaat kecewa, ini adalah kemunduran yang luar biasa atas perilakunya, atau memang sayanya aja yang lagi ga siap menghadapi kejadian itu.

Dia pun akhirnya mau mandi setelah saya mengeluarkan desibel yang tinggi. Seketika langsung berpikir.

Jangan-jangan saya lebih menakutkan dari hantu kalau marah’ 

:))

Dan ketika saya merenungi kembali. Buat apa saya marah? Justru ini waktu yang tepat untuk menanamkan akidah pada anak.

Iya sih, dia berdoa-sambil nangis- waktu saya bilang.

Sekarang, kalau Aa takut, berdoa sama Allah supaya menghilangkan ketakutan! ADA Allah! Ada Allah! Ada Allah yang Maha Menghilangkan Ketakutan. ALLAH yang menjaga Aa’

Tapi ngomongnya sambil teriak-teriak tea, da masih kebawa-bawa sama impulsif marah-marah di awal. APA iya dia ngerti dengan yang saya ucapkan sementara, pikiran, perasaannya masih ketakutan? AH. Maaf ya My Sonshine. Umminya ga paham perasaanmu.

Dan dia pun mandi. Secepat kilat menyambar!

**

So, untuk ibu-ibu yang mengalami hal serupa, ini pelajaran yang bisa saya ambil.

1. Tenanglah Saat Anak Membawa ‘Oleh-oleh’ dari Luar

Sangat mungkin, saaaaaangaaat mungkin anak kita membawa ‘hadiah’ dari luar rumah. Nampaknya saya terlalu ketakutan, ketakutan dicap sebagai ibu yang tidak baik saat teringat ucapan Abah Ihsan ‘Kalau anak terpengaruh lingkungan, itu karena kita ga bisa memberikan pengaruh yang lebih besar pada anak’.

Dan lupa pada prosesnya pasti akan selalu bertemu dengan hal Ajaib, semacam perkataan dari luar yang anak saya bawa ke dalam.

‘Ai Sia!’

‘Geblek!’

‘Andai! (semacam kata ‘anjoy’)

‘Gelo’

‘Mi… Mi… Mi… *manggil* Hasyeum!’

Gustiiii… cobaan ini sungguh membuat saya ingin kayang.

Dan apakah saya patut menyalahi diri sendiri sebagai orang tua yang gagal saat anak saya bertingkah laku ajaib gitu? Mungkin iya, tapi saya memilih tidak.

Bagaimana anak tahu kata-kata itu tidak baik sebelum kita memberi tahunya?

Ga mungkin juga kan kita pidato di hadapan anak…

Nak… Nak… ini loh kata-kata yang kurang baik itu; A, B, C, D. Hapalkan ya Nak, nanti di tes sama Ummi’

Yakali, memangnya anak kita robot yang bisa diinput data?

Memang siih, preventif selalu menjadi solusi terbaik, ga mungkin juga kan anak nyoba narkoba dulu baru kita bilang bahwa itu bisa menyebabkan a b c, anak lihat pornografi baru setelahnya kita bilang bahwa itu merusak otak. Tapi atuhlaaah da ‘racun’ di lingkungan luar teh banyak😦. Jadi, menurut saya wajar apabila ikhtiar preventif kita ‘kecolongan’dengan hal-hal yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Dalam cerita ini contohnya, bab Hantu dan bab berkata yang ajaib.

So, catatan untuk saya pribadi khususnya bila menjumpai hal sejenis… adalah… tarik napaaaas panjaaaang, dan diam. Mikir dulu Muth! Mikir! Kalau belum tahu harus bersikap seperti apa izin wudhu dan shalat lantas berdoa yang panjaaang sambil mikir kata apa yang harus keluar dari lisan ini. Heu. Saya tahu pada praktiknya susah, makanya saya tulis, biar jadi mindset, catatan di otak.

Setelah tenang, barulah mengajaknya berdiskusi.

Tentang Hantu ini akhirnya saya ulangi lagi hal tentang jenis-jenis makhluk Allah, dan bagaimana karakternya, serta apa hubungannya dengan Hantu. Hasilnya?

‘Mi, aku berani ambil minum sendiri’

Bagooos. Usaha yang patut diapresiasi. Harus itu A! Itu keahlianmu sejak umur 2 tahun, jangan mundur donk ah!
Udah baru itu aja yang kelihatan, bab mandi sendiri, ditinggal di rumah sendiri-nya belum teruji. Mari kita lihat besok. Yang pasti, ingat Muth! Its about wiring, ga cukup sekali cespleng. Selow Muth… Seloow.

Mengenai bab kata-kata ajaib yang ia bawa dari luar. Akhirnya saya bilang…

Aa, bila ada kata-kata baru yang Aa belum tahu artinya bahwa itu baik atau tidak, tanya dulu ke Ummi ya?

Alhasil, hari ini dia bertanya tentang…

Mi maneh itu bagus ga? Kalau rongsokan?’

Alhamdulillah. Dengan dia mau terbuka, saya mah udah seneeeng. Cuma Bab reaktifnya aja yang harus dimanage. Selow Mi… selooow.

2. Mencarikan Lingkungan yang Baik untuk Anak.

Bab ini saya nyerah deh, tahu teorinya bahwa baiknya anak ‘diabur’ itu setelah usia 7 tahun. Tapi praktiknya susaah bo. Paling yang bisa saya lakukan adalah membatasi jam bermainnya, dan membuat suasana di dalam rumah ga kalah menyenangkan.dari di luar rumah. Aiiih. Ini mah PR beraaat. Need Help. T.T

3. Doakan… doakan… doakan…

Ga selamanya anak akan berada di dalam ‘ketiak’ kita. Maka berharap doa-doa yang di panjatkan oleh orang tua,  adalah doa yang langsung menembus langit tanpa ada hijab. Sehingga Ia berkenan mengirimkan malaikat pelindung untuknya, memberikan petunjuk pada tiap tingkah lakunya, dan menyelamatkan selalu kalbunya.

Aamiin.

#ngetiksambildegdegan
#antarakhaufdanraja
#antaratakutdanharap.

Pidato Kelulusan #Odopfor99days

Alhamdulillah sampai juga pada batas ini, batas yang semula saya tidak akan pernah tahu bisa menggapainya. Setor Tulisan Selama 99 Hari, Tepat waktu. Ga tepat waktu juga sih, nyatanya saya baru menyetor tulisan ke-99 tepat sebelum tulisan ini dibuat.

Terkadang, kita memang harus mencoba mencoba mencoba sampai di batas yang kita sendiri pun tidak tahu bisa atau tidak menggapainya. Teringat satu nasihat seorang Dosen yang juga menjadi pengurus masjid Salman ketika saya masih aktif di Salman dulu.

‘Berpura-puralah dahulu… berpura-pura bisa berorganisasi,  berpura-pura bisa menyampaikan pendapat di depan Umum, berpura-puralah sebelum menjadi BISA’

Mantra berpura-pura itu sukses meningkatkan level kePDan saya dalam bergaul di dunia yang baru saya masuki, ketika itu.

Sama seperti dunia menulis ini, sesungguhnya saya sedang berpura-pura bisa menyelesaikan tulisan saya tepat waktu, sebenarnya saya sedang berpura-pura menjadi penulis hebat, sebenarnya saya sedang berpura-pura punya ide yang melimpah untuk menulis.

Hasil dari kepurapuraan itu?

Tulisan saya pun bisa selesai (hampir) tepat waktu, dan saya merasa bahwa saya memiliki passion menulis, utamanya saya cinta dengan kegiatan ini!

Tapi jangan ditanya kualitas tulisannya, bernas atau tidaknya. Mungkin yang benar-benar bernas bisa dihitung dengan jari.

Sebagian besar tulisan 99 hari saya, tak jauh dengan apa yang sedang saya Alami saat ini. TENTANG pengasuhan anak-anak, kontemplasi diri, dokumentasi kegiatan, catatan ilmu, puisi dan 12 tulisan proyek pribadi yang terpending karena satu dan lain hal. Karena konon, hal yang paling mudah dituliskan adalah hal yang kita sukai dan yang paling dekat dengan kita.

Saya sadari keterbatasan waktu-lah yang menyebabkan saya kesulitan mencari referensi lain, membuat outlinenya, sampai membubuhkan pernak pernik pendukung tulisan. Padahal sangat mungkin bila sebuah tulisan curcol sekalipun, kita tambahkan sebuah referensi atau sudut pandang lain untuk memperluas wawasan kita. Maka, kelak memang sebuah impian bagi saya memiliki notebook dan jam kerja yang teratur.

Targetan di Semester selanjutnya? Hm. Entahlah. Saya merasa kualitas tulisan saya harus ditingkatkan seiring dengan keriput yang semakin bertambah ini. Tapi saya juga harus realistis, di hadapan saya ada 3 bocah piyik yang masih menuntut saya untuk melayani mereka, tidak mungkin saya memaksakan diri untuk mengorbankan waktu istirahat saya hanya untuk sebuah tulisan yang Bernas-di mata saya. Big, No No. Prioritas tetaplah prioritas.

Entah mau di bawa kemana tangan ini berlari. Untuk sekarang, mungkin akan tetap fokus pada memperkaya kata lewat membaca, dan melatih tangan untuk merangkai kata.

Biarlah tangan ini terus menulis…
Biarlah tangan ini terus menari…
Berharap Tuan Pemilik Jari berkenan ‘menitipkan jarinya’ padaku suatu saat kelak.
Tak ada kemubadziran di dalamnya, tak ada tulisan sia-sia di dalamnya.

Terlebih, tulisan yang dapat membuat diri semakin dekat denganMu.

Mampukan Rabb.

Note: link 99 tulisan disini

Lingkaran Ilmu dan Amal

Akhirnya… setelah cuti hampir 4 bulan melingkar, mengilmu, dan bertemu orang di luar keluarga, tetangga, dan pak Satpam. Kini saya memiliki keluarga baru, benar-benar baru. Kalau kelompok yang lama berprofesi sebagai IRT dan rata-rata berusia di atas 40 tahun, kali ini saya disekelompokkan dengan ibu-ibu pekerja dengan usia rata-rata 35 tahun-an.

Kenapa kok pindah?

Alhamdulillah kali ini alasannya bukan karena pundung *halahteusyari*, melainkan karena jadwal Halaqah kelompok terdahulu yang tidak bisa saya ikuti. Jadwal kelompok terdahulu, mengambil hari weekdays yang mana untuk saat ini sepertinya sulit.

Sebagai  gambaran, sebelumnya saya selalu menggunakan ojeg untuk Halaqah, Aisha di belakang bersama saya, Aidan di depan mamang Ojeg. Ojeg ini transportasi satu-satunya yang bisa digunakan karena;

1. Ga punya kendaraan lain selain motor, dan motor dipakai Ayah ke kantor. Dulu waktu di Ekek Ayah ke kantor naik kereta, jadi saya leluasa menggunakan motor yang sudah saya namai, akang Repo, itu.

2. Ada angkot, tapi hanya sampai jalan besarnya saja, ga bisa masuk kompleks yang mana rata-rata rumah ibu-ibu itu masuk lagi ke dalam komplek.

Jadi, kebayang kan riweuhnya bawa dua bocah naik ojeg, belum lagi perut yang ketika itu semakin membesar karena hamil Aiki.

Dan kali ini setelah lahir Aiki, ga kebayang deh Aikinya mau disimpen dimana :)) Naik motor berlima sama mamang Ojeg dempet-dempetan?

image

                   Gambar google

Ampun Kakak…

Akhirnya saya meminta kepada Murobiyah untuk dipindahkan. Dan setelah menunggu lama sampai rasanya ruhiyah ini krik krik kering bak wajan gosong, sms itu pun datang.

Saking lamanya ga ada konfirmasi, pak Su yang sudah absen halaqah sejak jaman belum lahir Aisha pun bersuudzon. Jangan-jangan Ummi di blacklist. Hihi. Setahu saya memang di kelompok Tarbiyah yang saya ikuti ini suka ada yang dicirian, akibat terlalu kritis-lah, banyak ga sependapatnya-lah, mengemukakan argumen antimainstream-lah dan sejenisnya. Tapi memang insyaAllah tidak akan sampai ada orang yang ditolak gara-gara mau ngaji di Tarbiyah. Entah kalau levelnya udah sekelas bang FH yang kemarin-kemarin dikeluarkan dari Tarbiyah (ih saya juga ga setuju tauk! Etapi bener gitu ga boleh tergabung lagi di lingkaran-lingkaran tarbiyah?). Ah, entahlah… dan Kenapa suami saya bilang gitu? Karena saking seringnya saya cerita kekritisan saya kalau lagi Halaqah, sampai-sampai dibilang ‘Ummi gapapa gitu Ummi kaya gitu? Ga akan di blacklist?’ Hehe. Entahlah Yah, yang pasti saya kritis karena saya cinta dengan Tarbiyah, dan saya kritis karena saya ingin mencari solusi dan mengajak diskusi. Walaupun nyatanya memang banyak hal yang akhirnya saya pun berucap ‘oke baiklah, saya mengerti dan paham’, setidaknya saya sudah mencoba mencari tahu dan tidak terjerumus kepada taklid buta (ikut-ikutan).

Ko Masih Mau sih Ikut beginian? 

Ini salah satu ikhtiar aja sih sebenarnya, ikhtiar untuk memperbaiki keimanan, menambah ilmu, dan ikhtiar mencari ladang amal shaleh secara berjamaah. Dan utamanya jamaah ini yang paling dekat dengan saya sejak jaman kuliah dulu, sulit dan memang belum ada kesempatan untuk pindah ke lain hati. LOH memang ada niat pindah Mut? Tepatnya, adalah niat mencari apa yang sesuai dengan fatwa hati ini tunjukkan, tentunya dengan terus meminta agar Allah membimbing hati ini. Makanya, dulu saya agak ga sependapat dengan mantan Murobiyah saya yang melarang saya ingin ikut pengajian di ‘tetangga sebelah’, karena bagi saya mencari ilmu Allah itu bebas kemana saja, selama tidak bertentangan dengan AlQur’an dan Hadist. Ngerti sih maksudnya, karena ada itjihad para ulama yang terkadang bertolak belakang dengan jamaah Tarbiyah, dan khawatir saya ‘terkontaminasi’. Tapi kan bo saya bukan anak kecil lagi? Toh nanti yang akan dimintai pertanggungjawabannya juga saya😀. Yosh, begitulah saya dalam jamaah Tarbiyah ini, rasa cintanya tidak ditunjukkan dengan sikap yang manut manut saja, dan utamanya rasa cinta ini bertumbuh karena disanalah saya menemukan teman-teman yang dapat mengingatkan saya untuk menjadi lebih baik. Maka Pliiss… jangan pecat saya dari Jamaah ini😉. Tapi pun bila kelak itu terjadi, Qadarullah, dan insyAllah dengan dipecatnya saya, saya tak akan berhenti dari Proyeknya Allah, dakwah, bagaimana pun jalannya. Mudah-mudahan Allah meridhai, dan mempertemukan saya dengan orang-orang yang mencintai Allah dan Allah pun mencintainya. AAMIIN YRA

Apaan Sih, Belajar Sejarah Rasul segala!

Sejarah Rasulullah saw, sebuah kisah bukan dari hasil khayalan manusia, itu murni terjadi, kisah nyata, ada, dicatat dan diabadikan melalui alQur’an dan perawi hadist , seribu empat ratus tahun (lebih) yang lalu.

Tidakkah kita malu saat sejarah Indonesia, buku Harry Potter, sinetron Uttaran, drama Korea, lebih semangat kita ‘gali’ dibandingkan kisah Rasulmu sendiri?

Malu donk ah (saya maksudnya), walaupun sepertinya ketuaan bagi saya untuk membacanya, tak mengapalah, selama Dia masih memberi kesempatan oksigen mengalir melalui bronkus, bronkeolus dan alveolus, tak ada kata terlambat!

Seperti yang telah disebutkan disini, bahwa saat ini saya sedang Asyik membaca sejarah rasul, yang kali ini sudah hampir 2/3nya selesai, saya pun kembali ingin merenungi dari apa yang telah saya baca. Kali ini adalah tentang alasan, mengapa kita harus mengetahui sejarah Rasulullah SAW.

Bismillah, ini sangat subjektif ya, sama sekali tidak ngilmiah.

Buat apa?

1. Belajar Sejarah Rasul artinya Belajar Mencintai Al’Qur’an.

Dan kemudian saya baru tersadar bahwa ayat AlQur’an itu turun sepanjang masa kenabian Rasulullah SAW, mulai dari peristiwa ayat pertama turun di gua Hira, sampai dengan ayat terakhir (yang mana terdapat perbedaan ulama dalam menentukannya)- yang pasti sebelum Rasul wafat. Karena setelah wafat otomatis tidak ada wahyu lagi yang turun.

Ayat yang turun membersamai terjadinya satu peristiwa dalam perjalanan sejarah Rasulullah SAW. Misalnya saat Ayat pertama turun, yang membersamai peristiwa uzlahnya Rasulullah SAW di gua Hira atau Saat Rasulullah ‘ketakutan’ dan mengenakan selimut lalu datanglah ayat ‘Hai orang berselimut‘… atau dengan kata lain satu Ayat yang turun menjadi sebab musabab peristiwa yang terjadi.

Adapun ayat lain yang turun, misalnya saat orang-orang musyrik Quraisy senantiasa menghalangi orang-orang yang hendak belajar Alquran dengan cara mengusir atau bernyanyi saat Rasulullah saw shalat/membaca Alqur’an di depan Ka’bah. Turunlah ayat ini…

Dan orang-orang kafir berkata, “janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh Alquran ini dan buatlah hiruk pikuk terhadapnya, agar kamu bisa mengalahkan mereka (Qs Fushilat: 26)

Tidak ada satu pun sejarah (tercatat dan orisinil) yang membersamai turunnya sebuah wahyu, langsung dari langit! Selain sejarah Rasulullah SAW. Emejing bukan?

Bayangkan bila saat membaca alquran lantas kita teringat peristiwa yang membersamainya…

Saat baca AnNajm, teringat kisah orang musyrik yang bersujud setelah diperdengarkan surat itu…

Saat baca Al’alaq, teringat bagaimana Rasulullah bergetar, ketakutan, dan pingsan tak sadarkan diri saat Jibril menyuruh beliau saw untuk ‘Iqra!’

Saat membaca Alkafiruun, teringat kisah negosiasi kaum kafir yang ingin ‘menukar’ sesembahannya.

Dan ayat serta peristiwa lain yang saya sendiri masih sepotong-sepotong tahunya. Tapi alangkah nikmatnya, saat kita sedang mentadabburi alQuran, membaca maknanya, lantas kita menjadi penasaran ‘yang ini turunnya kapan ya? Ada peristiwa yang menyertainyakah? Yang mana ya?’. Ah, kenikmatan mana yang bisa menandingi kehausan kita dalam memperdalam AlQur’an sih? Rasanya ga ada. Yang ada, mungkin kita belum sampai tahap menikmati, yaa, bertahap lah ya… Salah satu hak Alquran yang harus kita penuhi selain dibaca, adalah ditadabburi maknanya, terlebih lagi untuk diamalkan. Mudah-mudahan Allah mampu kan saya (dan yang membaca tulisan ini) untuk dapat mencintai Alquran dengan level yang meningkat setiap waktunya, seiring dengan kepahaman ilmu yang Ia tanamkan dalam jiwa.

Bila melihat penjelasan mengenai Asbabun nuzul alias sebab musabab turunnya ayat disini, maka dikatakan bahwa ayat itu bisa turun karena terkait satu peristiwa, ada yang bertanya, atau bahkan bisa turun tanpa ada sebab.

2. Belajar Sejarah Rasulullah saw artinya belajar teguh di atas musibah.

Bagaimana seharusnya seorang mukmin-orang yang beriman terus berpegang teguh pada keyakinannya dan terus menguatkan keyakinannya saat masalah yang datang menerjang hidupnya. Bila tak ada keyakinan bahwa ada Allah di ujung sana? Kemana lagi kaki ini harus melangkah selain kepada keputusasaan.

Rasa iman yang kokoh, menghujam, mengakar ini dicontohkan sendiri oleh Rasul dan generasi pertama pembawa risalah dakwah, para sahabatnya.

Adalah iman yang terus terpatri dalam dada Rasulullah saw, saat beliau datang ke Thaif, dan penduduknya malah menghinakannya, melemparinya dengan batu hingga Rasulullah berlari dan bersembunyi. Bahkan Jibril saja sampai menawarkan diri untuk menimpakan Azab pada penduduk Thaif!

Adalah iman yang membuat pasukan badar tetap teguh berjuang, walaupun perbandingan kuantitas dengan kaum musyrikin saaangat berbeda juaauh.

Adalah iman yang menjadikan Rasulullah saw tetap optimis! Meskipun gigi serinya patah, cucuran darah, luka lebam saat perang Uhud yang menyisakan kekalahan dan luka mendalam.

Adalah iman yang menjadikan Rasulullah dan sahabatnya tetap bertahan, meskipun para kabilah berkumpul, berkoalisi, mengepung Madinah, bahkan ada bani dari  Yahudi yang mengkhianatinya dalam perang Khandaq.

Ya, Iman.

3. Belajar Sejarah Rasulullah saw artinya belajar beragam watak manusia.

Terutama mengenai watak dalam bersikap terhadap islam, dakwah islam, penegakan syariat islam.

Kalau di AlQuran sendiri sudah jelas sebenarnya disebutkan, ada 3 golongan. Muslim, Munafik, dan Kafir. Saya hanya ingin menunjukkan keberagaman karakter dari tiga golongan di atas dari kisah yang telah dibaca.

Ada kaum musyrikin yang jelas-jelas memerangi dakwah Rasulullah saw, seperti kafir Quraisy. Walaupun telah banyak dutunjukkan tanda tanda KekuasaanNya, maka mereka akan terus saja berdalih mencari pembenaran. Hatinya seakan sudah tetutup oleh cahaya Islam. Berkata bahwa Muhammad adalah seorang tukang sihir-lah, pembohong-lah, gila, dan sebagainya.

Ada kaum arab badui yang tidak peduli dengan dakwah Rasulullah saw. Mereka hanya mengambil keuntungan perekonomian dari golongan-golongan yang ada (peristiwa lengkapnya ga dijelasin ey).

Ada kaum Yahudi yang penuh dengan tipu muslihat. Kaum ini awalnya memang tidak terlihat secara terbuka memerangi dakwah Rasulullah. Bahkan setelah Hijrah beberapa bani Yahudi terikat perjanjian dengan Muslim, yang ternyata pada akhirnya dikhianati oleh pihak Yahudi sendiri.

Ada orang-orang munafiq, mengaku islam tapi tak mau menjalankan ketentuan islam. Mereka menyembunyikan kejahatannya di hati hati mereka. Bahkan menghimpun kekuatan untuk sama-sama ‘berbelok’ dari ketentuan Allah dan Rasulnya. Disebutkan di sejarah sebagai pemimpin orang munafik adalah Abdullah bin Ubay, yang menjadi provokator sejumlah umat Muslim untuk berbalik arah kembali ke Madinah saat perang Uhud, dan menjadi provokator atas berita bohong yang ditujukkan ibunda Aisyah ra.

Ada golongan yang lemah imannya, ketika diajak untuk mundur berperang, maka ketika itu pun ada golongan yang ikut berbalik. Dan ketika saya googling dengan keyword ‘lemah iman’. Lha ko banyak jenisnya, menjelma menjadi berbagai macam bentuk (bisa dilihat disini)😦 Dan mungkin saya sendiri termasuk ke dalamnya T.T. Yuk ah Mut… pelajari satu per satu macamnya, dan instropeksi diri T.T Katanya mau masuk surga berdampingan dengan Rasul dan para sahabat T.T

Terakhir, golongan muslim dengan keimanan yang kece badai. Ialah Rasul dan para sahabatnya, yang masuk ke dalam golongan ini. Orang-orang yang ‘Kami dengar, kami taat’ saat ada perintah atau wahyu yang turun, tanpa ada tapi… tapi… tapi, berdalih melakukan pembenaran. Orang-orang yang paling terdepan membela agamanya, orang-orang yang senantiasa menjaga diri dari hal yang tidak Allah sukai, orang-orang yang senantiasa hatinya terpaut pada Allah, orang-orang yang bahkan surga saja sudah dijanjikan,T.T. Bahkan salah satu sahabat Rasul yang bernama Sa’ad bin Mu’adz, saat meninggal ‘ARasy Allah pun ikut bergetar karenanya.

4. Belajar Sirah Rasulullah saw membuat saya penasaran akan kisah lengkap para sahabat.

Tentunya keren donk, ketika sedang mendongeng dengan anak tiba-tiba nyeletuk.

Nak, tahu ga ada seorang paman Rasulullah yang dijuluki singa padang pasir?”

“Nak, bibi Rasulullah saw ada loh yang pemberani, namanya Shafiyyah, dia menghadapi seseorang dari Bani Quraizhah yang hendak menyerang seorang diri!”

“Nak, sekarang Ummi mau cerita tentang Hudzaifah, dia adalah seorang sahabat Rasulullah yang pemberani masuk ke barisan musuh untuk memata-matai saat perang Khandaq, dia juga orang yang sangat cerdas… “

Dan kisah para sahabat lain, yang saya sendiri belum khatam dengan semua kisahnya. Ayaaah…beli in buku kisah para sahabat Rasul laah (iklan).

5. Belajar Sirah Rasulullah saw artinya belajar mengakui hal-hal di luar batas logika manusia.

Bahwa ada kekuatan lain di atas kekuatan manusia. Bahwa ada peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia ini, di luar jangkauan akal manusia.

Adalah peristiwa Isra dan Mi’rajnya Rasul yang terjadi semalaman.

Adalah peristiwa turunnya bantuan dari langit saat perang Badar berlangsung. TIBA-TIBA banyak kepala dan jari yang putus terpenggal.

Adalah peristiwa Angin Kencang yang menyelimuti musuh yang sedang mengepung, saat perang Khandaq.

Adalah peristiwa perjumpaan Jibril dengan Rasulullah atas izinNya.

Adalah peristiwa mengantuknya pasukan Muslim saat perang Badar, (8:11) dikarenakan Allah ingin menguatkan dan mengukuhkan hati mereka.

Dan peristiwa lainnya, yang terkadang otak dangkal ini berpikir ‘iya gitu? Ko bisa?’ dan menganggap itu hanya dongeng. Tapi kemudian teringat kembali segala peristiwa keajaiban dalam tubuh manusia, perilaku hewan, lantas kemudian jadi meyakini ‘Apa sih yang ga bisa buat Allah?’.

Sudah, sepertinya 5 poin itu yang baru terpikir. Kalau direnungkan mendalam, tentunya akan lebih buaaanyaaak mutiara yang bisa kita gali. Berhubung jempol sudah pegal, mari kita sudahi saja tulisan ini.

Akhir kata, semoga kita semua termasuk ke dalam golongan orang asing. Orang-orang yang tersisihkan dari hiruk pikuknya dunia, orang-orang yang Allah sembunyikan dari kegerlapan dunia tapi melenakan. Orang-orang yang Allah pilih sebagai ‘tangan’ ‘kaki’ ‘mulut’nya untuk ber amarma’ruf nahyi munkar.

Bukankah Agama ini datang dalam keadaan Asing, dan akan kembali dalam keadaan asing?

Perjalanan 3 Tahunmu, Aishabira.

image

Aishabira Mahdiya Hamda…
Selalu menjadi anak yang menyenangkan di hati Ummi.

“Ummi terimakasih ya, sudah membelikan aku seprei warna pink”

“Ayah, terimakasih ya sudah membelikan aku boneka berbie, aku suka sekali”

“Ummi tadi marah ya, aku minta maaf ya udah buat Ummi marah”

Tak sekali dua kali kamu mengucapkan itu, berkali-kali sampai esok dan esok dan keesokan harinya kau masih membahas hal yang menurutmu patut untuk diterimakasihi dan dimintai maaf. Selalu begitu untuk hal yang menyenangkan pun hal yang tidak menyenangkan.

Saking ‘easy baby’nya kamu Nak, memori masa kecilmu yang tidak  dipenuhi letupan-letupan dan pergolakan emosi yang cetar membahana- itu pun berdampak pada memori tentang masa kecilmu yang Ummi lupakan. Kalau saja Ummi tak melihat catatan waktu bayi-mu, Ummi takkan tahu bagaimana tingkah polahmu waktu Bayi.

Baru , baru saja di usiamu kini, kau mulai pandai untuk menangis panjang tanda menginginkan sesuatu, kesal, marah, diabaikan. Alhamdulillah. Tandanya kau normal seperti anak kebanyakan.

Walaupun hatimu tidak sesensitif Aamu, tapi memorimu sangat kuat. Maka, jangan coba coba menyakiti gadis kecilnya Ayah, karena ia akan terus menyimpannya, dengan rapi.

Aishaku di tahun ke-3nya ini, sudah pandai pup dan peep di Toilet, makannya buanyaak, senang main mengikuti kemanapun Aa pergi, tak ada rasa cemas dan khawatir bila harus menginap lama di rumah Kakek/Nenek, selama diajak main! Permainan kesukaannya adalah masak-masakan, sekolah-sekolahan, dan Aisha sangat senang dibacakan buku. Aisha paliiing suka warna pink! Suka hal-hal yang berbau kewanitaan; rok bunga-bunga, princes, pita… Aisha pun menjadi seseorang yang sangat pemilih mengenai baju apa yang hendak dipakainya hari ini.

Terobsesi dengan sekolah, karena banyak mainan dan teman teman. Sudah ingin sekali bersekolah, tapi belum Ummi izinkan:). Sekolah bareng Ummi dulu aja ya Nak. Aisha pun termasuk anak yang mudah bergaul, mau untuk bersalaman dengan yang lebih tua. Sesekali menangis di tempat asing? Tentulah, wajar.

Kamu tahu istri Rasulullah Saw yang bernama sama sepertimu, Nak? Aisyah binti Abu Bakar ra.
dia adalah sosok wanita yang teramat cerdas, menjadi guru bagi umat muslim lainnya, di masanya. Meriwayatkan 2000lebih Hadist, dan wanita yang pemberani di atas untanya. Tidak Nak, Ummi tidak memintamu persis seperti beliau, karena kamu adalah Aisha yang berbeda. Ummi hanya memintamu kelak mengidolakannya, mencontoh sebisa kau mengikutinya karena dia dan para Ummirul Mukminin lainnya adalah guru bagi para wanita di dunia ini. Bolehlah kau mengidolakan princes, projen seperti saat ini, tapi jangan lama-lama ya Nak. Kelak akan Ummi ceritakan kisah para sahabiyah yang akan membuatmu terkagum-kagum karena akhlak  mereka.

Doa dari Ummi, sudah terangkum jelas di namamu. Semoga kelak kehidupanmu dipenuhi oleh rasa sabar dan syukur, dan termasuk ke dalam golongan yang Allah beri petunjuk.

I Love U, My Aishabira Mahdiya Hamda.