Sang Pencari Kapas

image

Kemarin, Aisha main puter-puteran. Ya, dia sedang senang menikmati sensasi pusing. Dan Qadarullah, pusingnya pun berdampak pada bibir yang berdarah. Seketika Umminya langsung mengangkat dan membaringkan kepala lebih tinggi dari jantung. Walaupun punya pengalaman ikut PMR jaman SMP, tapi tetap aja panik dan tangan bergetar ngeliat darah keluar dari bibirnya.

Saya pun menyurun Aidan mengambil kapas untuk menahan darah yang keluar. Aidan pun tak kalah paniknya dengan saya, dia mondar mandir kesana kemari mencari kapas.

Setelah ketemu, dan darah di bibirnya ditahan, darah pun berhenti keluar. Alhamdulillah. Tapi sang pencari kapas tiba-tiba menghilang…

Saat hendak memindahkan Aisha ke kamar, rupanya sang pencari kapas sedang memeluk guling, matanya memerah. Ya, dia menangis…

**
Saat malam, penasaran ingin memastikan

“Aa tadi waktu Aisha jatuh Aa menangis?”
“Iya”
“Kenapa?”
“Aku sedih, kasihan Aisha”
“Aa sayang ya sama Aisha?”
“Iya, aku kan nanti mau menikah sama Aisha”

:)). Entah apa yang ada di pikiranmu tentang menikah. Yang Ummi yakini, kelak kau akan menjadi suami yang Baik. InsyaAllah.

Enam Tahun Membersamaimu

Aa… Aa sekarang sudah mau 6 tahun. Biar Ummi ceritakan kisah tentangmu di usia ini ya Nak…

Muhammad Aidan Hammam, anak pertama Ummi. Masih anak yang super mellow bagi Ummi. Hatinya sensitif tanda lembuut hatimu Nak. Walau kau seringkali ’galak’ tapi kau juga mudah tersentuh saat Ummi sedih karena kegalakanmu.

Aa sering sekali menyuruh Ummi untuk tersenyum saat Ummi diam pun ketika cemberut.

“Ummi ko ga senyuum?”

Aa yang diam diam menangis saat Aisha jatuh dan berdarah…

Aa yang diam diam menangis saat Ummi meminta didoakan agar Ummi dan dede bayi sehat…

Aa yang sangaat sayang dengan Aisha dan Aiki.

Aa peluuuk Aisha saat Aisha baru datang dari rumah Kakek, Aa bukakan kancing jaketnya, kerudungnya. Aa bilang Aa kangen dengan Aisha.

Aa yang memperlakukan Aiki bayi dengan sangaaat baik. Ditunggui, diciumi, diajak mengobrol.

Aa tak segan untuk memperringan pekerjaan Ummi. Menaruh piring ke dapur, mengelap meja, mengepel, membereskan mainan, membuang sampah, mematikan lampu, mengambilkan popok. Aa sudah pandai melakukan itu.

Aa pun pandai bersepeda, berlari, menari, berekspresi, menyanyikan irama dan lirik ciptaan Aa sendiri, bercerita, merangkai lego yang jauuuh lebih bagus dibanding yang Ummi buat.

Aa tak segan membantu Ummi di dapur, memotong tahu, bawang, belajar menumis.

Aa yang sangat menjadi contoh bagi Aisha. Ya, adikmu menjadi pengikutmu, adik-adikmu kelak akan menjadi fans pertamamu. Mengikuti kemana pun kau pergi, mengikuti tingkah polah seajaib apapun tingkahmu, pun mengikuti segaaaalaaaa kebaikan-kebaikan yang muncul dari dirimu.

Terimakasih, karena kau telah mau menjadi yang pertama.

Yang pertama artinya, kau membersamai Ummi dari awal untuk belajar, belajar menjadi ibu. Ibu yang semakin baik setiap harinya.

Darimu, karenamu, Ummi menjadi pembelajar yang gigih, yang takkan pernah menyerah, yang harus selalu berazzam untuk memperbaiki diri… Untukmu dan untuk adik-adikmu, utamanya untuk diri Ummi sendiri.

Tetaplah membersamaiku, hai anak pertamaku. Sampai kelak Allah pisahkan kita.

i love u, Aa

image

Bayar Hutang, Daftar Haji, atau Umrah Dulu ya?

Apabila kita memiliki sejumlah uang, yang mana uang itu cukup untuk melunasi hutang, daftar haji, dan berumrah. Mana yang hendak didahulukan?

Itu adalah tema yang sedang dibahas di grup Asrama. Tentu saja yang biasa menjawab adalah kang Abdur, lengkap dengan dalil-dalil yang menyertai.😀.

Bayar Hutang Dulu, bila…

Hutang kita sudah jatuh tempo. Membayar hutang ini hukumnya wajib, dan haram bila menundanya padahal kita mampu. Rasul sendiri setelah fathul makah (8 H) tidak langsung berhaji, beliau menundanya hingga ’mampu’ di tahun 10H. Memprioritaskan yang haram bila menundanya, tentunya lebih utama dibanding melaksanakan yang wajib tapi kita bisa menundanya.

Berbeda persoalan, bila hutang berupa cicilan yang jatuh temponya masih lama. Hal itu bisa menjadi prioritas setelah melaksanakan…

Umrah Itu Hukumnya…

Banyak diantara kita memahami bahwa umrah itu hukumnya Sunah. Ternyata hadist yang membahas tentang Sunah-nya Umrah ini dinilai lemah oleh para ahli Hadist. Berikut bunyi hadistnya.

Dari Jabir ra bahwa Nabi saw ditanya tentang umrah apakah wajib? Beliau menjawab, “Tidak, tapi kalau berumrah itu lebih utama.” (HR.Turmuzi)

Dan berikut adalah hadist yang menilai bahwa Umrah itu hukumnya wajib.

Dari Aisyah ra, beliau berkata, “Aku bertanya, wahai Rasulullah, apakah  perempuan harus melakukan jihad?
Beliau bersabda,”Iya, mereka harus melakukan jihad yang tidak ada peperangan di dalamnya, yaitu haji dan umrah” (HR. Imam Ibnu Majah)

Hadist wajibnya Umrah dinilai shahih dan para imam yang berpendapat bahwa umrah itu wajib diantaranya Ibnu Umar ra, Ibnu Abbas ra, Asy Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, Al Bukhari, An Nawawi, dan lain-lain

Jadi melaksanakan Umrah itu wajib hukumnya, bila kita tidak sedang terlilit hutang jatuh tempo. So? Adanya hutang cicilan KPR kita tidak menjadikan penghalang kita untuk melaksanakan yang wajib, umrah.

Kemudian, bila dibandingkan dengan daftar haji, mana prioritas yang harus didahulukan?

Wajibnya Berhaji untuk yang Mampu

Mengusahakan diri untuk memampukan naik haji itu hukumnya tidak wajib yang wajib itu naik haji saat mampu. Terlihat sama tetapi berbeda. Mengusahakan diri itu misalnya menabung untuk haji atau mencicil demi tabungan haji. Bila naik haji saat mampu itu, menunggu diri mampu kemudian naik haji. Tentu saja mengusahakan diri akan dinilai sebagai pahala ikhtiar akan tetapi tidak wajib.

Kemudian, ukuran mampu itu seperti apa? Berikut saya kutipkan jawaban kang Abdur.

Secara umum, Allah ta’ala menyebutkan dalam Al Quran : سَبِيْلًا jalan ke al Bait. Nabi saw juga menyatakan hal yang persis sama : kalau engkau mampu jalannya ke sana.

Para Ulama kemudian memaknai ini dengan menghubungkannya dengan kewajiban2 lain yang terkait, maka kata mereka, mampu :
–  sanggup menanggung biaya nafkah dirinya dan keluarganya
– sanggup membayar biaya perjalanan
– kondisi tubuh sehat
– kondisi perjalanan aman
– ada kemungkinan pulang ke rumah dengan selamat
– khusus perempuan : ada pendamping suami atau mahram

Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana dengan daftar Haji yang kini kian panjang antriannya? Apakah boleh kita mendaftar haji tapi belum umrah?

Kalau melihat boleh/tidaknya ya tentu boleh, tapi kembali lagi, itu tidak wajib. Dahulukan yang hukumnya wajib seperti bayar hutang jatuh tempo kemudian umrah, baru kemudian daftar Haji.

Wallahu’alam Bishawab.

Mengenal Chennai

Suatu hari ada seorang yang bernama Suami, baru saja pulang dari negara India. Tepatnya dari kota Chennai. Mari kita wawancarai, seperti apa kota Chennai itu.

Selamat malam Pak Suami, untuk apa Anda ke kota Chennai?

Malam, Untuk training

Berapa jam waktu yang Bapak tempuh untuk sampai ke kota Chennai?
1.5 jam sampai Singapura, lanjut ke Chennai 4 jam.

Dengan Indonesia, beda berapa jam Pak?
Sekitar 1.5 jam, lebih cepat waktu Indonesia.

Disana Bapak menginap dimana?
Di Hotel

Seperti apa Kota Chennai itu?
Tengah kotanya seperti di pinggiran kota disini (Indonesia)

Bagaimana cuaca disana Pak?
Panas sekali, mungkin derajat terpanas sekitar 40°C.

Waah… Bapak kepanasan dong?
Engga lah, kan di dalam hotel.

Oh… iya… ya ya… Bagaimana makanan di India Pak?
Sangat berbumbu, enak. Disana apa-apa disebut Masala. Telur masala, daging masala. Enak.

Oh… maksud Masala itu bumbu?
Mungkin.

Bagaimana dengan komunitas Muslim disana?
Di Chennai ini termasuk daerah dengan jumlah muslim yang banyak, mungkin sekitar 30-40%, tepatnya silakan googling.

Wah… banyak juga ya…
Iya banyak, bahkan sering dijumpai perempuan bercadar.

Ooh… begitu. Bagaimana dengan masjid?
Masjid ada, tapi letaknya jauh dari hotel. Yang dekat konon masjid kepunyaan syi’ah.

Ooh… Oia Pak… apakah orang-orang disana ada yang cakep seperti syahru khan?
Jarang

Bagaimana dengan perempuannya?
Sangat jarang yang terlihat cantik, mungkin 1000 berbanding 1.

Hoo… saya kira orang-orang seperti di film bollywood itu banyak. Oke, selanjutnya bagaimana jalanan di Chennai Pak?
Pusing. Mirip di Indonesia, tapi lebih parah.

Wah, parah bagaimana Pak?
Bunyi klakson dimana-mana, bahkan ketika jalanan tidak padat. Membunyikan klakson seperti hal yang wajib disana, bising. Bahkan saat hendak pulang menggunakan semacam mobil taksi besar/rental saya hampir muntah, supirnya ngebut dan selap selip ditambah suara klakson!

Wah. Parah juga ya?
Iya, bahkan disana pengendara motor tidak menggunakan helm, banyak!

Wow. Lantas selain training Bapak disana ngapain aja?
Ya kembali ke kamar hotel. Paling juga jalan-jalan cari oleh-oleh.

Ada yang khas? Setahu saya oleh-oleh India yang khas semacam.gelang kirincing, baju sari, pacar…
Kalau gelang kirincing saya tidak lihat, mungkin harus ke pasar. Tapi saya kemarin hanya ke mall di sekitar sana. Butuh sekali naik kereta. Di mall memang banyak baju khas India seperti kain sari dan kurti. Harga sari rata-rata 5000rupee atau sekitar 1juta. Baju atasan khas sekitar 200-300rb. Ada juga yang pertengahan sekitar 600rb.

Wow. Lumayan juga ya…
Iya, paling yang khas tapi terjangkau makanan seperti aneka kacang-kacangan, teh India, dan makanan sejenis aromanis. Kaos oblong pun relatif murah, sekitar 90rb.

Selain mencari oleh-oleh kemana lagi Pak?
Ke tempat wisata semacam candi. Tapi biasa aja, lebih bagus Borobudur.

Oh… okelah Pak… terimakasih atas kesempatan wawancaranya. Mudah-mudahan kelak bila ada tugas ke luar negeri, bu Istrinya bisa diajak ya Pak. Kasihan tuh Pak, ulukutek di rumah mulu, kurang gaul tuh bu Istrinya.
Ya, mudah-mudahan bila ada rezekinya.

Oke, sekian wawancara bersama Pak suami. Untuk Anda yang hendak merencanakan berlibur ke Chennai di musim panas, jangan lupa siapkan lotion berSPF, kacamata, dan kaos tipis. Siapkan juga uang yang banyak agar Anda bisa membeli kain sari dan menari-nari berkeliling tiang di bawah hujan deras. Ah… romantis.

Ikut Kelas Rising a Reader- Sabumi

Saat mengikuti kelas Rising a Reader-nya Sabumi, saya menemukan beberapa mutiara di dalamnya yang bisa kita aplikasikan untuk bocah.

Mamak-mamak setuju donk, bahwa membaca buku itu bukan hanya sekedar anak mengetahui bahwa B+A menjadi BA, tapi ada misi yang lebih besar dari itu, yaitu membuat anak-anak kita paham akan isi yang dia baca dan utamanya adalah memiliki rasa ’kebutuhan’ akan membaca buku. Dimulai dari keterampilan mendengarkan, oleh karenanya membacakan buku adalah aktivitas pertama yang harus dialami oleh anak sebelum dia benar-benar mampu untuk membaca. Mengapa? agar telinganya terbiasa dengan bahasa di luar bahasa ibunya, bahasa buku. Bahkan rencananya, kegiatan membacakan buku ini akan menjadi aktivitas rutin di rumah, sekalipun anak-anak sudah pandai membaca.

Sampai kemudian, saya mendapatkan ilmu ’tambahan’ baru perihal baca membaca ini. Adalah model whole language yang menjadi frasa baru di telinga saya. Whole language merupakan sebuah model pembelajaran utuh yang tidak memisahkan aspek-aspek keterampilan berbahasa, termasuk di dalamnya membaca.
Apa sajakah Aspek itu?

Reading Aloud
Merupakan kegiatan membacakan buku dengan suara nyaring.

Journal Writing
Kegiatan menulis jurnal, dapat berupa menulis aktivitas harian sebagai dokumentasi ataupun menulis perasaan anak.

Tapi saya belum bisa membayangkan, bagaimana teknis untuk anak yang belum bisa membaca seperti Aidan.

Silent Sustained Reading
Membaca di dalam hati.

Lagi-lagi saya belum mendapatkan jawaban saat saya bertanya bagaimana teknis untuk anak yang belum bisa membaca.

Bayangan saya adalah, anak diberikan gambar dimana ia bebas memilih yang ia mau, dan kemudian bertanya atas apa yang ia lihat dari gambarnya.

Shared Reading
Kegiatan membaca sama-sama antara orang tua dan anaknya. Setiap orang memiliki buku yang hendak dibacanya.

Guided Reading/Writing
Kegiatan membaca/menulis bermakna dengan bimbingan orang tuanya. Bayangan saya adalah, ketika kelak anak sudah bisa membaca dan menulis, dengan tingkat bahasa yang memerlukan pemahaman lebih lanjut, seperti membaca sastra, majas, puisi, pantun, dimana orang tua sebagai pembimbingnya.

Independent Reading/Writing
Dimana anak memilih sendiri materi yang hendak dia baca dan ia tuliskan.

Oke. Aspek-aspek itu saya jadikan sebagai target saja. Bahwa kelak, anak kita tak hanya sekedar memiliki kemampuan membaca tapi juga menulis, bahkan menulis dengan tingkat kedalaman yang lebih dalam perihal isinya.

Adapun untuk saat ini fokus saya ada pada membacakan cerita dan memancing mereka untuk dapat menceritakan kembali dari apa yang dibacakan atau dari gambar yang dia lihat.

Sekedar info untuk pemburu buku murah, berikut hasil sharing Mamak-mamak yang mengikuti kelas Rising a Reader

Share tempat favorit beli buku:

1. jln banceuy.. Meski second tp isinya 👍🏻👍🏻👍🏻. Bw uang 50rb bs dpt bbrp buku..

2. di grup FB garsel, wwp yg aslinya jutaan, ada yg jual 85rb/buku

3. kl mau beli buku diskon, bs melipir di BBC (giant suci)

4. Tokopedia
Dapet buku anatomy impor lengkap dengan 3d human internal organ, skeleton dan peredaran darah cuma 50rb aja (bekas)

5. Instagram
Rutin ngecek #bukuanakbekas
bukubekasanak
Dapet buku impor harga 20rban

6. Bumi si kecil

7. Happy learner

Termakasih kepada Sabumi atas kesempatan berilmunya, dan kepada mamak-mamak yang sudah berbagi info mengenai tempat membeli buku murah. Sekian, mudah-mudahan bermanfaat.

Drama Umminyai : Sinetron Kiaracondong Dua Babak

“Jadi saya harus berdiri di luar dengan membawa anak dan banyak barang bawaan TANPA TEMPAT DUDUK?”

“Iya”

“Oh… Oke TERIMAKASIH YA PAK”

“Iya

Sepenggal adegan drama itu bukan ada dalam serial Uttaran, bukan. Itu adalah sebuah drama di sebuah stasiun tengah kota, Kiaracondong. Pemerannya adalah ibu-ibu cantik yang bernama Umminyai dan seorang petugas penjaga peron yang sebut saja namanya Asep.

Umminyai sendiri adalah pengguna sekaligus penggemar kendaraan kereta api Bandung raya sejak jaman bahkan monyet saja sering ia cintai, sebut saja jaman Umminyai labil. Terhitung sudah hampir 16 tahun ia menggunakan kereta api yang sepertinya sudah mendarah daging bahkan merasuk sampai ke tingkat DNA. Luar biasa! Saking cintanya Umminyai labil terhadap kereta, ia rela bila harus berdiri sambil belajar padahal di sebelahnya ada kambing yang mengembik dan ayam yang berkotek. Jangan tanya baunya, yang pasti colonge yang biasa dipakai Umminyai labil takkan pernah bisa mengalahkan aroma di dalam kereta api ekonomi yang bercampur aduk antara bau binatang, ketek bapak-bapak, dan keringat super dari penumpangnya. Masih mending saat Umminyai labil berkesempatan menaiki kereta nonekonomi, paling-paling pemandangan sogok menyogok dan kepulan asap rokok saja yang sedikit mengganggu relung jiwanya *kibasponi*.

Seiring dengan perubahan pimpinan, berubah pula-lah aturan main di wajah perkeretaapian Bandung Raya. Mulai dari harga tiket yang naik-naik ke puncak gunung, sampai terakhir ini diberlakukannya pemerataan jenis kereta pun dengan tarifnya, 4000 saja, kemana saja antara Cicalengka-Padalarang. Murah kan? Pelayanannya pun kini mulai diperbaiki, tak ada lagi orang yang merokok karena AC kereta yang tak mengizinkan, pembatasan jumlah penumpang yang menjadikan kereta tak penuh sesak, dan tak ada lagi pedagang asongan yang lalu lalang. Dulu, bila naik pada peek hour maka bersiaplah tak ada tempat untuk kaki berpijak, bertemu Bapak-bapak genit, copet dan ketek manusia yang wanginya semerbak menggetarkan sel saraf dari rambut(?) sampai ujung kuku kaki.

Sayangnya, wajah yang semakin baik ini harus dicoreng oleh oknumnya sendiri. Setidaknya dua kali Umminyai mengalami peristiwa yang tidak mengenakkan. Pertama, sudah lama terjadi dan terlalu basi untuk diceritakan. Kedua, baru saja ia alami di tanggal 25 April 2016.

Alkisah saat itu Umminyai dan penumpang lainnya sudah turun dari kereta menuju gerbang keluar. Bukan sekali ini saja Umminyai naik turun- turun naik di st.Kiaracondong. Sudah berkali-kali!.Ia tahu bahwa ketika keluar gerbang, artinya ia akan berhadapan dengan jalan raya, mamang jualan, dan terik matahari. Sudah, sudah pernah juga ia berjongkok di sisi stasiun menunggu Ayahnyai menjemput, sudah pernah. Pernah juga ia menunggu di warteg sebrang stasiun yang penuh dengan kepulan asap rokok, sudah pernah. Maka, saat itu, saat hari itu, saat drama itu terjadi nalurinya mengatakan bahwa ia harus duduk sebelum berhadapan dengan gerbang keluar. Bukan, bukan tanpa alasan, bayi 2 bulan, anak 5.5 tahun, nenek tua, dan barang bawaan yang segambreng-lah yang mengatakan bahwa Umminyai harus mencari duduk.

“Pak, boleh saya duduk disitu?” Seraya menunjuk tempat duduk penumpang yang hendak naik.

“Oh… tidak boleh. Itu hanya untuk yang memiliki karcis (naik kereta), silakan bisa keluar lewat sana”

“Saya perlu memesan taksi Pak, dan menunggu sampai taksinya datang”

“Iya, ibu bisa tunggu di luar

“Di luar ada tempat duduk?” Pertanyaan yang sebenarnya Umminyai sudah tahu jawabanya.

Tidak ada Bu

“Saya hanya butuh duduk sebentar Pak, untuk memesan dan menunggu taksi”

“Tetap tidak bisa bu, silakan keluar lewat sana

|©~£*%^£¢|. Umminyai hanya bisa mengumpat dalam hati, tapi jangan tanya mukanya. Muka cantiknya pun berubah seiring dengan emosinya yang semakin naik. Kemudian terjadilah percakapan di awal tulisan ini, tentunya dengan desibel yang penuh penekanan!

Umminyai pun melaju menuju gerbang keluar. Seketika otak ngeyel Umminyai bereaksi saat melihat sebuah tempat terlarang. Tempat ilegal di depan kantor petugas. Aing teh cuma ingin diuk euy.

image

Kemudian, tak disangka drama babak dua pun terjadi. Sebutlah namanya Asepsol, masih temannya Asep yang kemudian datang menghampiri Umminyai yang sedang duduk hendak menelepon di tempat ilegal.

Ibu mau kemana?”

Dan drama babak dua pun terjadi, persis seperti babak pertama, ditambah beberapa adegan.

Tetap tidak bisa bu, disini harus tertib, ga enak sama yang sedang PKL

What, ga salah denger gue? Lu ga liat pake mata ada bocah dua dan nenek nenek bawa gembolan gede, tapi ga enaknya sama yang lagi PKL?

“Oke Pak, kalau gitu apa solusinya? Bapak mau gendong anak saya di luar? silakan ini gendong anak saya!”

Tingkat desibel pun mengalami lonjakan seiring dengan tingkat emosi Umminyai. Dan bayi dalam gendongannya pun ikut-ikutan meluapkan emosinya, menangis

Iya… iya… iya bu… sok sok sok

Sambil ngaleos dan wajah terpaksa. Petugas Asep pemeran drama babak satu pun menghampiri.

“Silakan Bu, boleh di ruang tunggu“.

Umminyai yang masih di puncak emosi pun dengan wajah jutek bin judes menuju ruang tunggu.

DARI TADI KEK.

Tadinya bila terus dipaksa keluar, Umminyai hendak mempertahankan argumennya sampai ke level Kepala Stasiun. Tapi untunglah, endingnya hanya sampai drama babak 2. FIUUH. Dan inilah pemeran utama sinetron dua babak ituh.

image

Bersama pemain cadangan, jikalau pemeran utama mendadak pingsan.

image

Dan inilah ruang tunggu yang semula tak boleh Umminyai duduki.

image

KOSONG BRAY!

Alhamdulillah konon sekarang Umminyai sudah pulang ke rumah, berbaring bersama Ayahnyai yang sama-sama baru pulang dari negeri antah berantah.

Akhir kata, semoga ke depan Wajah Perkeretaapian Bandung Raya lebih ramah. Bilapun ada aturan saklek yang harus kudu wajib ditegakkan, pliis, pliiis pikirkan juga alternatif solusi atas sebuah masalah yang timbul akibat aturan itu. Seperti dalam hal ini, solusinya dapat berupa menyediakan tempat duduk di luar gerbang atau di area penjualan tiket.

Sekian. Kiranya bila ada pihak pihak yang merasa dirugikan dengan drama Umminyai, saya selaku managernya meminta maaf toh Umminyai juga tempatnya khilaf yang sewaktu-waktu bisa emosi.

Oke? Yuk mari. Cheese!

**

“Aa, Aa tadi lihat Ummi marah?”

“Lihat”

“Gimana perasaan Aa?”

“Aku mah jadi kepingin nangis”

“Aa tahu kenapa Ummi marah?”

“Ga tahu”

“Mari Ummi ceritakan Nak…”

Maaf ya Nak. Marahnya Ummi memang salah, emosinya Ummi memang salah. Tapi perlu kau ketahui Nak, selalu ada alasan untuk sebuah tindakan. Kali ini Ummi bertahan bukan karena Ummi ingin dikasihani, toh kita juga sudah sering melalui yang mereka inginkan. Menunggu di terik panas, berjongkok bersama tukang dagang, nebeng di warung, dll dll. Ummi bertahan karena di mata mereka Ummi bisa melihat tidak ada sebuah rasa, rasa empati. Sebuah rasa yang hilang akibat ketatnya peraturan. Sebuah rasa manusiawi yang seharusnya ada di diri tiap manusia. Tidak, Ummi tidak melihat itu di mata mereka, saat Ummi bertahan dalam argumentasi.

Ah. Mungkin jiwa manusianya perlahan terkikis menjadi jiwa robot yang selalu kaku, patuh, tunduk pada aturan pembuatnya. Entahlah.

Mudah-mudahan drama Ummi dengan mereka adalah drama yang terakhir dan tidak ada lagi Umminyai-umminyai lain yang mengalami.

Mudah-mudahan.

Apa yang Sedang Saya Lakukan Saat Ini

Ceritanya saya ikut-ikutan mas Adjie S. Menuliskan apa yang menjadi prioritas dalam hidup saya. Agar kemudian setiap hembusan napas tidak keluar dari zona prioritas saya dan menggunakan porsi waktu SESUAI dengan tingkat prioritasnya. Pan mencoba untuk fokus tea, ya ga Bray?

Oke Bismillah. Saya adalah Muthi. Seorang istri dan ibu bagi 3 Ai. Karen saya muslim, saya hendak membagi prioritas saya ke dalam 3 area. Wajib, Sunah, Mubah.

Wajib
– Ibadah Shalat
– Melayani anak-anak: memastikan kebersihan, isi perutnya, isi otaknya.
-Melayani suami: Memastikan kebutuhan fisik dan metafisiknya *halaah* terpenuhi.
-Berkomunikasi dengan suami, anak, dan orang-orang di DUNIA NYATA!

Sunah
– Ibadah sunah
-Membaca BUKU, buku ya jeng Muthi…
-Menulis
-Pengajian
-Beberes… Huahahaha.

Mubah
-Berselancar di FB, path, dan blogwalking
Haha Hihi di wattsap.

Sudah sepertinya. Mohon maaf saat ini saya tidak menerima permintaan untuk menjadi model iklan atau sinetron kejar tayang. Apabila ada yang hendak mengundang saya untuk sesi sharing terkait apapun yang positif, silahkan menghubungi manager saya yang bernama Umminyai. Beliau dapat dihubungi via email cumiubi@gmail.com.

Sekian dan terimakasih.

Last Update 22 April 2016. Akan diubah bila ada perubahan.