CaHaya Itu Bernama LMD

Salman satu diantara jutaan titik cahaya..

Cahaya menuju kemenangan..

Izzah islam menuju abadi…

Saat itu aku tak tahu ada dunia lain selain duniaku, aku terlalu asyik dengan dunia yang kubuat sendiri, dunia yang penuh dengan kebebasan, dunia yang membuatku sangat mencintai dunia, dunia yang membuatku seakan-akan aku tak punya beban apapun. Semua kuhadapi dengan santai. Sanguinis, itulah aku. Saat itu aku sangat heran dengan orang yang bercerita tentang pencarian jati diri. Apa itu jati diri? Mengapa harus dicari. Aku beranggapan bahwa jati diri itu tidak usah dicari, inilah kita dengan apa adanya, inilah kita dengan segala kekurangan dan kelebihan kita, inilah kita dengan ke’aku’an kita, untuk apa dicari, pikirku saat itu. Banyak orang takut taubat karena dia tidak dapat menikmati ‘kesenangan’ dunia lagi setelahnya, jangankan takut tidak mendapatkan ‘kesenangan’ dunia lagi, mempunyai pikiran untuk taubat pun aku tidak punya. Itulah aku.

Sebuah babak dari skenario Allah dimulai dari kertas rekrutment pendaftaran Bioter. Siang itu di kelas kalkulus beredar ‘Open Rekrutmen Bioter’, Hmmm.. Biologi terapan, sebuah frasa yang membius orang yang tergila-gila dengan Biologi, saat itu pula aku tuliskan nama dan no.teleponku tanpa pikir panjang, Beberapa hari setelahnya baru kusadari bahwa Bioter adalah salah satu unit yang berada di Salman. Sebuah masjid yang sangat jarang kukunjungi, walaupun jaraknya tak kurang dari 2 km dari tempat kuliahku. Bukan karena aku malas berkunjung ke Masjid itu, tapi karena pandangan sinis wanita berkerudung lebar yang sering disebut ‘akhawat’ pada orang-orang yang kata mereka adalah ammah .Entah karena sugestiku saja, yang pasti masjid yang seharusnya menjadi tempat ternyaman, terdamai , tetapi tidak kataku.

Hari demi hari berlalu, minggu demi minggu berganti, jarkom demi jarkom kulalui begitu saja, haH, malas rasanya bila harus keSalman, aku harus memanjangkan kaosku dulu, aku harus memakai celana yang sedikit longgar bila tidak ingin menjadi bahan perhatian para akhawat. Hah pokonya aku malas,,, belum lagi nasehat saudara-saudaraku yang kuingat saat tahu aku diterima di ITB..”Tia hati-hati di ITB,,,banyak aliran sesatnya (sambil menyebut salah satu merek aliran tersebut), Tia jangan mau kalau diajak,,’ sejak itu aku berpikir, kerudung lebar=celana ngatung=ekstrim=aliran sesat.

Dina, Nadia, dan Irma sangat sering mengajaku dan beberapa temanku ke Bioter, sampai suatu saat aku bersama satu orang temanku yang jarang kumpul memenuhi panggilan jarkom untuk kumpul di Bioter.

Sore itu di Bioter terasa sesak, banyak sekali orang, sebagian kukenal sebagian lagi tidak. Ketika itu ada selembar kertas yang beredar ‘Pendaftaran LMD (Latihan Mujahid Dakwah)’. ‘hMMM..Mujahid? apa itu?’ pikirku dalam hati, mujahid adalah kata-kata yang asing bagiku, identik dengan peperangan, dan sesuatu yang ekstrim. Lalu aku bertanya kepada salah seorang kakak di Bioter, ‘teh LMD itu apa? Ngapain aja?’ lalu jawabnya ‘Hmm,,pelatihan gitu mut..semacam sanlat, pokonya makanannya banyak, makmurlah kamu disana..’. lalu aku melihat-lihat brosurnya, disana tertera nama pembicara, aku mengenal salah satu pembicaranya, yaitu Bpk. Irfan Anshori, spontan aku berteriak ‘waaaaa kakekku’. Beliau adalah guru di tempat bimbelku dulu sewaktu kelas 2 dan 3 SMA, aku sering diajar beliau, beliau adalah guru kimia yang menyenangkan dan kocak, aku dan teman-temanku sering memanggilnya ‘kakek irfan’. ‘Aku harus ikut’ pikirku saat itu, demi bertemu dengan sang kakek.

Technical meeting dilaksanakan sehari sebelum acara LMD dimulai, ketika itu yang menjadi pembicara adalah Bpk. Hermawan K D., beliau berbicara tentang akhlak seorang muslim (kalau aku tidak salah ingat), yang paling aku ingat adalah ketika beliau menanyakan ‘siapa disini yang belum hapal jus 30?acungkan tangan’ lalu sebagian orang mengangkat tangan, termasuk diriku. Dengan gayanya yang khas, sambil memukul lantai beliau berkata ‘waahh..masa ini, seorang mujahid hapalan qurannya begini, keterlaluan ini, saya ingin melihat 6 bulan mendatang, semua yang ada disini hapal juz 30, nanti akan saya cek’. Perasaanku saat itu adalah, takut.

Bimbang, antara ingin bertemu dengan sang kakek dan perasaan takut akibat shock terapi pada saat technical meeting. Akhirnya kuputuskan untuk tetap mengikutinya, demi bertemu dengan sang kakek. 2 hari kulalui, perasaanku tak menentu, kacau, campur aduk, seperti ada benang kusut yang tidak bisa kuluruskan, ‘ Ada apa ini? Ada apa dengan diriku? Apa yang telah kulalukan selama ini? Siapa aku? Untuk apa aku ada di dunia? Sebenarnya tujuan hidupku apa? Untuk agamaku, apa yang telah aku lakukan? islam itu bukan simbol, islam itu masyarakat, Negara, politik, perilaku, dll. Tiada tuhan selain Allah, tak ada yang mendominasi kita selain Allah, bila kita tidak solat gara-gara menonton TV, TV itulah Ilah kita. Pertanyaan dan pernyataan semacam itu terus melayang-layang dipikiranku. Aku diperkenalkan dengan konsep Tauhid, konsep beriman, hijrah dan jihad (sampai saat ini kata-kata itu menjadi welcome note di HPku), semua materi rasanya menusuk jantungku, disaat orang lain keluar masuk untuk mencuci muka karena mengantuk,mataku tetap terbuka lebar. Seolah olah ada sesuatu yang membukakan mataku, menajamkan pikiranku, melembutkan hatiku untuk dapat menerima semua materi yang diberikan

Hari ketiga, perasaan semerawut itu belum hilang, mengingat masa lalu, sekarang, dan masa depan membuat aku tidak berkonsentrasi untuk menghapal tugas hapalan yang diberikan, Al-Fath 27-29. Padahal hapalan itu digunakan sebagai syarat untuk mengikuti outbound. Akhirnya panitia memberi keringanan, hapalan akan diteskan kembali setelah outbound selesai. Sepanjang jalan aku menghapal ayat itu, ‘kok tidak hapal-hapal?’ pikirku saat itu. Mungkin karena banyaknya dosa yang telah kuperbuat, atau karena Alquran yang tidak mau bersahabat denganku karena jarang kubaca. Sepanjang jalan aku merenung,mencoba untuk menjernihkan pikiran, sampai suatu waktu, saat dzuhur tiba, di sebuah saung di tengah sawah yang luas, tak terasa air mata ini mengalir dari mataku. Aku ingin pulang.

Kembali ke Salman dengan tubuh yang lelah dan kali ini dengan hati yang sedikit tenang. Solat Asar tiba, aku kembali merenung, tak terasa, air mata ini kembali mengalir tanpa kusuruh, tapi kali ini lebih deras. Dia yang sering kulupakan, Dia yang sering kuduakan apakah masih ada sedikit ruang maaf di hatiNya, apakah ada sedikit ampun untuku, apakah Dia menyayangiku. Rabb, maafkan aku.

Saat penutupan, tiba-tiba saja salah seorang peserta mendekatiku ‘Mut ikut asrama Salman yuk?’. Dalam hati aku berpikir, untuk menjadi orang baik, aku butuh tempat baik, lingkungan yang baik. Ya, disinilah aku berada sekarang, Asrama Salman. Saat ini aku bukanlah orang yang paling baik, yang paling benar, dan yang paling soleh, yang pasti disini aku akan terus belajar, belajar dan belajar. For Better Islam.

Bersambung………

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s