Suamikuh

hai..hai..kembali lagi bersama si muti dari Rancaekek 🙂

setelah banyak menulis tentang anak, saatnya menulis tentang suamikuh. Yup suami tercinta, dan akan terus belajar untuk semakin mencintainya.

Namanya Fauzi Fajrudin, lahirnya di bidan di banjaran (ya bi ya?). Lahir dari keluarga sederhana, dengan ibu bapaknya adalah seorang guru agama di SD. Punya 4 adik, adik yang paling besar adalah seumurku dan adik yang paling kecil saat ini sudah smp. Suamikuh tinggal di banjaran, tepatnya di desa Cipeundeuy, boleh dikatakan desa itu adalah desa keluarganya. Bo ya kalau sehabis lebaran, si saya dan keluarga suami saya tidak usah cape-cape naik mobil (perasaan naik mobil mah ga cape ah), gausah ngeluarin biaya bensin, cukup ngesot saja dari rumah ke rumah. hihi. Hemat.

Saya menikah dengan suamiku ketika saya belum mengenalnya, proses lengkapnya bisa dibaca di https://muthiaaa.wordpress.com/2009/07/22/perjalanan-menuju-11-juli-2009/. Menikah dengan seseorang yang sebelumnya tidak dikenal bukanlah sesuatu yang mudah tapi tidak juga susah, karena toh pernikahan itu memang proses pengenalan pasangan kita seumur hidup, bukan? KEnapa dulu saya sreg sama dia, hmm..pertama dilihat dari latar belakang keluarganya, dia adalah sosok yang sederhana, sesuai dengan si saya yang ga suka glamouritas. Selain itu waktu masa-masa ‘perkenalan’, si dia bilang kalo dia ga mau dapet istri yang matre dan tukang menuntut dalam hal keuangan, dan alhamdulillahnya si sy juga ga matre-matre amat, ya realistis lah. Terusnya lagi kenapa saya sreg sama dia, karena track record mengajarnya banyaak, sesuai dengan cita-cita saya jadi guru, walopun nyatanya saat ini dia menjadi abdi negara yang gajinya lebih besar dari mengajar, yah karena ‘kondisi’ yang mengharuskan seperti itu. (Yah, biarlah yank, kan ummi masih bisa melanjutkan ‘bakat’ abi yang satu itu..ya ga yank?).

Setelah menikah, ternyata saya bertemu dengan setengah sosok saya dalam dirinya. Sama-sama pelupa (gawat!), sama-sama lempeng (ngabodorna), sama-sama belum bisa ‘rapih’ (ups), sama-sama mempunyai riwayat SMA yang sama (ckckck), sama-sama dari SMA pinggiran yang berjuang keras ke ITB, sama-sama pintar (haha..tapi saya akui dia jauh lebih cerdas dari saya), sama-sama sederhana (keluarganya, tak jarang menu masakan di keluarganya sama persis dengan keluarga saya, ketika saya ke banjaran, eh si mamah masak ikan asin, tempe, dan sayur kacang, sama pisan sama yang dimakan kemarin di rancaekek, hihi). Terus apalagi ya, sama-sama mukanya (mirip maksudnya, kata kebanyakan orang mah gitu), sama-sama yah ga beda jauh lah. Eits, jangan salah yang bedanya pun lumayan banyak, yaiyalah justru itu seninya, kalo sama semua ya ga rame. Dalam banyak hal, ketidaksamaan dalam diri kita dapat menjadikan kita menjadi saling pelengkap satu sama lain, bukan menjadi pertentangan. Contoh kecilnya adalah suamikuh lebih senang menghapalkan rute dibanding alamat tempat tinggal, dibanding dengan saya yang lebih senang menghapalkan alamat tempat tinggal dibanding rutenya. klop kan ^^.

Hmm..cerita apalagi ya, tentang keromantisan, suamikuh termasuk pria yang tidak romantis, tidak pernah memberi kejutan (eh..pernah dink, sekali, beliin dunkin donat waktu 2 tahun pernikahan kita, hihi), pokonya mah lempeng pisan, apalagi waktu awal-awal nikah, sampai-sampai si saya mikir ‘ini teh serius ga sih nikah teh, meni gaada romantis2nya, lempeeeng abees’. Sekarang mah rada lumayan, waktu ditanya tentang kelempengannya di awal pernikahan kami, dia berujar ‘abi teh cuma bingung mi, harus ngapain sama istri’. Haghag..yasudahlah. Oia, sampai sekarang sudah mempunyai 1 orang anak, kita belum pernah honeymoon kemanaa gtu. -_-..huks. (dalam hati: bi honey moon yuukk) .

Sifat yang saya senangi dari suamikuh adalah suamikuh orangnya baik sekali, membantuku mengerjakan skripsi, menemani kelahiran Aidan, membantu urusan rumah tangga seperti menyuci baju dan piring, pokonya siap untuk dimintai bantuan ketika saya merasa kerepotan/kesulitan, dan yang paling saya senangi adalah sifatnya yang bijak menanggapi suatu masalah. Emosinya stabil, tidak penuntut dan mau belajar. Tentunya dari sekian banyak sifatnya, ada sifat2 yang tidak saya sukai, dan yang paling penting suami saya tahu hal itu, dan kita berdua sama-sama berusaha untuk mengubah bad habbits kami. InsyaAllah.

PEnutup dari saya, semoga abi adalah jodoh saya di dunia dan akhirat. Siapa pun yang duluan nanti, kita ketemu lagi di surga ya yank. Aamiin. Tidak ada buah tanpa benih, tidak ada hasil tanpa usaha. Mari kita gapai cita-cita dunia kita untuk akhirat. Semangat sayaang 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s