Cinta sebelum menikah? Atau menikah baru cinta?

Pagi tadi saya kedatangan seorang adik yang sedang galau atas perasaannya :p.

Di sela sela obrolannya sang adik bilang

“Sama Qiyadah (pimpinan) kan ga boleh teh, nikah sesama Fur**ka (organisasi pembinaan remaja)”

“kenapa?”

“Supaya organisasinya tetap sehat, khawatir malah jadi penyakit dalam jamaah”

Hm. Seketika tombol reaktif saya menyala. Saya teringat sebuah ayat AQ yang berbunyi:

“….maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau….”

Ayat itu menyiratkan, ga masalah toh? menyukai seseorang lantas pada akhirnya di sahkan melalui lembaga pernikahan?

Oke. Saya mengerti, ini adalah kekhawatiran majemuk(?) Qiyadah mengenai ketidaksehatan sebuah organisasi Dakwah karena didalamnya ada bibit bibit ’merah jambu’ yang khawatir AKAN KEBABLASAN, sehingga timbul stigma negatif dari luar terhadap organisasi Dakwah. Tapi apakah dengan TIDAK MEMPERBOLEHKAN sesama anggota organisasi menikah itu solusinya?

Maaf, kalau saya boleh berpendapat, itu seperti menebang pucuk daun menguning di tengah ketidakberdayaan akar menyerap nutrisi. Solusinya tidak manusiawi! ga nyambung masbro!

Kalau sekiranya Qiyadah tersebut khawatir akan timbulnya bibit bibit ’merah jambu’ yang berkepanjangan, ya perkencang pembinaannya donk!

Beritahu pada binaan ikhwannya untuk bersikap biasa biasa aja sama akhawat! Keramahan ikhwan bisa disalahartikan oleh akhawat!

Beritahu binaannya mengenai adab interaksi, menjaga pandangan, aturan jam malam. Rapat ko malam malam! sigh!

Beritahu pada binaan ikhwannya, kalau sudah siap? menikah! belum siap? jangan menye menye ga jelas sama akhawat! ga ada zona abu abu! gentle!

Beritahu pada binaan ikhwannya mengenai bagaimana seharusnya seorang laki laki memiliki daya juang, visi berkeluarga orentasi akhirat!

Beritahu pada binaan ikhwannya mengenai wawasan berumah tangga yang ternyata ga hanya enaknya aja!

Beuh. Nepsong saya. Maap maap. Saya tahu nepsongnya saya ga solutif, tapi mudah mudahan ini bisa dibaca oleh yang berkepentingan.

Buat Akhawat? seperti nasihat yang pernah saya dapatkan di sini. Tak usah khawatir akan jodohmu siapa, fokuslah pada perbaikan dirimu.

Lantas apakah menikahi seseorang yang tak kita cintai terlebih dahulu sudah pasti itu yang terbaik? belum tentu juga honey! Coba deh tengok peristiwa bubar jalan duo aktivis dakwah yang melalui proses menikah sebelum mencinta ini? ada? ada!

Maksud saya, mau pakai cara cinta sebelum menikah atau menikah dulu baru cinta. Itu sama sama ada resikonya, sama sama ada kekurangan kelebihannya. Toh yang seharusnya menjadi bahan pemikiran kita bukan hanya tentang ’Kita ingin pakai cara yang mana’ saja kan? Yang justru harus menjadi concern kita adalah, Bagaimana kita sedapat mungkin berproses dengan cara cara yang diridhai Allah.

Apakah kita sudah membersihkan hati hati kita dari seseorang yang datang pada kita, saat ia datang?

Apakah kita teruuus menjalin bonding yang kuat dengan Allah sebelum/selama proses itu berlangsung?

Apakah visi berkeluarga kita sudah lurus?

Apakah kita terus menjaga adab adab berinteraksi dengan lawan jenis kita?

Apakah kita terus berikhtiar menjadi pribadi lebih baik, sehingga Allah akan mendekatkan dia yang entah siapa dan entah dimana, sesuai dengan kualitas kita saat itu?

Karena, ujian cinta itu tak akan berakhir saat kita menemukan dia sang tambatan hati. Saat Allah merasa seseorang tersebut belum lulus ujian cintanya. Maka Ia akan datangkan kembali ujian cinta di kemudian hari.

Jadi sesungguhnya, pertanyaan pertanyaan di atas berlaku tidak hanya untuk para bujangan bujangwati saja. Tetapi juga untuk saya, suami saya dan siapa saja yang sudah menikah, yang mungkin kelak akan Allah uji lagi di masa yang akan datang.

Jadi ini adalah bukan tentang cara menikah dulu baru cinta atau cinta dulu baru menikah. Ini adalah tentang bagaimana kita terus memperbaiki diri, terus menjaga diri dari hal hal yang dapat membuka jalan pintu syeitan masuk, dan terus mempertebal keimanan kita. Masalah rasa cinta? Itu urusan Allah, Dia yang Maha Mendatangkan rasa Cinta dengan mudahnya akan tetapi Dia juga Yang Maha Menenggelamkan rasa Cinta dengan mudahnya.

Dan apakah kita berhak memutus rasa cinta hanya gara gara sepasang anak adam berada dalam satu organisasi yang sama?

Wallahu’alam bi shawab

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s