Delapan Dalam Satu

image

#1

Terbangun dan bersegera mengerjakan rutinitas. Mulutku tanpa disuruh berdzikir menyebut asmaNya.

Saat cuci piring, baca dzikir almatsuraat.

Saat mengepel, menyanyikan lagu asmaul husna.

Saat menyusui, kubaca Al-Qur’an

Saat membersamai anak bermain, kuberikan senyum terbaik seraya mendendangkan hapalan qur’anku yang pas-pasan.

Hari itu, tak ada kata keluh dan amarah yang keluar dari lidah tak bertuan ini.

#2

Hari ini bersama anak-anak pergi mengunjungi tetangga, sahabat, saudara, dan ibunda tercinta.

Kubawakan sekotak kue buatanku sendiri, tidak besar, karena mengingat banyaknya jumlah yang harus kubawa.

Tiba-tiba ku teringat ucapan Rosulku.

“Saling memberi hadiah, maka akan saling mencinta”

Harapanku sederhana, bahwa mereka akan mencintaiku. Pamrih memang, tapi entah kenapa hari itu langkah kakiku memaksaku berbuat seperti itu.

#3

Hari ini aku mengajak anak-anakku memecahkan celengan 20 ribuan yang sudah kusimpan sejak lama. Semula uang yang terkumpul hendak kubelikan buku untuk anak-anak. Tapi entah kenapa pikiran ini tergerakkan oleh sesuatu di luar sana, panti asuhan. Ya, kesanalah kaki ini melaju hari itu. Melihat betapa bahagianya anak tak berbapak dan tak beribu itu tersenyum saat kuberi amplop, rasanya tak bisa terlukiskan.

Siang hari, tiba-tiba saja aku ingin menggarsel semua bajuku. Baju-baju yang jarang kupakai, daripada mubadzir, pikiranku mengatakan seperti itu. Bersama anak-anak, aku pun membuka garselan di halaman depan rumah, tak lupa menyambi menawarkan online lewat layar kecil yang sering kubawa.

Alhamdulillah, semua laku, uang pun menumpuk. Lagi-lagi kali ini aku tak berselera dengan benda berangka itu. Kuberikan pada anak tertuaku, dan kutitipkan pesan, agar kelak ia dapat memberikannya untuk anak jalanan seuisianya yang harus hidup keras di jalan raya.

#4

Entah mengapa dada terasa sesak, tapi kuabaikan karena mungkin ini hanya efek masuk angin setelah hari sebelumnya aku keluar rumah dan beraktivitas lebih berat dari hari biasanya.

Meskipun diri menolak untuk beranjak dari tempat tidur, tapi kaki terus melaju tanpa disuruh. Pikiranku mengatakan bahwa hari ini akan kuberikan sepenuhnya untuk ketiga anakku.

Kubawa mereka ke taman lalu lintas, dan kunikmati tiap tingkah polah mereka.

Betapa bahagianya tawa mereka terdengar, sesekali menangis, tapi tangisannya begitu merdu di telingaku.

Guratan kekhawatiran tampak di mata mereka saat diri memegang dada yang terasa sakit.

“Ummi kenapa?”

“Ga apa-apa sayang, ayo main lagi, yang bahagia ya Nak”

Mereka pun bermain kembali seolah lupa atas apa yang terjadi pada Umminya. Tapi diri tak bisa dibohongi, kutahan apa yang kurasa.

Hari ini…

Ku hanya ingin melihat mereka tersenyum.

Ku hanya ingin melihat mereka berlari kecil mengejar satu sama lain.

Ku hanya ingin mendengar celotehan mereka, sebising apapun itu.

Ku hanya ingin memeluk mereka yang saling menyembunyikan diri di pangkuanku.

Aku pun pulang ketika langit sudah gelap, aku izin kepada suamiku, agar malam ini aku tidur bersama mereka.

Kubacakan mereka cerita Asmaul Husna, bacaan favorit mereka sambil sesekali beracting  memeragakan tokoh yang ada di buku. Mereka pun tertawa melihat tingkah konyolku.

“Ada ikan hiu yang hendak menerkam Tono! Hauuum! Tapi Tono segera berdoa, ’Ya Allah yang Maha Memberi Keselamatan, selamatkanlah Tono ya Allah’”

Tiba-tiba diri terdiam, teringat akan keselamatan anak-anak kelak. Bagaimana bila ia bertemu orang jahat disaat aku tidak ada? Bagaimana bila ada yang mengganggunya di jalan? Bagaimana bila ada yang melecehkannya?

Lamunan ini terputus saat kedua anakku berteriak.

“Ayo Ummi lanjutin! lanjutin!”

Cerita pun dilanjutkan, sementara diri terus menguatkan hati. Ya, jadilah Tono yang percaya bahwa Allah akan menyelamatkannya. Ada Allah yang akan Menjaga anak-anakku.

Malam itu anak-anak tertidur pulas. Kutatap lekat-lekat wajah mereka. Betapa sucinya makhluk yang belum dinodai dosa ini. Kuciumi wajah mereka, terus kuciumi, sampai tak terasa wajah mereka basah karena air mata. Aku pun tidur di tengah-tengah mereka. Merasakan kehangatan dan kenyamanan dari panas dan aroma tubuh mereka.

#5

Kupergi seorang diri ke toko kain, putih pilihanku, kusimpan dalam lemariku.

#6

Hari ini bukan hari ulang tahun suamiku, tapi ingin sekali kuberi kejutan untuknya. Dia tak suka kata-kata romantis atau kejutan kado. Hal yang paling ia sukai adalah sentuhanku, nyaman katanya.

Kurencanakan hari ini untuk membeli beberapa barang di kota. Anak-anak tetap kuajak, tapi pulangnya akan kutitipkan kepada ibuku. Hari ini milik Ayahmu ya Nak.

Di perjalanan, rasa sesak seperti hari kemarin masih terasa. Tapi kuabaikan, aku lebih bersemangat akan rencanaku hari ini ketimbang rasa sakitku.

Kubeli beberapa barang seperti minyak zaitun, parfum, lilin aromaterapi dan baju tidur seksi.

Malam tiba, kuberikan suami segelas air madu. Kita pun terlibat obrolan mulai dari yang serius sampai yang santai.

Obrolan serius, karena kita saling bertitip pesan wasiat bila salah satu diri dipanggil olehNya duluan.

Obrolan ringan, karena dia memuji penampilanku malam itu yang terlihat sangat cantik.

Ah, tak perlulah diceritakan bagaimana kelanjutannya.

#7

Terbangun dengan dada yang semakin sakit. Aku pun membangunkan suamiku. Keringat bercucuran di seluruh tubuhku. Aku menangis dan sesaat kemudian, sudah berada dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar.

Dalam keadaan itu, aku masih bisa mendengar suamiku menahan tangis dan menelepon taksi, dia terus berusaha membangunkanku, tapi mulut dan mata tak kuasa bergerak.

“Ummi sayang, Ummi sayang, bangun sayang!”

Air matanya terasa hangat menetes ke wajahku. Aku ingin bilang bahwa aku tidak apa-apa, hanya terasa sakit sedikit di dada, tapi lagi-lagi pita suaraku tercekat.

Aku merasakan tubuhku diangkat ke suatu tempat, dan melaju, oh mungkin ini taksi, pikirku. Di dalam taksi pikiran ini pun melayang.

“Apakah ini saatnya? Bila ya, tak ada yang harus kupikirkan selain Allah… Allah… Allah…”

Aku ingin saat terakhir di dunia adalah saat mengingatMu, tidak yang lain.

#8

Aku merasakan sekujur tubuh ini kedinginan, aku mendengar suara orang mengaji di sekitarku.

Mata ini terbuka, sedikit, kulihat suami, ibu, teteh, mang, bibi, dan anak-anakku ada di sana. Mereka sedang membaca AlQur’an, anak-anakku hanya terdiam di kursi pojok ruangan.

Sekelebat terlihat ada satu sosok yang tak kukenal, berwajah menakutkan, aku terpejam kembali.

Perlahan rasa sakit kurasakan dari bawah kakiku, terus menjalar ke bagian perut, dada, sesampainya di tenggorokan, sakit itu semakin menjadi, rasa sakit yang tak pernah kurasakan sebelumnya…

Aku ingin berucap AsmaMu, tapi tak kuasa…

Aku ingin berucap Allah, tapi lidahku kaku…

“Aa…aa..aa”

**

Kukuruyuuuuk.

Suara Ayam membangunkanku. Aku terbangun dengan bercucuran keringat, dan rasa sesak. Masih jelas rasanya urutan peristiwa semalam.

Rabb. Inikah peringatan dariMu?

**
Tulisan ini diikutkan dalam dnamora Giveaway


11 respons untuk ‘Delapan Dalam Satu

    1. Hihi… endingnya mengacaukan isinya ga teh? soalnya bingung,ditentuin spesifik 8 hari. Karena ga mungkin sebenarnya kita tahu waktu kematian, yaudin dibuat seolah olah memang mungkin aja, tapi yaa gitu… di dalam mimpi… Hihi…

      Nuhun ya teh sudah berkunjung…. Aamiin ya Rabb.

    1. Aiih… nuhun teteh… Baca apa yaa…hihi.. Abis baca kumpulan cerpen orang kali ya teh.. sedikit banyak ada ngaruhnya kayaknya.. Teteh juga kereen kook ^^

  1. Masya allah… Bergetar teh bacanya dan meleleh saya… Rasanya saya tak sanggup untuk mengkuti give away ini… Salut untuk teteh… Semoga kita kembali kepadaNya dalam keadaan terbaik dan khusnul khotimah… aamiin ya rabbal’alamin
    :’)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s