Lingkaran Ilmu dan Amal

Akhirnya… setelah cuti hampir 4 bulan melingkar, mengilmu, dan bertemu orang di luar keluarga, tetangga, dan pak Satpam. Kini saya memiliki keluarga baru, benar-benar baru. Kalau kelompok yang lama berprofesi sebagai IRT dan rata-rata berusia di atas 40 tahun, kali ini saya disekelompokkan dengan ibu-ibu pekerja dengan usia rata-rata 35 tahun-an.

Kenapa kok pindah?

Alhamdulillah kali ini alasannya bukan karena pundung *halahteusyari*, melainkan karena jadwal Halaqah kelompok terdahulu yang tidak bisa saya ikuti. Jadwal kelompok terdahulu, mengambil hari weekdays yang mana untuk saat ini sepertinya sulit.

Sebagai  gambaran, sebelumnya saya selalu menggunakan ojeg untuk Halaqah, Aisha di belakang bersama saya, Aidan di depan mamang Ojeg. Ojeg ini transportasi satu-satunya yang bisa digunakan karena;

1. Ga punya kendaraan lain selain motor, dan motor dipakai Ayah ke kantor. Dulu waktu di Ekek Ayah ke kantor naik kereta, jadi saya leluasa menggunakan motor yang sudah saya namai, akang Repo, itu.

2. Ada angkot, tapi hanya sampai jalan besarnya saja, ga bisa masuk kompleks yang mana rata-rata rumah ibu-ibu itu masuk lagi ke dalam komplek.

Jadi, kebayang kan riweuhnya bawa dua bocah naik ojeg, belum lagi perut yang ketika itu semakin membesar karena hamil Aiki.

Dan kali ini setelah lahir Aiki, ga kebayang deh Aikinya mau disimpen dimana :)) Naik motor berlima sama mamang Ojeg dempet-dempetan?

image

                   Gambar google

Ampun Kakak…

Akhirnya saya meminta kepada Murobiyah untuk dipindahkan. Dan setelah menunggu lama sampai rasanya ruhiyah ini krik krik kering bak wajan gosong, sms itu pun datang.

Saking lamanya ga ada konfirmasi, pak Su yang sudah absen halaqah sejak jaman belum lahir Aisha pun bersuudzon. Jangan-jangan Ummi di blacklist. Hihi. Setahu saya memang di kelompok Tarbiyah yang saya ikuti ini suka ada yang dicirian, akibat terlalu kritis-lah, banyak ga sependapatnya-lah, mengemukakan argumen antimainstream-lah dan sejenisnya. Tapi memang insyaAllah tidak akan sampai ada orang yang ditolak gara-gara mau ngaji di Tarbiyah. Entah kalau levelnya udah sekelas bang FH yang kemarin-kemarin dikeluarkan dari Tarbiyah (ih saya juga ga setuju tauk! Etapi bener gitu ga boleh tergabung lagi di lingkaran-lingkaran tarbiyah?). Ah, entahlah… dan Kenapa suami saya bilang gitu? Karena saking seringnya saya cerita kekritisan saya kalau lagi Halaqah, sampai-sampai dibilang ‘Ummi gapapa gitu Ummi kaya gitu? Ga akan di blacklist?’ Hehe. Entahlah Yah, yang pasti saya kritis karena saya cinta dengan Tarbiyah, dan saya kritis karena saya ingin mencari solusi dan mengajak diskusi. Walaupun nyatanya memang banyak hal yang akhirnya saya pun berucap ‘oke baiklah, saya mengerti dan paham’, setidaknya saya sudah mencoba mencari tahu dan tidak terjerumus kepada taklid buta (ikut-ikutan).

Ko Masih Mau sih Ikut beginian? 

Ini salah satu ikhtiar aja sih sebenarnya, ikhtiar untuk memperbaiki keimanan, menambah ilmu, dan ikhtiar mencari ladang amal shaleh secara berjamaah. Dan utamanya jamaah ini yang paling dekat dengan saya sejak jaman kuliah dulu, sulit dan memang belum ada kesempatan untuk pindah ke lain hati. LOH memang ada niat pindah Mut? Tepatnya, adalah niat mencari apa yang sesuai dengan fatwa hati ini tunjukkan, tentunya dengan terus meminta agar Allah membimbing hati ini. Makanya, dulu saya agak ga sependapat dengan mantan Murobiyah saya yang melarang saya ingin ikut pengajian di ‘tetangga sebelah’, karena bagi saya mencari ilmu Allah itu bebas kemana saja, selama tidak bertentangan dengan AlQur’an dan Hadist. Ngerti sih maksudnya, karena ada itjihad para ulama yang terkadang bertolak belakang dengan jamaah Tarbiyah, dan khawatir saya ‘terkontaminasi’. Tapi kan bo saya bukan anak kecil lagi? Toh nanti yang akan dimintai pertanggungjawabannya juga saya :D. Yosh, begitulah saya dalam jamaah Tarbiyah ini, rasa cintanya tidak ditunjukkan dengan sikap yang manut manut saja, dan utamanya rasa cinta ini bertumbuh karena disanalah saya menemukan teman-teman yang dapat mengingatkan saya untuk menjadi lebih baik. Maka Pliiss… jangan pecat saya dari Jamaah ini ;). Tapi pun bila kelak itu terjadi, Qadarullah, dan insyAllah dengan dipecatnya saya, saya tak akan berhenti dari Proyeknya Allah, dakwah, bagaimana pun jalannya. Mudah-mudahan Allah meridhai, dan mempertemukan saya dengan orang-orang yang mencintai Allah dan Allah pun mencintainya. AAMIIN YRA


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s