MENYAPIH AIKI #DAY1

Sounding tentang ‘menjadi besar’ sudah dilakukan sejak dua bulan yang lalu. Sampai dia hapal bahwa setiap ditanya ‘berapa?’, pasti jawabnya ‘dua’. Saking seringnya berucap ‘2 Tahun ga nenen lagi ya…’

Walaupun dia jawab ‘iya’, tapi yakin bahwa dia sebenarnya ga ngerti kapan itu 2 tahun? Berapa bulan lagi? Esok? Lusa? Baginya yang penting dengan jawaban itu ‘aku masih bisa tetap Nenen’

Sounding tentang ‘Siapa saja yang ga nenen’ pun dia sudah hapal

“Aa, ga nenen”
“Teteh, ga nenen”

Semua diabsennya satu persatu. Dan dengan PD pun dia berucap

“Dede, ga nenen”

Saat ditanya ‘Beneran nih ga Nenen?’, kepalanya pun langsung menelusuk(?), pura pura ga dengar apa yang barusan ditanya.

Lalu tibalah hari ini. Kenapa hari ini? Ya, karena ingin 😁 Sesimple itu memutuskan ‘aku ingin memulai hari ini’. Aa-nya yang berhasil lepas 21.5 bulan dan Tetehnya berhasil lepas 23 bulan menjadikan Umminyai ga punya bayangan sama sekali untuk memperpanjang durasi menyusui. Ya sudah. Kita mulai hari ini ya Nak. Di usia yang hampir sama seperti kakak-kakakmu.

WWL? Entah apa definisi WWL. Kalau definisinya tanpa tangisan dan lepas karena kemuan anak, maka sudah dipastikan Ai Ai Ai jauh dari definisi itu. Pun demikian, bukan berarti pada prosesnya dibiarkan kokosehan di lantai, tanpa pelukan, tanpa kompensasi kenyamanan hal lain, tanpa kata-kata cinta, kan?

Kalau harus menangis, biarlah menangis. Kita tenangkan ia lewat pelukan. Walaupun tadi sama sekali ia tak mau dipeluk. Pokoknya sekali nenen tetap nenen.

Kalau harus menangis, biarlah menangis. Kita tawarkan tangan untuk menggendong, bila benar dia mau tidur. Walaupun tadi dia tidak mau digendong. Pokoknya sekali nenen tetap nenen.

Yang lucu adalah saat di tengah tangisannya, dia mengadu ke Tetehnya…

“Teteeh… teteeh… nenen… nenen”

Dan Teteh pun mencoba mendengarkan perasaannya dengan bertanya…

“Dede mau nenen ya?”

Dalam hati, weis mantap Teh! Kamu berhasil meniru bab mendengarkan aktif dari Ummi. Volume tangisan pun menurun saat Teteh bertanya.

“Iya…”

Dan Teteh pun melanjutkan…

“Sok bilang baik-baik”

Gubraaak. Tetehnya memang belum di-kongkalikong-kan bahwa harus menjawab a b c d untuk membantu proses sapihnya.

Dan tebak apa yang terjadi?

Aiki pun mengerem tangisannya, dengan suara lembut, teratur, dia bilang…

“Ummi… Nenen”

Persis seperti yang diperintahkan Tetehnya untuk berbicara baik-baik.

Akhirnya, tangisan sesi pertama berhenti setelah datang keajaiban. Ya, sang Ayah pulang ke rumah dan mengajaknya jalan-jalan. Mendengar kata ‘mobil’ langsung lupa bahwa dia sudah menangis selama 1 jam lebih.

Pulang ke rumah dengan wajah sumringah, seperti yang tak terjadi apa apa.

Waktunya sounding kembali! Apresiasi atas terhentinya sesi menangis part 1.

“Wah Dede bisa ya ga nenen tadi? Pintar! Bisa ga nenen ya? Sudah besar ya? Toss dulu donk yang tadi ga nenen”

Dia pun menyambut Toss an Umminya. Yippy.

Drama sesi kedua pun dimulai. Nahloh. Mau bobo katanya. Umminya memang membiasakan diri Bobo sambil nenen. Karena itu adalah kenikmatan hakiekie yang mana Umminya bisa sambil mengheningkan cipta juga. Seperti drama sesi 1, ditawarkan apapun dia tidak mau. Yang penting nenen. Sekali nenen tetap nenen.

Di tengah tangisan, akhirnya Ummi mendendangkan lagu yang sudah sering dia dengar.

“Siapa anak pintar?” (Nada lagu nama nama nabi)

Aa dan Teteh pun berebutan “Teteh!” “Aa!”

Dan ada yang ga mau kalah donk! Di tengah sesegukannya dia berkata “Dede!”

Akhirnya, lanjut kembali Ummi bernyanyi…

“Siapa sudah besar?”

Kali ini Ummi mengajak Teteh dan Aa untuk sama sama mengucapkan kata ‘Dede’, untuk menyemangatinya.

“Siapa engga nenen Ummi?”

“Dede!” Teriak Aa dan Tetehnya.

Dedenya? Nonggeng sambil mendengarkan.

Dan akhirnya dia pun tertidur setelah xx jam bermain drama.

Piuuuh.

Malam hari, walaupun tidak meminta, saya tawarkan untuk Nenen.

“Tuuh sudah gelap ya? Matahari? Ga ada. Nenen Yuk?”

Dengan wajah jaim, akhirnya dia mengangguk.

Kemudian karena satu dan lain hal, Ummi harus meminta izin mengcut sesi nenennya.

Ummi pergi ke ruangan lain, lantas untuk pertamakalinya dia berucap

“Mi… lagi… lagi…”

Sebuah kata yang menandakan bahwa sesi nenen-mu belum puas. Sebuah kata yang menandakan rezeki nenenmu yang dulu tak terbatas, kini ada batasnya, dan dia menagih batasan yang masih menjadi haknya itu.

Sebentar lagi ya sayang…

InsyaAllah, Allah akan memberikanmu rezeki kenyamanan dalam bentuk lain. Sebentar lagi, insyaAllah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s