Menyapih Aiki #day2 – Final.

“Mengapa secepat ini Nak? Ah teu rame!”

Sempat terpikirkan dalam hati kalimat itu. Namun kemudian diralat kembali. Dasar manusia, saat dimudahkan meminta yang sulit. Saat sulit, meminta yang mudah. Maumu apa?

Hehe. 

Prosesnya yang begitu cepat, menjadikan Umminyai terbengong bengong. Kok bisa? 

Benarlah bahwa tiap anak itu unik. Cara yang sama untuk tiap anak, tapi respon dan hasilnya bisa berbeda.

Mengapa memutuskan untuk bertahap? Sapih siang terlebih dahulu? Ya biar dia ga merasa jetlag atas kenikmatan yang tiba-tiba hilang.

Mengingat dulu waktu Tetehnya, di siang hari begitu banyak drama yang terjadi. Ada kalanya tangan begitu pegalnya karena dia harus dieyong-eyong, ada kalanya Umminyai malah marah-marah karena cape cape gendong, ga tidur-tidur, malah nangis, bingung apa maunya.

Jadi, sekarang pun sudah menyiapkan diri bila harus berpegal ria.

Selain itu, tentunya ikhtiar sounding yang buanyaaaak sebelum hari H, saat hari H, apresiasi keberhasilan sekecil apapun, juga yang tak kalah penting ikhtiar menyiapkan mental Umminya.

Mendengar anak menangis berlama-lama bagi sebagian orang itu memusingkan loh,? Lantas apakah umminya pusing?

Alhamdulillah, tidak. Hehe. Sejak awal me-mindset-kan diri bahwa yang namanya kenikmatan dicabut pasti sedih dooonk! So sedari awal percakapan sesi menangis saat menyapih adalah percakapan yang mencoba memahami perasaannya. 

Trik-nya adalah.

1. Jangan berbicara panjang lebar saat dia menangis.

2. Bila hendak berbicara, mulailah dari kata tanya yang bermaksud mengerti perasaannya.

“Dede sedih ya, ga bisa nenen Ummi?”

“Memangnya Dede mau banget ya nenen Ummi?”

“Kenapa? Dede ngantuk?”

“Mau Bobo?”

Tanda dia mengerti ucapan kita adalah dia mengerem tangisannya, dan mulai menjawab.

“Iya”

Bila dia tidak menjawab, cukup berikan pelukan saja. Bila tak mau dipeluk, dampingi dan usap usap kepala, badannya, dan tetaplah di sisinya.

3. Saat sudah bisa membuka percakapan, tawarkan alternatif kenyamanan lain.

“Peluk aja Yu!”

“Kalau diAis mau? Ummi eyong-eyong Yu?”

Kalau kemarin, saat hari pertama sapih, Aiki sama sekali tidak mau dipeluk, hanya diusap-usap saja. Barulah saat hari ke dua dia mau diusap usap, dan badannya mulai mendekat ke arah Ummi.

Walaupun dia menolak, percayalah, bahwa dia butuh kenyamanan bentuk lain. Tetap usahakan memeluknya, mengusapnya, atau mengeyong-eyongnya.

4. Bila masih menangis setelah ditawarkan alternatif kenyamanan lain? Biarkanlah. Tetaplah berada di sisinya. Senangis-nangisnya anak, insyaAllah tidak akan lebih dari 2 jam. Bersabarlah, toh dia juga sedang bersabar dengan cara menangis untuk mendapatkan keinginannya.

Waktunya pengujian, mana yang lebih sabar 😁

5. Konsistenlah. Saat berani memutuskan untuk memulai. Selesaikanlah sampai tuntas. 

Saat memutuskan penyapihan bertahap. Konsistenlah. Dan penuhi janjinya saat malam hari bila dia meminta menyusui. 

Lain Aiki lain Aisha. Bila Aisha, dia sampai bisa menghapal sounding siang hari 

“Mi, iang?(siang?) Matahali? Ga nenen?” 

Maka keputusan untuk memulai sapih malam, adalah saat di sudah bisa tenang tidur siang. Tanpa drama berarti.

Kalau Aiki, belum juga hapal siang dan malam. Malam harinya saat tidak ditawarkan, dia tidak meminta.

Hanya sekedar suara gelisah, yang bisa ditenangkan dengan usapan di kepala. Tidur deh!

Saat subuh hari yang biasanya jam nenen pun, dia terbangun gelisah. Tak ada ucapan nenen. 

“Mau minum?”

“Iya…”

Seperti Aa-nya dulu yang mengganti keinginan nenen dengan meminta air madu.

“Mii… Aduu (madu).

Cepat sekali prosesmu Nak!

Saat hari ini (#day3) dia melihat Umminya mencoba mengeluarkan ASI yang penuh pun, dia hanya menunjuk dan berucap.

“Nenen?”

Kemudian pergi.

22 bulan 2 Hari. Menjadi hari pertama-mu Full tidak menyusu pada Ummi.

Barakallah. Semoga istiqomah ya Nak! 

Momen ini bukan untuk menunjukan siapa yang lebih punya power dan siapa yang harus menuruti aturan. Bukan. Adalah Allah yang memudahkan prosesnya. Adalah Dia yang menuntunmu untuk mudah melepaskannya. 

Sebagai langkah awal, menuju step tumbuh kembangmu yang lain.

Good Bye Sapih! Welcome Toilet Training! 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s