5 Hal yang Tidak Akan Kamu Temukan di Film AAC 2

Hai Hai sudah pada nonton donk Film AAC 2? Film yang konon menembus 1.6 Juta penonton dalam waktu sekian minggu. Kalau bukan karena diangkat dari Novel Kang Abik, mungkin Umminyai ga akan ngebela-belain keluar malam sampai jam 00.30 hanya untuk nonton film ini.

Terus-terus kesan Umminyai gimana nih terhadap Film ini? Jujur, karena ada bisikan-bisikan dari sebelah yang mengomentari
“Adegan ini gaada di novel”

“Yang ini beda ceritanya”

Dan sepanjang perjalanan pulang yang bisik-bisik itu memberikan pandangannya terhadap Film yang katanya juaauuuuh lebih, ehm, maaf- jelek dibandingkan dengan Novelnya, maka secara otomatis Umminyai pun ikut tersibghoh dengan yang bisik-bisik itu. Ya! Yang bisik-bisik udah duluan baca novelnya ketimbang Umminyai. So? Yang ada sepulang dari Bioskop Umminyai langsung ngebut baca Novel yang ketika itu baru dibaca seper sejuta bagiannya :D.LOL.

And then, benar! Benar banget kata yang bisik-bisik yang tak lain adalah Pak Suami. Di Novel juauuuuuh lebih kaya. Dan maaf kalau Minyai harus setuju dengan Pak Suami bahwa novelnya juauuuuuuh lebih bagus dibanding filmnya. Oke, oke. Minyai setuju bahwa bila sebuah novel difilmkan akan terjadi distorsi-distorsi cerita. TAPI yang ini tuh distorsinya keterlaluan. IMO. Saat Minyai menonton sebuah novel yang difilmkan semacam 5 cm, laskar pelangi, harry potter atau bahkan AAC pertama, Minyai masih bisa enjoy menikmati alur ceritanya. So So Sorry kalau untuk AAC 2 ini TERLALU BANYAK yang ‘tiba-tiba’ JREENG, penggalian motif setiap kejadian sangat dirasa kurang. Ya… Ya… Ya… ngerti siih… masalah durasi kaaan?  dan tentunya ga mudah menentukan adegan mana yang dipotong, ditambahkan, atau bahkan diacak alurnya. Yang mudah itu memang menjadi komentator macam Minyai. Haghaghag.

So? Bagi kamu. Iya kamu! Yang ga puas nonton AAC 2 macam Minyai. Minyai rekomendasikan untuk membaca novelnya. Hal apa saja memang yang akan kamu dapatkan di novelnya yang ternyata tidak ada di filmnya?

  1. Penggambaran Detil Tiap Tokoh

Seperti halnya kalau di film, Fahri diceritakan sebagai ‘sosok malaikat’ yang kaya raya, ideal banget, dan diperebutkan banyak wanita. Di novelnya kamu akan disuguhkan bagaimana USAHA Fahri untuk dapat menjadi sosok ‘ideal’ tersebut. Bagaimana ibadahnya, bagaimana kerja kerasnya, bagaimana waktunya yang padat, bagaimana pergaulannya di perusahaan yang dia pimpin, interaksi mendalam dengan tiap tetangganya, kampus tempat mengajarnya, dan komunitasnya.

Oia, sosok Sabina di novel pun digambarkan sebagai perempuan berwajah rusak dan bersuara serak. Di awal novel tidak ada petunjuk sama sekali bahwa ia menggunakan cadar seperti di film. So? Terbayang sekali kan bagaimana ‘rusak’nya wajah dan suara Sabina sampai-sampai tidak ada yang ‘mengenali’nya, bahkan suaminya sendiri 😀

Sosok Hulya di novel pun berbeda dengan yang digambarkan di Film. Hulya di Novel digambarkan sebagai perempuan Turki yang mengenakan jilbab dan terlihat anggun dan pandai memainkan biola. Bahkan menjadi teman ‘duet’ bersama Keira di beberapa kesempatan.

  1. Cinta Mati Fahri

Di Film sih ga terlalu dijelaskan detil yak! Betapa merindunya sosok Fahri pada Aisha, sampai-sampai ada sebuah review film yang ‘gemes’, kok ya Fahri ga nyari Aisha, dicari ga oi!, wajar sih wong memang ga diceritakan kan. Tapi di novelnya jangan tanya dicari atau engga, wong saking dalamnya cinta Fahri sampai sampai saat sudah menikah dengan Hulya, Fahri tidak dapat menjalankan tiit kemudian tiit lalu tiit. Wkwk. Ntar SPOILER lagi, intinya bayang-bayang Aisha selalu hadir dalam benak Fahri. Bahkan, sosok Hulya pun baru muncul saat-saat di pertengahan Novel (apa 3/4nya ya), pokoknya ga dari awal. Ada sih, tapi hanya sekilas diceritakan. Dan sosok Yasmin sama sekali ga diceritakan di Film. Nahloh, siapa lagi itu Yasmin? Ya, pokoknya salah satu perempuan yang pernah hadir dalam hati Fahri.

Fahri oh Fahri. Wanita mana yang ga mau denganmu? Eits! Jangan salah, di Novelnya, sesosok Fahri sampai-sampai ‘ditolak’ 2x loh oleh wanita. Satu oleh Yasmin, dan satu oleh Sabina! Whaat? Fahri melamar Sabina? Yups, Sabina si perempuan bermuka jelek itu dilamar oleh Fahri dan ditolak! Waw waw waw. Lantas, motif apa yang melatarbelakangi Fahri melamar wanita bermuka jelek itu? Baca deh Novelnya! Seru! Dan serunya lagi ada lelaki lain sebelum Fahri yang juga melamar Sabina? Siapakah itu? jreng jreeng! Paman Hulusi! Wah wah wah. ‘Sebegitunya’ ya Sabina si wanita bermuka rusak itu menarik perhatian Fahri dan paman Hulusi? Memangnya apa yang menarik dari Sabina? Di Film, karakter Sabina tidak se’kuat’ di novel dalam hal penggambarannya.

  1. Motif Tiap Kejadian yang Ga Tiba-Tiba.

Adegan di Film yang membuat Minyai mengernyitkan dahi diantaranya.

🙊Adegan saat debat ilmiah, itu Nenek Catarina kenapa tiba tiba ada di situ? Motong pembicaraan debat pula, katanya ilmiah?

Nah. Di Novelnya jelas banget kok! Apa yang melatarbelakangi nenek Catarina ikutan debat. Dalam forum debat pun walaupun memang benar ada adegan nenek Catarina memotong debat, tapi sangat bisa dijelaskan dengan adegan yang logis setelahnya. Debat pun berjalan lancar. Dan yang pasti poin-poin yang ada dalam debat dijelaskan panjang lebar yang dapat membuat si pembaca bertambah wawasan. Apa itu amalek, bagaimana pandangan terhadap bangsa yahudi dari tiap-tiap agama, dst.

🙊Adegan saat Sabina yang ‘menyapa’ orang jahat, yang menyebabkan Hulya tertusuk pisau. Dalam hati berkata, ai kamu atuh gausah dipanggil ih, wkwk. Dasar film!-nya teh meni kelihatan pisan. Nah kalau di Novel adegan tertusuk pisaunya Hulya memang ada, tapi bukan itu yang menyebabkan ‘kedok’ Sabina terbongkar. Di Novel, ‘kedok’ Sabina terbongkar dengan cara yang lebih elegan, anggun, dan membuat baper. Wkwk. Plis deh Minyai! Fiksi eta mah fiksi!

🙊Sebenernya banyak, tapi lupa lagi. Haghaghag.

 

  1. Novel Kang Abik Kaya Buangeet Ilmu.

    Sampai-sampai mikir. Ini kang Abik baca buku sehari berapa biji sih! Terbayang ‘riset’ literaturnya yang pasti prosesnya panjang. Kecuali kalau memang kang Abik udah punya dasar keilmuan ‘dari sananya’ sih. Tapi salut banget lah! Beliau menggarap novelnya ga asal-asalan. Beliau ingin novelnya benar-benar ada ‘isinya’. Sesuatu yang bisa pembaca dapatkan, dan usai membaca novelnya benar-benar dapat menggugah jiwa. Bagi sebagain orang mungkin memang terlihat sangat idealis bahkan cenderung utopis berlebihan, BUT setelah ngintip status di timeline-nya Mba Didin yang mengatakan sosok Fahri itu sangat biasa di jaman Imam Nawawi. Sukses dunia, akhirat jalan terus. Berarti sosok itu dalam dunia nyata memang ada kan? Ga Fiktif Fiktif banget macam Sosok Spiderman. Ditambah lagi status FB Adi (Hai Di! Pinjem nama ya) yang membuat kepala mengangguk angguk.

    Jika Tokoh Fahri saja sudah dianggap superman dan mustahil. Lantas, generasi keturunan muslim macam apa yang ingin kita bentuk?

    Eleeuh. Bener uga ya. Kang Abik ini membuat novel ga sembarang novel. Ada tujuan yang ingin dicapai, yang tak lain tak bukan agar menjadi penggugah bagi generasi  unyu unyu cem kita. Kalau Minyai sendiri sih sehabis baca novelnya langsung ‘tergugah’ untuk menjadi istri yang lebih baik lagi. Maaf efek ‘Aisha’, Yah. Ucap Minyai saat menggoda Pak Suami :P.

    Dan yang pasti, di novel tiap kejadian dijelaskan mendetil motif ‘ilmu’ yang dapat membuat kita banyak berkata Oooo. Cem tentang ikhtilaf bermain musik, ikhtilaf melakukan transplantasi organ (bahkan wajah yang ternyata di dunia nyata itu benar-benar pernah terjadi), dll.

    1. Alur yang Smooth

    Yaiyalaah. Kalau Novel ga smooth ya aneh. Tapi yang mau Minyai sampaikan disini adalah, alur Novel dan filmnya berbeda. Jalan ceritanya pun banyak yang dipotong bahkan diganti dengan adegan-adegan baru. Bahkan di beberapa adegan seperti melompat lompat yang kemudian membuat hati ngomong sendiri.

    Naha kieu?

    Minyai sempai berpikir bahwa kalau novel ini dijadikan beberapa episode langsung tamat ala ala drakor kayaknya seruuu. Banyak hal yang bisa diceritakan. Banyak hikmah-hikmah yang bisa tergali. Walaupuuuuuuun. Memang akan sulit sih ‘membahasakan’ tulisan menjadi sebuah adegan. Ga mungkin bisa keeksplore semua. Tapi tanpa mengurangi rasa hormat Minyai pada Pak Punjabi dan kang Abik, film AAC2 ini gagal membuat saya terpesona. Maaf ya Pak :”)

     So? Sebagai penutup. Minyai sangat merekomendasikan kamu-kamu untuk baca novelnya. Yaa… ga maksa sih, kalau sempat aja :”). InsyaAllah akan banyak mutiara-mutiara yang bisa kita petik.

    Sekian! Ciao!

    **

    Notes : Tulisan ini ditujukkan untuk kamu kamu yang ga puas dengan film AAC 2. Bagi yang udah baca novelnya duluan terus jadi ilfeel gara gara lihhat tulisan Minyai? Duuuuh hampura pak Punjabi 🙇‍♂️ Ga bermaksud. Kalau saya mah tetap merekomendasikan film ini, demi mendukung film film positif Indonesia. APALAGI kalau melihat sudut pandang orang pasti beda-beda. So? Minyai tunggu review film dari sudut pandangmu yak!

    Iklan

    12 respons untuk ‘5 Hal yang Tidak Akan Kamu Temukan di Film AAC 2

    1. Nah … Iniiii…. Aku emang belum nonton filmnya, sempat ga pengen nonton gara2 review yg sudah-sudah. Tapi habis baca reviewnya Minyai justru pengen baca novelnyaaa. Makasih reviewnya Minyai, akh mo cari novelnya dlu ah.

    2. Saya blm baca novelnya dan blm nonton filmnya. Lihat review2 yg kmrn saya jadi gak tertarik untuk nonton. Tapi habis baca ini saya malah jadi ngebet pengen beli novelnya😊 iya sosok fahri mmg luar biasa ya. Dan semoga kita bisa mendidik anak2 kita supaya kelak mereka bisa menjadi pribadi2 seperti fahri dan aisha

      1. Iya Mak… sebenernya tulisan ini berangkat dari kesedihan saya membaca review dengan nada mencaci maki. Ihiks. Sedih lihatnya. Walaupun jujurly, ada beberapa hal yang saya setujui juga isinya.

        So? Membaca novelnya sungguh mengobati tipikal Emak macam saya yang masih belum bisa ‘sit and just enjoy the movie’ :))

    3. Kebetulan aku penikmat film sekaligus penggila novel. Tapi aku selalu berusaha utk just enjoy the movie dan “melupakan” isi novelnya serta membiasakan utk tidak mengcompare antara novel dan filmnya. Karena aku paham bgt bhw sangat susah utk membuat film yg sedetil novelnya. Hampir semua film yg diadopsi dari buku, tidak ada yg sedetil dan persis seperti isi bukunya. Jd ya klo aku sih kembali lagi ke prinsip just enjoy the movie dan tanpa ekspektasi apa pun. Krn penilaian ttg film sangat subjektif dan tergantung selera bgt.

      1. Yups. Memang tulisan ini ditujukan buat yang kecewa sih Mak 🙂 Daripada malah mencaci maki ga jelas, jadi saya sarankan buat baca novelnya buat sedikit mengobati kekecewaan :)).

    4. Minyai, aku mau ambil kesimpulan aja (gaya padahal nggak baca buku aac2 dan blelum nonton filmnya) belum kesampean nontonnya nih…
      Fahri yg almost perfect, pesan positif yg sebenernya ada di film ini cukup banyak. Mending ambil yg baik, buang yang tidak baik, gitu ajaaa kan yaaa 😀

      1. Iyaaah betuuls. Kalau mau melihat secara objektif filmnya pun banyaaaaak yang baiknya kok. Pesan-pesan kemanusiaan, akhlak bertetangga, keteguhan diri menjaga marwah wanita.

        Ayo nonton Mak! Sebelum turun layar 😂

    5. Saya bukan penikmat AAC baik novel maupun film tapi berdasar pengalaman membaca dan nonton Harry Potter, saya sih just enjoy the show. Saat nonton, lupakan bukunya. Seperti baru pertama kali mengenal Potter. Wes gitu aja. Lelah kalau banding-bandingkan karena buku dan film ga bakal pernah sama. Eh intinya sih sama yaitu Fachri banyak disukai wanita dan bikin baper para pria di luar sana 😀

      1. Betul Mak! Lelah banget! Cem suami saya tonton kemarin. Wkwk.

        Tapi saya yang pas nonton belum baca bukunya juga banyak ‘lelah’nya siy. Kalau mau menikmati filmnya memang harus ‘numpahin air’ dulu yak, biar bisa diisi lagi Just enjoy the show. Sayangnya, ga berlaku di saya. Ihiks.

      1. Iyaak susah. Saya pun kalau jadi penulis script-nya belum kebayang yang mana yang harus dipotong yang mana yang diubah agar tetap menarik :)) Memang, yang mudah itu jadi komentator ya Mak. :))

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

    Connecting to %s