Review Novel ‘Pulang’ Tere Liye

”Kau boleh melupakan Mamak, melupakan seluruh kampung ini. Melupakan pengajaran yang Mamak berikan. Melupakan ajaran agama yang Mamak ajarkan diam-diam. Tapi disana, berjanjilah Bujang. Berjanjilah. Kau tidak akan memakan daging babi atu anjing. Kau juga tidak akan menyentuh tuak dan segala minuman haram.

Agar…

Agar besok lusa, jika hitam seluruh hidupmu, hitam seluruh hatimu, kau tetap punya satu titik putih, dan semoga itu berguna. Memanggilmu pulang.”

 

Bujang harus meninggalkan Mamak, orang tua yang mengajarinya mengaji, sholat, dan pengetahuan agama secara diam-diam. Ya, kalau ketahuan Bapak, maka hukuman-lah resikonya, dan deraian air mata Mamak mengiringinya. Bapak yang merupakan keturunan ‘tukang pukul’ nomor satu di Sumatra bukan orang yang tidak pernah mengenal Agama, akan tetapi rasa sakit hatinya karena diusir oleh orang-orang yang dipandangnya lebih ‘suci’-lah yang membuatnya membenci seluruh memori tentang Agama. Seperti lingkaran setan-memori hukuman karena belajar Agama pun, yang membuat Bujang lepas diri dari ‘tali agama’, bahkan belakangan diketahui bahwa dia sangat terganggu suara adzan.

Kemanakah Bujang pergi? Bujang pergi bersama Tauke Muda. Mereka pertamakali berinteraksi dalam sebuah aksi menegangkan menaklukan sebuah Babi Raksasa yang seringkali mengganggu di lahan pertanian Bapaknya. Tauke Muda sendiri adalah sahabat lama Bapaknya Bujang saat profesi Bapak masih sebagai ‘tukang pukul’. Ya, Bapak akhirnya memutuskan ‘resign’ demi mengejar cinta Mamak yang pernah tertolak oleh keluarga Mamak. Budaya ‘resign’ dalam dunia ‘tukang pukul’ artinya mati. Apa jadinya bila ‘Tukang Pukul’ resign semua? Adalah kesetiaan, yang menjadi aturan dalam kamus keluarga Tong (Keluarga Tauke Muda). Namun, pengecualian bagi Bapaknya Bujang, karena dia pernah berjasa besar dalam sejarah panjang dunia kelam keluarga Tong. Sebagai kompensasi atas resign-nya, Bujang-lah tebusannya.

‘Tukang Pukul’ disini bukan sembarang preman abal-abal. Mereka bergerak underground, tak bisa tercium aparat pemerintahan. Tugas mereka adalah menjaga keamanan dari para ‘pengganggu’ bisnis. Sayangnya, bukan bisnis recehan nan legal, tapi bisnis gelap (shadow economy) yang beraset miliaran bahkan triliunan dolar. Bujang harus kecewa menghadapi kenyataan, bahwa dirinya ternyata dipersiapkan Tauke Besar bukan sebagai Tukang Pukul, melainkan sebagai anak yang kelak akan mengatur bisnis-nya dari balik meja. Apakah Bujang menerima begitu saja? Oh, tentu tidak. Darah Tukang Pukul terlanjur mengalir di dalamnya. Bapak dan Kakek Bujang adalah seorang Tukang Pukul yang masyhur di jamannya. Walaupun setengah darahnya lagi ternyata mengalir darah seorang Kyai. Ya, Mamak adalah keturunan dari seorang Kyai yang dulu berhasil menyatukan preman dan santri untuk sama-sama berjuang melawan penjajah Belanda. Apakah Bujang berhasil menemukan setengah darah Kyai-nya?

Perjalanan ‘pulang’ seorang Bujang dikemas dalam sebuah kisah yang menarik. Bagaimana Bujang menyusun Puzzle kisah Mamak dan Bapak. Bagaimana perjalanan Bujang dalam melatih dirinya menjadi tukang pukul. Bagaimana ia belajar dari guru-guru bela diri terhebat. Bagaimana dia yang semula enggan melanjutkan sekolah, kemudian tumbuh menjadi mahasiswa yang cerdas. Bagaimana interaksi dia dengan tukang pukul lainnya. Bagaimana masalah-masalah di sekitarnya yang melibatkan konflik tingkat tinggi dan aksi-aksi berbahaya. Sampai kemudian, saat keluarga Tong berada di puncak kejayaannya, musuh dari dalam pun muncul. Pengkhianatan. Bujang yang kemudian terdesak mundur, semakin down melihat 3 lapis ketakutan yang meninggalkannya. Ya, Bujang tidak memiliki rasa takut kecuali pada 3 Hal.

Perjalanan tersebutlah yang akhirnya mempersatukan Bujang pada satu titik di kehidupannya. Kehidupan yang sama sekali tidak ia duga sebelumnya. Perjalanan yang pada akhirnya membawanya pulang.

**

Novel setebal 400 halaman ini disuguhkan dengan alur kini dan alur mundur. Alur kini, saat Bujang dewasa dan sudah menjadi seseorang yang mengatasi konflik tingkat tinggi di perusahaan Tauke Muda.  Dan alur mundur, dimulai dari kisah Bujang yang hendak ‘diambil’ Tauke Muda. Saat membacanya, Minyai dibuat penasaran dengan kelanjutannya, juga dibuat Baper dengan part-part tertentu. Sampai-sampai Aisha yang memerhatikan Ummi terus bertanya.

“Ummi kenapa nangis? Jangan baca lagi jangan! Nanti Ummi nangis”

Hehe.

Saat membayangkan adegan-adegan action-nya Minyai jadi teringat film-film Jacky chan. Wkwk. Seru sih. Sambil terus membayangkan, ini beneran ga sih? Wkwk. Jelas-jelas novel fiksi yak! Eits tapi kan ada juga yak, novel fiksi yang disisipkan fakta. Semacam fakta sejarah atau tempat tertentu. Nah, khusus novel ‘Pulang’ ini entah deh. Apa memang benar ada shadow economy seperti yang disebutkan? Yakin ada sih, tapi apakah kekuasaannya bisa sebesar dan semengerikan yang diceritakan? Nah ini yang blank sama sekali.

Recommend untuk kamu-kamu yang menyukai novel tentang penemuan #maknahidup, #relasi, #kesetiaan, #kegalauan, #jatuh, #bangun, #action, #menjadidewasa. Lha banyak banget tag-nya. Wkwk.

8.5/10 lah.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s